Salah Lamar

Salah Lamar
Emi Tersadar


__ADS_3

Rasa syukur di hati Hasan sudah menikahi gadis yang ia cintai. Dia tak akan menyesal untuk menikahi Emi dalam kondisi koma karena itu adalah keputusan yang diambil oleh dirinya. Ijab qobul telah selesai, Hasan kini melangkahkan kakinya ke kamar ruang ICU. Dia memutar handle pintu ruang ICU dan melangkahkan kakinya untuk masuk, hanya Hasan sendiri yang masuk ke ruangan itu Hasan melingkarkan cincin di jari manis kanan Emi.


"Assalamualaikum istriku, aku selipkan cincin ini di jari manismu. Impianku melakukan ini dengan gadis yang sudah aku nikahi dan aku cintai." Hasan menahan tangisannya, ia tidak ingin Emi mendengar tangisannya.


"Sayang aku menunggumu untuk kamu membuka matamu, agar aku bisa menatap matamu yang cantik." Inayah dan Bilah yang melihat Hasan sedang berkomunikasi dengan Emi menitikan air mata, mereka tak menyangka kejadian ini menimpa Emi.


"Terima kasih Bilah, kamu telah melahirkan Hasan. Pria yang baik yang memang tulus mencintai putriku." Inayah memegang tangan Bilah.


"Aku pun berterima kasih kepadamu telah melahirkan Emi, hanya Emi yang bisa membuat Hasan jatuh cinta, hanya Emi yang membuat Hasan merasakan cinta di hatinya." Bilah langsung memeluk Inayah dengan erat.


Setelah Hasan keluar dari ruang ICU, Inayah masuk ke ruang ICU. Di belai kepala Emi dengan lembut.


"Emi, kamu sudah menjadi istri dari seorang pria yang kamu cintai. Mamah masih ingat ketika kamu bersemangat menceritakan kamu telah jatuh cinta kepada seseorang. Emi, rasakan tangan Mamah ini, kamu akan merasakan hati Mamah yang sedang menunggumu bangun. Kamu gadis yang hebat, kamu gadis kuat, permata hati Mamah yang tercantik." Inayah mencium dahi Emi.


Hasan duduk, ia meletakkan kepalanya ke tembok. Bagas, ayahnya duduk di sampingnya.


"Kamu harus kuat menjadi suami, bantu istrimu untuk membuka mata kembali." Hasan mendengarkan setiap kata yang ayahnya utarakan.


"Ayah, bantu aku untuk mencari pelaku yang menabrak Emi," ucap Hasan.


"Om Adnan sudah menemukan titik terang siapa pelakunya. Kamu tenang saja, penabrak itu tidak akan lepas dari hukuman," ucap Bagas.


***


POV Hasan


Aku berjalan di lorong rumah sakit, jikalau Emi tidak mengalami kecelakaan bukan lorong ini yang aku tapaki tapi sebuah taman yang Emi impikan sambil menggenggam tangannya dengan erat. Bohong jika aku berkata ini tidak berat bagiku, ini sangat berat yang aku rasakan. Istriku terbarang koma, ingin rasanya aku memanjakannya.


Aku akan pastikan orang yang telah menabrak istriku, ia harus menerima hukuman atas perbuatannya.


Sudah 4 hari aku menikahi Emi, ia masih belum sadarkan diri. Setiap hari aku ke kamar ICU, kutatap wajahnya yang cantik. Pertemuan kita memang singkat, tapi waktu yang singkat itu menumbuhkan cinta yang kuat. Emi gadis cantik nan ayu keturunan Jawa, setiap orang yang melihat Emi pasti akan suka dengan wajahnya.


Entahlah kenapa aku jatuh cinta kepadanya, di Semarang Kakekku selalu memperkenalkan aku dengan gadis-gadis keturunan Kiai atau santriwatinya, mereka pun cantik tapi aku tidak pernah tertarik kepada mereka. Ketika aku melihat Emi yang pertama kali, ada desiran jantungku yang bergetar cepat. Awal aku tak begitu menyadarinya tapi ketika aku bertemu dia yang kedua kali, rasa ingin memilikinya muncul di hatiku tapi aku tidak berani untuk mengatakannya, takut lancang dan dia jauh dariku.


Takdir memang tidak pernah di duga, dia berani mengutarakan hatinya kepadaku. Malu aku, dia terlebih dahulu yang mengatakan cinta.


