
POV Hasan
Kak Heelwa terus saja menggodaku. Emi memang sangat cantik, aku tidak mau menatap Emi terlalu lama karena kecantikannya itu menggoda imanku. Dahulu Ayah pernah cerita ketika ia bertemu dengan Mamah. Mama memang wanita cantik, walaupun Ayah dulu menikahi Mamah bukan seorang gadis. Mamah adalah seorang janda dan menikah dengan Ayahku.
Awalnya Mamah tidak mencintai Ayah, tapi Ayah berusaha untuk membuat Mamah jatuh cinta karena Mamah mempunyai trauma akan cinta, yang pernah disakiti oleh suami terdahulunya. Tapi kisah mereka sangatlah menarik bagiku, dari situ aku mulai belajar akan cinta. Mamah berparas cantik Karena Mamah keturunan Turki, Arab, dan Indonesia. Kak Heelwa pun terlahir cantik mempunyai lesung pipi seperti Ayah dan paras wajah seperti Mamah. Aku perpaduan Ayah dan Mamah perbedaannya aku tidak mempunyai lesung pipi seperti kak Heelwa. Emi di mataku memang cantik, manis tapi memang dia keturunan orang Indonesia asli, yang aku tahu dia keturunan Jawa. Ayah dan Mamahnya berasal dari Cirebon. Tapi aku masih belum tahu asal-usulnya bagiku menyukai seseorang itu harus mengetahui asal usulnya, bibit bebet dan bobot.
Ayahku keturunan Kiai, maka ketika aku datang ke pesantren di Semarang aku pun dipanggil dengan sebutan Gus, karena aku memang keturunan dari Kiai. Kakekku seorang Kiai besar di sana. Kakek ingin aku meneruskan pesantrennya karena Ayah membantu Mama di Jakarta untuk mengurus sekolah Yayasan Mamah.
(Cerita kedua orang tua Hasan ada di novel 5 tahun menikah tanpa cinta (tamat))
"Hasan, Emi cantik yah...wajahnya Indonesia banget, wajahnya ayu. Enak dilihat, aku aja yang perempuan melihat wajah Emi enak. Apalagi kamu sebagai laki-laki," ucap kak Heelwa. Ia terus saja menggodaku.
"Makanan kali Kak Heelwa enak, jangan macam-macam deh kayak. Aku baru ketemu dia tiga kali. Awalnya aku ketemu dia di Bandung, itu pun tidak sengaja menolong ayahnya untuk memperbaiki mobilnya yang sedang," jawabku.
"Wah sudah ketemu pamer nih, papah mertua." Aku berdecak kesal karena kak Heelwa mengajakku terus. Mungkin di Jakarta dia pusing jadi CEO.
"Ngaco ih kakak, orang aku juga belum mengenal lebih dalam Emi. Memang Emi mau sama aku?" tanyaku. Aku tak pernah berpikir jika Emi bisa tertarik denganku.
"Dari sorotan matanya, Emi sepertinya suka loh sama kamu. Oh iya dulu Kakak punya teman sewaktu kecil namanya Emi, tapi Mamahnya seorang dokter, tinggalnya di... aduh aku lupa di mana karena sudah lama. Kenapa sama ya namanya sama temen waktu kakak kecil." ucap Heelwa.
"Masa sih Kak? Memang Kakak dulu punya temen waktu kecil? Bukannya teman Kakak hanya abang Kenzo doang? Tuh Tante Dina mau jodohin Kakak dengan abang Kenzo." Aku meledek Kak Heelwa, karena dia selalu kesal ketika mengungkit Kenzo.
"Enggak ah sama Kenzo, bukan tipe Kakak. Kenzo terlalu muka-muka Korea Jepang gitu. Kakak mau yang lebih macho, Indonesia. Seperti Ayah," ucap Heelwa.
Hari itu aku dan kakakku pulang ke Jakarta karena Mamah sudah menunggu aku di rumah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Mamah. Aku pun tak lama di Jakarta karena aku pulang ketika bukan weekend tetapi hari biasa, esoknya aku harus kuliah kembali. Aku ke rumah juga mengambil mobil karena Kak Heelwa sudah mengeluh, dia pergi Depok Jakarta gara-gara Mamah menyuruh dia untuk menjemput aku di Depok. Kak Heelwa yang menggantikan Mamah di perusahaan menjadi CEO, aku menolak untuk menjadi penerus Mamah. Aku lebih suka pulang ke Semarang dan membangun bisnis bengkelku di sana. Aku sudah memulainya dengan sahabatku, tapi aku harus kuliah lagi untuk mengambil S2. Aku pun ketemu kangen dengan Mamah, wajah Mamah masih sama terlihat muda dan cantik, pantas Ayah tidak akan berpaling dari Mamah. Mamah sangat cantik.
