Salah Lamar

Salah Lamar
Rasa cemburu


__ADS_3

Aku bersyukur menikah dengan Mas Hasan. Allah memang Maha mengetahui apa yang aku butuhkan. Banyak pria yang aku tolak dari keturunan Kiai ataupun santri. Aku tak menyangka Mas Hasan keturunan sultan karena aku kenal dia sangat sederhana.


"Mas, jadi ke rumah mamah?" tanyaku.


"Kamu masih sakit nggak? Bisa jalan?" Aku malu dengan pertanyaan suamiku.


"Kan aku sakit karena kamu Mas," protesku.


"Yah sudah nanti aku gendong ke tempat Mamah," ucap suamiku.


Apa-apaan dia, aku di gendong ke tempat Mamah mertua. Aku akan malu, mau di simpan di mana wajahku ini.


"Aku siap- siap dulu untuk pergi ke rumah Mamah." Aku melangkahkan kakiku menuju lemari baju ganti. Mas Hasan memperhatikan jalanku.


"Mas, jangan memperhatikan jalanku seperti itu. Aku baik-baik aja jalannya." Aku tersenyum menatap suamiku.


Setelah aku selesai mengganti pakaianku, aku dan Mas Hasan langsung berangkat ke rumah Mamah mertuaku. Aku duduk di samping Mas Hasan, tiba-tiba ia mendekati aku, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Jantungku berdetak kencang, pagi ini dia terus mencium aku.


"Mas mau ngapain?" tanyaku kepada mas Hasan.


"Kamu kebiasaan sayang, sabuk pengamannya nggak kamu pasang," ucap Mas Hasan tersenyum kepadaku.


Ah wajahku sudah merah, aku pikir ia ingin mencium aku tapi ternyata dia memasangkan sabuk pengaman. Malunya aku sudah salah sangka dengannya. Mas Hasan mulai menjalankan mobilnya, sesekali aku melirik Mas Hasan yang sedang menyetir.


"Kenapa sayang melirik aku? Aku tahu wajahku tampan." Mas Hasan terkadang sangat percaya diri.


"Siapa yang melirik kamu sih Mas, aku melihat matamu itu ada sesuatu." Aku tunjuk dengan telunjukku ke arah mata Mas Hasan.


"Ada apa di mata aku? Ada kotoran yah, bersihkan sayang," pinta mas Hasan.


"Aduh Mas, aku ndak bisa bersihkan. Soalnya di mata kamu itu ada aku," jawabku sambil tersenyum.


"Ih kamu gombal sayang." Mas Hasan mencubit pipiku.


Tak terasa kami sudah sampai di rumah kediaman mamah mertuaku. Mamah mertuaku sangat sayang denganku, aku bersyukur mempunyai mamah mertua yang sangat baik, tidak seperti di sinetron yang mertuanya tidak menyukai mantunya.


Suamiku langsung turun dan membukakan pintu mobil, ia langsung menggandeng tanganku.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Aku dan suamiku mengucap salam.


"Waalaikumsalam." Mamah mertuaku langsung memeluk aku.


"Kalian sampai kemarin malam yah?" tanya mamah.


"Iya Mah, kami sampai malam. Mah terima kasih atas hadiah rumahnya. Aku nggak menyangka Mamah memberikan rumah yang besar," ucapku.


"Kamu suka dengan rumahnya?" tanya mamah.


"Suka Mah," jawabku.


Kak Heelwa datang, ia langsung menghampiri aku dan mengajak aku ke kamarnya. kakak iparku ini berparas cantik, mempunyai lesung pipi jika tersenyum sungguh manis. Di tambah lagi wajah keturunan Turki sangat terlihat. Kak Heelwa mengajari aku untuk menggunakan make up.


"Emi, kamu coba ini. Sepertinya cocok untuk kulit kamu." Kak Heelwa memberikan alat make up nya.


"Kak, aku ndak biasa menggunakan make up." Aku sangat jarang memakai make up, paling jika ada acara penting.


"Biar Hasan tambah cinta sama kamu Emi," ucap kak Heelwa.


"Aku malu Kak, make up seperti ini," ucapku. Kak Heelwa terus saja memberikan make up di wajahku.


"Coba kamu lihat cermin, kamu cantik banget Emi," ucap Kak Heelwa.


