
Ketika Emi tersadar, ia bingung melihat sekeliling. Ia tak tahu di mana dia sekarang. Emi mengingat kejadian sebelumnya, ia duduk di atas ranjang dan mengingat tentang Ahsan. Emi mengingat jelas apa yang dikatakan oleh Ahsan di dalam mobil. Tak lama pintu kamar terbuka, Heelwa masuk. Heelwa langsung menghampiri Emi.
"Alhamdulillah...kamu sudah sadar." Heelwa tersenyum melihat Emi yang sudah sadarkan diri, ia langsung memegang tangan Emi.
"Kamu haus Emi? Aku ambilkan air," ucap Heelwa.
"Kak Heelwa? Kakaknya Hasan 'kan. Kenapa aku berada di sini Kak?" Emi sangat bingung, karena tiba-tiba ia berada di kamar ini.
"Hasan menyelamatkan kamu dari lelaki yang ingin melecehkan kamu, atas izin Allah hotel yang di sewa lelaki itu ternyata milik keluarga saya. Hasan langsung menelepon Mamah untuk membuka akses kamar yang lelaki itu sewa, itu gara-gara Hasan tidak di kenal oleh pegawai hotel. Adikku itu lebih suka hidup sederhana," ucap Heelwa.
Emi melihat jam dinding, sudah pukul 5 sore. Ia teringat belum melakukan salat asar.
"Kak Heelwa, boleh aku meminjam peralatan salat? Aku belum salat asar," ucap Emi.
"Jangan panggil aku Kakak, umurku lebih muda dari kamu. Heelwa tersenyum, kemudian ia mengambil peralatan salat untuk Emi. Emi mengambil air wudhu sebelumnya Heelwa memberi tahu di mana tempat mengambil air wudhu. Emi membuka jilbab instannya, ia menatap dirinya di pantulan cermin dalam kamar. Ia melihat lehernya ada 3 berwarna merah, Emi menutup mulutnya. Ia kembali duduk dan menangis.
'Ya Allah, lelaki brenggsek itu melakukan ini di leherku, apakah dia juga mencium bibirku? Aku menjaga ini hanya untuk suamiku, lelaki brenggsek itu yang telah mengambil ciumanku pertama kali." Emi menangis sampai suaranya di dengar oleh Bilah, mamah Hasan. Bilah memanggil Heelwa agar melihat kondisi Emi. Heelwa segera masuk, ia melihat Emi yang menangis sampai sesegukan. Heelwa langsung memeluk Emi.
"Waktu Hasan menolong aku, apa yang ia lihat. Kamu juga lihat keadaanku kan?" Wajah Emi sudah penuh dengan air mata. Heelwa bingung menjelaskannya, Heelwa menemani Emi untuk mengambil air wudhu agar menenangkan hati Emi terlebih dahulu. Selesai Emi salat, Heelwa menggenggam tangan Emi. Ia menceritakan apa yang ia lihat, Emi menangis. Ia tidak menyangka bahwa Ahsan akan melakukan tindakan sekeji itu. Heelwa menceritakan juga bahwa dirinya adalah teman semasa kecil. Umur Heelwa dan Emi selisih 2 tahun.
"Kedua orang tuamu lagi dalam perjalanan menuju ke sini," ucap Heelwa.
Bilah menyuruh Heelwa untuk mengajak makan Emi bersama. Tapi Emi merasa malu bertemu dengan Hasan. Apalagi sebelumnya Emi telah mengungkapkan rasa cintanya kepada Hasan. Jika Heelwa melihat keadaan Emi yang hampir di lecehkan itu artinya Hasan pun melihat kondisi Emi seperti apa. Emi sangat malu untuk bertemu dengan Hasan kembali, umur merekapun selisih 3 tahun. Ternyata Hasan lebih muda daripada Emi.
"Emi, Mamahku sudah menyiapkan makan malam. Ikut aku makan malam bersama," ucap Heelwa.
"Aku ndak lapar Heelwa, aku mau di kamar aja sampai Mamah dan Ayahku sampai di Jakarta." Emi tidak sanggup jika bertemu dengan Hasan, ia sangat malu. Heelwa keluar dari kamar, ia bilang kepada Mamahnya bahwa Emi tidak mau makan malam bersama. Akhirnya Bilah yang mencoba membujuk Emi. Bilah masuk ke kamar menemui Emi.
"Assalamu'alaikum Emi, kamu masih ingat Tante? Waktu kamu kecil Tante bertemu kamu, kira-kira berumur 6 tahun." Bilah duduk di samping Emi. Emi tertunduk malu sambil memainkan jemarinya. Bilah tahu Emi sedikit syok dengan apa yang menimpanya.
"Waalaikumsalam, aku ingat sedikit Tante. Tadi Heelwa cerita," ucap Emi.
"Makan malam yuk, jika kamu tidak bergabung untuk makan malam. Kami sekeluargapun nggak akan makan malam." Ancam Bilah, ia tahu bagaimana memaksa Emi untuk makan. Ia yakin Inayah mengajarkan anaknya akan sopan santun, rasa tidak enak ketika tidak menghargai tuan rumah.
__ADS_1
"Tante, aku malu bertemu dengan Hasan. Dia melihat aku ketika menyelamatkan aku," ucap Emi jujur.
"Kamu suka dengan Hasan?" tanya Bilah to the point. Emi tidak menjawab, ia tahu dari tingkah laku Emi. Begitupun Hasan ketika menolong Emi ia sangat panik akan keadaan Emi. Mereka sudah saling suka, Bilah tak menyangka bahwa putranya dengan putri Inayah bisa bertemu dan mempunyai rasa.
