
Inayah menulis surat untuk keluarganya.
Isi surat untuk Ramzi dan Delisha.
Assalamu'alaikum
Surat ini kutulis untuk suamiku tercinta Gus Ramzi dan adikku tersayang Ning Delisha.
...Ketika kalian membaca suratku ini, aku sudah jauh dari kalian. Jangan cari dimana aku berada. Mas, sungguh aku sangat mencintaimu, tapi cinta itu tak bisa dipaksa. Cintamu hanya untuk adik tersayangku Delisha, talak aku Mas. Datang aja ke Abah untuk mentalak, aku iklas menyerahkan kamu kepada adikku. Aku melihat kamu dan Delisha sedang duduk berdua, Delisha sangat bahagia. Ia bisa tertawa lepas ketika dekat denganmu, aku saja ndak bisa buat adikku tertawa semenjak dia di tinggal mati oleh Alm ustadz Adam. Setelah Mas talak aku silahkan Mas nikahi Delisha, aku akan sangat bahagia jika kalian bahagia. Terima kasih Mas kenangan yang kau lukis di otakku sehingga aku tak bisa melupakan waktu dimana saat kau manis dan romantis memperlakukan ku. Tunjukkan surat ini kepada Delisha. De, Mba Ina ndak benci kamu, Mba sayang kamu untuk itu Mba yang pergi. Nikahlah dengan Gus Ramzi. Sudah dulu yah jaga kesehatan kalian....
^^^dr. Inayah^^^
Surat untuk Abah dan Umma
Assalamu'alaikum orang tuaku, guruku, dan pelindungku Abah dan Umma.
...Abah, Umma, maafkan Inayah pergi tanpa pamit dan hanya melalui surat ini sebagai perwakilan dari anak kalian yang tak tahu diri ini. Karena cinta aku lemah, karena cinta aku lari dari masalah. Abah, Umma, aku bukan menjadi putri kalian yang kalian selalu banggakan, aku putri yang membuat kalian kecewa. Abah...jika Gus Ramzi mentalak aku terimalah talaknya aku iklas. Cintaku bertepuk sebelah tangan dengan Gus Ramzi, dia masih mencintai Delisha. Biarkan mereka bersatu Abah, izinkan mereka untuk menikah. Aku malu meminta doa kepada kalian, tapi aku akan tetap meminta doa. Inayah sayang Umma dan Abah. Maaf Inayah lari dari masalah karena hati Inayah ndak kuat. Jaga kesehatan yah Abah, Umma. Inayah pergi dulu, doakan Inayah selalu....
^^^putri kalian^^^
^^^Inayah^^^
Surat untuk Abi dan Ummi
Assalamu'alaikum
...Ummi sayang, maaf Inayah bukan mantu idaman Ummi. Maafkan kesalahan Inayah karena pergi dengan pamit menggunakan surat ini. Terima kasih Ummi sudah begitu sayang dengan Inayah, kasih sayang Ummi seperti ibu kandung. Ummi jangan tidur malam-malam yah, jaga kesehatan Ummi. Maaf jika Ummi sakit, Inayah tidak bisa kasih resep lagi karena Inayah sudah ndak ada. Abi jangan minum kopi terlalu banyak, ndak bagus untuk kesehatan. Banyakin minum air putih yah Abi. Abi, Ummi, terima Delisha yah menjadi menantu kalian. Inayah iklas. Maaf jika Inayah selama ini mempunyai kesalahan, maaf Inayah juga telah lancang mengirim surat ini untuk berpamitan. Inayah sayang Abi dan Ummi, terima kasih....
^^^menantumu^^^
^^^Inayah^^^
Setelah selesai ketiga surat itu, Inayah besok pagi akan menitipkan kepada satpam rumah sakit untuk diberikan kepada Ramzi saat waktu penjemputan Inayah. Esok Inayah akan berangkat ke Jepang, segalanya sudah ia persiapkan.
Inayah menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan.
"Syifa, besok aku boleh nebeng sama kamu?" tanya Inayah.
"Ya Allah Ning, aku juga memang rencananya jalan sama sampean. Suamiku katanya menyusul ke Jepang karena dia ingin mengurus bisnisnya di sini dulu. Tapi tiket pesawat kita beda bangku nih Ning, posisinya sampean ada di belakang aku," ucap Syifa.
"Ndak apa-apa, kita beda pesawat kan dengan Dokter Azril?" tanya Inayah.
"Dia berangkat hari ini," jawab Syifa.
"Alhamdulilah, jaga rahasia aku yah Syifa," ucap Inayah.
__ADS_1
"Rahasia sampean aman sama aku pokoknya," ucap Syifa.
