Salah Lamar

Salah Lamar
Tanah Air tercinta


__ADS_3

Hari ini tiba saatnya Inaya dan Ramzi akan pulang ke Indonesia. 2 tahun tinggal di Jepang untuk Inayah dan 1 tahun di Jepang untuk Ramzi. Mereka berdua mempunyai kenangan istimewa terhadap negara Jepang yaitu ketika mereka bertemu setelah berpisah selama 1 tahun.


Waktu sangat cepat berjalan dan kini Inayah dan Ramzi beserta anaknya Emi sedang memasuki bandara Kansai salah satu bandara tersibuk di Jepang. Bandara ini dibangun di Pulau buatan reklamasi di atas Teluk Osaka.


Inayah menghirup udara Jepang untuk yang terakhir kali, sebelum dia masuk ke dalam pesawat. kini mereka ada di dalam pesawat Emi dipangku oleh Ramzi.


"Mas, nanti kita mau ke rumah siapa dulu ke pesantren abah atau ke pesantren abi?" tanya Inayah.


"Kamu maunya ke mana dulu?" tanya Ramzi.


"Aku ikutin Mas aja. Kalau Mas mau ke abi dulu aku ikut atau kalau mau ke abah dulu aku ikut juga," ucap Inayah.


"Ya sudah kita ke abah dulu, kamu pasti kangen 'kan sama Delisha?" ucap Ramzi.


"Terima kasih Mas, walaupun aku tidak mengutarakannya tapi kamu tahu isi hatiku," ucap Inayah.


"Aku tahu isi hatimu karena aku mencintaimu dan aku tahu apa yang kau mau," ucap Ramzi.


Inayah menggenggam tangan Ramzi dengan erat. Ia sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat mengerti terhadap dirinya dan juga sangat mencintainya.


perjalanan dari bandara Kansai ke Bandara Soekarno Hatta memerlukan waktu selama 11 jam dan kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Cirebon melalui jalan darat. karena Emi masih kecil maka mereka menginap satu hari di Jakarta, kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan menyewa mobil beserta sopirnya.


Akhirnya mereka sampai ke pesantren Kiai Irfan. Mereka disambut oleh para santri dengan musik hadroh. Pertemuan yang haru menyelimuti hari itu, Inayah langsung memeluk umma.


"Assalamu'alaikum Umma, Inayah kangen sama Umma, maafkan Inayah karena Inayah sudah pergi tanpa izin terlebih dahulu, hanya melalui surat yang Inayah kirimkan kepada Umma dan Abah. Maafkan Inayah," ucap Inayah.


"Wa'alaikumsalam Nak, Umma juga kangen sama kamu. Alhamdulillah sekarang kamu sudah berada di antara kami lagi. Umma sudah memaafkan kamu sejak lama," ucap Umma sambil memeluk erat Inayah.


"Assalamu'alaikum Umma." Ramzi mencium punggung tangan umma dan Umah melihat Emi. "Inikah cucu Umi yang cantik?" tanya Umma.


"Iya Umma, ini cucu Umma," ucap Ramzi.


Emi langsung di gendong dan diciumi dengan penuh kasih sayang.


"Masya Allah cantik sekali persis seperti Inayah ketika kecil," ucap Umma.


Inayah langsung memeluk Abahnya dan meminta maaf kepada Abah karena ia juga merasa sangat bersalah pergi tanpa izin. Inayah melihat Delisha yang sudah berbadan dua, perutnya terlihat sudah besar karena memang Delisha masuk kehamilan trisemester ketiga.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Mba, aku sangat kangen sekali sama Mba Ina. Alhamdulillah aku bisa memeluk Mba lagi dan Mbak akan menyaksikan ketika aku lahiran nanti aku sangat menantikan saat-saat ini," Delisha memeluk Inayah sangat erat.


"Wa'alaikumsalam, Mba juga kangen sama kamu. maafkam Mba ya, Mba salah paham sama kamu sehingga Mba kabur 2 tahun lalu ke Jepang. Mba sangat cemburu dengan kamu karena melihat kalian duduk berduaan tapi ternyata itu adalah kesalahan pahaman," ucap Inayah.


"Ndak apa-apa Mba, itu berarti buktinya Mba sangat mencintai Gus Ramzi. Aku sempai iri lho Mba dengan kisah cinta kalian, awalnya tidak cinta tapi makin ke sini sama-sama saling bucin," ucap Delisha.


