Salah Lamar

Salah Lamar
Season 2 (Emi)


__ADS_3

10 tahun kemudian


Hari ini Emi di wisuda, 4 tahun lalu ia berhasil masuk ITB Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Emi dikenal sebagai mahasiswi yang sangat pandai Ia juga menjadi asisten dosen di jurusannya. Emi mempunyai bakat seperti Delisha tapi dia lebih cenderung dengan arsitektur.


"Kedua orang tuamu sudah hadir Emi?" tanya Bianca, sahabat dari Emi.


"Alhamdulillah sudah Bianca, kedua orang tuamu sudah hadir? dari Lampung kan orang tuamu?" tanya Emi.


"Iya mereka sudah datang, itu mereka." Bianca menuju kedua orang tuanya.


"Tadi Ahsan cari kamu loh," ucap Bianca.


"Ngapain dia cari aku?" tanya Emi.


"Ahsan itu suka sama kamu, memang kamu nggak paham perhatiannya dengan kamu," jawab Bianca.


"Ah sudahlah aku tidak memikirkan itu, ayo ke sana kita gabung sama teman-teman kita. Sepertinya acara sebentar lagi akan dimulai." Emi menarik lengan Bianca.


Acara wisuda Emi berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Emi sangat senang sekali karena sekarang dia sudah menjadi arsitek. Inayah dan Ramzi membebaskan anak-anaknya untuk memilih jalan mereka masing-masing. Haidar dan Haidir pun juga masih kuliah sekarang semester 4 di Jogja. Inayah dan Ramzi kini hanya berdua di Cirebon walaupun ada ummi dan abi karena anak-anak mereka sudah besar dan memilih kuliah di luar kota Cirebon. Haidar mengikuti jejak Inayah, ia mengambil bidang doktereran sedangkan Haidir dia mengambil fakultas teknik mesin, mereka memutuskan tidak kuliah di luar negeri agar ketika mereka ingin bertemu dengan kedua orang tua mereka. Mereka akan langsung ke Cirebon.


Inayah tersenyum ketika nama Emi dipanggil sebagai mahasiswi yang mempunyai nilai cumlaude, ia menangis bahwa anak tertuanya kini sudah tumbuh sangat cantik. Emi mengucapkan satu dua kata sebagai mahasiswi yang mempunyai nilai tertinggi di atas panggung.


"Saya bisa berdiri di sini karena dididik Mamah saya yang sangat berjasa bagi kehidupan saya. Ia yang mendorong saya untuk sampai ke titik ini, yang mengajarkan saya menjadi wanita yang kuat untuk berdiri sendiri. Mamah terima kasih, i love you."


Inayah langsung memeluk Emi ketika ia turun dari panggung. Inayah sangat terharu mendengar ucapan Emi. Ramzi pun juga ikut memeluk anaknya, dia tidak menyangka anaknya yang dahulu digendong oleh dia, kini sudah besar dan berhasil lulus sebagai mahasiswi yang mendapat nilai terbaik. Emi langsung direkrut oleh dosennya agar meneruskan ke jenjang S2 dan ia akan langsung diangkat menjadi dosen muda di Universitas tersebut karena Emi merupakan mahasiswa terpandai, Emi belum memberikan jawaban apakah ia akan meneruskan S2 nya di Bandung.


seseorang meneriaki namanya, Emi menoleh. Ada seorang pria yang membawa bunga langsung memberikannya kepada Emi. Ramzi melihat pria tersebut dan ia langsung menghadang.


"Emi siapa dia?" tanya Ramzi.


"Ia hanya teman aku Ayah, namanya Ahsan," jawab Emi.


"Om, nama saya Ahsan. Saya suka putri Om, saya nggak mau jadi teman Emi lagi, tapi saya ingin jadi pacar Emi," ucap Ahsan tanpa ada rasa sopan santun kepada Ramzi.


"Emi...apa-apaan kamu? kamu pacaran." Raut wajah Ramzi sangat marah. Inayah langsung menenangkan Ramzi agar tidak terpancing emosi.

__ADS_1


"Ayah...dengarkan dulu penjelasan Emi. Emi ndak mungkin pacaran. Putri kita tahu batasannya Ayah." Inayah mengelus pundak Ramzi agar tidak emosi.


"Ahsan apa-apaan kamu, bilang seperti itu di depan kedua orang tuaku? sampai mati aku tidak mau pacaran." Emi langsung mengalungkan tangannya ke lengan Ramzi dan Inayah. Menarik lengan kedua orang tuanya jauh dari Ahsan. Tapi Ahsan berlari dan menghalangi langkah Emi.


