
Emi sangat senang setelah menunggu Hasan selama 8 hari akhirnya bisa sarapan bersama, walaupun sangat sederhana tapi penuh dengan arti. Bagi Emi ini sangatlah spesial, karena Hasan di hati Emi sangat spesial.
"Emi terima kasih atas roti nya," ucap Hasan ketika ia ingin beranjak dari hadapan Emi.
"Sama-sama Hasan, terima kasih juga sudah memakan roti selai buatan aku," ucap Emi. Emi melihat punggung Hasan yang makin lama semakin menjauh, jangan di tanya bagaimana hati Emi sekarang, hatinya sangat berbunga-bunga.
"Hai Emi, itu siapa? cowo kamu yah? teknik apa dia?" Anggun teman sekelas Emi tiba-tiba berdiri di belakang Emi. Membuat Emi sangat terkejut.
"Astagfirullah Anggun, kamu ngagetin aku sih. Dia teknik mesin," jawab Emi.
"Tampan yah," celetuk Anggun. Wajah Emi berubah seketika ketika Anggun memuji ketampanan Hasan.
"Jangan cemberut gitu dong, aku sadar kok wajah aku ini mana mungkin dapatkan cowo segampang dia. Kalau kamu sih wajar, kamu cantik Emi." Anggun menyenggol lengan Emi. Dia meledek wajah Emi yang masih cemberut dan merangkul pundak Emi untuk menggiring Emi masuk ke dalam kelas.
"Udah yok, kita masuk kelas. Pangeran kamu juga sudah tidak terlihat lagi," ucap Anggun.
Emi pun masuk ke dalam kelas, mata kuliahnya akan segera di mulai. Emi tidak bisa konsentrasi, pikirannya tidak bisa fokus karena wajah Hasan selalu terbayang di matanya. Ia berkata dalam dirinya. Ini bukan diriku karena aku biasanya fokus, pendidikan yang aku kedepankan. Semakin ia ingin menghilangkan bayangan Hasan semakin ia tidak bisa fokus. Emi memutuskan sehabis mata kuliah selesai ia akan mengirimi pesan singkat kepada Hasan.
Emi \= ["Assalamu'alaikum, Hasan maaf bisa bertemu nanti siang? Aku ingin berbicara sesuatu kepada kamu."]
Emi menunggu balasan dari Hasan, 1 jam menunggu tapi Hasan belum membalas pesan singkatnya itu.
Hasan \=["Waalaikumsalam, iya aku bisa. Ketemu di kantin yah."]
Emi mendapatkan balasan pesan dari Hasan setelah 2 jam. Ketika jam makan siang, Emi pun bergegas ke kantin. Ternyata Hasan lebih dahulu datang ke kantin, Hasan melambaikan tangannya ketika melihat Emi. Emi menghampiri Hasan.
"Maaf sudah lama kamu menunggu Hasan?" tanya Emi dengan mata tak menatap Hasan.
"Baru kok," jawab Hasan. Emi menempati tempat duduk di sebelah kiri Hasan. Ia tak mau duduk di depan Hasan karena pandangannya akan terarah ke Hasan.
Setelah Emi datang, Hasan memesan makanan. Ia bertanya dengan Emi mau memesan apa. Mereka pun memesan makanan.
"Kamu mau mengatakan apa Emi?" tanya Hasan.
"Habis kita makan yah, takutnya saat aku mengatakan kamu langsung pergi. Mubazir nanti makanan yang sudah di pesan," kata Emi.
Hasan menjadi penasaran, karena Emi hanya memberikan senyumannya. Setiap bertemu Emi, Hasan menjaga matanya. Dia selalu memalingkan pandangan ketika mereka berdekatan. Ketika makanan yang mereka pesan, mereka pun makan dengan adanya suara. Tidak lama makanan mereka sudah tandas di piring mereka masing-masing.
"Kamu jangan membuat aku penasaran Emi. Sebenarnya kamu mau berkata apa?" tanya Hasan.
"Tapi apapun yang aku katakan, kamu jangan menjauh dariku. Kita akan selalu jadi teman bukan musuh. Kamu harus janji dulu kepadaku," ucap Emi. Ia harus memastikan Hasan menyetujui terlebih dahulu.
"Bismilah...aku setuju," jawab Hasan.
