
Setelah Emi di rawat 2 minggu, Emi diperbolehkan pulang. Untuk sementara Hasan dan Emi tinggal di Cirebon. Setelah Emi pulih barulah Hasan akan membawanya ke Jakarta. Bilah sudah mempersiapkan rumah untuk mereka di Jakarta.
"Hati-hati sayang jalannya." Hasan menuntun Emi untuk masuk ke dalam mobil. Emi duduk di jok depan, sabuk pengaman Hasan yang pasangkan untuk Emi.
"Terima kasih Mas," ucap Emi. Hasan tersenyum kepada Emi, Hasan mencuri kesempatan. Sebelum pintu mobil di tutup Hasan mencium pipi Emi.
"Ih Mas, cium-cium aku. Malu kalau di lihat, adabnya kurang baik." Emi membangunkan bibirnya membuat Hasan gemas.
"Jangan di manyunkan bibirnya nanti aku cium loh..." Emi membulatkan matanya. Hasan mengeluarkan sifat aslinya ketika sudah menikah dengan Emi.
"Sifat asli kamu ternyata seperti ini yah," ucap Emi kesal. "Sudah deh Mas, tutup pintunya dan jalankan mobilnya. Aku sudah kepanasan, ndak kasian sama istrinya." Emi mood nya langsung berubah, ia mendiamkan Hasan di mobil.
"Kok aku di diamkan gitu sih sayang?" tanya Hasan.
"Lagi males ngomong aku," jawab Emi.
Hasan tak tahu harus berbuat apa, jika perempuan sedang ngambek. Ia pun menjadi diam di mobil, Emi tambah kesal ketika Hasan hanya diam saja. Hasan menepikan mobilnya.
"Emi, bisa lihat aku," ucap Hasan tegas. Emi langsung menatap Hasan.
"Seorang suami itu harus mempunyai kasih sayang kepada istri. Aku cium kamu itu tanda sayang aku sama kamu. Lagi pula tadi terhalang pintu ketika mengecup pipi kamu. Aku menunjukkan itu hanya denganmu karena kamu istriku, membuat hati istri senang itu tugas suami. Jika kamu tidak suka aku kecup maka katakanlah. Aku tidak akan melakukannya lagi." Hasan berbicara sangat serius kepada Emi.
"Bu...bukan seperti itu Mas." Emi gugup untuk berkata, karena tatapan Hasan sangat dalam.
"Aku ingin membuat kamu nyaman aja, jika kecupan aku untukmu tidak nyaman maka katakanlah," ucap Hasan.
Emi malah menangis, ia bingung apa yang harus ia ucapkan kepada Hasan. Melihat Emi menangis membuat Hasan makin gelagapan.
"Ya Allah, kamu nangis. Aku nyakitin perasaan kamu?" tanya Hasan.
Emi menggelengkan kepalanya, Hasan mengusap air mata Emi.
"Maafkan aku Mas, sudah ngambek sama kamu. Aku suka kamu kecup, tapi tadi aku malu di tempat umum," ucap Emi.
"Di kamar nggak apa-apa?" tanya Hasan. Wajah Emi memerah mendengar perkataan Hasan. Ia belum terbiasa terlalu dekat dengan lawan jenis. Masih seperti mimpi jika ia sudah menikah dengan Hasan.
"Boleh Mas," jawab Emi dengan wajah tersipu malu. "Jalan Mas, Mamah dan Ayah sudah menunggu di pesantren," pinta Emi.
Hasan melajukan mobilnya kembali ke pesantren. Hasan memarkirkan mobilnya di dalam pesantren, para santri dan santriwati sudah mengetahui Ning Emi sudah menikah. Mereka penasaran dengan suami Ning nya, wajahnya seperti apa suami Ning Emi? Sampai Ning Emi mau menikah dengan suaminya sekarang. Itu yang dipikirkan oleh para santri.
Hasan keluar dari mobil, para santriwati sudah berbisik-bisik.
"Ganteng tenan, pantas Ning Emi mau. Aku juga mau kalau jodohku seperti itu. Wajah indo," bisik santriwati berkerudung ping.
"Mereka serasi, cantik dan ganteng," ucap santriwati berkerudung hitam.
__ADS_1
Hasan membukakan pintu mobil dan menggandeng tangan Emi, Hasan takut Emi terjatuh karena kepalanya masih sering pusing.