Aku keluar dari kamar Kak Heelwa, tidak enak jika aku tidak membantu mamah mertuaku untuk masak. Ketika aku menghampiri mamah, ia sangat terkejut melihat aku.


"Masya Allah kamu cantik banget Emi, kamu ngapain ke dapur?" tanya Mamah.


"Mau bantu mamah, ini kak Heelwa yang make up aku Mah. Aku malu jika make up seperti ini," ucapku.


"Kamu cantik Emi. Memang kamu dasarnya sudah cantik." Mamah mertuaku membelai kepalaku.


"Kamu sama Hasan aja, Mamah bisa selesaikan ini sendiri." Mamah mertuaku memaksa agar aku tidak membantu dia di dapur. Terpaksa aku mencari suamiku, kata Mamah ada di ruang keluarga. Aku ke sana, untuk menghampiri dia. Langkahku terhenti ketika aku melihat mas Hasan sedang dengan perempuan dan mereka tertawa-tawa. Ada rasa cemburu yang menyeruak, mereka terlihat sangat akrab. Perempuan itu menggunakan hijab dan parasnya pun manis.


"Sayang, sini." Mas Hasan melihat aku dan menyuruhku untuk mendekatinya. Aku mendekati suamiku.


"Kamu cantik sayang, kamu sudah kenal kan dengan dia. Dia Gendis," ucap mas Hasan. Aku memang mengingat dia tapi entahlah hatiku ini ada rasa cemburu mengingat keakraban mas Hasan dengan Gendis.

__ADS_1


"Kamu Emi yah, kalian nikah kok nggak ngundang aku dan mamah," ucap Gendis.


"Aku nikahi Emi ketika dia koma, resepsi hanya sederhana dilakukan di Cirebon." Mas Hasan menggenggam tanganku. Entahlah apa dia tahu bahwa aku cemburu. Aku hanya tersenyum manis kepada Gendis.


"Aku mendengar dari kenzo bahwa Emi kecelakaan?" tanya Gendis.


"Allah sudah menuliskan takdir setiap manusia. Aku kecelakaan 2 hari sebelum hari lamaran, tapi aku bersyukur. Hari di mana aku di lamar ternyata aku di nikahi oleh Mas Hasan," ucapku.


"Usia kalian beda 4 tahun yah, Emi lebih tua dari Hasan." Perkataan Gendis membuat aku agak geram.


"Khodijah AS ketika usianya 40 dinikahi rasulullah yang ketika itu berumur 25 tahun. Beda 4 tahun ndak ada masalah bagi kami," jawabku.


"Iya, kamu masih terlihat muda dan cantik. Aku tahu perbedaan umur kalian karena aku dan kamu teman kecil," ucap Gendis.


Aku hanya menganggukan dan tersenyum kepada Gendis.


"Aku bertemu tante Bilah dulu yah, ada titipan dari mamah." Gendis beranjak berdiri dan berjalan untuk menemui mamah mertuaku.


Setelah Gendis menjauh dari kami, aku berkata kepada suamiku.


"Mas, apa-apaan sih kamu tertawa lepas gitu sama Gendis," ucapku protes.


"Kamu cemburu? Gendis ketika bayi Mamah yang merawat, jadi kami tumbuh bersama-sama." Suamiku membela dirinya.


"Tapi kamu bukan mahramnya dia, ndak boleh berduaan seperti itu. Duduk dekat-dekatan. Coba jika aku yang seperti itu pasti kamu marah kan," ucapku agak emosi.


Suamiku malah memelukku dan mencium pipiku.


"Mas, malu. Jika di lihat sama keluarga kamu. Main nyosor aja," protesku.


"Biar kamu adem sayang, jangan ngomel terus, jangan cemburu sama Kak Gendis. Aku anggap Kak Gendis seperti Kak Heelwa," ucapnya.


"Ndak sama Mas, Kak Heelwa sedarah sama kamu tapi Gendis ndak." Aku berdiri dan melangkahkan kakiku ke kamar suamiku. Mas Hasan mengikuti aku dari belakang. Ketika aku masuk kamar, Mas Hasan malah mengunci pintu.


"Mas, kenapa pintunya di kunci?" tanyaku.


"Aku ingin mendinginkan rasa cemburumu." Mas Hasan langsung menempelkan bibirnya ke bibirku. Ah dia membuat aku gila dengan sentuhan-sentuhannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2