
Inayah dan Ramzi sudah siap untuk keluar bersama, Emi di pangkuan Inayah. Syifa dan suaminya sudah siap menunggu mereka. Ramzi meletakkan Emi di atas bangku khusus bayi di mobil, Kemudian menggendong Inayah untuk masuk ke dalam mobil. Kursi roda Inayah di lipat dan diletakkan dibagasi mobil. Setelah itu Ramzi masuk ke dalam mobil.
"Mau kemana kita?" tanya Syifa.
"Distrik Higashiyama, kamu setuju ndak pergi ke sana?" tanya Inayah.
"Boleh, bagus buat spot foto bagus di sana," jawab Syifa.
Distrik Higashiyama Adalah distrik bersejarah yang terawat indah yang sepenuhnya menangkap bagaimana penampilan Jepang yang feodal. Distrik bersejarah ini dipenuhi dengan rumah dan toko tradisional, termasuk rumah teh dan toko tembikar, dan juga rumah bagi restoran, kuil bersejarah dan tempat pemujaan. Rasanya sayang jika dilewatkan ketika berada di Jepang.
Ramzi mendorong kursi roda Inayah, mereka menyusuri distrik Higashiyama. Inayah merasakan rasa yang sangat senang, sudah lama ia ingin ke tempat ini, tapi ternyata bersama suami tercinta baru keinginannya terpenuhi. Bibir Inayah tak henti-henti mengukir senyuman. Membelai kepala Emi yang sedang ia pangku.
Syifa dan suaminya pun menikmati waktu mereka, karena waktu Syifa sangatlah padat akan kegiatan di kampusnya. Syifa dan Inayah bukan hanya sebagai mahasiswa tapi juga mereka langsung terjun untuk menjadi dokter di Kyoto University.
"Ning, aku dan suamiku mau coba sewa baju kimono yah, mumpung di sini jadi pas foto akan terlihat Jepang banget gitu. Perutku juga sudah besar, foto kenang-kenangan untuk nantinya kalau aku sudah pernah ke Jepang, sampean mau ikut ndak sewa kimono?" tanya Syifa.
"Ndak Syifa, aku mau jalan menyusuri distrik Higashiyama aja dengan Mas Ramzi," jawab Inayah.
"Nanti calling aku aja yah, jika sudah mau pulang," ucap Syifa.
"Iya, Syifa," ucap Inayah.
"Selamat bersenang-senang, anggap aja kalian sedang pacaran. Pacaran halal hehe... jya mata ne," ucap Syifa.
"Hai, jya mata," ucap Inayah.
Ramzi mendorong kembali kursi roda Inayah.
"Mas, aku sejak pertama kali ke Jepang, ingin sekali ke sini. Tapi alhamdulilah baru ke sampaian ketika bersama kamu," ucap Inayah.
"Iya, memang bagus. Gaya bangunan jepang jaman dulu. Seperti di film oshin," ucap Ramzi.
"Memang Mas tahu film Oshin?" tanya Inayah.
"Tahu donk, film serial pertama yang masuk ke Indonesia," ucap Ramzi.
"Ternyata terkenal yah, padahal oshin itu sekitar tahun 80an-90an loh Mas," ucap Inayah.
"Aku baru nonton sih, pas kamu kabur ke Jepang. Ketika aku sedang rindu kamu, aku mencari tahu tentang Jepang di youtube eh ndak sengaja ketemu film oshin. Aku tonton, bagus ceritanya impian anak kecil yang meraih mimpinya, seperti impian kamu yang ingin menjadi dokter bedah," ucap Ramzi.
"Kok kamu tahu sih, impian aku menjadi dokter spesialis bedah?" tanya Inayah.
"Maaf yah, aku membaca diary kamu. Aku juga membaca kamu mengubur impian kamu karena kamu ndak mau tinggalin aku. Tapi ada sisi positifnya juga yah kamu cemburu, karena kamu bisa menggapai impian kamu," ucap Ramzi.
"Tapi sekarang aku malu sama kamu Mas, karena aku mengejar impian aku dengan cara kabur dari kamu. Bukan dengan ridho kamu," ucap Inayah.
"Sejak aku membaca buku diary kamu, aku merasa sangat bersalah banget sama kamu. Aku mulai ridho kamu menggapai impian kamu ini dan sekarang aku mendukung kamu. Jangan pulang ke Indonesia sebelum kamu mendapat ijasah dari Kyoto University," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Mas terima kasih banyak kamu mendukung aku, boleh aku memelukmu?" tanya Inayah.
