
Sekitar 4 yang memandikan jenazah Ramzi, diantaranya adalah 2 petugas dari rumah sakit dan keduanya adalah Kiai Arfan dan kiai Amar. saat ini mereka sedang memandikan jenazah Ramzi tapi ada suatu hal yang tidak terduga. Kiai Arfan dan kiai Irfan saling berpandangan, mereka melihat ada pergerakan dari jemari Ramzi.
"Kiai, saya salah lihat atau ndak yah. Saya lihat jemari Ramzi bergerak barusan," ucap kiai Amar.
"Saya juga lihat Kiai," ucap kiai Afnan.
"Kita berhentikan dulu mandinya, kita lihat apakah penglihatan kita benar atau salah." Usul kiai Amar dianggukan oleh Kiai Afnan, mereka sekarang menunggu dan melihat jemari Ramzi. Apakah mereka salah penglihatan atau tidak.
Keadaan sangat sunyi, pukul sudah menunjukkan 11.30 malam. Terasa hembusan angin, walaupun ruangan tersebut tertutup.
"Subhanallah...Kiai, jari Gus Ramzi bergerak," ucap kiai Amar.
"Allah...Ya Rabb...iya saya juga lihat, jemari Ramzi bergerak," ucap kiai Afnan.
Di saat bersamaan Inayah masuk ke ruang pemandian jenazah, dia melangkah dengan kaki gemetar, dengan hati yang sangat tersayat-sayat. Langkah demi langkah mendekati tubuh Ramzi yang sedang dimandikan oleh abah dan abi, ketika Inayah datang kiai Amar dan Afnan menatap Inayah. Kiai Amar langsung memapah Inayah berjalan untuk mendekati tubuh Ramzi.
"Nak, Abah tadi melihat jemari Ramzi bergerak, coba kamu periksa Nak, cepat," ujar kiai Amar.
Inayah yang berlinang air mata langsung menghapus air matanya dan ia memeriksa denyut nadi Ramzi di tangannya. Ia sontak mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta karena Inayah merasakan adanya denyut nadi kehidupan.
"Allahu Akbar, alhamdulilah, sayang kamu bisa dengar aku? kamu bisa membuka matamu? aku tahu kamu tidak akan meninggalkanku. Kamu sudah janji sama aku Mas," ucap Inayah.
Tapi Ramzi tidak membuka matanya, ia hanya menggerakkan jari jemarinya untuk bereaksi kepada orang-orang yang di dekatnya. Ramzi menggerakan jemarinya ketika Inayah berbicara. Inayah langsung berteriak meminta pertolongan kepada Syifa dan Lita
"Syifa, minta bantuan kepada yang lain, suamiku masih hidup," teriak Inayah.
Syifa dan Lita masih diam mematung.
"Kenapa kalian mematung, aku masih merasakan denyut nadi Mas Ramzi, kalau kalian tidak percaya coba periksa," teriak Inayah.
Syifa langsung menghampiri tubuh Ramzi, ia memeriksa denyut nadi Ramzi. Ia merasakan ada denyut nadi ketika memeriksa di pergelangan tangan Ramzi. Ia langsung bergegas berlari meminta bantuan agar Ramzi di pindahkan kembali ke ruang rawat inapnya.
Para suster membawa branker dorong, tubuh Ramzi diangkat dan diletakkan di atas brangker dorong. Ia pun menempati ruang rawat inapnya kembali. Inayah memeriksa Ramzi, kemudian ia memasang selang infus di lengan Ramzi. Ia sangat bersyukur Ramzi masih bisa bernapas kembali, Ramzi bisa merespon orang-orang di sekitar dengan gerakan jarinya.
"Mas, kamu bisa dengar aku 'kan? aku masih menunggumu sayang." Inayah mencium wajah Ramzi setiap inci.
Mata Ramzi terlihat ingin membuka, tapi ia mengalami kesusahan. Inayah tahu bahwa Ramzi berusaha untuk membuka matanya.
"Mas, perlahan aja yah membuka matanya. Jangan memaksakan sayang." Inayah membelai wajah Ramzi, tetesan air mata Inayah mengenai kelopak mata Ramzi.
Ramzi perlahan-lahan membuka matanya, terlihat buram dan sakit matanya ketika melihat cahaya lampu. Penglihatan Ramzi lama-kelamaan menjadi jelas. Ia bisa menatap Inayah dan tersenyum kepadanya.
"Alhamdulilah...kamu kembali kepadaku, kamu jahat Mas membuat aku takut. Aku sangat takut kehilanganmu," ucap Inayah.
