Salah Lamar

Salah Lamar
Saingan jadi teman


__ADS_3

Mako sejak masuk kelas selalu menatap Inayah. Inayah yang merasa selalu ditatap oleh Mako menjadi bertanya-tanya dalam hati.


'Ada apa dengannya menatap aku seperti itu? apa salahku kepadanya?' batin Inayah.


Jam pelajaran kelas pun berakhir, waktunya untuk ujian praktik pembedahan. Ujian ini sangat unik membutuhkan konsentrasi yang tinggi, para calon dokter ahli bedah mempunyai 3 tahap ujian. Pertama mereka membuat origami mini, kedua mereka harus menyusun serangga miniatur, ketiga mereka membuat miniatur makanan. Mereka menggunakan pinset anatomi



pinset anatomi



Gambar hasil ujian praktik Inayah, dari 30 dokter hanya 5 dokter yang berhasil membuat miniatur tersebut termasuk Inayah.


Pembuktian bahwa duduk di kursi roda bukan suatu hal hambatan, masih ada tangan untuk melakukan operasi. Para profesor sangat menyanjung keberhasilan Inayah yang mendapatkan nilai tertinggi. Semua teman-teman kelasnya mengucapkan selamat atas keberhasilan Inayah karena telah lulus ujian praktik dengan hasil tertinggi.


Setelah ujian selesai, Inayah ingin bergegas pulang. Ia menjalankan kursi rodanya untuk menuju ke gerbang universitas. Tapi tiba-tiba kursi rodanya di dorong oleh seseorang. Inayah menonggakan kepalanya.


"Mako?" ucap Inayah.


"Jangan takut, aku tidak akan menyalakan kamu. Aku traktir ke cafe terdekat, tolong jangan telepon Ramzi terlebih dahulu setelah kita makan di cafe barulah kamu telepon dia," ucap Mako.


Inayah terdiam, ia hanya mempercayai apa yang Mako ucapkan. Mako mendorong kursi roda Inayah sampai ke cafe yang ia tuju.


"Kamu mau pesan apa?" Mako memberikan buku menu kepada Inayah.


Inayah merasa aneh akan sikap Mako yang mendadak sangat berubah.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Inayah, tanpa basa basi karena ia tidak suka bertele-tele.


"Aku suka dengan Ramzi sejak kuliah," ucap Mako mengucapkan perasaannya.


Inayah menghela nafasnya, merammpas bajunya untuk menahan api cemburu.


"Dia suamiku sekarang, lalu apa yang kamu mau?" tanya Inayah.


"Jujur sejak awal aku berada di Kyoto University, aku iri sama kamu dengan kepiawanmu dalam pembedahan. Makanya aku suka menghina kamu, maaf yah. Ketika kemarin aku bertemu Ramzi jujur aku merasa senang. Aku pikir takdirku datang, tapi ketika Ramzi mengatakan bahwa kamu adalah istrinya. Aku sangat syok lebih lagi kalian sudah punya anak. Aku tidak akan merusak rumah tangga kalian karena aku tahu rasanya menjadi anak yang broken home. Aku gak mau anakmu merasakan itu," ucap Mako.


Inayah mengerutkan dahinya.


"Jangan iri denganku, percaya akan kemampuanmu. Percaya dengan tanganmu ini yang akan membantu para pasienmu kelak dan mendapatkan senyuman dari pasien yang kamu bantu ketika mereka pulang ke keluarga mereka dengan sehat. Itulah tujuan seorang dokter. Jika hati kamu diselimuti rasa iri, tanganmu ini gak akan berkembang karena kamu akan berpatokan ke aku. Kamu akan lebih hebat dari aku." Inayah memegang tangan Mako dan memberikan senyuman.


"Aku paham kenapa Ramzi sangat mencintaimu, tadi ia mengatakan kepadaku. Jangan pernah menghinamu lagi karena kamu merupakan wanita yang tercantik, terhebat untuk dirinya. Aku tumbuh dari keluarga broken home, jadi aku jarang bisa mempunyai teman dan kepribadian aku tertutup," ucap Mako.


"Kamu bisa anggap aku sebagai temanmu Mako, yah memang sebenarnya kita adalah teman. Teman sekelas," ucap Inayah.


"Benarkah kamu mau menjadi temanku? kamu tidak membenciku?" tanya Mako.


