
Inayah harus memutuskan antara menerima bea siswa untuk S3 atau tidak. Ia meminta pendapat Ramzi.
"Mas, apa keputusanmu? aku terima bea siswa S3 atau tidak?" tanyaku.
"Setelah istikhoroh, hati kamu mau bagaimana?" tanya balik Ramzi.
Inayah hanya terdiam, di dalam hati ia ingin meneruskan pendidikannya karena kesempatan dan waktu tidak akan terulang kembali. Melihat Inayah hanya terdiam, Ramzi paham apa yang dipikirkan Inayah.
"Terimalah bea siswa itu sayang, raih mimpi kamu," ucap Ramzi.
"Mas yakin dengan apa yang Mas ucapkan?" tanya Inayah.
Ramzi menganggukan kepalanya, "Aku sangat yakin sayang, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Inayah.
"Tapi aku pulang ke Indonesia sementara," ucap Ramzi.
"Kamu mau meninggalkan aku di Jepang? itu sama saja kamu ndak mau aku mengambil S3 di Jepang," ucap Inayah dengan wajah cemberut.
"Kita akan bersama di Jepang 6 bulan lagi, aku setuju sayang kamu mengambil bea siswa itu," ucap Ramzi.
"Kalau kamu meninggalkan aku dan Emi di sini lebih baik aku ndak ambil bea siswanya," ucap Inayah.
"Ambil sayang, aku hanya sebentar pulang ke Indonesia. Aku akan ke Jepang lagi," ucap Ramzi.
"Berapa lama kamu balik ke Indonesia?" tanya Inayah.
"Aku tak tahu pasti, materi yang aku ajarkan dipesantren belum ada ustadz pengganti. Jadi abi lah yang menggantikan aku sayang. Jadi tahun depan aku yang harus mengisi sampai ada yang mengisi posisiku," ucap Inayah.
Inayah meninggalkan Ramzi karena hatinya merasa kesal.
"Sayang aku ndak meninggalkan kamu, penerus pesantren adalah aku. Aku anak satu-satunya abi dan ummi. Percayalah aku tidak akan menghianatimu ketika di Indonesia, akan aku bawa cintamu bersamaku," ucap Ramzi.
"Aku akan kangen denganmu Mas, aku ndak kuat berpisah lagi sama kamu," ucap Inayah.
"Jika kamu rindu kepadaku, aku akan ke Jepang setiap hari sabtu dan minggu," ucap Ramzi.
"Memang kamu punya uang? pesawat ke Jepang gak murah Mas, kalau aku kangen sama kamu terus lalu setiap sabtu, minggu kamu ke Jepang, yah kamu bangkrut lah. Itu mah judulnya jadi berubah bukan salah lamar tapi cintaku di Jepang tekor di ongkos," ucap Inayah.
"Hahahaha lucu kamu, bukan hanya jago gombal tapi jago ngelawak. Suami kamu ini gak miskin-miskin banget. 1 tahun di tinggalin kamu, aku membangun bisnis baru di bidang kuliner dan alhamdulilah sudah ada 2 cabang dalam 1 tahun," ucap Ramzi.
"Benarkah? kenapa ndak pernah cerita kepadaku? dan kenapa kamu mengambil bisnis kuliner?" tanya Inayah.
"Ini sekarang aku bilang kamu, aku memilih bisnis kuliner karena cintaku tumbuh kepadamu salah satunya adalah karena kuliner yang kamu masak untukku. Jadi jika aku menjalani bisnis kuliner ini di Indonesia, aku akan selalu ingat dengan masakanmu," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Kamu ini pintar merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang membuat hatiku berbunga-bunga Mas," ucap Inayah.
"Bagus dong hatimu banyak bunganya karena akulah taman yang akan menjadi tumpuan bunga-bungamu," ucap Ramzi.
"Ih Gus gendeng pagi-pagi sudah gombal," ucap Inayah dengan menyipitkan matanya.
"Karena aku gendeng kamu jadi cinta sama aku kan terus ketularan aku, jadi dokter sableng hehehe," tawa Ramzi.
"Iya aku jadi sama sablengnya kaya kamu Mas," ucap Inayah.
"Intinya aku dukung kamu untuk melanjutkan S3 mu, kita bisa video call setiap hari," ucap Ramzi.
