
Azril melihat kemesrahan Inayah dan Ramzi di celah pintu rawat inap. Ia melihat ketika Ramzi mencium bibir Inayah, ia merasa benar-benar sudah kalah telak. Baru kali ini Azril meneteskan air matanya. Cinta yang ia pupuk selama ini, tumbuh subur di dalam hatinya. Kini harus ia matikan cintanya itu.
Dari arah belakang ada yang menepuk pundak Azril. Azril menolehkan kepalanya ke arah belakang, kemudian ia menghembuskan nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.
"Kenapa sepertinya kamu benci sekali melihatku Azril? ekspresi kamu berubah seketika. Ngapain kamu ngintip kemesrahan Ina dengan suaminnya? jangan mengharapkan Inayah lagi, cinta kepada suaminya tak akan tergoyahkan." Lita datang secara tiba-tiba dan menepuk pundak Azril, ia terus berusaha mendekati Azril karena Lita sangat mencintai Azril.
"Aku malas bicara denganmu." Azril melangkahkan kakinya dan meninggalkan Lita. Tapi Lita mengikuti langkah Azril dari belakang. Azril memberhentikan langkahnya.
"Kenapa kamu mengikuti aku?" tanya Azril.
"Karena kamu laki-laki yang aku taksir, aku mencintaimu Azril." Lita mengatakan cinta dengan Azril, entah berapa kali ia mengatakan itu.
"Jangan ikuti aku, aku akan menerima perjodohan keluargaku. Aku akan menikah dengan perempuan pilihan dari keluargaku. Jadi kamu jangan mendekati aku lagi," ucap Azril.
Lita berbalik badan, ia melangkahkan kakinya menjauh dari Azril. Sesak dada yang ia rasakan, kalimat Azril bagaikan tombak yang langsung menusuk ke arah jantung Lita. Lita pernah berujar, dirinya tidak akan mengejar Azril lagi jika Azril menikah. Ia pernah mendengar bahwa Azril memang santer diperbincangkan oleh para dokter lain bahwa dia akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Karena umur Azril yang sudah berkepala 3 masih belum menikah.
***
Sudah 3 hari Inayah di rawat, hari ini di nyatakan sudah boleh pulang. Tapi si kembar masih harus di inkubator dalam waktu sampai 3 minggu ke depan. Inayah setiap hari akan memompa ASI nya, ia taro di botol dan diberikan kepada ruang rawat bayi.
Tok tok
Suara pintu di ketuk
Dokter Lita masuk untuk memeriksa Inayah, karena hari ini Inayah akan pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum, Dokter Inayah dan suami," sapa Lita.
"Wa'alaikumsalam, tuh 'kan panggil aku ada dokternya lagi. Panggil aku dengan nama aja," ucap Inayah.
Lita hanya tersenyum menanggapi perkataan Inayah.
"Aku periksa jahitannya yah." Lita melihat jahitan Inayah, tampak tidak ada masalah dan siap untuk pulang.
"Alhamdulilah..." Inayah memegang tangan Lita. Ia mengucapkan terima kasih kepada Lita karena sudah membantu dirinya ketika mengalami perasaan yang hancur, ketika Ramzi dinyatakan meninggal.
"Kamu kenapa wajahmu tampak bersedih?" tanya Inayah kepada Lita.
"Hari ini aku terakhir bekerja di rumah sakit Cirebon. Aku resign Ina," ucap Lita.
"Apa? Lita kamu bercanda 'kan?" tanya Inayah.
Lita menggelengkan kepalanya, ia serius dengan keputusan resign dari rumah sakit Cirebon. Rumah sakit awal ia bekerja sebagai dokter kandungan.
__ADS_1
"Apa karena Azril?" tanya Inayah to the point.
Lita tampak terkejut, karena selama ini dia tidak pernah memberitahukan bahwa dirinya mencintai Azril. Lita bingung darimana ia tahu tentang perasaannya itu.
"Jangan sok tahu kamu Ina, masa karena Azril." Lita menyanggah perkataan Inayah bahwa ia resign karena bukan persoalan percintaannya dengan Azril.
"Aku ndak sengaja mendengar pertengkaran kalian ketika di lorong 5 hari yang lalu. Maaf yah...Aku benar-benar ndak sengaja." Inayah merasa tak enak karena mendengar rahasia orang yang seharusnya tidak ia dengarkan. Inayah mengambil tangan Lita.