"Mas, genggam erat tanganku. Santriwati pasti pada lihatin kamu, jangan senyum Mas dengan mereka," ucap Emi.
"Artinya aku harus cemberut? Nanti di bilang sombong," ucap Hasan.
Emi mengalungkan tangan kirinya ke tangan kanan Hasan. Tangan kanan Emi masih menggunakan gips. Mereka berjalan untuk menuju rumah utama, banyak santri dan santriwati yang melihat mereka karena pasangan yang sempat viral mendadak di dalam pesantren.
Inayah sudah mempersiapkan kamar Hasan dan Emi, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah.
"Hasan, bawa Emi langsung ke kamar. Agar ia bisa istirahat," ucap Inayah. Hasan mencium tangan semua keluarga Emi kemudian ia bergegas untuk masuk ke kamar mereka.
Hasan melihat sekeliling kamar Emi yang bernuansa pink, Sangat rapih, banyak buku-buku yang berjejer di sana. Hasan melihat album yang ada di meja buku, ia tersenyum melihat foto Emi sewaktu di Jepang.
"Kamu waktu kecil di Jepang?" tanya Hasan.
"Iya, aku lahir di Jepang," ucap Emi.
Hasan duduk di tepi ranjang, di samping Emi. Ia sambil lihat-lihat album foto masa kecil Emi.
"Waktu kecil kamu gemesin banget," ucap Hasan.
"Sekarang tetap gemesin ndak?" Hasan menatap Emi, ia memegang tangan Emi. "Sekarang kamu tambah gemesin, cantik di mataku. Terima kasih sudah memilihku menjadi suamimu."
Emi beristirahat, karena dirinya masih belum pulih total. Emi tertidur dengan di peluk oleh Hasan, Hasan memandangi wajah Emi yang tanpa make up, ia berucap syukur di dalam hatinya. Karena Emi dianugrahkan kecantikan luar dan dalam. Hasan mengecup dahi Emi dan ia pun menyusul Emi untuk tertidur.
***
"Mah, Emi tangannya akan kembali normal lagi?" tanya Ramzi.
"Insha Allah, Emi dipasangkan pen yang bagus waktu aku operasi dia," jawab Inayah.
"Tangan kanannya untuk gambar, jika cacat bagaimana ia design gedung-gedung yang unik," ucap Ramzi.
"Jangan khawatir Ayah, percaya dengan Hasan. Ia pasti jaga Emi banget, dari sorot matanya Hasan sangat mencintai Emi." Ramzi menganggukan kepalanya tanda ia setuju dengan ucapan Inayah.
"Emi, pintar milih suami. Seperti Mamahnya yang pilih aku karena aku tampan," celetuk Ramzi.
"Apa Ayah nggak salah dengar? Yang bucin siapa? Ayah yang bucin banget sama aku. Ndak mau kehilangan aku, cemburunya besar, apalagi dengan dokter Azril." Ramzi langsung memberhentikan bibir Inayah yang bergerak dengan jari telunjuknya.
"Jangan menyebutkan nama dokter Azril di hadapanku," protes Ramzi.
"Dih... masih cemburu aja. Sudah tua Ayah, ingat sama umur. Aku juga ndak tahu keberadaan dokter Azril. Sudah nikah kali dengan dokter Lita." Ramzi memiringkan matanya mendengar ucapan Inayah. " Nggak mungkin dokter Lita mau sama dokter Azril yang sifatnya seperti itu."
"Kan terakhir ketemu, dokter Azril gendong anak. Dia bilang anaknya, kan artinya ia sudah menikah," ucap Inayah.
__ADS_1
"Yah nggak mungkin aja dengan dokter Lita, Dokter Lita baik dan lembut gitu," ucap Ramzi.
"Jadi aku ndak lembut gitu." Inayah malah ngambek karena Ramzi berkata seperti itu. Ramzi kelabakan ketika Inayah ngambek, karena bakal di diami seharian penuh oleh Inayah.
Tak pernah ada yang tahu kemana dokter Azril dan dokter Lita pergi. Tidak ada info yang mengatakan bahwa mereka menikah. Dokter yang penuh rahasia.
reader aku bertanya, kalian suka baca novel suka yang seperti POV atau yang banyak percakapannya?
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1