"Membenci itu menumbuhkan permusuhan, memutuskan tali silaturahmi. Untuk apa memupuk kebencian lebih baik menambah teman maka akan ada silaturahmi yang baru. saling bersilaturahmi itu melapangkan rezeki sesuai hadits," ucap Inayah.


"Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (H.R Bukhari & Muslim)


"Terima kasih banyak Inayah, kamu memang wanita yang spesial. Aku sudah tenang mengutarakan hati aku," ucap Mako.

__ADS_1


Mereka bercakap saling tukar cerita satu sama lain. handphone Inayah berdering, Inayah mengangkatnya.


Ramzi \=["Sayang, kamu sudah selesai belum? Emi nangis terus, kangen sama kamu sepertinya. Ayahnya juga kangen sama Mamahnya Emi."]


Inayah \=[" Aku sudah selesai Mas, si Ayah gombal terus."]


Ramzi \=["Kok gombal sih, beneran Ayah kangen sama Mamah."]


"Biar aku aja yang antar kamu," bisik Mako.


Inayah\=["Mas, aku diantar teman pulangnya. Kamu gak usah jemput."]


Ramzi \=["Cewe atau cowo? kalau cowo aku gak akan izinkan."]


Inayah \=["Cewe Mas, aku mana berani punya teman dekat cowo. Orang cowo aku hanya kamu kok, cowo tertampan di mata aku."]


Ramzi \= ["Ih Mamah gombal, aku dan Emi tunggu di rumah yah."]


Inayah \=["Iya Mas."]


"Kalian mesrah yah," ucap Mako.


Inayah hanya tersenyum. Mako mengantarkan Inayah ke apartemennya.


"Terima kasih Mako, sudah mengantarkan aku sampai ke apartement," ucap Inayah.


Ramzi yang memang menunggu Inayah di luar apartement tampak bingung melihat Inayah di antar oleh Mako.


"Hai, Ramzi. Tenang aku gak apa-apain istri kamu," ucap Mako.


"Memangnya aku selama ini ngerepotin yah Mas," ucap Inayah.


"Eh ndak sayang, jangan salah paham," ucap Ramzi.


"Sini Emi biar dengan aku," pinta Inayah.


Ramzi memberikan Emi kepada Inayah.


"Mako aku masuk dulu yah, sepertinya putriku sudah haus," ucap Inayah.


Inayah tidak mau kursi rodanya di dorong oleh Ramzi, ia meninggalkan Ramzi dengan Mako.


"Ramzi, kejar Inayah. Makanya jadi laki-laki kalau ngomong jangan sembarangan," ucap Mako.


"Aku permisi dulu Ram, bye," sambung Mako.


Ramzi berlari masuk ke dalam apartemennya, di dalam apartement memang Inayah sedang memberi ASI kepada Emi.


"Sayang...marah yah? jangan marah dong," ucap Ramzi.


Inayah hanya menggelengkan kepalanya.


"Tuh kan marah, kalau gak marah masa ndak ngomong sama aku?" tanya Ramzi.

__ADS_1


"Sebentar Mas ngobrol sama Mako nya, padahal aku kasih kesempatan untuk kalian ngobrol loh," ucap Inayah.


"Mako suka dengan kamu loh Mas," ucap Inayah.


"Terus, apa urusannya dengan itu?" tanya Ramzi.


"Yah ada dong hubungannya, masa gak ada. Siapa tahu hati kamu yang terdalam pernah naksir sama Mako,"ucap Inayah.


"Aku pernah naksir sama adikmu tapi bucin nya dengan kakak dari adikmu," ucap Ramzi.


"Masa?" tanya Inayah.


"Kamu gak percaya? tuh anak kita buktinya kalau aku bucin sama kamu," ucap Ramzi.


"Ah baru satu," ucap Inayah.


"Eh kamu mancing-mancing, kamu mau tambah? ayo sekarang kita buat," ucap Ramzi menantang.


"Dasar Gus gendeng, pikiran nya ke sana terus," ucap Inayah.


"Kalau aku gendeng maka istrinya sableng hahaha," Ramzi tertawa sangat keras.


Inayah langsung menyentuh pipi Ramzi yang menyebabkan Ramzi berhenti tertawa dan Inayah langsung mencium bibir Ramzi. Ramzi tidak bisa berkata apa-apa setelah di cium Inayah.


"Manis Mas?" tanya Inayah.


"Lagi dong..." pinta Ramzi.


"Ogah..." Inayah langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk Emi yang sedang tertidur.


Bersambung


✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2