Salah Lamar

Salah Lamar
Saya akan Merebut Dokter Inayah


__ADS_3

Ramzi menunggu Inayah di kamar, sudah 1 jam dia menunggu. Tapi Inayah belum masuk ke dalam kamar.


"Ya Allah Ummi, ndak pengertian banget sih sama anaknya yang sedang jatuh cinta sama istrinya. ngobrolin apa sih sudah 1 jam belum kelar-kelar juga," gumam Ramzi.


Akhirnya dia membuka sosmednya berlambang F, melihat status-status temannya yang gak jelas. Gelisah menunggu Inayah di dalam kamar, karena merasa bosan ia mencoba memejamkan matanya agar bisa tertidur.


Inayah membuka pintu kamar, ia berjalan perlahan. Di lihat Ramzi yang sedang tertidur, senyum di wajah Inayah melihat suaminya. Ummi memberikan Inayah kue dan menyuruh membawa ke kamar agar Ramzi juga bisa mencicipi. Di letakkan piring kue di atas meja rias Inayah. Dia duduk di atas ranjang, membuat kasur menjadi bergerak dan membuat Ramzi bangun.


"Maaf, aku buat kamu terbangun yah," ucap Inayah.


"Ndak apa-apa, dari tadi aku memang menunggu kamu akhirnya tertidur," ucap Ramzi.


"Tadi Ummi kangen sama aku, jadi bercerita sama aku. Lama yah kamu nunggu aku?" tanya Inayah.


Ramzi duduk di samping Inayah dan langsung memeluk tubuh Inayah dengan erat.


"Kenapa Mas, kok meluk aku? aku 'kan ndak kemana-mana," ucap Inayah.


"Mau peluk aja, biar hangat," ucap Ramzi.


Modus Ramzi agar bisa memeluk Inayah, cuaca di luar sedang panas sehingga menyalahkan AC di kamarnya malah memeluk dengan alasan agar hangat.


"Mas, lepaskan ah pelukannya," pinta Inayah.


"Memang kamu gak suka aku peluk? atau kamu mau yah lebih?" tanya Ramzi.


Inayah mencubit pinggang Ramzi.


"Au sakit sayang, kok kamu cubit aku sih?" tanya Ramzi kembali.


"Kamu pikirannya mesum siang-siang. Aku ada jadwal praktik siang ini jadi aku mau siap-siap dulu," ucap Inayah.


Inayah beranjak dari ranjang hendak meninggalkan Ramzi untuk mengganti pakaiannya, tapi lengannya di tarik sehingga Inayah jatuh ke pangkuan Ramzi.


"Sayang sebentar jangan pergi dulu, aku ingin memelukmu, di rumah orang tuamu aku tak bebas menyentuhmu," ucap Ramzi jujur.


"Mas..." panggil Inayah.


"Iya sayang," ucap Ramzi.


"Benarkah kamu mencintaiku, kadang aku berpikir dengan perhatian kamu seperti ini. Membuat aku ketergantungan denganmu, lalu setelah aku ketergantungan kamu meninggalkan ku," ucap Inayah.


"Kok kamu berpikir seperti itu. Jangan berpikir yang gak-gak. Karena aku sangat mencintaimu, sungguh di hatiku hanya terukir namamu," ucap Ramzi.


"Aku juga cinta sama kamu Mas, ndak mau kehilangan kamu. Ini karena rasa takutku yang berlebihan untuk kehilangan dirimu," ucap Inayah.


"Aku berjanji, tidak akan meninggalkan mu, tidak akan menyakitimu, tidak akan mengecewakan mu. Aku akan pergi jika itu takdir dari Allah untuk pulang kepada-Nya," ucap Ramzi yang semakin erat memeluk tubuh Inayah di atas pahanya.

__ADS_1


"Mas, jangan bicara seperti itu. Sejujurnya aku pun tak sanggup seperti yang Delisha rasakan. Aku tidak bisa membayangkan itu terjadi. Hidup tanpamu apa jadinya aku nantinya." Inayah memiringkan tubuhnya, ia menatap mata Ramzi dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Ramzi.


"Biar aku yang menciummu Mas," ucap Inayah.


Inayah langsung menempelkan bibirnya di bibir Ramzi, Ramzi sangat senang Inayah menciumnya. Ia membiarkan Inayah bermain di bibirnya. Setiap sentuhan bibir Inayah setiap incinya membuat Ramzi memejamkan mata. Terasa lembut permainan Inayah.


