Salah Lamar

Salah Lamar
Ada senyuman


__ADS_3

Emi sangat senang bertemu dengan Hasan kembali, tapi dia masih bertanya-tanya. Apakah wanita yang ia lihat itu adalah pasangan dari Hasan? Terlihat Hasan sangat sopan kepada wanita dan tidak ingin menyentuh seorang wanita karena Hasan selalu menjaga jaraknya. Artinya wanita itu adalah mahramnya. Jika dipikir seperti itu Emi pun menjadi sedih kembali karena artinya Hasan sudah mempunyai pasangan. Wajarlah Hasan berparas tampan, parasnya agak ke bule-bulean dan juga tutur bahasanya sangat halus. Emi berpikir beruntung sekali wanita yang mendapatkan Hasan.


Emi Belajar seperti biasanya, mengikuti kelas di kampus barunya ini. Walaupun Emi dan Hasan sama-sama di fakultas teknik, tapi departemen jurusan mereka sangat jauh, departemen mesin melewati departemen arsitek. Ketika Emi selesai jam kuliahnya, ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang.


"Emi." Seorang pria langsung menggenggam tangan Emi. Emi pun sontak terkejut ternyata yang menggenggam tangannya adalah Ahsan, laki-laki playboy ketika di ITB terdahulu yang menganggap bahwa jika ada uang, cinta pun akan datang.


"Ahsan lepaskan tanganku, jika tidak aku akan teriak." Ahsan melepaskan tangan Emi. Dia mengangkat kedua tangannya.


"Wow, masih galak aja kamu Emi, tapi aku suka. Jadi aku makin tertantang untuk mendapatkanmu," ucap Ahsan.


"Jangan harap kau Ahsan, aku tidak akan menerima kamu. Walaupun di dunia ini tinggal satu laki-laki seperti kamu!" Emi menunjuk ke wajah Ahsan.


"Kamu jangan berkata seperti itu, nanti kamu akan jatuh cinta sama aku, baru kamu mengejar-ngejar aku," ucap Ahsan.


"Tidak akan aku mengejar kamu, camkan itu!" Emi sangat emosi.


Ahsan menyentuh pipi Emi, dia berani membelai pipi Emi. Tidak ada seorangpun yang menyentuh Emi kecuali kedua orang tuanya. Kemudian Emi langsung menampar pipi Ahsan dua kali.


Plak Plak


Ahsan memegang pipinya yang sudah ditampar oleh Emi.


"Keterlaluan kamu Emi. Asal menyentuh-nyentuh aku. Jaga sikapmu, aku bukan perempuan murahan," teriak Emi.


"Kamu berani menampar aku, mempermalukan aku di depan umum." Orang-orang melihat pertengkaran Emi dan Ahsan.


"Kamunya yang tidak sopan dengan aku, menyentuh aku yang boleh menyentuh aku adalah mahramku," ucap Emi.


"Awas kamu Emi, kamu akan menyesal menamparku." Ahsan pergi dari hadapan Emi dengan amarah, ia mengancam. Emi tidak takut dengan ancaman Ahsan.


Ternyata kejadian itu pun dilihat oleh Hasan di kejauhan. Wajah Emi terlihat sangat marah ketika seseorang menyentuh dirinya.


***


Hasan \=["Halo, assalamu'alaikum Kak."]


Emi \=["Wa'alaikumsalam Hasan, Kakak sudah sampai ini di UI. Kamu fakultas apa ya?"]

__ADS_1


Hasan \=["Kakak sekarang di mana?"]


Emi \=["Aku sudah sampai, aku lihat tulisan departemen arsitek."]


Hasan \=["Oh ya udah Kak, Kakak tunggu situ dulu, aku nggak jauh dari tempat Kakak. Aku akan jalan ke sana tunggu aku Kak."]


Hasan pun berlari dan mencari keberadaan mobil kakaknya.Ia langsung mengenali mobil kakaknya tersebut, Hasan langsung mengetuk jendela pintu mobil.


"Hasan kamu ya yang nyetir, Kakak capek Jakarta Depok. Ini gara-gara kamu nggak bawa mobil sendiri, besok-besok bawa mobil lah agar Kakak nggak bolak-balik terus Jakarta Depok capek tahu," protes Heelwa, Kakak Hasan.


"Ya udah Kak, Kakak keluarlah," ucap Hasan.


Heelwa langsung membuka pintu dan ia keluar dari mobil. Hasan langsung memutar posisi, ia langsung masuk ke dalam mobil untuk menyetir mobil.


"Mamah sudah siapkan mobil buat kamu Hasan," ucap Heelwa.


"Ya sudah nanti Hasan bawa mobil sendiri deh, tapi Mamah siapkan mobil yang Hasan mau kan. Aku nggak mau yang mewah-mewah Kak, asal bisa jalan aja," ucap Hasan.


"Tadinya Kakak usulin sama Mamah biar kamu dibelikan mobil kolbak," canda Heelwa.


