
Ramzi terlihat lebih pendiam, di dalam mobil pun sangat pendiam dan sangat berubah sikapnya. Inayah tahu bahwa Ramzi sedang cemburu ketika bertemu dokter Azril. Inayah menggenggam tangan Ramzi di mobil, Ramzi menatap Inayah ketika tangannya di genggam.
Inayah tak berkata apa-apa, ia hanya menggenggam dan tersenyum kepada Ramzi. Sampai di apartemen Ramzi masih terdiam.
"Mas, ngambeknya udahan dong. Kamu baru sampai 1 hari di Jepang, aku ndak mau lihat kamu marah sama aku," ucap Inayah.
"Aku ndak marah sama kamu," ucap Ramzi.
"Itu jadi bad mood setelah pulang, jangan cemburu dong. Aku 'kan ndak cinta sama dokter Azril tapi yang aku cinta kamu," ucap Inayah.
Ramzi pun menghela nafas, "Seharusnya kamu ndak geladenin dokter ganjen itu ," ujar Ramzi sambil menggendong Emi.
"Apakah aku harus ndak sopan dengan dokter Azril? lagi pula aku bertemu dengan dia ketika bersama denganmu dan kamu melihat sikapku, kamunya aja Mas, yang kelewatan cemburu denganku," ujar Inayah membela diri.
"Kupikir cemburu itu artinya cinta, tapi ternyata cemburu itu ndak percaya dengan pasangannya," ucap Inayah lirih.
Ramzi meletakkan Emi di box bayi karena putri kecilnya itu sudah tertidur pulas. Ramzi langsung berlutut di lantai menghadap ranjang dan mengambil tangan Inayah.
"Sayang, akupun tak bisa mengendalikan perasaanku yang cemburu kepada dokter Azril yang pernah mengatakan akan merebut kamu dari aku, ketika kamu pergi ke Jepang dan aku tahu dokter Azril mendapat bea siswa ke Jepang bersamamu. Kamu tahu aku sampai terbawa mimpi bahwa kamu mencintainya dan meninggalkan aku pergi. Di dalam mimpi kamu berkata ndak ingin hidup denganku lagi. Aku takut kehilangan kamu," ucap Ramzi.
"Sekarang aku tanya sama Mas. Tadi ketika kita bertemu dengan dokter Azril, apakah aku memuji atau mengagumi dokter Azril seperti sikapnya, fisiknya atau kecerdasannya?" Inayah menatap lekat mata Ramzi.
Ramzipun sadar, apa yang dilakukan Inayah tadi hanya menjawab sapaan dokter Azril saja, lalu ia berpamitan dengan cepat seakan tidak mau berbicara dengan dokter Azril.
"Walaupun ia pernah menyatakan cinta sama aku ketika ia tahu aku sakit hati lagi karenamu, dia menyuruhku cerai darimu dan menikah dengannya. Kamu tahu jawabanku apa ketika itu?" tanya Inayah sambil tidak melepaskan tatapannya kepada Ramzi.
Ramzi ingin berkata tapi di tahan oleh Inayah, "Jangan potong ucapanku."
"Aku menjawab,'aku mencintai suamiku, namanya sudah terpatri di hatiku. Jangan kamu berpikir karena kita dekat, bisa seenaknya saja mengutarakan isi hatimu. Jangan harap aku akan mencintaimu karena aku hanya mencintai Ramzi Sahban Elfathan yaitu suamiku,' kamu percaya itu?" tanya Inayah.
Ramzi memeluk Inayah dengan erat.
"Harusnya Mas tahu, aku sudah menanamkan hatiku bahwa tidak ada laki-laki yang terbaik, termulia, tersempurna untukku selain kamu Mas. Karena aku yakin Allah telah mengirimkan kamu untukku karena Ia tahu laki-laki seperti Mas Ramzi yang aku butuhkan untuk sandaranku, pijakanku dan insha Allah kamulah yang terakhir untuk menemani hidupku sampai Allah mencabut nyawaku. Kamu tahu Mas? ketika Emi lahir aku meneriaki namamu, ketika aku di dalam reruntuhan yang aku ingat hanya kamu karena aku berbuat dosa kepadamu." Inayah menangis.
"Sayang maafkan aku, jangan menangis. Hatiku sakit jika kamu menangis karena aku," ucap Ramzi, masih keadaan memeluk Inayah.
"Aku bukan suami yang dayyuts, maafkan aku atas kecemburuanku yang tak berdasar," ujar Ramzi.
