
Tubuhku terasa lemah, akupun mengambil cuti untuk kehamilanku, kini usia kehamilanku 36 minggu. Aku lelah berdiri sendiri, suami tercintaku belum bangun dari koma nya. Apa salahku? aku sudah mengoperasi dia dengan sukses, kenapa dia masih belum sadar. Jiwaku rapuh, sangat rapuh tapi aku berdiri tegar hanya untuk tidak membuat khawatir orang-orang terdekatku.
Setiap kali aku berkunjung untuk menjenguk suamiku, aku selalu mengajak dia berbicara. Apapun aku ceritakan tentang hari-hariku. Tapi aku tak sanggup seperti ini terus. Mas, kapan kamu bangun? tolong buka matamu, sebentar lagi jagoan kita akan lahir ke dunia ini. Bukankah kamu berjanji akan menemaniku ketika aku melahirkan anak kita? jangan ingkari janji kamu dong Mas.
Setiap kali aku ajak berbicara, dia tidak menyahutiku. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, seperti orang tertidur. Jahat kamu Mas, buat aku sendiri seperti ini. Kenapa setelah kamu tanam benihmu lalu kamu biarkan aku sendiri seperti ini? aku tidak seperti orang-orang yang berpikir bahwa aku kuat dengan kondisimu yang seperti ini, aku rapuh Mas.
Aku tidak bisa membayangkan jika kamu meninggalkan aku selamanya, apa yang harus aku lakukan dengan ketiga anak kita. Jangan kamu pikir aku baik-baik saja tanpamu Mas. Tolong bangun dong Mas, kenapa kamu senang sekali tidak mendengar tangisan aku Mas.
Suamiku masih terbaring, bukan berarti aku tidak perduli dengan kandunganku. Setiap bulan aku mengeceknya, bahkan untuk bulan ini aku melakukan pengecekan seminggu sekali. Dokter kandunganku adalah teman kuliahku dahulu, hanya dia mengambil spesialis kandungan.
Bidan mengolesi perutku dengan gel, lalu Lita mulai melakukan USG pada diriku. Mendengar suara jantung para jagoanku mengingatkan aku dengan suara jantung Mas Ramzi ketika aku mengoperasi dia.
"Aku memanggil namamu saja yah, karena kita 'kan teman. Kamu juga memanggil namaku saja," pintaku kepada Lita.
"Oke, ini jantung anak-anakmu Ina," ucap Lita.
Deg deg...Deg deg...
Suara jantung para jagoanku ketika alat USG mengarahkan posisinya tepat di jantung.
"Plasenta dan air ketubannya juga bagus. Tapi posisi mereka belum ke bawah. Kamu jalan pagi agar membantu posisi bayi ke bawah," ucap Lita.
"Ta, aku ndak ada waktu untuk jalan pagi. Aku menemani suamiku. Dia butuh teman ngobrol Ta," ucapku.
"Ina, kamu harus istirahat yang cukup. Jangan lupa minum obat, aku temani mau jalan pagi mau? aku akan ke pesantren, kalau ada kamar, aku sewa. Gak enak tinggal sendiri," ucap Lita.
"Aku ndak lupa kok Ta, karena kesehatan anak-anak aku juga sangat penting, makanya nikah Ta," ucapku.
"Aku mau banget nikah, tapi orang yang aku cintai, menyukai orang lain," ucap Lita.
"Makanya jangan deketin orangnya aja Ta, tapi dekatin Penciptanya juga. Suamiku juga dulu ndak cinta sama aku hanya aku yang mencintai dia, aku berdoa di sepertiga malam. Alhamdulilah kita saling mencintai sekarang," ucap Inayah.
"Lain kasusnya, kamu sudah menikah jadi setiap hari ketemu maka akan terbiasa dan tumbuh cinta," ucap Lita.
"Memangnya kamu ndak sering ketemu? jodoh itu sekufu, cerminan diri kita. Memangnya siapa orangnya? aku kenal gak?" tanya Inayah.
__ADS_1
"Sudah ah jangan ngomongin dia, lagi males aku," ucap Lita.
"Terima kasih yah sudah menjadi dokter aku, aku mau ke ruang suamiku dulu, kalau abi datang aku pulang," ucap Inayah.
"Aku anterin yah, aku sudah selesai jam praktiknya. Kamu pasien terakhir," ucap Lita.
