
Tidak terasa hitungan hari Delisha akan menyelenggarakan akad nikah, senyum berkembang yang ia perlihatkan kepada orang-orang yang ia temui. Nikah dengan laki-laki pujaannya selama ini.
Perasaan yang di pendam selam ia duduk di bangku Aliyah, mengagumi murid dari pesantren Abahnya. Murid yang sangat cerdas di mata Kiai Amar. Allah telah menyampaikan sinyal-sinyal cinta kepada ustadz Adam.
Penuh drama ketika ustadz Adam ingin melamar salah satu putri dari Kiai besar yang merupakan gurunya sendiri. Lamarannya takut di tolak, karena Adam bukan dari keturunan Kiai yang membuat dirinya malu ketika ingin meminang Delisha.
Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dengan mengucapkan basmalah Delisha mantab menerima lamaran dari Ustadz Adam.
"Mba, gak kerasa lusa aku akan ijab qobul dengan pria yang sangat aku cintai," ucap Delisha, kepada Inayah.
"Adik Mba satu-satunya sebentar lagi akan menjadi istri. Mba doakan agar kamu bahagia, ingat yah jaga kelakuanmu dan jalani kewajiban kamu sebagai istri kelak," wejangan Inayah, kepada Delisha.
"Insha Allah Mba, aku akan menjalankan kewajiban aku," ucap Delisha.
"Kamu kuliah cuti berapa semester?" tanya Inayah.
"1 semester Mba, aku 'kan maha siswa baru. Baru juga semester 2," jawab Delisha.
"Jangan putus pendidikan yah, walau kamu sudah menikah. Teruskan pendidikan kamu," ucap Inayah.
"Iya Mba, aku ingin seperti Mba. Jadi wanita hebat," ucap Delisha.
"Jangan seperti Mba, Mba gagal dalam rumah tangga," ucap Inayah.
"Memang Gus Ramzi tidak hubungin Mba lagi? kok dah bilang gagal," tanya Delisha.
"4 hari yang lalu dia menemui Mba, di rumah sakit. Katanya dia merasa kehilangan Mba, kangen Mba. Ih Mba gak percaya itu, di bibir bilang rindu di hati gak cinta Mba," jawab Inayah.
"Maaf yah Mba, ini karena gara-gara aku," ucap Delisha, merasa sangat bersalah.
"De, jangan bilang seperti itu. Jika Gus Ramzi masih jodoh Mba, Allah akan memberikan petunjuk," ucap Inayah, sambil mengelus rambut Delisha.
Segala persiapan telah dilakukan oleh keluarga Kiai Amar. Besok Delisha akan menyelenggarakan akad nikah. Rasa bahagia terpancar di wajah Delisha.
Pada malam hari H-1 sebelum hari akad, Gus Ramzi datang ke pesantren Kiai Amar. Ia meminta izin langsung kepada Kiai Amar untuk bertemu dengan Inayah dan mengajak Inayah keluar sebentar untuk menyelesaikan masalah dengan Inayah yang sudah 2 minggu. Kiai Amar mengizinkan, karena Gus Ramzi berhak atas Inayah karena status Inayah masih istri sah Gus Ramzi.
Inayah tidak bisa menolak ajakan Gus Ramzi, karena Kiai Amar yang langsung menyuruh Inayah untuk menyelesaikan masalahnya dengan Gus Ramzi.
"Nak, ndak baik masalah kamu berlarut-larut. Bagaimanapun juga Gus Ramzi masih suamimu. Untuk keputusan itu terserah denganmu. Abah ndak memaksa agar kamu mempertahankan rumah tanggamu. Pesan Abah, ambil keputusan jangan dengan emosi. Kamu sudah meminta jawaban dari Allah 'kan dari doa-doa sepertiga malammu," ucap Kiai Amar.
"Njeh Abah, doakan Ina, agar apapun yang Ina putuskan yang terbaik untuk Ina," ucap Inayah.
"Abah akan selalu doakan kamu Nak," ucap Abah.
Inayah meminta izin kepada Abahnya, ia mencium punggung tangan Abahnya lalu keluar untuk menemui Gus Ramzi.
Ramzi tersenyum ketika melihat Inayah keluar menemui dirinya untuk bisa berjalan bersama. Ketika Inayah keluar ada sepasang mata yang ikut memperhatikan Inayah, ia adalah Indra yang masih belum move on dari Inayah. Hari ini pertama kali ia melihat suami dari Inayah.
'Dia suami Ning Inayah, tampan dan ternyata seorang Gus. Aku baru tahu, mereka memang pasangan yang sangat serasi.' batin Indra.
__ADS_1
Ramzi langsung menggandeng tangan Inayah, tidak ada penolakan dari Inayah.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, Inayah tidak berbicara satu katapun. Terkadang Ramzi melirik Inayah.
"Bagaimana kita ke alun-alun kejaksaan kota Cirebon? kamu mau ke sana?" tanya Ramzi, untuk membuka percakapan.
