
Hati Ramzi sangat senang, karena bulan madu yang ia impikan sebelum Inayah pergi ke Jepang akan tercapai. Besok mereka akan berangkat menuju Batu Malang. Ia sangat bersemangat sekali, ummi Adibah yang tahu akan rencana mereka, melarang mengajak Emi untuk bulan madu mereka berdua. Emi juga sudah sangat dekat dengan ummi. sehingga Inayah dan Ramzi pun sedikit tidak mengkhawatirkan Emi, karena pastinya Emi sangat disayang oleh ummi Adibah.
Ketika Inayah sedang merapikan baju-bajunya ke dalam koper, tiba-tiba Ramzi memeluk ia dari belakang.
"Alhamdulillah, saat yang aku tunggu-tunggu akan terlaksana. Aku ingin membahagiakanmu. Ini bukan hanya sekedar bulan madu, tapi rencanaku aku ingin membahagiakanmu. Hanya ada kita berdua di sana, kamu jangan memikirkan apapun. Jangan khawatirkan Emi, karena Emi sudah pasti aman dengan ummi, aku ingin membuatmu disana merasa senang dan bahagia bersamaku," ucap Ramzi.
"Mas, saat ini pun aku sangat bahagia bersamamu," ucap Inayah.
"Aku tahu dokterku yang cantik, kamu saat ini bahagia denganku karena aku memang sudah sangat mencintaimu. Tapi aku benar-benar ingin membahagiakanmu di Batu Malang," ucap Ramzi.
Inayah membalikan badannya, dia memeluk pinggang Ramzi. Ramzi yang mempunyai postur tubuh tinggi dengan tinggi Inayah hanya sepundak Ramzi, saat dia memeluk Ramzi wajahnya pas di dada Ramzi.
Ramzi membelai kepala Inayah dengan penuh kasih sayang, saat ini di kamar hanya mereka berdua. Emi sedang bermain bersama ummi Adibah, maklumlah ketika di rumah ummi Adibah hanya sendirian karena Abi mengajar di kelas setiap hari. Walaupun abi merupakan kepala pondok pesantren dia tetap masih mengajar.
"Aku suka bau tubuhmu Mas. Ketika aku di Jepang, aku sangat ingin memelukmu seperti ini," ucap Inayah.
"Peluklah sepuasnya tubuhku ini, tubuhku hanya milikmu," ucap Ramzi.
"Iya Mas, tubuhmu ini hanya milikku jangan sekali-kali kamu menyentuh tubuh wanita lain selain aku," ucap Inayah.
"Aku ndak akan menyentuh tubuh wanita lain karena mahramku hanya kamu, jika tubuhku tersentuh dengan kulit manusia yang lain, itu pastinya ketika jenazahku sedang dimandikan oleh seseorang," ucap Ramzi.
"Mas, jangan mengatakan tentang jenazah. Aku tak suka Mas," ucap Inayah.
"Suka atau tak suka itu semua keputusan Allah, kita ndak bisa menolaknya," ucap Ramzi.
"Udah ah Mas, jangan ngomong seperti itu. Aku mohon," ucap Inayah.
"Kenapa sayang? kamu mau menghindar dari kematian? karena kematian itu adalah suatu hal yang pasti, kehidupan di sini hanya sementara," ucap Ramzi.
Inayah tak mau lagi mendengar Ramzi
berbicara dia langsung mencium bibir Ramzi.
"Sudah ya cukup jangan membahas kematian. Bibirmu sudah aku bungkam dengan bibirku," ucap Inayah.
"Baiklah, aku ndak akan membicarakan kematian lagi karena bibirku sudah terkunci oleh bibirmu," ucap Ramzi.
"Aku keluar dulu ya, aku mau melihat Emi," ucap Inayah.
Inayah melangkahkan kakinya untuk menuju pintu, tapi Ramzi menarik tangan Inayah, sampai Inayah tertarik ke dalam pelukan Ramzi kembali.
"Sebentar sayang, aku ingin memelukmu seperti ini. Aku ingin mencium bau tubuhmu."
__ADS_1
lalu Ramzi membisikan sesuatu ke telinga Inayah.
"Aku sangat mencintaimu istriku. Aku sangat sayang kepadamu, tolong selalu ada di sisiku apapun yang terjadi nanti. Jangan tinggalkan aku, sungguh aku sangat mencintaimu," bisik Ramzi.
"Insya Allah Mas, aku akan selalu di sisimu, dan insya Allah juga kamulah yang menjadi imamku satu-satunya di dalam hidupku sampai aku menutup mata dan menghadap sang pencipta," ucap Inayah.
"Aku ketemu Emi dulu ya Mas." Inayah melepaskan pelukan Ramzi lalu dia melangkah keluar dan menemui Emi putrinya.