Lita mengalungi tangan Inayah, mereka terlihat akrab. Memang ketika kuliah Lita teman Inayah tapi tidak terlalu dekat seperti Syifa. Mereka melewati lorong rumah sakit dan menuju ruang rawat khusus Ramzi. Inayah menempatkan Ramzi di ruang VVIP, biaya bagi dia gak masalah. Karena Ramzi juga punya usaha sampingan yaitu restoran dan sedang berkembang pesat.
Inayah dan Lita berpapasan dengan Azril, ia hendak ingin pulang tapi di tengah jalan ketika melewati lorong bertemu dengan Inayah dan Lita. Inayah malas bertemu dengan Azril dan langkahnya dipercepat. Sehingga Lita pun mempercepat langkahnya. Lita menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.
Berpapasan dengan orang yang dicintai tapi orang itu menatap Inayah bukan dirinya, padahal Lita sudah sangat berusaha mendekati Azril tapi Azril tidak pernah melihat Lita bahkan tidak memperdulikan perasaan Lita.
"Kamu pulang aja Lita, terima kasih hari ini. Kamu sudah menjadi teman ngobrol aku," ucap Inayah.
"Apa mau aku temani? jika kamu butuh teman berbicara telepon aku aja," ucap Lita.
"Iya Lita, sip," Inayah mengacungkan jempolnya.
Inayah masuk ke ruang rawat Ramzi, ditatap dengan mata yang mulai membasah lagi, Ramzi masih berbaring di atas ranjang. Inayah mendekati ranjang Ramzi, ia membelai rambut Ramzi dengan sangat lembut.
Inaya terkejut EKG perekam jantung berbunyi dan bergaris lurus. Tubuh Inayah ambruk seketika dia tidak kuat mendapati kenyataan ini bahwa detak jantung Ramzi sudah berhenti. Tapi ia tidak mau percaya itu ia memencet bel untuk memanggil dokter yang lainnya agar membantunya. Para dokter bergegas masuk ke ruangan Ramzi. Inayah sudah siap untuk memacu jantung Ramzi. Dia berusaha keras agar denyut jantung Ramzi bisa berdetak kembali. Ia melakukan berkali-kali tapi garis lurus masih saja terlihat, tidak ada garis turun naik di monitor EKG.
"Ya Robbi, tolong bantulah aku. Aku ndak sanggup kehilangan suamiku, aku rapuh ya Allah," racau Inayah berdoa ketika dia memacu jantung Ramzi dengan alat.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Ucap para dokter, Inayah tak menerima kalimat tersebut dari para rekan kerjanya. Dia masih memacu jantung Ramzi, dia masih berharap agar Ramzi bisa bangun kembali dan membuka mata melihat dirinya.
"Mas, bangun... Mas kamu ndak bisa ninggalin aku seperti ini, Mas... Mas...ayo Mas bangun..." teriak histeris Inayah.
"Ning, sudah Ning, ikhlaskan Gus Ramzi." Syifa memeluk Inayah dan mengambil alat pemacu jantung.
"Ndak Syifa suamiku masih hidup 'kan. Biar aku saja yang memacu jantungnya. Dia masih hidup." Inayah mengambil kembali pemacu jantung dari tangan Syifa.
"Ning, istighfar Ning. Ini sudah takdir dari Allah. Sampeyan harus menerima takdir ini," ucap Syifa.
"Ndak Syifa, dia sudah berjanji untuk menjaga aku, untuk menemaniku ketika persalinan. Dia ndak boleh mengingkari janji ini kepadaku Syifa," ucap Inayah.
__ADS_1
"Mas, bangun Mas... selama 2 bulan lebih aku berjuang dalam keadaanmu seperti ini, jangan tinggalkan aku Mas, ayo Sayang bangun, aku mohon jangan pergi," teriak Inayah dengan tangisan pilu.
Syifa langsung memeluk Inayah. Inayah menangis menjerit, Ia tidak menyangka bahwa Ramzi akan pergi dengan cara seperti ini. Inayah yang terpaku kaku di depan jenazah Ramzi dengan air mata yang tak henti mengalir dengan tatapan kosong, wajah sembab, air mata kini tak mampu berucap lagi. Inayah seketika ambruk jatuh pingsan karena tidak menerima kenyataan ini.
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet β€π
__ADS_1