
"Kamu mau pulang ke pesantren Abahmu? biar Ummi dan Abi yang mengantarkanmu langsung," ucap Ummi Laila berderai air matanya.
"Bolehkah Ummi? aku masih istri Gus Ramzi, walaupun aku minta bercerai darinya. Jika aku bisa memilih, aku ingin dikembalikan oleh orang tuaku oleh Gus Ramzi langsung," ucap Inayah.
"Ummi yang akan meminta langsung kepada Ramzi, ia sudah menyakiti hatimu. Ummi sudah menganggap kamu sebagai putri Ummi sendiri. Hati seorang ibu pasti sangat sakit. Ternyata putri yang diserahkan kepada laki-laki yang Umma mu percayai menyakiti hati putrinya. Ummi paham hatimu, Ummi malu terhadapmu. Tunggu di sini, Ummi akan memanggil Ramzi," ucap Ummi.
Inayah duduk terdiam di ruang keluarga, matanya tak henti mengeluarkan air mata. Jika berkata jujur, dia sudah jatuh cinta dengan Ramzi. Tapi jika bertanya dengan hatinya yang paling dalam maka jawaban Inayah adalah cukup, hatinya tak kuat lagi.
Ramzi yang sejak dari semalam menyendiri di dalam kamar, ia tak keluar dari kamarnya. Ummi memang sudah menaruh curiga bahwa ada sesuatu yang terjadi antara hubungan putranya dan menantunya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk.
"Ramzi, keluarlah Ummi dan Abi ingin berbicara denganmu," ucap Ummi Laila
Sebelum Ummi mengetuk kamar Ramzi, ia sudah menceritakan semuanya oleh Abi Afnan.
Ramzi membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Ummi?" tanya Ramzi.
"Ikut Ummi sekarang ke ruang keluarga, Ummi dan Abi ingin berbicara," jawab Ummi Laila.
Ramzi mengikuti Ummi Laila dari belakang, dia terkejut ketika melihat Inayah sudah berada di ruang keluarga dengan mata sembab.
"Ramzi, apa yang kamu telah lakukan? begini kah Abi mengajarkan kamu memperlakukan seorang perempuan? jika kamu tidak mencintai Inayah, kenapa kamu meneruskan untuk mengkhitbah Inayah. Kamu mau merusak wanita sebaik dia untuk dijadikan janda?" tanya Abi Afnan.
"Maafkan aku Abi," Ramzi hanya bisa berkata maaf.
"Pulangkan Ning Inayah sekarang kepada Abahnya, kamu yang mengkhitbah maka kamu juga yang harus memulangkan Ning Inayah kepada Abah dan Ummanya," ucap Abi Afnan.
"Ning Inayah maafkan aku, hatiku memang tidak mencintaimu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adikmu, ketika aku meminta Abi untuk datang melamar sesungguhnya yang aku pikirkan Kiai Amar hanya mempunyai 1 putri yang belum menikah tapi ternyata ada 2 putri yang belum menikah," ucap Ramzi.
Ramzi mendekati Inayah, dia bersimpuh di kaki Inayah, dan memegang kedua tangan Inayah.
__ADS_1
"Ning, beri aku waktu untuk menumbuhkan cintaku hanya untukmu. Beri aku kesempatan 1 kali lagi," ucap Ramzi memohon.
"Hatiku sudah terluka Gus, bukan hanya 1 kali kamu mengucapkan bahwa kamu tidak mencintaiku. Jika wanita lain yang kamu cintai mungkin aku akan memikirkannya lagi. Tapi yang kamu cintai Delisha, adik kandungku," ucap Inayah berurai air mata.
"Tidakkah kamu ingin mempertahankan pernikahan kita ini Ning?" tanya Ramzi.
"Bukan aku yang menghancurkan pernikahan kita, tapi kamu Gus. Semalam ketika kamu mengutarakan cintamu dengan adikku, apakah kamu memikirkan pernikahan kita ini? Ndak Gus... Ndak!" ucap Inayah tegas.
Suasana menjadi hening, hanya tangisan yang menjadi suasana saat ini menjadi sangat memilukan. Ummi Laila yang sangat menyayangi Inayah sangat terpukul akan kenyataan ini, nasi sudah menjadi bubur. Ramzi sudah menyakiti hati Inayah. Yang membuat luka yang sangat besar di hatinya. Ramzi sudah memohon agar rumah tangganya yang baru berjalan 2 minggu bisa dipertahankan. Tapi karena kesalahannya yang tidak bisa dimaafkan saat ini oleh Inayah, Ramzi tidak bisa menahan Inayah untuk tinggal di pesantren Kiai Afnan.