"Assalamu'alaikum Emi istriku, aku rindu mendengar suaramu. Aku menunggu kamu di sini, percayalah aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi." Aku genggam tangannya, tangannya dingin. Aku gosok-gosok tangannya dengan tanganku agar ia merasakan kehangatan, aku ciumi tangannya agar ia merasakan bahwa aku sangat mencintainya. Aku belai pipi putihnya, aku sentuh bibir tipisnya.


Gawai ku tiba-tiba bergetar, ada pesan singkat yang masuk dari ayah.

__ADS_1


Bagas \= ["Hasan, pelakunya sudah tertangkap."]


"Aku pergi sebentar yah, tunggu aku. Aku akan kembali," bisikku di telinga Emi. Kukecup dahinya lalu kukeluar dari ruang ICU.


Keluargaku sudah tahu semua, bahwa pelaku penabrak Emi sudah tertangkap. Aku menitipkan Emi kepada Kak Heelwa, karena kedua orang tuaku dan juga Emi ikut ke kantor polisi.


"Kak, titip Emi yah, jika ada perkembangan langsung hubungi aku." ucapku kepada kakak.


"Iya Hasan, Kakak akan jaga Emi," jawab kakak.


Aku langsung menuju kantor polisi, di kantor polisi mamah Inayah menatap sang pelaku dengan geram.


"Mamah mengenal pelaku itu?" Aku bertanya kepada mamah Inayah. Mamah Inayah menganggukan kepalanya, "Iya, ia yang melamar Emi, Emi langsung menolak. Kejadian itu 2 hari sebelum hari khitbah yang sudah di rencanakan." Mamah Inayah berjalan menghampiri pelaku dan ia langsung menampar pipi pelaku. "Dokter macam apa kamu? Ingin membunuh seseorang. Putri saya sekarang koma karena perbuatan kamu."


"Emi koma Bu Inayah?" tanya Hasna. Ia terlihat syok dengan apa yang ia dengar.


"Ia putri saya koma, itu karena putra Anda." Mamah Inayah sangat marah. Aku pun sangat geram dengan pelaku, aku menghampirinya, lalu kutunju wajahnya. "Itu tak sebanding dengan apa yang di derita istriku."


"Hai, kamu memukul aku? Pak Polisi lihat dia memukul wajahku," sang pelaku meminta bantuan kepada polisi. Aku tersenyum miring kepadanya. "Mereka tak akan menangkapku." Aku menepuk-nepuk pipinya.


"Mah, aku minta bantuan Mamah." Aku menghampiri mamahku.


"Jangan biarkan ia jadi dokter kembali, jika dia bebas tak ada 1 rumah sakit pun di Indonesia yang menerima dirinya," ucapku lantang.


"Hai, kamu tak bisa membuat mati profesiku," sang pelaku tak rela jika profesinya tidak bisa ia gunakan. Mamahku bisa melakukan itu, dengan bukti-bukti yang ada, mamah akan mencari kesalahan sang pelaku yang lain untuk menguatkan pencabutan izin dokternya.


Aku tak mau berlama-lama di kantor polisi. Karena aku ingin menunggu Emi di rumah sakit. Aku sudah merasa lega karena sang pelaku sudah tertangkap.


"Kak, terima kasih sudah menjaga Emi," ucapku kepada Kak Heelwa.


Aku masuk kembali ke ruang ICU, kali ini aku tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Aku belai pipinya dengan lembut, tetesan air mataku mengenai matanya. Aku langsung membersihkan tetesan air mataku. Dari genggaman tangan, aku merasakan jemari Emi bergerak.


"Emi, kamu bisa mendengar aku?" Aku terus menggenggam tangannya. Mata Emi perlahan terbuka, ia menatap aku dan tersenyum.


"Belum mahram jangan sentuh aku dulu," suara lirih dari Emi, sangat lirih.


Aku bisikan di telinganya. "Kamu mahramku, aku sudah menikahimu." Aku kecup keningnya. Tampak wajah bingung dari Emi.


"Kapan kita menikah?" tanyanya lirih.

__ADS_1


"Sehari setelah kamu melakukan operasi." Aku memperlihatkan jari manis kanannya yang sudah kuselipkan cincin nikah. Emi menyentuh wajahku, "kamu ndak apa-apa?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Padahal kamu yang terluka. Kamu tahu jantungku seketika seperti berhenti ketika melihat darahmu? Jangan lakukan itu lagi. Tunggu sebentar, aku akan memberi tahu Mamah Inayah." Aku langsung bergegas untuk memanggil mamah Inayah agar Emi bisa di periksa.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤💞


__ADS_2