"Hahaha kamu ini De." tawa Inayah sambil mengusap perut Delisha yang sudah membesar.


Inaya juga melihat Indra. Dia meminta maaf tidak bisa menghadiri ketika Delisa dan Indra menikah. Setelah itu Ramzi dan Inayah masuk ke dalam rumah mereka beristirahat di kamar Inayah.


"Alhamdulilah, akhirnya Mas aku bisa tidur di ranjang ini kembali," ucap Inayah.


"Iya ranjang penuh memori tentang malam pertama kita di sini, awal dari kisah cinta kita di atas ranjang ini." Ucap Ramzi sambil mencium pipi Inayah.


"Mas, kamu mesum yah. Ingatnya yang itu." Ucap Inayah sambil mencubit pinggang Ramzi.


"Hahaha karena ranjang ini penuh sejarah dalam proses pembuatan Emi," ucap Ramzi di telinga Inayah.


"Sudah deh Mas, kamu menjurus-jurus terus," ucap Inayah.


"Astagfirullah Mas, capek kali... Lemes dengkul baru sampai, Gus mesum dasar yah," ucap Inayah.


"Mesum-mesum kaya gini kamu cinta 'kan," ucap Ramzi.


"Iya, aku cinta banget sama kamu sampai cintaku sudah mentok dinamamu." Inayah mencium singkat bibir Ramzi.


"Kamu bahagia hidup bersamaku?" tanya Ramzi.


"Aku berterima kasih kepada Allah atas apa yang aku dapatkan selama ini. Aku mendapatkan suami yang yang sangat mencintaiku, aku mendapatkan putri yang sangat cantik. Allah memang tidak salah menulis takdir untuk umat-Nya, selalu ada cara tersendiri untuknya menyatukan dua hati yang berbeda aku sangat bahagia Mas, hidup denganmu, terima kasih!" Ramzi menatap wajah Inayah, kemudian dia kembali tersenyum tipis kepada Inayah.


"Kamu benar-benar bahagia?" tanya sama Ramzi kembali, Inayah menganggukan kepalanya pelan. "Banyak orang yang hidup bahagia tapi tidak mengikuti jalur kebahagiaan yang sebenarnya Inayah. Seperti aku ini padahal dulu aku tidak mencintaimu tapi sekarang aku sangat mencintaimu," ucap Ramzi.


Kata-kata kasar yang dulu terucap dari lisan Ramzi kini berubah jadi kata-kata indah yang penuh cinta.


"Mari kita cari bahagia bersama-sama dengan jalan ketakwaan kepada Allah. Mas, aku tidak terlalu ambisius dengan karirku buktinya aku tidak mengambil S3 aku di Jepang, tapi jika Allah berikan lebih rezeki kepada kita maka aku tidak akan menolaknya karena tujuanku untuk menjadi dokter adalah untuk menolong sama manusia," ucap Inayah.


"Aku sangat bangga kepadamu, sebenarnya aku iri kepadamu karena kamu bermanfaat untuk orang banyak, sedangkan aku...." Inayah menempelkan jarinya ke bibir Ramzi.

__ADS_1


" Jangan teruskan lagi Mas, untuk kata-katanya. Sesungguhnya kamu sudah menjadi suami yang aku banggakan. Ingat di Jepang Kamulah yang merawat aku ketika kakiku patah sampai aku hari ini bisa berjalan kembali. Itu karena kamu Mas, yang selalu support aku di masa-masa kesulitan aku di Jepang," ucap Inayah.


Ramzi tersenyum, satu tangannya menempel ke pipi Inayah kemudian mengelus-elus pelan dengan jari telunjuk di bagian pipi merah itu.


"Semoga aku bisa membuat kamu bahagia sehingga pipi ini tidak tersentuh lagi air mata yang mengalir dari ujung mata sana," ungkap Ramzi pelan.


"Mas! air mata dan tangisan bukan suatu hal yang buruk, tidak selamanya tangisan itu mencerminkan kesedihan. Jika kamu tidak biarkan aku menangis. Bagaimana aku bisa meratapi semua dosa-dosaku di hadapan Allah? tangisan untuk menunjukkan bahwa kita sesungguhnya lemah, tidak bisa apa-apa, banyak dosa, munafik, tapi kita sangat butuh sekali kepada Rabbi," ucap Inayah.


Cup


Ramzi mengecup kening Inayah dengan begitu dalam dan mengelus rambut Inayah yang panjang.


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet ❤

__ADS_1


__ADS_2