Ketika sore hari aku berpamitan, walaupun rasanya tidak cukup bertemu Mamah melepas rasa rinduku kepadanya, tapi apa boleh buat aku berjanji padanya nanti, aku akan pulang kembali ke Jakarta.
Seminggu lebih aku tidak bertemu Emi, di kampus aku mencari dia, tapi entahlah Emi tidak pernah aku lihat. Tepat di seminggu kemudian akhirnya, gadis yang ingin aku lihat bisa bertemu kembali di kampus. Aku pun memanggil namanya dan menghampirinya, dia senyum. Senyumnya sangat manis sekali, cantik, aku memalingkan tatapanku karena aku tak mau berbuat dosa ketika melihat wanita yang bukan mahramku. Tiba-tiba dia mengeluarkan roti, katanya ia bikin roti itu dan memberikan kepadaku. Sebenarnya aku sudah sarapan tapi tak enak jika menolak pemberian dia.
Aku pun menerima roti buatannya, aku makan di bawah pohon di tempat duduk biasa mahasiswa berbincang-bincang, di sana aku sedikit berbincang dengannya. Ya Allah wajahnya sangat cantik sekali ketika dia tersenyum. Aku pun tak kuat kalau terlalu lama dekat seperti ini. Aku cepat-cepat untuk menghabiskan roti yang aku pegang lalu aku pamit kepada Emi.
__ADS_1
Seperti biasa aku langsung masuk ke ruangan kelasku, hari ini mata kuliahnya tidak terlalu padat hanya tiga mata kuliah untuk hari ini. Ketika aku sedang fokus, handphone-ku bergetar ada pesan yang masuk. Ternyata itu dari Emi. Emi ingin bertemu aku ketika makan siang, lalu aku mengajak dia ke kantin. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan dia lagi.
Aku berusaha untuk datang lebih dulu daripada Emi, aku menunggu di meja kantin. Ketika aku melihat Emi aku memanggil namanya dan melambaikan tanganku.
"Mau pesan apa? Kali ini biar aku yang traktir kamu." Aku tersenyum kepadanya dan ia membalas dengan senyumannya.
"Ah tidak usah Hasan, aku bisa bayar sendiri kok," tolak Emi secara halus.
"Sebagai terima kasih karena tadi kamu memberikan aku sarapan, jadi gantian ya aku yang traktir kamu," ucapku.
Emi pun tersenyum bertanda ia setuju untuk aku traktir.
"Kamu mau bicara apa Emi denganku?" tanyaku.
"Makan aja dulu ya, nanti setelah makan aku akan bicara sama kamu." Emi membuat aku penasaran, dia ingin bicara apa dengan aku?
Kami pun makan dengan tenang, selesai makan aku bertanya lagi tentang apa yang ingin ia katakan kepadaku.
"Emi kamu melamar aku?" tanyaku. Aku tersenyum kepada dia.
Ketika aku bertanya seperti itu wajah Emi memerah, ia tampak malu. Ah bodohnya aku bertanya seperti itu. Emi langsung berdiri dan meninggalkan aku, aku mematung. Apakah Emi marah ketika aku bertanya seperti itu? Aku mengejar Emi tapi banyak mahasiswa yang datang ke kantin jadi aku kehilangan jejak Emi.
Karena aku sudah tidak ada mata kuliah lagi, aku menunggu Emi di depan fakultas arsitek. Agar ketika dia keluar aku bisa bertemu dengan dia dan bicara kepada dia. Tapi aku tunggu-tunggu dia, Emi tidak keluar. Aku pun lelah berdiri 2 jam lamamya di depan fakultas arsitek. Akhirnya aku pergi dan duduk di bawah pohon rindang sambil melihat jikalau Emi keluar dari fakultasnya.
Menunggu Emi sungguh sangat lama, menunggu itu suatu hal yang membosankan. Tidak lama aku menunggu di bawah pohon rindang, akhirnya aku melihat Emi keluar dan berjalan seorang diri, tapi ada seorang laki-laki yang langsung menarik tangan Emi dan memasukkan Emi ke mobil. Aku sangat terkejut laki-laki itu yang pernah Emi tampar, aku melihat Emi berontak. Aku mengejar mobil itu tapi mobil itu sudah melesat sangat cepat. Aku langsung menaiki mobilku untuk mengejar mobil yang membawa Emi.
"Ya Allah, aku mohon jangan sampai aku kehilangan jejak mobil yang membawa Emi.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
__ADS_1
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