Salah Lamar

Salah Lamar
Suaramu Obatku


__ADS_3

Inayah di bawa oleh regu penyelamat Jepang. Pemerintah Jepang sangat cepat menangani korban bencana gempa Bumi. WNI di Jepang sebanyak 59.820 jiwa sudah tercatat di kedutaan Indonesia. Korban luka-luka sebanyak 505 jiwa, terluka parah sebanyak 112 termasuk Inayah yang mengalami luka parah.


Para medis Jepang langsung membawa Inayah ke ruang operasi. Inayah tercatat sebagai Mahasiswa Bea Siswa S2 kedokteran. Kaki Inayah mengalami luka yang serius. Kondisi Inayah termasuk emergency maka tindakan operasi dipercepat pada saat itu juga. Bersyukur Inayah ditemukan hanya 1 malam sejak gempa bumi, jika lama maka kakinya akan membusuk.


Doa para santri dan santriwati dikabulkan oleh Allah. Untuk mencapai kesuksesan 95% adalah dari ikhtiar dan 5% dari doa, jika doa tak dikabulkan oleh Allah maka usaha tak akan pernah 100% maka tidak mencapai kesuksesan. Hak Allah untuk menolong siapa yang Dia akan tolong. Doa dari orang-orang beriman dan para alim ulama yang menjadi pondasi keselamatan Inayah dan putri kecilnya.


Bayangkan doa dari 2 pesantren, dan doa para Kiai yang mengenal Abah Amar dan Abi Afnan, mereka semua mendoakan akan keselamatan Inayah dan putrinya.


Ketika terjadi Gempa Syifa dan suaminya sedang berada di luar gedung jadi ia selamat, Azril sedang dalam rumah sakit saat itu ia sedang kuliah tapi ia berhasil menyelamatkan diri dan hanya mengalami luka kecil. Syifa yang mendengar Inayah merupakan korban dengan luka parah, ia langsung bergegas ke rumah sakit dan ia harus memastikan keadaan Emi, putri kecil Inayah.


Syifa bertanya kepada resepsionis, dan mendapatkan Info bahwa Inayah sedang di operasi dan anak Inayah tidak terluka sedikitpun. Syifa sangat bersyukur mendengar hal itu. Ia berdoa agar operasi Inayah berjalan sukses.


"Mas, kamu 'kan murid Kiai Amar, telepon Kiai Amar tentang keadaan Ning Inayah saat ini," pinta Syifa.


"Aku tidak tahu nomor pribadi Kiai, tapi sebentar nomor telepon pesantrennya aku masih simpan atau tidak. Aku cek dulu," ucap Ahmad.


Ahmad mengecek catatan nomor telepon, ia menemukan nomor telepon pesantren Kiai Amar. Syifa langsung menelepon untuk mengabari keadaan Inayah.


Syifa \= ["Assalamu'alaikum, bisa berbicara dengan Kiai Amar."]


Delisha \=["Waalaikumsalam, maaf ini dari siapa?"]


Syifa \=["Saya Syifa, teman dokter Inayah yang mendapatkan bea siswa juga di Jepang."]


Delisha \= ["Saya adik dari Mba Ina, bagaimana keadaan Mba Ina dan putrinya? apakah Mba Syifa menelepon ke sini ada hubungannya dengan Mba Inayah?"]


Syifa \=["Iya benar, Dokter Inayah sedang di ruang operasi saat ini, salah satu korban dengan luka terparah. Saya belum tahu kondisi pastinya, saya dengar sedikit kabar bahwa kakinya mengalami luka berat dan untuk putrinya Alhamdulilah selamat dan tidak terluka sedikitpun."]


Delisha \=["Mba saya minta nomor Mba Syifa, agar bisa lebih mudah bertanya tentang keadaan Mba Inayah."]


Syifa memberikan nomornya kepada Delisha. Delisha langsung mengabari kepada keluarganya dan juga keluarga Ramzi. Mereka bisa bernafas lega karena mendapat berita tentang Inayah dan putrinya yang selamat.


Ramzi yang mendengar berita tersebut, ia langsung sujud syukur. Tidak ada hal yang paling berharga selain istri dan putrinya. Bagi Ramzi mereka adalah harta yang paling berharga.


Syifa menunggu operasi Inayah, dokter melakukan operasi selama 7 jam lamanya. Akhirnya dokter keluar dari ruang operasi, Syifa langsung bertanya kepada dokter yang telah mengoperasi Inayah. Diketahui bagian kaki kanan Inayah, robek di bagian paha dia mendapatkan jahitan luar dalam sebanyak 20 jahitan, kemudian tulang betis Inayah patah ini akibat ketika Inayah memaksakan agar mendapatkan posisi miring ketika ingin memberi ASI kepada putrinya. Lalu punggung Inayah mengalami memar yang sangat parah akibat benturan keras, ini di sebabkan ketika Inayah melindungi putrinya ketika pijakan kakinya ambles, ia menggunakan punggungnya agar putri kecilnya tidak terkena reruntuhan.