Ramzi agak merendahkan tubuhnya dan ia memeluk Inayah.
"Terima kasih juga kamu menjadi istriku dan ibu dari anakku," ucap Ramzi.
Ketika suatu hubungan saling menerima maka akan terasa manis. Itu yang Inayah rasakan saat ini. Ramzi mendorong kembali kursi roda Inayah. Ramzi sesekali membelai kepala Inayah untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada Inayah.
Inayah melihat ada seorang ibu menangis yang menggendong anaknya. Anaknya terlihat lemas dan tak bergerak. Di Jepang memang lebih perduli dengan sesama beberapa orang ingin segera menolong anak tersebut. Sang ibu memeluk dengan erat anaknya.
"Mas, tolong gendong Emi dulu," ucap Inayah.
Ramzi menggendong Emi dari pangkuan Inayah, ia mendorong kursi rodanya sendiri dengan tangannya dan mendekati ibu tersebut. Putra ibu tersebut umurnya kira-kira 7 bulan.
"Inaya no isha desu. Musuko san wa dou shitaimasuka?" ucap Inayah.
(Aku dokter Inayah. Apa yang terjadi dengan putramu ?)
"Uchi no musuko o tasuketekudasai," ucap Ibu anak itu.
(Tolong putra saya.)
Ibu itu langsung memberikan anaknya kepada Inayah, ia memohon agar memeriksa anaknya. Inayah merasakan anak itu sangat lemas. Inayah memposisikan bayi tengkurap di lengannya yang ditopang dengan paha kiri Inayah. Posisi kepala bayi lebih rendah dibandingkan badannya. Inayah menopang kepala dan rahang bayi dengan jari tangannya. Kemudian, ia tepuk lembut punggungnya di antara tulang belikat sebanyak 5 kali, menggunakan tangan Inayah yang lain. Tak lama anak itu batuk dan bernafas kembali, Inayah langsung memeluk anak tersebut dan mengusap-usap pundaknya.
"Daijoubu...daijoubu..." ucap Inayah.
Inayah langsung mengembalikan anak tersebut kepada ibunya, para pengunjung bertepuk tangan karena Inayah sudah menolong bayi tersebut. Bayi itu tersedak dengan air liurnya sendiri, terkadang bayi memang tersedak dengan air liurnya.
"Arigatou gozaimasu," ucap Ibu itu sambil membungkukkan tubuhnya. Ibu itu sangat berterima kasih kepada Inayah dan memberikan alamatnya jika ia membutuhkan sesuatu, ia menyuruh Inayah untuk datang ke rumahnya sebagai ucapan terima kasih.
"Iie," ucap Inayah.
Inayah sangat bersyukur walaupun ia duduk di kursi roda, tapi dirinya masih bermanfaat untuk orang lain.
"Istriku memang hebat," Ramzi memuji Inayah.
"Itu memang tugasku Mas, sebagai seorang dokter," ucap Inayah.
Ramzi dan Inayah meneruskan berjalannya karena ujung dari Higashiyama ini adalah sebuah pagoda. Inayah berfoto bersama dengan spot toko-toko di Higashiyama dengan background pagoda. Mereka berfoto bertiga.
"Terima kasih Mas untuk hari ini, aku sangat bahagia," ucap Inayah.
Inayah menelepon Syifa bahwa dirinya sudah cukup jalan di Higashiyama hari ini. Ketika Inayah dan Ramzi kembali ke parkiran mereka bertemu dengan Dokter Azril yang sedang berkunjung juga di Higashiyama.
Wajah Ramzi menunjukkan wajah yang tidak bersahabat.
"Apa kabar Dokter Inayah," sapa Azril.
__ADS_1
"Alhamdulilah, aku baik-baik saja. Maaf Dokter Azril saya mau balik sudah di tunggu sama Dokter Syifa. Anak saya juga sudah terlihat lelah," ucap Inayah.
"Baik Dok, hati-hati di jalan," ucap Azril.
"Assalamu'alaikum," ucap Inayah.
"Wa'alaikumsalam," ucap Azril.
Ramzi mendorong kembali kursi roda Inayah, yang sempat berhenti ketika berpapasan dengan dokter Azril. Mood Ramzi berubah, ia menjadi pendiam sejak bertemu dengan dokter Azril.
Cemburu??
Bersambung
spot foto Inayah dan Ramzi
***
Rajinkan komentar di hari jumat mulai tanggal 23 desember, sabtu dan minggu ini untuk ketiga dari novel saya. ada GA dari saya.
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1