"Syifa kamu memang sahabat terbaik aku," ucap Inayah.
"Aku senang punya sahabat seorang Ning, karena sampean bukan sebagai sahabat aja tapi guru agamaku juga," ucap Syifa.
Syifa dan Inayah saling berpelukan erat.
💔💔💔
Hari ini Inayah terakhir untuk praktik di rumah sakit ini. Ia jalan di lorong rumah sakit, menghirup bau rumah sakit. Waktu begitu cepat berjalan sehingga waktu praktik Inayah sudah selesai.
Seperti biasa dia menunggu Ramzi di dekat parkiran, ketika melihat mobil Ramzi. Inayah akan berlari kecil untuk menghampiri Ramzi.
"Kamu mau beli sesuatu sebelum pulang?" tanya Ramzi saat di dalam mobil.
"Terserah Mas saja," jawab Inayah.
Inayah selalu menatap Ramzi sejak ia masuk ke mobil, Ramzi pun senang di tatap Inayah. Dia membelai pipi Inayah dengan lembut ketika lampu merah.
"Kamu kenapa tatap aku terus, aku tampan yah?" tanya Ramzi.
"Iya Mas kamu tampan," jawab Inayah.
Inayah merasa aneh, kenapa hari ini dia suka sekali menatap wajah Ramzi.
Inayah hanya tersenyum terpaksa ketika di puji oleh Ramzi.
"Sayang, hmm kamu hari ini lelah ndak?" tanya Ramzi.
"Ndak terlalu Mas," jawab Inayah.
"Aku kangen kamu," ucap Ramzi, sambil mencium tangan Inayah.
'Ya Allah Mas, kamu masih menginginkan tubuhku sedangkan hatimu masih mencintai Delisha,' batin Inayah.
"Mau ndak habis salat isya?" tanya Ramzi.
Inayah menganggukan kepalanya dan tersenyum.
'Aku masih istrimu Mas, jadi kamu berhak atasku. Esok aku tidak lagi di sampingmu,' batin Inayah.
Mobil Ramzi sudah terparkir di halaman pesantren. Inayah langsung di sambut oleh Ummi, Ummi memang sangat sayang dengan Inayah. Kali ini Inayah tidak makan malam, walaupun Ummi sudah menyuruhnya. Karena Inayah memang sudah makan-makan dengan rekan kerjanya sebelum keberangkatannya besok.
Ramzi mengimami salat isya, mereka begitu khusuk. Suara Ramzi yang merdu mampu membuat Inayah meneteskan air mata. Selesai salat isya, Inayah langsung meraih tangan Ramzi dan mencium punggung tangan Ramzi.
__ADS_1
Ramzi membukakan mukena Inayah, ia membelai pipi Inayah sangat lembut, mencium bibir Inayah pelan-pelan, Inayah memejamkan matanya, tak kuasa Inayah menitikan air mata.
"Kamu kenapa menangis? kamu lelah? kalau lelah yah sudah tidur saja," ucap Ramzi.
Ketika Ramzi hendak berdiri, di raih tangan Ramzi.
"Mas aku menginginkanmu," ucap Inayah lirih.
Ramzi langsung menggendong Inayah ke atas Ranjang, mereka pergi ke atas awan bersama, Ramzi menyentuh Inayah dengan sangat lembut, sampai mereka melakukan 2 ronde sebelum Inayah berangkat ke Jepang esok hari.
***
"Mas aku kerja dulu yah, jaga diri Mas baik-baik." Inayah memeluk Ramzi sangat erat.
"Kamu seperti ingin pergi jauh saja sih, bicara seperti itu. Nanti sore juga kita 'kan ketemu lagi. Tunggu aku jemput yah sayang," ucap Ramzi.
Inayah mencium punggung tangan Ramzi dan berkata, "Maafkan aku Mas, Assalamu'alaikum." Inayah jalan dan meninggalkan Ramzi.
"Waalaikumsalam, kenapa ia mengucapkan maaf?" ucap monolog Ramzi.
Setelah Ramzi sudah pergi, barulah Syifa menghidupkan mobilnya.
"Ning, koper sampean sudah ada di bagasi mobil. Ayo kita jalan, takut macet," ajak Syifa.
"Sebentar aku mau nitip surat dengan pak satpam," ucap Inayah.
Inayah menitipkan 3 surat kepada pak satpam dan berpesan jika suaminya datang berikan 3 surat ini. Inayah memberikan tips kepada satpam setelah itu ia masuk ke mobil Syifa untuk menuju ke Bandara.
Bersambung
***
Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.
jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
I love you sekebon dari Autho