"Astagfirullah Kakak, sederhana sih sederhana Kak. Yah jangan mobil kolbak juga kali. Memangnya Hasan mau ngangkut pasir pakai mobil kolbak!" protes Hasan.


Hasan pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan ia menjalankan mobil menuju Jakarta. Mobil yang dikendarai Hasan melewati Emi yang sedang berjalan dengan menundukan kepala. Hasan langsung menoleh dan memberhentikan mobilnya.


"Kenapa kamu berhenti Hasan?" tanya Heelwa.


"Ada temanku Kak." Heelwa langsung menurunkan kaca jendela mobilnya, ia melihat wanita yang ditunjuk oleh Hasan.


"Cantik Hasan, kamu suka sama dia? Kalau suka lamar aja, nanti kakak bilangin Mamah," tanya Heelwa.


"Ngaco Kakak, masa aku langkahin Kakak. Kakak aja belum nikah," ucap Hasan.


"Nggak apa-apa Kakak sih, nyantai sih. Jodoh mah Kakak percaya akan datang pada waktunya, memangnya kalau dilangkahin jodoh Kakak nggak akan datang gitu?" protes Heelwa.


"Kalau orang Jawa pamali Kak dilangkahin sama adiknya, nanti Kakak lama nikahnya," ucap Hasan.


"Kamu kalau ngomong doain kakak yang jelek-jelek seperti itu. Kakak keturunan Turki Arab Jakarta," ucap Heelwa kesal.

__ADS_1


"Ingat Ayah dari Semarang. Artinya kita keturunan Jawa," ucap Hasan


Hasan pun turun dan menyapa Emi. Emi masih belum sadar Hasan ada di depannya. Hasan memanggil Emi, Emi langsung mengangkat kepalanya. Emi langsung syok ketika melihat Hasan sudah ada di depannya. Ia pun melihat Heelwa yang berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Hasan.


"Emi kamu mau ke depan? Sekalian yuk ikut dengan mobil aku," ajak Hasan.


"Enggak ah, aku takut ganggu kalian," ucap Emi.


"Kalian siapa memangnya? Maksud kamu Kakakku? Kak helwah?" tanya Hasan.


"Hah siapa namanya?" tanya Emi.


"Heelwah," jawab Hasan.


Emi berpikir seperti pernah mendengar nama Heelwah. Namanya sama seperti teman kecil, ketika Emi datang ke Jakarta. Pertama kali Emi mengenal Heelwa, Kenzo dan Gendis tapi Emi tidak yakin bahwa wanita itu adalah Heelwa yang ia kenal karena Heelwa tidak mempunyai adik.


"Ayo bareng sama aku atau aku antar langsung ke kosan kamu yah," ajak Hasan.


"Nggak usah Hasan, nanti ngerepotin kalian," ucap Emi menolak.


"Nggak kok, nggak ngerepotin." Hasan langsung membukakan pintu bagian belakang. Emi pun tidak enak terus-menerus menolak ajakan Hasan saat ini. Akhirnya dia masuk ke dalam mobil. Ketika ia masuk ke dalam mobil Heelwa menengok ke arah belakang dan tersenyum ketika melihat Emi.


"Assalamualaikum, namaku Heelwa kakak kandung dari Hasan." Heelwa mengulurkan tangannya.


"Waalaikumsalam, nama aku Emi Bashir." Emi mengambil uluran tangan Heelwa, mereka saling berkenalan.


Emi merasa senang bahwa yang dia lihat ternyata bukan pasangan Hasan, tetapi kakak kandung Hasan. Mereka memang kakak, adik berwajah agak kebulean dengan hidung mancung. Tapi dia tidak menyangka bahwa mereka adalah saudara kandung karena Heelwa parasnya sangat campuran sekali Arab tapi campuran seperti kebulean jadi sangat cantik jika dilihat.


"Kak, aku anterin Emi ke kosannya dulu ya." Heelwa menganggukan kepalanya, Hasan menanyai di mana kosan Emi. Emi memberitahu bahwa kos yang ia tinggali itu tidak jauh dari kampus. Akhirnya Hasan mengantarkan Emi terlebih dahulu ke tempat kosannya.


Hanya 30 menit untuk sampai ke tempat kos Emi. Hasan pun langsung memarkirkan mobilnya di depan kos dan langsung membukakan pintu mobil untuk Emi.


"Terima kasih Hasan sudah mengantarkan aku," ucap Emi dengan senyumannya.


"Iya sama-sama, aku langsung jalan ya karena mau ke Jakarta untuk menemui Mamahku, assalamualaikum." Hasan melambaikan tangannya kepada Emi.


"Waalaikumsalam." Emi langsung masuk ke kamar kosannya, ia tersenyum sendiri mengingat wajah Hasan. Pesona Hasan memang sangat menarik. Baru kali ini Emi merasakan jatuh cinta kepada seorang proa. Emi langsung bersujud syukur karena ternyata Hasan masih single dan yang ia lihat adalah kakak kandungnya. Ia langsung berdoa kepada Allah, jika jodoh maka dekatkanlah tapi jika tidak jodoh maka jadikanlah ia teman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2