Akhirnya Ramzi mengalah, ia menuruti kemauan Inayah untuk pulang ke pesantren Kiai Amar. Sungguh Kiai Afnan sangat malu terhadap Kiai Amar akan perbuatan putranya ini.
Kiai Afnan dan Ummi Laila hanya terdiam, karena Inayah sudah memutuskan. Ramzi sesekali melirik ke arah Inayah. Entah apa yang Ramzi pikirkan, laki-laki itu terlihat pucat wajahnya ketika Inayah meminta untuk dipulangkan kepada Kiai Amar.
Sesampainya di pesantren Kiai Amar. Keluarga Ramzi memasuki rumah Kiai Amar. Sebelumnya di rumah ini adalah saksi Ramzi telah mengkhitbah Inayah dan di pesantren ini pula Ramzi mengucap janji sucinya kepada Inayah akan tetapi hari ini langkah keluarga Ramzi untuk mengantar Inayah pulang kepada kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Kiai Amar keluar untuk membukakakan pintu. Tampak keterkejutan bahwa besannya datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Inayah dan Ramzi mencium punggung tangan Kiai Amar. Nyai Adibahpun keluar karena mengetahui kedatangan besan nya itu. Ia melihat wajah Inayah yang matanya sembab dan sebagai ibu, dia tahu bahwa putrinya itu menangis sebelumnya.
"Nak, kamu kenapa? ada apa sebenarnya? kenapa kamu menangis?" tanya Umma Adibah.
"Maafkan Ina Umma, kali ini Ina bukan lagi jadi putri kebanggaan Umma. Ina mahon maaf," ucap Inayah sambil menangis.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Umma Adiba.
"Umma, Abah, aku minta cerai kepada Gus Ramzi," ucap Inayah lirih.
"Astagfirullah...Inayah, perceraian diperbolehkan tapi dibenci oleh Allah," ucap Abah Amar.
"Inayah tahu itu Abah, tapi hati Ina rapuh," ucap Inayah sambil menangis.
Ramzi berlutut di kaki Kiai Amar, dia memohon maaf atas kesalahannya dan meminta untuk diberikan kesempatan 1 kali lagi untuk membina rumah tangganya. Ia tidak mau berpisah oleh Inayah.
"Memangnya apa kesalahan yang kau buat Gus Ramzi?" tanya Kiai Amar.
__ADS_1
Ramzi terdiam, bagaimana dia menceritakan semua kepada kedua orang tua Inayah.
Delisha keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan yang berada di ruang tamu. Ia terkejut ketika melihat kakaknya yang menangis dan juga melihat Gus Ramzi yang sedang berlutut meminta maaf. Tangan Delisha mengepal melihat kakak yang ia sayangi menangis di pelukan Ummanya.
"Abah, jangan terima permintaan maaf Gus Ramzi. Semalam ketika di rumah sakit, dia telah lancang mengungkapkan cinta kepadaku Abah, tanpa memikirkan perasaan Mba Ina. Suami macam apa dia sudah mempunyai istri cantik tapi dalam hatinya mencintaiku," ucapan Delisha membuat Umma Adibah syok.
"Astagfirullah, benarkah itu Ina?" tanya Umma Adibah sambil memegang pipi putrinya dengan kedua tangannya. "Tatap mata Umma sayang, benarkah itu?"
Inayah menangis dan hanya menganggukan kepalanya. Umma memeluk erat putrinya itu, ia tahu bagaimana perasaan Inayah saat ini.
"Umma, maafkan Ramzi. Aku tidak ingin bercerai kepada Inayah," ucap Ramzi.
"Umma dan Abah tidak bisa mengambil keputusan, semua keputusan ada di tangan Inayah," jawab Umma Adinah.
Ramzi menatap nanar Inayah, entah kenapa dia terasa berat memulangkan Inayah kepada kedua orang tuanya.
"Ning, aku tidak akan mentalak mu, kamu masih istri sahku. Telepon aku jika kamu mau pulang," ucap Ramzi.
"Aku tidak akan pulang ke sana lagi Gus, sudah cukup hati ini sakit," ucap Inayah.
Bersambung
***
Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.
Cek novelku yang berjudul
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata, 50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua