
Inayah yang biasanya bangun lebih awal, ini dia tidak bangun. Ramzi memperhatikan wajah Inayah, Ramzi menjadi bingung karena tidak biasanya Inayah seperti ini. Bangun telat dan tidak melakukan salat tahajud, melihat kejanggalan lalu ia mendekatkan diri kepada Inayah dan memegang dahi Inayah. Ternyata Inayah terserang demam.
Sejak ia lahiran waktu untuk istirahat sangatlah sedikit, karena Inayah harus memberikan ASI untuk si kembar. Inayah akan memberikan ASI secara bergantian, biasanya jika Haidar sudah kenyang, Haidir yang akan nangis karena kelaparan. Itu sebabnya Inayah kurang beristirahat karena harus menjaga si kembar dan ketika mereka menangis di tengah malam, Inayah harus bergegas bangun, belum lagi Inayah harus memperhatikan Emi agar dia tidak cemburu dengan adik-adiknya.
Ramzi langsung mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Inayah. Ramzi juga mengambil termometer untuk mengukur suhu badan Inayah, setelah dicek ternyata suhu badan Inayah yaitu 38,9 derajat Celcius. Demam Inayah termasuk demam tinggi, Ramzi langsung mengompres dahi Inayah. Inayah mengerjapkan matanya dan menatap Ramzi.
"Mas, sekarang pukul berapa?" tanya Inayah.
"5 menit lagi adzan subuh sayang," jawab Ramzi.
"Ya Allah, aku ketinggalan tahajud Mas, kenapa kamu nggak bangunkan aku," protes Inayah.
"Tidak apa-apa sayang ketika nanti kamu sudah sehat kamu bisa salat sunah tahajud lagi. Kamu demam, aku nggak tega untuk membangunkan kamu. Sekarang juga masih demam, ini aku cek suhu kamu 38,9 derajat celcius. Aku ambilkan obat demam ya," ucap Ramzi.
Ramzi mengambilkan obat demam untuk Inayah di kota P3K. Inayah langsung meminum obat demam tersebut.
"Ternyata dokter bisa sakit juga ya," ledek Ramzi.
"Dokter manusia Mas, bukan robot! dokter juga makhluk Allah, Ya Allah berikan sakit juga untuk dokter. Dokter itu bukan Tuhan dia tetap manusia walaupun dokter memberi obat, tapi ya nyembuhin itu bukan dokter tapi Allah yang menyembuhkan kita," ucap Inayah.
"Iya Ning Inayah, paham... aku cuma bercanda kok," ucap Ramzi.
"Istri lagi sakit di bercandain, nggak lucu tahu Mas," protes Inayah.
"Sebentar lagi azan subuh, aku bantu kamu memapah kamu ya untuk wudhu, tapi setelah wudhu aku nggak bisa pegang kamu nanti wudhunya batal. Habis salat subuh kamu istirahat aja ya," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Kamu bisa memegang anak-anak Mas? di kulkas aku kemarin mompa ASI, itu Kamu bisa berikan ke twins boys kita. Emi sudah lebih mengerti tapi, kamu tidak boleh mengabaikannya tetap perhatikan Emi." Inayah mewanti-wanti Ramzi.
"Iya sayang, serahkan saja aama aku. Ayo aku bantu untuk kamu mengambil air wudhu," ucap Ramzi.
Ramzi memapah Inayah untuk ke tempat wudhu, setelah itu Inayah berjalan sendiri dan memakai mukenanya. Ia salat subuh, berzikir sebentar dan berdoa setelah itu Inayah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya terasa pusing, badannya terasa dingin, kemungkinan Inayah terlalu lelah sering begadang.
Ketika subuh sudah selesai, ummi yang ada di dapur mencari Inayah, biasanya Inayah yang membantu ummi untuk memasak sarapan mereka. Ummi mempunyai firasat bahwa Inayah sedang sakit, tidak lama Ramzi keluar dari kamarnya. Ummi langsung bertanya kepada Ramzi.
"Inayah kemana? tumben belum keluar kamar," tanya ummi.
"Inayah demam Ummi, badannya terasa dingin dan kepalanya pusing," ucap Ramzi.
Mendengar hal itu ummi langsung membuat air jahe plus madu untuk Inayah, lalu dia membawakan untuk menantu kesayangannya.
"Inayah, ummi boleh masuk?" tanya ummi di balik pintu.
Inayah yang baru ingin memejamkan matanya, dia berusaha untuk duduk dan berbicara.
"Iya Ummi, masuk aja," ucap Inayah.
Ummi Laila masuk ke dalam kamar, ia meletakkan segelas air jahe madu di atas meja rias Inayah kemudian dia menghampiri Inayah dan memegang dahi Inayah.