__ADS_1
Ramzi ingin membelai kepala Inayah, tapi ia merasakan sakit dibagian lengan kanannya.
"Mas, lengan kananmu retak," ucap Inayah.
Inayah mengambil tangan kiri Ramzi, kemudian ia letakkan di atas perut Inayah. Butir tetesan bening yang keluar dari mata Ramzi.
"Mas, anak kita...twins boys," ucap Inayah dengan isak tangisan.
Ramzi mengangkat lengan kirinya, ia menyuruh Inayah agar lebih mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah Ramzi. Inayah mulai mendekatkan wajahnya, Ramzi membelai wajah Inayah.
"I...miss you," ucap Ramzi terbata.
Inayah menangis dengan ucapan pertama Ramzi setelah sadar dari koma 2 bulan 15 hari.
"I miss you too." Inayah mencium bibir Ramzi dengan menangis.
Syifa dan Lita yang berada di dalam ruang rawat inap yang sebelumnya membantu Inayah, mereka memutuskan untuk keluar dari ruang rawat tersebut. Mereka memberikan waktu agar Inayah bisa melepas kerinduan dengan suaminya.
Ramzi mengalami mati suri, dalam hal medis dinamakan Lazarus syndrome atau the Lazarus phenomenon, yaitu kondisi kembalinya fungsi jantung dan pernapasan yang sempat terhenti (return of spontaneous circulation) setelah resusitasi jantung paru atau CPR dihentikan.
Tindakan CPR ini biasanya dilakukan pada orang yang mengalami henti jantung, koma, atau tidak bisa bernapas spontan.
Biasanya orang yang mengalami mati suri akan kembali ”hidup” setelah dinyatakan meninggal dalam waktu sekitar 10 hingga 30 menit. Namun, pada kasus yang sangat jarang terjadi, ada juga orang yang bisa kembali hidup dalam waktu beberapa jam setelah ia dinyatakan meninggal.
Meski berperan penting dalam membantu fungsi jantung dan paru-paru agar bisa kembali bekerja, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa tindakan ini terkadang bisa menyebabkan penumpukan udara di dalam rongga dada dan paru-paru. Hal ini membuat seolah-olah sirkulasi dan aliran darah terhenti.
Namun, setelah CPR dihentikan selama beberapa waktu singkat, tekanan udara yang meningkat ini bisa perlahan menurun, sehingga membuat aliran darah dan pernapasan pasien kembali lancar.
Kondisi ini biasanya terlihat ketika pasien yang mendapatkan CPR bisa kembali menunjukkan respons tubuh, seperti tersadar, bernapas spontan, batuk, atau kembali bisa bergerak.
"Jangan berbuat seperti itu lagi Mas, aku sangat takut kehilanganmu," ucap Inayah.
Ramzi tidak bisa berkata karena terasa tenggorokannya sangat kering, Ramzi meminta air kepada Inayah. Inayah memberikan air untuk Ramzi.
"Aku lama seperti ini?" tanya Ramzi.
"2 bulan 15 hari kamu koma Mas, padahal aku sudah membelah dadamu. Kamu sering mengatakan, 'aku mencintaimu, jika kamu tidak percaya denganku belahlah dadaku, di dalam terukir namamu.' Aku tidak melihat ukiran namaku di dalam dadamu Mas." Ucap Inayah membuat Ramzi tertawa kecil, ia mencubit hidung Inayah yang mancung.
Inayah merasakan ada yang mengalir di selangkhanggannya. Ia memeriksa ternyata itu air ketuban yang sudah pecah. Inayah langsung menuju sofa dan duduk di sana. Ramzi terlihat bingung dengan sikap Inayah.
"Ada apa?" tanya Ramzi.
"Air ketubanku pecah Mas," ucap Inayah sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Inayah mengambil handphone di saku kemeja kedokterannya. Ia menelepon Lita.
Inayah \=["Ta, please help my twins boys. Air ketubanku pecah Ta."]
Lita dan Syifa langsung masuk ke ruang rawat inap kembali. Lita langsung memeriksa keadaan Inayah.
"Inayah aku akan melakukan cecar sekarang juga," ucap Lita.
"Lakukan apapun yang terbaik Ta, boleh suamiku menemaniku?" tanya Inayah.
Lita menganggukan kepalanya, para suster membawa 2 branker dorong. 1 untuk Inayah dan 1 untuk Ramzi. Mereka di masukan ke dalam ruang operasi untuk melakukan persalinan cecar Inayah.
Perasaan kalian bagaimana membaca novel ini?
Bersambung
✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