"Jangan resign karena kamu kalah dengan cinta, jika kamu ingin menata hati terlebih dahulu, ambillah cuti saja. Aku mohon, kamu dokter kandung yang terbaik di Cirebon," ucap Inayah.
"Kamu Ning, bisa aja ngomongnya. Dokter kandungan terbaik di Cirebon," ucap Lita terkekeh.
"Kamu kok ketularan Syifa, panggil aku Ning. Jangan deh, kamu panggil nama aku aja. Jangan resign yah Lit, aku mohon," pinta Inayah.
Lita menarik nafas dan mengeluarkan dengan perlahan. Dia hanya diam tidak membalas ucapan Inayah. Inayah paham, berat rasanya jika orang yang kita cintai mencintai wanita lain. Inayah merasa bersalah, karena dirinya cinta Lita terhalang kepada Azril.
"Maafkan aku." Inayah meminta maaf kepada Lita. Dia ingin melakukan sesuatu untuk membantu Lita tapi tak tahu caranya. Inayah juga sudah menghindar dari Azril, jadi tidak mungkin jika dirinya berbicara 4 mata dengan Azril mengenai cinta Lita. Cinta tidak bisa di paksa, karena yang mempunyai cinta di hati manusia itu sendiri. Kemana mata panah cinta itu berlabu, itulah jodoh yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta.
Sejak Inayah pulang ke rumah, dokter Lita tidak terlihat lagi di rumah sakit Cirebon. Inayah pun tidak tahu apakah Lita resign atau hanya cuti sementara.
***
3 minggu cepat berlalu, twins boys sudah boleh di bawa pulang. Inayah sangat senang sekali bisa menggendong twins boys. Rasa syukur tidak habis Inayah panjatkan. Seperti kata Ibu Kartini 'habis gelap terbitlah terang,' itulah perjalanan hidup yang Inayah jalani.
Emi yang sudah dikenalkan oleh adik-adiknya sangat antusias, kini umur Emi sudah masuk 1 tahun 10 bulan. Sebentar lagi akan berumur 2 tahun. Inayah sedang menggendong baby A dan Ramzi menggendong baby B.
"Mas, buatnya ndak bingung. Masa pas jadi bingung," ucap Inayah.
"Ngomongan kamu itu toh, tak cium bibirmu," ucap Ramzi, sambil melirik ke arah Inayah.
"Mau dong, dicium sama cah guanteng Gus Ramzi." Inayah sudah mendekatkan wajahnya ke arah Ramzi. Ramzi malah menghindar dan menjauh.
"Dasar dokter sableng," ucap Ramzi.
"Dokter sableng ini istrimu toh." Inayah mencibik kesal melihat tingkah Ramzi.
Inayah melangkahkan kakinya untuk menuju keluar kamar dengan menggendong baby A.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Ramzi.
"Mau lihat santri di luar sana," ucap Inayah.
"Apa? ndak...ndak boleh kamu ke depan." Ramzi melarang Inayah ke luar, karena di pesantren Inayah sering dibicarakan oleh para santri bahwa istri dari Gus Ramzi sangat cantik bahkan santriwati juga selalu memuji kecantikan Inayah.
__ADS_1
"Kenapa toh ndak boleh? kamu ndak mau cium aku juga," ucap Inayah merajuk.
"Inayah sayang... mau banget dicium suamimu," ucap Ramzi.
"Sudah ndak selera lagi aku dicium kamu. lebih baik liatin para santri lalu lalang." Inayah baru melangkah 3 langkah sudah di hadang langkahnya oleh Ramzi. Dan Ramzi langsung mencium kening Inayah.
"Jangan buat aku cemburu, bahaya jika aku cemburu. Kamu sudah selesai nifas 'kan." Ramzi tertawa dengan arti tertentu.
"Mas, aku lahiran caesar. Jangan sentuh aku dulu. Tunggu sampai 6 bulan, oke!" Inayah tersenyum dengan arti terselubung.
"Apa? 6 bulan!" Ramzi berdiri mematung karena ucapan Inayah. Inayah langsung mengecup bibir Ramzi dengan singkat dan mengedipkan satu mata kepada Ramzi.
Bab ini banyak yang baca gak yah?
Baby A dan baby B namanya siapa menurut kalian?
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π