"Keluarlah, makan malam bersama dengan kami, Hasan sangat khawatir sama kamu. Ia yang menjaga kamu waktu di hotel, Hasan melarang siapapun untuk masuk ke kamar hotel agar orang lain tidak melihat keadaan kamu ketika itu, staff hotel tidak berani untuk masuk ke hotel, Hasan membekuk lelaki itu di luar kamar dan ia langsung di bawa ke kantor polisi. Tante dan Heelwa yang merapihkan penampilan kamu ketika keluar hotel. Jangan malu dengan Hasan, Hasan tidak melihat kamu serendah itu. Kamu cantik, wajar banyak lelaki yang ingin mendapatkan kamu. Jika Hasan khitbah kamu terima yah, jangan tolak Hasan agar kamu ada yang jaga." Wajah Emi bersemu merah, ketika Bilah, mamah Hasan berbicara seperti itu. Emi tak menyangka Bilah akan berkata seperti itu. Tapi ia tidak mau terlalu senang sebelum Hasan mengutarakan isi hatinya, apakah rasanya sama dengan dirinya karena Hasan sudah tahu rasa Emi kepadanya.
Bilah menuntun tangan Emi untuk keluar kamar, dengan langkah berat Emi mengikuti Bilah. Di meja makan, keluarga Hasan sudah menunggu. Hasan duduk di depan Heelwa, ketika Emi datang ia langsung menatap Emi. Hasan mencoba untuk tersenyum, tapi Emi terus saja menundukkan wajahnya. Emi duduk di samping Heelwa. Karena Emi hanya diam di meja makan, Heelwa lah yang menyendokan nasi beserta lauknya.
"Makanlah Emi, aku tidak mau kamu sakit." Suara Hasan mengangkat wajah Emi. Emi merasa Hasan sangat khawatir kepada dia. Keluarga Hasan tersenyum ketika Hasan berbicara seperti itu. Bilah berdehem dan meledek Hasan.
"Nanti tante Inayah dan om Ramzi akan menjemput Emi. Kamu utarakan perasaan kamu dulu sama Emi, nanti Emi keburu di khitbah dengan lelaki lain," ucap Bilah. Bagas , suami Bilah batuk ketika mendengar percakapan antara istri dan putranya. Dia hanya mendengar sekilas ternyata hubungan ini memang benar, suasana meja makan terasa malu-malu kucing antara Emi dan Hasan. Emi jadi salah tingkah begitu juga dengan Hasan. Emi langsung makan nasi dan lauk yang ada di piringnya, ia tak sanggup menatap mata Hasan karena sangat malu.
Makan malam sangat hening, hanya kepentingan sendok dan piring yang beradu. Selesai makan malam, Emi turut membantu untuk mencuci semua peralatan makan yang kotor.
"Sudah Emi, biar aku saja yang cuci," ucap Heelwa.
"Ndak apa-apa, aku sudah numpang makan di sini. Masa ndak membantu untuk mencuci piring. Ndak bagus kalau adat Jawa," ucap Emi.
Bilah memanggil Heelwa agar Emi mencuci peralatan itu sendiri dan menyuruh Hasan untuk membantu Emi.
"Mah, nggak bagus berduaan. Kami bukan mahram," protes Hasan.
"Justru itu Hasan. Mamah tahu kamu suka dengan Emi kan, sekarang waktu yang tepat untuk utarakan isi hati kamu. Perempuan itu menunggu kepastian dari lelaki, kamu maju sekarang atau nanti ada yang menikung kamu. Sekalian bilang kamu akan khitbah dia," ucap Bilah.
"Aku malu Mah, sebenarnya Emi sudah mengutarakan perasaannya sama aku dan ia bilang jika perasaanku sama dengannya aku disuruh mengkhitbah dia di depan kedua orang tuanya," ucap Hasan. Bilah terkejut ternyata Emi sudah bilang duluan dari laki-laki. Bilah sedikit kecewa dengan Hasan, seharusnya Hasan lebih dahulu yang mengutarakan rasa cintanya kepada Emi. Bilah langsung mengacak rambut Hasan, agar segera mengutarakan perasaannya kepada Emi. Bilah mendorong tubuh Hasan ke arah dapur.
"Ayo Hasan, semangat! Lamar Emi." Hasan melangkahkan kakinya menuju dapur.
Bersambung
Promosi Novel baru (Di Campakkan suami setelah melahirkan)
Suamiku yang awalnya mencintaiku ketika menikah kini mulai jijik padaku. Ketika melihat badanku yang semakin gemuk, apalagi ibu mertuaku selalu menghinaku. Dia memanggilku buntelan baju, sapi gelondong. Aku tinggal dengan kakak iparku juga yang sudah menikah, dia pun menghinaku karena badanku yang sangat gemuk ini.
__ADS_1
Tubuhku ini gemuk, setelah aku melahirkan. Maklum hormon ketika hamil membuat perutku sangat terasa lapar terus, apalagi ketika aku menyusui anak pertamaku rasanya perut ini lapar terus menerus sehingga aku makan terus. Tapi jika aku tidak makan bagaimana air ASI aku? karena Air ASI ku itu merupakan nutrisi yang aku makan. Aku rencananya ingin diet ketika anakku berumur 6 bulan, ketika dia sudah MPASI tentunya. Untuk saat ini aku lebih mementingkan kesehatan bayiku ketimbang aku memikirkan tubuhku.
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