"Hasan." Emi menghela nafasnya dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Bismilah...Hasan, aku...aku suka sama kamu, jika perasaanmu sama denganku kamu boleh mengkhitbahku di depan kedua orang tuaku." Emi menundukkan kepalanya, ia tidak berani untuk mengangkat kepalanya.
Hasan tersentak kaget dengan pernyataan Emi.
"Kamu melamar aku yah?" tanya Hasan.
Emi tak bisa menjawab pertanyaan Hasan, ia hanya menggenggam tangannya sendiri. Hening suasana, 15 menit tidak ada percakapan lagi. Karena Emi merasa dirinya di tolak ia langsung berkata.
"Maaf jika aku mengatakan kejujuran ini, karena jika aku tidak mengatakan ini maka aku berdosa selalu membayangkan kamu. Tidak apa-apa jika kamu tidak ada rasa seperti aku. Maaf sekali lagi, aku permisi. Assalamu'alaikum." Emi langsung berdiri dan langsung meninggalkan Hasan yang masih duduk di kantin.
Emi berjalan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
'Malu aku mengatakan jujur oleh dia, dia tidak ada reaksi bahkan tidak mengejar ku. Karma kah ini karena aku banyak menolak khitbah laki-laki sholeh. Ah...Emi ndak ada karma dalam islam, semua kejadian atas kehendak Allah,' ucap batin Emi.
Emi langsung kembali ke kelasnya, wajahnya pucat pasi.
"Emi kamu sakit?" tanya Anggun. Karena Anggun melihat wajah Emi yang pucat.
"Aku baik-baik saja Anggun," jawab Emi cepat.
"Kalau kamu sakit jangan di tahan, istirahat aja." Anggun memegang dahi Emi dengan punggung tangannya.
"Aku ndak demam Anggun," ucap Emi.
"Iya terima kasih Anggun, Insha Allah aku baik-baik saja," jawab Emi.
Emi pun mengikuti mata kuliah dengan serius, ia sudah bertekat untuk melupakan perasaannya ini, kepada Hasan. Ia tak mau membayangkan wajah Hasan kembali karena akan menambah dosa. Selesai kuliah Emi langsung keluar dari kelasnya. Tak sengaja di depan pandangan ada Hasan, ia memberhentikan langkahnya agar Hasan sudah jauh dari pandangannya baru ia akan berjalan kembali.
"Man ana? Siapa aku? Di mata Hasan, aku bukan siapa-siapa. Di pesantren aku seorang Ning, tapi Hasan tidak tahu akan istilah Ning," gumam Emi sambil berjalan dengan menundukkan kepalanya, ia hanya melihat sepatunya.
"Ternyata jatuh cinta ndak enak yah rasanya," gerutu Emi sambil berjalan.
Pikiran Emi menjadi kosong, ia menyesal mengatakan kejujuran kepada Hasan. Tapi ia juga tak mau membayangkan terus menerus wajah Hasan. Wajah yang membuat jantung Emi berdetak dengan kencang, wajah yang mengisi hati Emi yang selama ini kosong.
Ketika Emi sedang berjalan, tiba-tiba lengannya tertarik. Ia sontak terkejut karena seseorang menarik lengannya.
"Ahsan mau apa kamu, lepaskan aku," Emi memberontak ingin melepaskan cengkeraman tangannya.
Ahsan langsung memasukan Emi ke dalam mobil, Emi makin ketakutan. Mobil sudah terkunci, Emi menggedor-gedor kaca jendela mobil.
"Diam kamu Emi, kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu," ucap Ahsan.
"Kamu gila Ahsan, keluarkan aku dari sini!"
Ahsan mengeluarkan sapu tangan yang sudah dituangkan obat bius. Kemudian Ahsan menyekap hidung Emi.
__ADS_1
"Aku gila karena kamu, laki-laki manapun tidak akan menikahimu karena aku akan mengambil kesucianmu," ucap Ahsan dengan senyumnya yang licik.
Emi tidak bisa berontak, perlahan tenaganya sudah tak ada.
'Ya Allah, tolong lah aku. Hanya dengan pertolonganmu yang aku harapkan, aku manusia lemah butuh pertolonganm-Mu,' ucap batin Emi.
Emi tidak sadarkan diri, ia pingsan.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1