Inayah langsung memeluk Ramzi dengan erat, " Aku cinta kamu Mas."
"Jadi ndak apa-apa yah kita berpisah untuk sementara?" tanya Ramzi.
"Jujur berat Mas untuk aku, karena aku ndak mau jauh- jauh dari kamu. Hari-hari tanpa kamu itu waktu terasa lama bergerak," ucap Inayah.
"Masih ada waktu 6 bulan lagi aku akan bersama kamu, jadi sedihnya jangan sekarang," ucap Ramzi.
"Sedih bisa pakai acara tunda yah Mas," ucap Inayah.
"Punya anak kedua aja ditunda," celetuk Ramzi.
"Tidak, aku akan menemani kamu ketika kamu mengandung anak ke dua," ucap Ramzi.
Ramzi sudah sangat pengertian kepada impian Sang istri, dia tidak mau menghalangi mimpi istrinya. Pemikiran ini sudah ia pikirkan masak-masak anatara mengurus pesantren dan juga impian sang istri. Setidaknya Inayah tidak menghilang seperti tahun lalu. Ia akan tahu dimana Inayah dan anaknya tinggal. Setelah percakapan itu berlangsung seperti biasa Ramzi mengantarkan Inayah untuk pergi kuliah. Di depan gerbang universitas mereka bertemu dengan Mako.
"Hai Inayah," sapa Mako.
"Hai Mako," jawab sapa Mako.
"Biarkan aku yang bawa Inayah untuk ke kelas, karena kita 'kan 1 kelas," pinta Mako.
"Makasih Mako, tolong jagain istriku yah," ucap Ramzi.
"Memang Inayah dijagain dari apa? Inayah ini siswa kesayangan profesor. Minggu kemarin istrimu mendapat nilai tertinggi ketika ujian praktik bedah," ucap Mako.
"Oh yah, aku baru tahu," ucap Ramzi.
"Inayah gak cerita sama kamu Ram?" tanya Mako.
"Aku ndak membahas tentang kuliah yang aku pelajari. Jika sudah pulang aku lebih baik berbicara anatara aku, dia dan anakku. Aku ndak mau membawa urusan kampusku ketika sudah di rumah," ucap Inayah.
Inayah mencium punggung tangan Ramzi lalu ia masuk ke dalam kelas bersama Mako. Ramzi bersyukur tidak ada masalah ketika Mako tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya. Karena hatinya terasa lelah setiap ada masalah yang ia hadapi bersama Inayah. Ketika emosi datang kecemburuan akan hinggap rasanya seperti dada terbakar api sakin panasnya akan kecemburuan.
__ADS_1
Ketika di apartement Ramzi yang merawat Emi. Semakin lama wajah Emi sudah mulai terlihat sangat cantik. Tak henti-henti Ramzi sangat bersyukur karena memiliki keturunan dari Inayah, perempuan yang sangat ia cintai saat ini.
Waktu terasa cepat, waktunya Inayah selesai untuk kuliahnya. Ramzi bersiap-siap untuk menjemput Inayah sambil menggendong Emi.
"Emi, kita jemput mamah. Kamu kangen ndak sama mamah? Ayah kangen terus nih sama mamah. Wajah mamah seperti ada di depan mata Ayah. Sebenarnya Ayah berat ninggalin mamah dan kamu di Jepang. Tapi Ayah ingin mamah bahagia," ucap Ramzi monolog.
Sesampainya di Kyoto University Ramzi turun dari mobil, ketika ia ingin masuk, Inayah sudah keluar dari gedung universitas. Ramzi langsung menghampirinya kemudian mereka pulang bersama ke apartement mereka.
"Kamu sudah memberitahu jawaban kepada profesor kamu untuk mengambil S3?" tanya Ramzi.
"Mas, aku sudah putuskan dengan bulat. Kita pulang bersama ke Indonesia. Aku ndak mau egois Mas, memisahkan kamu dengan Emi. Emi butuh kasih sayang dari kamu. Aku pun sama, membutuhkan kasih sayang kamu setiap hari," ucap Inayah.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" tanya Ramzi.
"Sangat yakin Mas," ucap Inayah.
Ramzi langsung memeluk Inayah dan menciumi wajah Inayah.
"Aku cinta kamu sayang, terima kasih," ucap Ramzi lirih.
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1