"Terima kasih sudah sangat mencintaiku, kamu adalah cinta pertamaku, kamu laki-laki yang pertama kali menyentuhku," ucap Inayah dengan pelukan yang sangat erat.


Di kamar hanya berdua, mereka melepaskan kasih sayang untuk mengungkapkan rasa cinta mereka. Sentuhan-sentuhan kecil yang menambah percikan api cinta diantara mereka. Memang sepasang suami istri itu harus ada komunikasi, agar tercipta jalinan rumah tangga yang rukun.


"Mas, aku siapa-siapa berangkat," ucap Inayah.


"Aku antar, nanti pas pulang aku jemput. Jangan pulang sendirian tunggu aku sampai aku datang," ucap Ramzi.


"Iya sayang, aku akan menunggumu," ucap Inayah.


Inayah sudah mengganti pakaianya, ia juga tidak lupa dengan jas putihnya. Inayah keluar dari kamar dengan Ramzi menggenggam tangan Inayah.


"Cie yang bermesrahan, digenggam terus tangan istrinya gak mau kehilangan yah," Ummi Laila meledek Ramzi.


"Mas, lepaskan. Malu aku dengan Ummi," bisik Inayah.


"Gak, biar saja. Kita sudah halal ini kenapa harus malu hanya pegangan tangan aja kok," bisik Ramzi.


"Eh bisik-bisik di depan Ummi," ucap Ummi Laila.


Inayah hanya tersenyum.


"Hati-hati di jalan yah," ucap Ummi.


"Mas, lepaskan dulu tanganku. Aku mau salim sama Ummi," pinta Inayah.


"Ramzi, kayanya sudah bucin nih sama istrimu," ledek Ummi Laila.


"Ih Ummi tahu istilah bucin," ucap Ramzi.


Ramzi melepaskan tangan Inayah dari genggamannya dan Inayah langsung meraih tangan Ummi Laila, mencium punggung tangan mertuanya itu.


Inayah di antar oleh Ramzi untuk menuju Rumah sakit.


"Kamu ndak pakai lipstik sayang?" tanya Ramzi.


"Ndak Mas, kamu 'kan ndak suka jika aku menggunakan lipstik," ucap Inayah.


"Pakai juga ndak apa-apa. Mana lipstikmu? biar aku yang pakaikan," ucap Ramzi.


"Ndak ada Mas, sudah aku buang. Jadi aku ndak punya lipstik lagi. Biarlah seperti ini, aku tidak akan menggunakan lipstik lagi karena aku tahu kamu tidak menyukainya ketika aku menggunakannya," ucap Inayah.

__ADS_1


Ramzi menyalahkan mesin mobilnya, dia memasangkan seat belt Inayah, Inayah sangat senang dengan perhatian kecil yang Ramzi lakukan. Setibanya di rumah sakit Ramzi membukakan pintu untuk Inayah dan mengantarkan Inayah sampai pintu masuk rumah sakit.


"Mas, aku kerja dulu yah," ucap Inayah.


"Jangan melamun dan rindukan aku yah ketika kamu memeriksa pasienmu. Bahaya nanti salah diagnosa hehehe," ucap Ramzi cengengesan.


Inayah mencubit pinggang Ramzi.


"Au sayang kamu suka banget sih cubit-cubit aku," Ramzi mengusap-usap pinggangnya.


"Habis, kamu itu gemesin sih Mas. Yah sudah aku masuk dulu yah." Inayah meraih tangan Ramzi lalu dia mencium punggung tangan suaminya.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Inayah ketika masuk ke dalam rumah sakit.


"Wa'alaikumsalam," Ramzi menjawab salam.


Ramzi hendak pulang tapi dia berpapasan dengan Dokter Azril.


"Anda suami Dokter Inayah 'kan?" tanya Dokter Azril.


"Iya, ada apa yah," jawab Ramzi.


"Jagalah Dokter Inayah, jangan sampai ia menangis. Jika aku melihat Dokter Inayah menangis lagi karena dia sakit hati karena Anda. Saya akan merebut Dokter Inayah dari tangan Anda," ucap Dokter Azril dengan tegas.


"Apa? Anda jangan dekat-dekat dengan istri saya yah. Dokter Inayah adalah istri saya, dia hanya cinta sama saya," ucap Ramzi.


Dokter Azril meninggalkan Ramzi tanpa perduli dengan jawaban dari Ramzi.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)

__ADS_1



Love you semua


__ADS_2