
Inayah sangat bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang. Mempunyai putri yang cantik, suami tampan, agamis dan sangat cinta dengan dirinya. Nikmat mana lagi yang kau ingkari?
"Mas, bapak kamu Kiai yah?" tanya Inayah.
"Kok tahu," jawab Ramzi.
"Soalnya aku cinta banget sama kamu gara-gara doa bapakmu yang terkabul," Inayah tersenyum.
"Duh, istri aku pintar gombal yah." Ramzi mencubit hidung Inayah yang mancung.
"Sayang, ibumu istrinya Kiai yah?" tanya Ramzi.
"Kok tahu," ucap Inayah.
"Soalnya sumpah ibumu terkabul, agar aku bucin hanya denganmu," ucap Ramzi sambil mencium pipi Inayah.
Inayah tertawa, "Doa Mas, bukan sumpah."
"Ndak apa-apa, jika umma sumpahin aku seperti itu, aku rela," ucap Ramzi.
"Mas, telepon ummi. Aku kangen, kemarin pas sampai kamu belum kabarin ummi 'kan. Malah semangat 45 ngajakin aku ke atas awan. Bukannya kabarin ummi dulu," ucap Inayah.
"Hahaha...habis kepala aku sudah senat senut sayang, menahan 1 tahun. Aku jaga mata loh di sana, kalau aku gak jaga mata..." kata-kata Ramzi di potong oleh Inayah.
"Kalau kamu gak jaga mata, tak colok matamu Mas," ucap Inayah.
"Ih serem banget kamu," ucap Ramzi.
"Daripada di hukum sama Allah karena melihat perempuan yang bukan mahram kamu. Yah mending aku aja yang colok matamu Mas," ucap Inayah.
"Aku gak berani deh sekarang," ucap Ramzi.
Ramzi mengeluarkan handphonenya dan menelepon ummi yang ada di kota Cirebon. Ramzi memberikan handphone nya kepada Inayah.
Inayah \=["Assalamu'alaikum Ummi sayang, Ina kangen banget sama Ummi. Maaf baru telepon Ummi sekarang."]
Ummi \=["Waalaikumsalam, mantu Ummi yang cantik. Ummi juga kangen sama kamu, Ramzi kenapa ndak telepon Ummi langsung kemarin kalau dia sudah ketemu denganmu."]
Inayah \=["Katanya dia kangen banget sama aku, jadi lupa kabarin Ummi kalau Mas Ramzi sudah sampai di Jepang."]
Ramzi melotot mendengarkan perkataan Inayah. Inayah hanya tersenyum melihat tingkah Ramzi.
Ramzi \=["Ummi...Inayah bohong aku ndak lupa dengan Ummi."]
Ummi \=["Iya kamu ndak lupa sama Ummi, tapi kamu nyosor Inayah 'kan kemarin jadinya mau telepon Ummi nanti-nanti aja."]
Inayah tertawa mendengar perkataan Ummi.
Ramzi \=["Memang aku bebek, nyosor?"]
Ummi \=["Cuci Ummi yang cantik mana?"]
Inayah menunjukkan box bayi.
Inayah \=["Emi sedang tidur Ummi, habis minum ASI lalu dia tidur."]
Ummi \=["Ummi gemas melihat Emi mau ciumin dia. Yah sudah kamu senang-senang yah bulan madu kalian, pulang nambah cucu lagi untuk Ummi. Jangan seperti Ummi hanya punya 1, yang banyak seperti keluarga kamu."]
Inayah hanya tersenyum, karena ia berpikir untuk anak kedua setelah Emi umur 3 tahunan. Membesarkan Emi dengan kasih sayang, agar kasih sayangnya tidak terbagi terlebih dahulu. Karena jika Emi mempunyai seorang adik, Inayah akan memberi pengertian kepada Emi untuk menyayangi adiknya dan menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Itulah pemikiran Inayah.
Ramzi \=["Ramzi akan berusaha Ummi."]
__ADS_1
Inayah mencubit pinggang Ramzi, ia meringis kesakitan.
Inayah \=["Assalamu'alaikum Ummi."]
Ummi \=["Waalaikumsalam."]
"Mas, Emi masih kecil. jika Emi sudah umur 3 tahunan baru program anak kedua," ucap Inayah.
"Iya sayang," Ramzi memeluk Inayah.
"Mau jalan-jalan Mas? tapi tunggu Emi bangun dulu," ucap Inayah.
"Mau kemana?" tanya Ramzi.
"Kemana aja asal berdua denganmu Mas," ucap Inayah.
"Ihh gombal lagi yah kamu, belajar dari mana kamu sekarang bisa gombalin suami," ucap Ramzi.
"Bakat alami Mas, suka 'kan aku gombalin. Ayo ngaku..." ucap Inayah sambil menggelitikkin pinggang Ramzi. Ramzi membalas gelitikan Inayah, mereka tertawa bersama dan lama-lama saling berpandangan.
"Jangan berpikir kamu mau ke atas awan Mas, menatap aku seperti itu. Masih pagi Mas, mending aku masak aja deh." Ucap Inayah, yang sebenarnya menahan malu, salah tingkah ketika di tatap Ramzi.
Inayah meninggalkan Ramzi untuk masak, ia menaiki kursi yang sudah di design agar bisa memasak dengan menyangga kaki kanannya yang patah. Inayah memasak yang simple yaitu chicken katsu. Inayah memfilet dada ayam lalu ia taburi dada ayam dengan garam secukupnya, lalu ia mengocok telur yang sebelumnya ditambahkan dengan penyedap rasa. Kemudian dada filet ayam yang sudah siap ditaburi terigu sampai merata lalu celupkan ke kocokan telur, setelah itu ia taburi tepung roti. Panaskan minyak lalu goreng sampai kecoklatan. Walaupun sederhana, harum dari chicken katsu buatan Inayah membuat cacing di dalam perut Ramzi berjoget. Inayah menyajikan dengan nasi hangat.