"Memangnya apa kekuranganku, aku kaya, tampan. Perempuan lain pada mengemis cintaku, aku kasih uang segepok mereka langsung peluk dan cium aku. Kamu seharusnya bersyukur karena aku mengajak kamu berpacaran, tidak usah ngejar cintaku lagi. Kamu bisa peluk dan cium aku langsung," ucap Ahsan dengan entengnya.


Plak Plak


Emi menampar wajah Ahsan 2 kali. Orang-orang langsung melihat ke arah Emi dan Ahsan.


"Kamu pikir, aku perempuan apa. Jangan samakan aku dengan perempuan-perempuan yang mengemis cintamu Ahsan. Kamu salah alamat jika kamu berpikir seperti itu!" ucap Emi penuh emosi.


Ibu dan bapak Ahsan yang melihat anaknya di tampar Emi. Dia langsung menghampiri Emi dengan wajah yang sangat marah.


"Kenapa kamu menampar anak saya, saya saja yang melahirkan tidak pernah menampar putra saya," ucap ibu Ahsan.


Inayah yang melihat kemarahan ibu Ahsan, ia langsung maju di depan tubuh Emi.


"Anda ibu dari pemuda ini? tolong ajarkan putra Anda, jaga sikapnya dengan wanita, karena dia juga dilahirkan dari rahim wanita. Anak saya bukan perempuan murahan, jangan hina putri saya dengan uang. Seujung kuku putra Anda ingin mencium putri saya, maka tak segan-segan sayalah yang akan menampar wajah putra Anda. Saya bisa melaporkan putra Anda ke polisi karena ucapan yang tidak mengenakan, yang menghina putri saya. Kamu camkan ini, banyak lamaran untuk meminang putri saya. Level kelas seperti kamu anak muda itu masih jauh dari para peminang putri saya." Inayah langsung pergi dengan menggandeng tangan Emi. Ramzi mengikuti langkah Inayah dan Emi dari belakang.


"Emi sayang sama Mamah," bisik Emi di telinga Inayah.


"Mamah juga sayang sama Emi dan sangat bangga karena kamu sudah menjadi mahasiswi teladan." Inayah mengelus kepala Emi.


Dalam perjalanan keluar dari ITB, Emi bertemu dengan dosennya. Dosen yang selama ini sangat membantu Emi dan mengangkat Emi sebagai asisten dosen. Emi memperkenalkan kepada Inayah dan Ramzi.


"Ayah, Mamah, ini dosen aku selama ini. Aku menjadi asdos beliau. Namanya Bu Hasna." Emi memperkenalkan dosennya.


"Assalamu'alaikum Bu, saya Inayah dan ini suami saya Ramzi. Terima kasih sudah membimbing putri saya selama ini." Inayah mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Hasna. Mereka bersalaman.


"Wa'alaikumsalam, putri Bu Inayah cerdas. Saya tidak membantu dia, itu karena kecerdasan dan keuletan Emi. Kebetulan saya ingin berbicara dengan kedua orang tua dari Emi. Kita cari tempat untuk berbicara, ada waktu Bu Inayah dan pak Ramzi?" tanya Hasna.


Tampak keseriusan dari wajah Hasna, Inayah dan Ramzi tidak bisa menolak ajakan dari Hasna. Mereka pun pergi ke sebuah restoran tempat yang tidak jauh dari ITB. Mereka langsung memilih meja dan memesan makanan.


"Maaf yah Bu Inayah, mendadak seperti ini. Saya to the point saja. Saya ingin meminang Emi untuk putra saya. Putra saya seorang dokter, saat ini ia sedang mengambil S2 mengambil ilmu kesehatan anak di UGM. Saya sudah memperlihatkan foto Emi, ia tampak tertarik dengan Emi. Saya akan memberikan CV tentang anak saya. Bagaimana Bu Inayah dan Pak Ramzi?" tanya Hasna.

__ADS_1


Ramzi mengerutkan dahinya, kenapa putrinya ini banyak yang melamar dia. Emi sama persis seperti Inayah yang menjadi incaran laki-laki. Tapi bedanya yang melamar Inayah semua keturunan Kiai dan para santri tapi Emi lain karena ada laki-laki yang mencoba mendekati Emi dengan bermodalkan kekayaannya saja.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet ❤💞💝


 

__ADS_1


__ADS_2