
Emi memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 nya di Jakarta. Ia meneruskan kuliah di Universitas Indonesia. Inayah pun setuju karena di Jakarta ada temannya, Dina. Jika ingin mengunjungi Emi, dia juga bisa berkunjung ke rumah Dina. Inayah dan Dina memang sudah akrab apalagi Inayah bertemu dengan sahabatnya Dina yang sangat baik bernama Bilah.
"Emi kamu sudah cek semuanya? Sudah kamu bawa semuanya?" tanya Inayah.
"Sudah Mah, sudah masuk semuanya," jawab Emi.
"Jaga diri baik-baik ya di Jakarta," ucap Inayah.
"Pasti itu Mah, Mamah doakan saja agar di Jakarta aku baik-baik saja," ucap Emi.
"Nanti sebelum ke kosan kamu, kita mampir ke tempat Tante Dina ya. Kamu masih ingat kan?" tanya Inayah.
"Oh teman Mamah yang dokter itu 'kan," jawab Emi memastikan.
"Iya yang dokter, anaknya bernama Kenzo," ucap Inayah.
"Iya Mah, aku ingat ketika itu umurku 8 tahun. Ya... walaupun ingatanku samar-samar tentang Kenzo. Bagaimana ya sekarang wajahnya Kenzo." ucap Emi.
"Memang kenapa? Kamu mau Mamah jodohkan dengan Kenzo?" Inayah menarik turunkan alisnya.
"Ih apa sih Mah, aku ngelihat Kenzo Sekarang aja ndak. Aku ndak tahu bagaimana wajahnya sekarang?" ucap Emi. Emi menggelengkan kepalanya.
"Tante Dina kan cantik, Ayahnya juga tampan. Pastinya Kenzo juga tumbuh tampan juga," ucap Inayah.
sudah Amah jangan ngomongin itu gerah aku
Emi sudah 1 bulan ini berada di pesantren Abi Afnan kadang dia mengunjungi pesantren Abah Amar bolak-balik di sana karena kedua kakek dan neneknya sangat sayang dengan Emi cucu pertama di keluarga dari ayah dan juga keluarga dari mamahnya.
Keesokan harinya, Inayah dan Ramzi mengantarkan Emi ke Jakarta. Haidar dan Haidir sudah kembali ke Jogja terlebih dahulu. perjalanan dari Cirebon ke Jakarta hanya memerlukan waktu 5 jam lamanya. Inayah sudah menghubungi Dina untuk berkunjung ke rumah Dina. Dina tidak membolehkan Inayah untuk check in di hotel ia harus menginap di rumah Dina.
"Ayah langsung ke rumah Dina ya, Dina sudah menunggu kita," ucap Inayah.
"Oke Mamah cantik," ucap Ramzi.
Ramzi pun langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Dina setelah ia sampai di Jakarta. Dina sudah menunggu kedatangan keluarga Inayah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Inayah ayo masuk jangan malu-malu. Anggap aja sebagai rumah sendiri."
Emi langsung mencium punggung tangan Dina. Dina tersenyum ketika Emi sangat sopan kepada dirinya.
"Rumahmu sepi Din, pada ke mana?" tanya Inayah.
"Suamiku jam segini itu belum pulang nanti habis magrib baru pulang, tapi hari ini katanya ada lembur dan Kenzo sepertinya dia lagi keluar deh dengan teman-temannya," jawab Dina.
Tiba-tiba ada anak yang langsung berlarian memepuk Dina. Dina tidak menceritakan kepada Inayah bahwa ia sudah mempunyai anak kedua, tapi anak keduanya ini Dina menunggu lama, terpaut dengan Kenzo 10 tahun.
"Ini anakmu Din?" tanya Inayah.
"Iya anakku yang kedua umurnya baru 12 tahun," jawab Dina.
"Ih cantiknya." Inayah mengelus rambut anak Dina.
"Ini Emi kan, Masya Allah cantik banget anakmu Inayah. Seperti kamu Inayah cantik." Emi tersenyum ketika dirinya dipuji oleh Dina.
"Kok tahu sih? anakku banyak yang ngelamar. Tapi satu pun laki-laki tidak diterima oleh Emi," ucap Inayah.
"Aku sedang mencoba menjodohkan Kenzo, dengan anaknya Bilah. Kamu masih ingat kan sahabatku Bilah? ia punya anak perempuan namanya Heelwa," tanya Dina.
"Iya aku ingat," jawab Inayah.
"Heelwa seperti Bilah wajahnya, manis ada lesung pipinya. Dari bayi aku ingin menjodohkan Kenzo dengan Heelwa," ucap Dina jujur.