"Mas, dimakan yah chicken katsu buatan aku . Di Jepang gak pakai saus sambal, ini aku beli nitip sama Syifa di toko asia. Dimakan yah Mas, di Indonesia aku ndak pernah masakin ini untuk kamu, semoga kamu suka," ucap Inayah, sambil ia mengambilkan nasi untuk Ramzi.
"Alhamdulilah, akhirnya aku bisa merasakan masakan kamu setelah 1 tahun berpisah denganmu. Aku makan yah, bismillah..." ucap Ramzi.
Inayah tersenyum ketika melihat Ramzi makan masakannya dengan sangat lahap.
"Enak sayang, rasanya seperti chicken kartu yang ada di restoran jepang di Indonesia," ucap Ramzi.
"Aku rindu melihat kamu makan selahap ini Mas," ucap Inayah.
"Soalnya aku buatnya dengan cinta, ketika kamu telan itu artinya kamu makan ramuan cinta yang aku buat," ucap Inayah, sambil menatap Ramzi.
"Uhuk uhuk," Ramzi tersedak mendengar ucapan Inayah.
"Minum air ini Mas, agar kamu menghapus keraguan hatimu jika suatu saat kamu berpikir aku tidak mencintaimu," ucap Inayah.
Ramzi senyam senyum karena rayuan Inayah yang ia katakan.
"Kenapa kamu senyam senyum gitu." Inayah meletakkan kepalanya di kedua tangan yang sikunya ditumpu di atas meja, sambil menatap Ramzi.
Ramzi membelai rambut Inayah setelah ia selesai makan masakan Inayah, ia mengikat rambut Inayah, ikatan rambut yang ia beli sebelum berangkat ke Jepang.
"Aku ikat rambut kamu, seperti sudah aku ikat hatimu hanya untukku," ucap Ramzi.
"Manisnya aku dengar kalimatmu Mas," ucap Inayah.
"Kalimatku kalah manisnya dengan senyumanmu," ucap Ramzi.
"Masa sih senyuman aku manis?" Inayah mendekatkan wajahnya dengan wajah Ramzi, lalu ia mengecup bibir Ramzi, "yang ini lebih manis Mas."
Ramzi tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau Inayah sudah mengecup bibirnya. Ketika Ramzi ingin membalas ciuman Inayah, Emi menangis. Inayah tertawa melihat wajah Ramzi yang berhenti seketika ketika dekat dengan bibir Inayah.
"Mas Emi haus dia, tolong Mas angkat," pinta Inayah.
Ramzi mengangkat Emi, lalu diberikan kepada Inayah untuk minum ASI.
"Aku cuci piring dulu yah," ucap Ramzi.
__ADS_1
Inayah hanya menganggukan kepalanya. Ia melihat punggung suaminya dari belakang ketika mencuci piring, Inayah menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.
'Alhamdulillah aku bahagia saat ini, aku tak menyangka Mas Ramzi sangat manis. Aku sangat mencintainya. Ayah dari putriku, suami terbaikku. Semoga kamu tidak berubah yah Mas,' batin Inayah.
Tak lama Ramzi sudah selesai mencuci peralatan makan, lalu ia menghampiri Inayah.
"Sayang, ayo kita jalan-jalan. Emi sudah bangun," ucap Ramzi.
"Iya Mas, aku siap-siap perlengkapan Emi dulu yah. Ajak Syifa dan suaminya bagaimana Mas?" tanya Inayah.
"Iya, boleh sayang yang terpenting kamu selalu ada di sisiku. Apapun yang kamu mau, aku akan berusaha untuk memenuhi kemauanmu. Sini biar aku yang gendong Emi," pinta Ramzi.
Inayah memberikan Emi kepada Ramzi untuk digendong, karena dia akan bersiap-siap untuk berjalan bersama Ramzi.
"Sini sama papah sayang." Ramzi menggendong Emi.
"Mas ndak malu pergi sama aku? aku duduk di kursi roda loh Mas," tanya Inayah.
"Apa yang aku malukan ketika berjalan denganmu, aku akan bangga memberitahu orang-orang tentang istriku yang hebat ini. Kaki kamu patah ketika kamu menyelamatkan putri kecil kita, tak memperdulikan nyawamu demi putri kecil kita agar bisa bertahan hidup di bawah reruntuhan. Kenapa aku harus malu? wanitaku adalah seorang dokter bertangan emas yang membantu para pasiennya. Kenapa aku malu denganmu? nyatanya akulah yang seharusnya malu bersanding denganmu karena kamu wanita begitu hebat daripada aku," ucap Ramzi.
"Mas kesini sebentar," panggil Inayah.
Ramzi mendekatkan tubuhnya ke hadapan Inayah.
"Turun sedikit Mas," pinta Inayah lagi.
Tubuh Ramzi agak menjongkok sambil menggendong Emi.
Inayah membisikkan sesuatu di telinga Ramzi.
"Tapi kamu yang paling hebat Mas, ketika membawaku ke atas awan," bisik Inayah.
Wajah Ramzi langsung memerah seperti kepiting rebus.
Senyam senyum yah bacanya....ayo...ngaku...
Salam cinta dari Inayah dan Ramzi.
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