"Ummi, sini aku yang pegang Emi. Ummi pasti lelah," ucap Inayah.
"Oh ndak kok Nak, Ummi tidak lelah bermain dengan Emi, malah Ummi sangat senang ketika bermain dengan cucu Ummi yang cantik ini," ucap ummi Laila.
"Ummi yakin selama aku dan Mas Ramzi pergi, ingin merawat Emi? aku takutnya Emi rewel dan menangis mencari aku," ucap Inayah.
"Insya Allah ndak, tenang aja nanti jika dia menangis Ummi akan video call kamu. Sudah kamu bulan madu aja dengan tenang. Ummi menunggu kabar baik dari kamu," ucap ummi Laila.
Wajah Inayah seketika memerah karena ummi ingin mempunyai cucu kedua dari dirinya.
"Insya Allah Ummi, jika Allah berkehendak. Aku dan Mas Ramzi hanya berencana tapi 'kan kembali lagi apa yang Allah mau. Jika Allah mau, aku akan hamil lagi. Semoga pulang dari Batu Malang aku hamil lagi yah Ummi," ucap Inayah.
"Insya Allah Nak, Ummi tidak memaksa kamu untuk mempunyai anak yang kedua. Itu hanya harapan Ummi. Kalau dari Batu Malang kamu ndak berhasil 'kan bisa usaha lagi di rumah hehehe" ucap ummi Laila sambil tertawa.
"Ummi buat aku malu ah," ucap Inayah.
"Iya Ummi, pergaulan sekarang memang sangat menakutkan. Aku akan menjaga putriku ini dari pergaulan yang kejam di dunia ini," ucap Inayah.
"Bekali dengan iman dan akhlak yang bagus untuk anak-anak, tanamkan rasa malu. Jika hati mereka sudah ada rasa malu maka mereka tidak akan melakukannya. Sesungguhnya malu itu adalah sisa dari iman. Ketika malu tidak ada maka habislah iman," kita ucap ummi Laila.
"Ummi mau makan? biar aku yang masakan," tanya Inayah.
"Boleh sayang, Ummi mau makan masakan yang kamu masak. Di kulkas sudah ada bahan-bahannya, terserah kamu mau masak apa, yang penting dari tangan kamu. Ummi itu udah candu makan masakan kamu," ucap ummi Laila.
"Ah Ummi, bisa aja. Masakan aku 'kan biasa aja Ummi," ucap Inayah.
"Kata siapa masakan kamu biasa saja? rasanya enak kok restoran bintang 5 mah lewat. Bagi lidah Ummi itu masakam kamu jadi candu banget. Masakan kamu sudah Ummi rindukan. Bayangkan 2 tahun Ummi terbayang-bayang dengan masakan kamu Nak," ucap ummi Laila.
"Ih Ummi mah lebay, seperti Mas Ramzi lebaynya. Masa 2 tahun terbayang-bayang masakan aku. 'kan di Cirebon banyak restoran Ummi yang enak," ucap Inayah.
"Restoran di Cirebon banyak tapi 'kan tangan kamu hanya milik kamu. Ummi kecanduannya itu makanan yang dimasak oleh tangan dokter emas," ucap ummi Laila.
"Oke deh siap Ummi sayang aku masak dulu ya untuk makan malam kita," ucap Inayah.
"Iya biar Ummi yang jaga Emi, lagi pula besok 'kan kamu berangkat ke Batu Malang dan Ummi ndak bisa makan masakan kamu selama 5 hari," ucap ummi Laila.
__ADS_1
"Ada daging sapi 'kan Ummi? Inayah masak rendang ya nanti Ummi kalau kangen sama masakan aku, rendangnya dihangatkan saja. Karena 'kan rendang itu bisa tahan lama asalkan selalu dipanaskan. Jika ndak dimakan ditaruh kulkas Ummi besoknya dipanaskan lagi," ucap Inayah.
"Rendangnya khusus buat Ummi ya... Ummi akan simpan untuk Ummi makan, selama kamu bulan madu," ucap ummi Laila.
"Siap Ummi, rendangnya spesial buat Ummi. Makan malam aku akan masak menu yang lain," ucap Inayah.
"Ah beruntungnya Ummi punya mantu sepertimu, jago masak, dokter yang sangat inspiratif, istri yang baik. Kamu ini produk komplit, beruntung juga Ramzi memiliki kamu," ucap ummi Laila.
"Sudah ah Ummi, aku masak dulu. Ndak matang-matang jika ngobrol terus," ucap Inayah.
Inayah melangkahkan kakinya ke dapur, dia langsung memasak menu-menu yang bahannya ada di dalam kulkas.
Bersambung
βRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet β€ππ
__ADS_1