"Kita hanya bisa berharap, tapi jodoh itu kan ada di tangan Allah," ucap Inayah.
"Setelah bercakap-cakap, Dina mengajak keluarga Inayah untuk masuk ke dalam kamar. Dina sudah menyiapkan dua kamar suatu kamar khusus buat Inayah dan Ramzi dan satu kamar lagi untuk Emi. Dina merupakan teman yang paling royal yang pernah Inayah temukan. Ia pasti akan menyiapkan semuanya dari kamar, makanan, bahkan Inayah jika ke Jakarta Dina pasti mengajak jalan-jalan Inayah. Dina pernah bercerita tentang sahabatnya Bilah bahwa kebiasaan itu diajarkan oleh Bilah dan terbawa sampai sekarang.
Seorang manusia yang baik pasti akan bertemu dengan manusia yang baik pula. Teman merupakan jodoh kita, karena jika tidak jodoh, kita tidak akan mempunyai seorang sahabat yang tahu akan diri kita.
***
__ADS_1
Keesokan harinya di pagi hari, Dina sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga dan tamunya. Di meja makan Kenzo dan Billi sudah menunggu keluarga Inayah. Semalam mereka tidak bertemu karena Inayah langsung tertidur ketika Billi dan Kenzo pulang ke rumah.
"Ayo Inayah silakan,"
"Terima kasih Dina,"
Emi melihat Kenzo mereka saling bertatapan dan hanya senyum setelah itu Kenzo diam. Kenzo ketika melihat Emi, lain dari pria manapun. Laki-laki ketika melihat Emi pasti tatapannya tidak berpaling saking cantiknya Emi, tapi Kenzo tidak demikian. Kenzo hanya menatap Emi sekilas dan tersenyum, kemudian ia fokus dengan makanannya.
"Din aku langsung nyari kos Emi. Lusa dia sudah mulai belajar di kampusnya. Jadi aku tidak balik lagi ke rumahmu," ucap Inayah.
" Kok gitu, kan kita belum jalan-jalan." Dina kecewa karena Inayah jarang ke Jakarta.
"Maaf Din aku cuti hanya 3 hari," ucap Inayah.
"Kenzo anterin Mamah, kamu kan tahu tempat kos yang bagus untuk putri di daerah depok, karena kamu S1 di UI," ucap Dina.
"Iya Mah, aku akan kasih arah dimana tempat kos wanita yang bagus dan aman," ucap Kenzo.
"Kenzo, Tante boleh minta tolong ndak?"
"Minta tolong apa Tante Inayah?"
"Begini Kenzo, Emi kan di Jakarta. Dia sendiri tidak ada saudara. Tante bisa minta nomor handphone kamu ndak? jadi nanti jika Emi ada apa-apa, ini sih tante juga ndak mengharapkan, tapi kan kita harus jaga-jaga. Emi bisa menghubungi kamu untuk meminta bantuan."
"Oh boleh Tante karena Emi kan teman kecil aku. Aku sudah menganggap Emi sebagai saudariku sendiri."
Inayah tersenyum ketika mendengar Kenzo berbicara seperti itu, niatnya ia ingin menjodohkan Emi dengan Kenzo. Kenzo terlihat anak yang penurut, ramah dan juga baik karena tutur bahasanya sangat sopan. Inayah langsung suka dengan kepribadian Kenzo tapi sepertinya Kenzo tak tertarik dengan Kenzo. Kenzo langsung memberikan nomornya kepada Emi. Emi langsung save nomor Kenzo di handphonenya. Merekan saling save nomor.
Mereka pun bergegas untuk meninggalkan kediaman Dina, mobi Ramzi mengikuti mobil Kenzo. Kenzo mengarahkan ke tempat kos yang katanya bagus untuk wanita. Sesampainya di tujuan, Inayah langsung bertemu dengan ibu kos. Inayah menitipkan anaknya, Inayah pun senang karena tempat kosnya tidak jauh dari masjid.
"Mamah, Ayah langsung tinggalkan kamu. Kamu jaga diri baik-baik di sini, jangan lupa setiap hari Kamu harus video call dengan Mamah." Inayah memeluk Emi dengan erat.
"Iya Mah aku akan video call setiap hari dengan Mamah." Emi menangis dan memeluk Inayah dengan erat.
Inayah memeluk Emi sangat erat berat rasanya ketika meninggalkan Emi sendirian di Jakarta, tapi ini pilihan Emi ingin hidup mandiri dan UI ini merupakan kampus impiannya.
__ADS_1