"Terserah Gus aja mau ke mana," jawab Inayah, tanpa menatap Ramzi yang ada di sebelahnya.
'Ya Allah, dia masih dingin banget sikapnya. Apakah dia tidak bisa memaafkanku?' batin Ramzi.
Sesampainya di alun-alun, Ramzi membukakan pintu untuk Inayah.
"Boleh aku menggandeng tanganmu?" tanya Ramzi.
"Dari pesantren Abah, kamu sudah menggandeng tanganku tanpa izin. Kenapa sekarang baru izin?" jawab Inayah.
"Oh maaf, tadi aku sakin senangnya bisa melihat kamu lagi. Jadi boleh kah aku menggandeng tanganku?"
"Iya," jawab singkat Inayah.
Ramzi sangat senang, dia menggandeng tangan Inayah. Kali ini perasaan Ramzi lain, ketika menggandeng tangan Inayah, detak jantungnya berdebar kencang. Dia selalu mengusap-usap bagian dadanya.
"Kenapa kamu mengusap dadamu terus?" tanya Ramzi.
"I..itu...entahlah ketika aku mulai menggandeng tanganmu, jantungku berdetak kencang," jawab Ramzi.
Ramzi langsung mengarahkan tangan Inayah ke dada bagian kirinya. Dia memberhentikan langkahnya.
"Coba rasakan ini, apakah aku berbohong kepadamu?" tanya Ramzi.
Inayah merasakan di telapak tangannya, jantung Ramzi berdetak dengan cepat. Setelah itu, dia menarik tangannya dan wajahnya tersipu malu. Ada tarikan bibirnya sedikit ketika itu.
Inayah berjalan meninggalkan Ramzi dan Ramzi berlari kecil untuk mengejar Inayah. Ramzi menarik tangan Inayah.
"Gus malu, dilihat banyak orang." ucap Inayah.
"Aku gak malu, karena aku sudah jatuh cinta kepadamu. Selama 2 minggu ini, aku tidur tidak nyenyak, aku makan tidak nafsu. Ternyata aku baru sadar bahwa kamu telah mengambil hatiku. Ning, maukah kamu kembali denganku?" tanya Ramzi.
Inayah mematung, dia tidak menjawab pertanyaan dari Ramzi.
"Kenapa diam? jawablah," ucap Ramzi.
Inayah hanya menatap mata Ramzi.
"Kamu masih ragu terhadapku?" tanya Ramzi kembali.
Inayah lagi-lagi hanya terdiam.
"Tunggu di sini, aku akan membuat kamu percaya bahwa aku mencintaimu," ucap Ramzi.
__ADS_1
Ramzi berlari menuju mobilnya, ia mengambil bunga mawar yang sudah ia siapkan. Lalu menghampiri Inayah kembali.
"Inayah Syifa Tsaniah, aku mencintaimu. Mau kah kamu memaafkan ku? dan menerima cintaku? aku sangat mencintaimu," Ramzi berteriak, jaraknya 1 meter dari posisi Inayah. Karena saat ini berada di alun-alun, banyak warga yang datang ke tempat itu. Ketika Ramzi berteriak mengatakan cinta kepada Inayah, mereka berkumpul menghampiri Inayah dan Ramzi.
"Terima...Terima..." teriakan para warga.
Ramzi menatap Inayah, "Jika kamu terima aku, ambillah bunga mawar ini, jika kamu menolak aku maka buanglah mawar ini," ucap Ramzi.
"Terima...terima..." teriak para warga yang sangat antusias.
Inayah mengambil bunga dari tangan Ramzi, ekspresi wajahnya sangat datar. Tidak ada senyuman yang diberikan Inayah untuk Ramzi. Tangannya mau melempar jauh bunga itu. Wajah Ramzi sudah pucat, tapi Inayah hanya memainkan perasaan Ramzi saja.
"Aku terima kamu lagi, dengan 1 catatan kamu tidak boleh menyakiti hati aku lagi. Jika tidak aku akan menghilang dari penglihatanmu," ucap Inayah.
Ramzi bersujud syukur, karena Inayah mau menerimanya. Dia langsung memeluk Inayah.
"Gus, malu. Kita ini seorang Ning dan Gus harus tahu adab," ucap Inayah.
Ramzi langsung melepaskan pelukan nya.
"Maaf aku lupa banyak orang, karena aku sangat bahagia," ucap Ramzi.
Tepuk tangan dari para warga yang sejak awal mengikuti aksi Ramzi yang menyatakan cinta kepada Inayah.
"Terima kasih semuanya...Assalamu'alaikum," ucap Ramzi kepada para warga, sambil melambaikan tangannya.
"Gus pulang yuk," ajak Inayah.
Ramzi menganggukan kepalanya dan menggandeng kembali tangan Inayah menuju mobilnya.
Bab ini kenapa saya tulisnya senyum-senyum yah? kalian bagaimana?
Bersambung
***
Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.
Cek novelku yang berjudul
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata, 50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1