"Kamu demam sekali sayang sudah minum obat?" tanya ummi.
"Sudah Ummi, tadi Mas Ramzi yang mengambilkan obat demam," jawab Inayah.
__ADS_1
"Itu Ummi sudah buat jahe madu, kamu minum sekarang ya agar tubuh kamu terasa hangat dan enak juga di tenggorokanmu," ucap ummi.
Ummi mengambil gelas yang ia letakkan di meja rias Inayah, kemudian ummi memberikan air jahe madu tersebut kepada Inayah. Inayah meminumnya sampai tak tersisa.
"Terima kasih Ummi sayang sudah membuatkan jahe madu untukku. Maaf aku nggak bisa bantu untuk membuat sarapan," ucap Inayah.
"Kok kamu minta maaf nggak usah lah, Ummi paham kamu kan lagi sakit, ya udah kamu istirahat dulu ya istirahat yang cukup biar cepat sehat lagi," ucap Inayah.
"Ia Ummi terima kasih," ucap Inayah.
Twins Boy bangun, Ramzi meletakkan kedua putranya di troller untuk membawa mereka jalan-jalan sebentar di sekitar pesantren, belum juga keluar rumah tapi ummi sudah berteriak memanggil Ramzi agar si kembar tidak boleh keluar terlebih dahulu sebelum mereka mandi. Akhirnya Ramzi memandikan si kembar, ia memandikan Haidar terlebih dahulu, terlihat Ramzi sangat kesusahan ketika memandikan anaknya. Apalagi anaknya baru berumur 1 bulanan jadi di harus hati- hati untuk memegang putranya tersebut.
Bajunya sampai basah semua akibat memandikan Haidar, akhirnya ketika memandikan Haidir dia membuka baju. Untung saja memandikannya di kamar mandi, sehingga para santriwati tidak melihat tubuh Ramzi yang atletis. Bila para santriwati lihat, wah jangan harap satu minggu berdekatan dengan Inayah. Inayah akan cemburu dan ngambek akibat ulah Ramzi. Ramzi pun tak akan berani melakukan itu.
Setelah memandikan Haidir dan Haidar, mereka diletakkan di troller, ia ingin berkeliling ke pesantren sebentar tapi sempat Inayah memesan agar jangan melewati pesantren santriwati, hanya boleh daerah pesantren santri saja. Ramzi pun tidak mau berurusan dengan kemarahan Inayah. Jika Ramzi melanggar apa yang Inayah pesan, Inayah akan sangat cemburu.
Belum 5 menit Ramzi mengajak jalan Haidar dan Haidir. Mereka menangis Ramzi pun garuk-garuk kepala. Ketika ia menggendong Haidar, Haidir masih menangis. Akhirnya dia menggendong kedua putranya tersebut di tangan kanan dan kiri, ia ayun-ayunkan badannya agar Haidar dan Haidir mau tertidur tapi, mereka semakin menangis dan tangisannya itu sampai terdengar di telinga ummi yang sedang ada di dalam rumah. Ummi pun berlari melihat Ramzim
"Ya Allah Ramzi, kenapa kamu goyang-goyang kan anak kamu seperti itu? mana dia akan tidur. Anakmu itu haus, sana berikan ASI di kulkas 'kan ada ASI yang sudah Inayah siapkan, jangan lupa dihangatkan. Sini ummi yang pegang Haidar dan Haidir, kamu Siapkan asinya," titah ummi.
Baru beberapa jam Inayah memberikan kepercayaan kepada Ramzi untuk memegang kedua putranya, tapi Ramzi sudah ke tetera. dengan kerepotan ketika Ramzi menyiapkan ASI Inayah yang sudah dibotolkan dan ia dihangatkan ASI tersebut, tiba-tiba Emi menarik celana Ramzi. Dia ingin pup sehingga Ramzi menemaninya ke toilet, ia menunggu Emi lalu dia membersihkan pup Emi. Ramzi menghela nafasnya karena dia belum terbiasa untuk membersihkan pup anaknya, selama ini yang mengurus itu adalah Inayah.
Betapa kerepotannya Inayah mengurus 3 anak. Ramzi menjadi sadar bahwa istrinya itu memang yang terbaik, dia berjanji di dalam hati ketika Inayah sudah sehat kembali ia akan membantu Inayah untuk mengurus ketiga anaknya. Dia akan membagi waktu dengan Inayah. Ini juga agar Inayah tidak terlalu lelah karena ketika Inayah sudah mulai praktik di rumah sakit lagi otomatis yang lebih banyak memegang ketiga anaknya itu adalah Ramzi.
Bersambung
__ADS_1