Syifa bisa bernafas lega karena operasi berjalan sukses. Inayah masih belum sadarkan diri, ia masih dalam keadaan kritis. Syifa menunggu Inayah dan ikut membantu merawat bayi Inayah. Ahmad baru tahu Inayah mempunyai bayi karena selama ini Syifa menyembunyikannya, itu memang atas permintaan Inayah.


Syifa masuk ke ruang ICU, ia memegang tangan Inayah.

__ADS_1


"Ning sadarlah, Emi menunggu mamahnya. Sampean hebat Ning. Berjuang sendiri di dalam reruntuhan. Bahkan tubuh sampean luka-luka karena sampean menggunakan tubuh sebagai tameng, agar reruntuhan tidak mengenai putri sampean. Aku ndak bisa kebayang sehari semalam sampean berada di bawah reruntuhan dengan berusaha memberikan ASI untuk Emi. Emi selamat tanpa luka seujung kuku," ucap Syifa lirih.


"Sampean wanita kuat Ning, aku banyak belajar dari sampean. Begitu sabar menghadapi suami sampean yang acuh, yang menghina sampean awal menikah, sampai sampean membuat suami berlekuk lutut jatuh cinta sama sampean. Aku ndak salahkan waktu sampean cemburu karena awal suami sampean yang bilang ndak mencintai sampean dan ketika sampean memberikan seluruh hati dan raga, malah melihat adik dan suami duduk sangat akrab. Walaupun itu hanya kesalah pahaman. Tapi rasa panas dan sangat cemburu pasti ada. Cemburu itu cinta. Sadar Ning, masih banyak warga cirebon yang butuh tangan emas Ning Inayah." Syifa membelai kepala Inayah.


Syifa memakaikan jilbab bergo agar aurot Inayah tetap terjaga. 3 hari Inayah tidak sadarkan diri. Perlahan ia membuka mata, Inayah melihat sekeliling ruangan, ia mengingat-ingat kejadian yang ia alami.


Ketika Syifa tiba, ia melihat Inayah sudah sadar. Langsung Syifa memanggil dokter. Dokter memeriksa Inayah, senyum berkembang di bibir dokter.


"Kanojo wa daijoubu desu. Kare no asih ga naoru no ni jikan ga kakatta," ucap Dokter.


(Dia akan baik-baik saja. Butuh waktu untuk penyembuhan kakinya.)


"Arigatou gozaimasu," ucap Syifa.


(Terima kasih banyak.)


"Syifa putriku bagaimana?" tanya Inayah.


"Alhamdulilah Ning, putrimu baik-baik saja tanpa luka sedikitpun, 3 hari ini bersama aku," ucap Syifa.


"Alhamdulilah...terima kasih Syifa," ucap Inayah.


"Syifa bisa minta tolong teleponkan suami aku?" tanya Inayah.


Syifa membantu Inayah untuk menelepon Ramzi.


Inayah \=["Assalamu'alaikum, Mas ini aku."]


Ramzi \=["Wa'alaikumsalam, Alhamdulilah sayang kami sudah sadar. Aku ingin ke sana tapi bandara Jepang masih tutup."]


Inayah \=["Ndak apa-apa Mas, suaramu sudah menjadi obatku."]


Ramzi \=["Kamu pintar gombal yah, baru juga sadar."]


Inayah \= ["Ih...kok gombal, beneran kok. Suara kamu itu menghilangkan rasa rinduku, kamulah obat mujarab untukku karena apa? karena doa tulus suami lah yang telah memaafkan istri yang durhaka ini yang menjadi obatku. Tanpa dari suamiku ini mungkin aku sudah mati Mas."]


Ramzi \= ["Ssst jangan bicara seperti itu, itu suatu kewajiban aku mendoakan istri dan putriku tercinta."]


Inayah \=["Mas, aku mau telepon Delisha dulu yah. Takutnya gara-gara aku dia undur pernikahannya lagi,"]

__ADS_1


Ramzi \= ["Oke sayang, mmmmmuuuacahh love you habibati."]


Inayah \= ["Hehehe, daisuki habibie."]


Jangan lawan takdir.


Tapi berdamailah dengan takdir.


Karena yang berhak membuat takdir hanyalah Allah.


Jangan menentangnya, jika menentang takdir sama saja dengan menentang kehendak Allah.


Bersambung


✍ Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku.


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)




Terima kasih untuk pembaca setiaku, walaupun hadiahnya gak seberapa semoga senang yah hadiah dari aku


__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2