__ADS_1
Dayyuts Suami yang tidak pernah cemburu kepada istrinya dan membiarkan istrinya berbuat maksiat.
"Maafkan aku juga yang membuat kamu cemburu Mas." Ramzi mengusap air mata Inayah dengan ibu jarinya lalu mengecup pucuk kepala Inayah.
"Kamu istirahatlah, aku ndak mau kamu sakit," ucap Ramzi.
"Istirahat bersama aku Mas, rebahkanlah tubuhmu di sampingku. Aku ingin tidur dengan memeluk tubuhmu. Emi pun sedang tidur jadi kita bisa istirahat bersama-sama," pinta Inayah.
Ramzi merebahkan tubuhnya di samping Inayah dan mereka tertidur dengan posisi memeluk satu sama lain.
***
Sudah 3 bulan Ramzi berada di Jepang, itu artinya Inayah duduk di kursi roda sudah 6 bulan lamanya. Sejak 3 bulan lalu Inayah sudah aktif masuk ke kampus lagi, ketika Inayah sedang kuliah dan praktik Ramzi lah yang mengurus Emi. Emi tumbuh sangat sehat kini usianya sudah 7 bulan. Sudah bisa belajar duduk.
Biasanya Syifa yang membantu Inayah ketika masuk kuliah, sudah 1 minggu Inayah di antar oleh Ramzi karena Syifa seminggu yang lalu melahirkan anak pertamanya.
Di kelas Inayah merupakan mahasiswi emas, karena para profesor selalu menyanjung atas kepiawaiannya dalam operasi pembedahan, ada 1 mahasiswi yang iri dengan kemampuan Inayah dan selalu bersikap kasar kepada Inayah. Tapi Inayah tidak meladeni sikap kasarnya terhadap dirinya.
Siang hari pukul 2, Inayah sudah menyelesaikan semua mata kuliah untuk hari ini. Kemudian dia menelepon Ramzi untuk menjemputnya. Ketika Inayah hendak ke depan universitas salah satu profesor memanggilnya. Inayah mengirim line kepada Ramzi agar menunggu sebentar karena prosesor mendadak memanggilnya.
Setelah selesai Inayah langsung keluar universitas dan mencari keberadaan Ramzi. Inayah syok ketika Emi digendong oleh seseorang yang ia kenal yaitu mahasiswi yang selalu berlaku kasar terhadapnya. Ia cepat-cepat menjalankan kursi rodanya.
"Siapa kamu mau menggendong bayi cantik ini, lagi pula kamu gak bisa menggendongnya. Kamu itu cacat sadar diri," ucap Mako dengan wajah mencaci.
Inayah mengepalkan tangannya, dia mencari Ramzi. Kenapa Emi dititipkan dengan sembarangan orang. Tidak lama Ramzipun datang.
"Sayang kamu sudah di sini, maaf tadi aku dari toilet," ucap Ramzi.
"Itu putriku, kembalikan kepadaku," teriak Inayah kepada Mako.
Melihat Inayah begitu emosi, Ramzi mengambil Emi lalu memberikan Emi kepada Inayah.
"Dia siapanya kamu Ramzi?" tanya Mako.
"Dia istriku," jawab Ramzi.
"Sayang, ini temanku. 1 kampus tapi beda fakultas. Ia ambil fakultas kedokteran lalu setelah lulus dia langsung ke Jepang, tinggal bersama mamahnya. Mamahnya orang jepang asli. Tadi aku titipkan sebentar karena tadi aku ke toilet," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Kamu dengar Moko, putri cantik ini adalah anakku dan wanita cacat ini adalah ibu dari putri cantik ini. Aku yang mengandung dan yang melahirkan putri cantik ini," ucap Inayah.
"Mas aku mau pulang, kamu mau tetap di sini dengan temanmu? aku akan naik taksi bersama Emi," ujar Inayah.
"Tidak, kamu akan pulang bersamaku. Mako aku permisi, terima kasih sudah menjaga putriku," ucap Ramzi.
'Ngapain ngucapin terima kasih kepada Mako! menyebalkan,' batin Inayah.
Ramzi langsung mendorong kursi roda Inayah lalu mereka masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Inayah hanya bermain dengan Emi. Ia tidak berbicara 1 katapun dengan Ramzi.
Bersambung.
***
Rajinkan komentar di hari jumat mulai tanggal 23 desember, sabtu dan minggu ini untuk ketiga dari novel saya. ada GA dari saya.
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