
Delisha mengusap air mata Inayah, perasaannya masih merasa bersalah kepada kakaknya.
"Mba mau pulang ikut Abah?" tanya Delisha.
"Ndak De, walau bagaimanapun juga aku sudah menikah. Ndak bisa keluar tanpa izin dari suami," ucap Inayah.
"Mba masih anggap Gus Ramzi suami? suami macam apa dia," ucap Delisha kesal.
"Kamu pulang De, sudah malam. Mba gak mau kamu sakit. 2 minggu lagi loh kamu menikah. Mba ndak marah sama kamu, Mba sayang banget sama kamu," ucap Inayah.
"Mba ndak apa-apa aku tinggalkan sendiri?" tanya Delisha.
"Ndak apa-apa, rumah sakit adalah rumah kedua bagi Mba," jawab Inayah.
Delisha memeluk kembali Inayah, dia tahu perasaan kakaknya seperti apa saat ini. Seorang suami bukan mencintai dirinya tapi mencintai wanita lain. Padahal Inayah di keluarga Kiai Amar adalah putri yang paling cantik diantara kedua saudarinya. Kembang di rumah Kiai Amar.
Delisha meninggalkan Inayah dengan sangat berat hati. Sejak kecil Inayahlah yang paling dekat dengan dirinya. Kakak yang selalu melindungi adiknya. Kasih sayang Inayah begitu besar kepada Delisha, sampai Delisha merasa sangat kehilangan ketika Inayah menikah.
Setelah Delisha dan Abah Amar pulang, Inayah mencoba mengintip di parkiran, ternyata Ramzi masih di parkiran. Inayah memanggil Pak Rohid, satpam rumah sakit.
"Pak, laki-laki yang berbaju koko itu mau jemput saya, tapi ternyata saya harus menangani korban kecelakaan tadi siang, kekurangan dokter Pak di rumah sakit ini, maklum 4 dokter mengambil cuti bersamaan. Jadi saya harus lembur Pak, tolong bilang sama laki-laki itu, suruh pulang. Saya bisa pulangnya besok," ucap Inayah.
"Baik Dokter Ina, saya akan sampaikan kepada laki-laki itu," ucap Rohid.
"Terima kasih Pak, ini uang rokok untuk Bapak." Inayah memberikan selembar uang merah.
"Tidak usah Dok," ucap Rohid menolak.
"Ndak apa-apa, jangan menolak. Ini rezeki Pak. Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum," ucap Inayah.
Inayah melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Rohid, dia berjalan untuk masuk ke dalam rumah sakit. Inayah menuju meja kerjanya. Di atas meja kerja ada plastik berisi makanan yang telah dibelikan oleh Dokter Azril.
Dedd dedd
Suara benda pipih Inayah berdering, ia mengangkat telepon yang dia tahu itu dari Ramzi. Ia hanya berdiam tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ramzi \= ["Assalamu'alaikum, Ning."]
Inayah tidak menjawab salam dari Ramzi di telepon, dia hanya terdiam membisu.
Ramzi \=["Maafkan aku Ning."]
Inayah \= ["Gus sepertinya kamu harus mengurus perceraian kita, aku sudah bertahan selama dua minggu. Ketika aku tahu kamu mencintai adikku, hatiku tak bisa bertahan lagi. Sepertinya pernikahan ini sudah cukup sampai di sini."]
Ramzi \=["Ning, aku mohon kita jangan bercerai. Ummi sudah sayang denganmu."]
Inayah \= ["Nanti aku yang akan menjelaskan kepada Ummi, kenapa kita bercerai. Terima kasih Gus atas kenangan yang kamu berikan."]
Inayah langsung mematikan teleponnya, dia membuka makanan di atas mejanya. Memakan sambil mengeluarkan air mata, iya tak kuat untuk menahan rasa sakit hatinya. Kedua lengannya dilipat di atas meja kerja, wajahnya ia letakkan di kedua lengan. Tubuhnya bergetar karena tangisan yang tidak berhenti.
Ternyata Dokter Azril belum pulang, ia melihat Inayah sedang menangis. Tapi ia tidak berani untuk mendekati Inayah, ia hanya menunggu sampai Inayah melepaskan kesedihannya. Dokter Azril memesan makanan online, ia mencari resto online di jam malam seperti ini, makanan yang Inayah suka sejak kuliah. Sekitar 10 menit memilih akhirnya dia order beberapa makanan di resto online.
__ADS_1
"Dokter Ina maaf aku mengganggu kamu, ini makanan dan minuman kesukaan kamu. Waktu kuliah jika moodmu lagi down, kamu selalu makan dan minum ini." Dokter Azril memberikan jus alpukat coklat dan cake bertabur coklat.
"Ini ada tisu," sambungnya.
Inayah mengangkat kepalanya, dia mendongak dan melihat wajah dokter Azril.
"Maaf, kamu melihat aku seperti ini." Inayah mengambil tisu dan menghapus air matanya.
"Kamu tidak pulang?" tanya Dokter Azril.
"Aku tidur di sini aja," jawab Inayah.
"Ada masalah dengan rumah tanggamu? maaf aku bertanya hal pribadi kamu," ucap Dokter Azril.
"Memang terlihat yah, aku punya masalah dalam rumah tangga?" tanya Inayah.
"Hanya nebak aja sih," jawab Dokter Azril.
"Aku minum yah jusnya, makan bareng aja cake nya, aku gak akan habis. Ini nasi goreng yang kamu beli aja belum aku habiskan. Berapa semuanya Dokter Azril?" tanya Inayah.
"Gak usah dibayar, aku iklas beliin buat kamu. Kalau lagi begini panggil saya Azril aja seperti kita kuliah dulu," pinta Dokter Azril.
"Yah sudah, panggil juga aku dengan namaku saja," ucap Inayah.
Untuk malam ini, Inayah bermalam di rumah sakit. Dia tertidur di meja kerjanya dengan posisi duduk.
***
"Assalamu'alaikum, Indra, bagaimana? masih terasa sakit kepala kamu?" tanya Inayah.
"Wa'alaikumsalam, Ning kamu bekerja di rumah sakit ini? aku merasa kepalaku masih pusing," jawab Indra.
"Iya, aku kerja di rumah sakit ini. Nanti tangan kamu yang panah, akan dijadwalkan pemasangan pen. Dengan mengamati kondisimu terlebih dahulu," ucap Inayah.
Bu Ratna masuk ke ruang rawat Indra, ia baru menyelesaikan salat subuh.
"Ning Inayah," sapa Bu Ratna.
Inayah hanya tersenyum.
"Yah sudah Indra, aku tinggal dulu. Nanti ada suster yang memberikan kamu obat. Semoga cepat sehat yah. Bu Ratna saya permisi dahulu," pamit Inayah.
"Iya, Dok, terima kasih," ucap Ibu Ratna.
"Ibu, gadis itu Ning Inayah. Putri Kiai Amar, yang pernah ku lamar tapi lamaranku ditolaknya," ucap Indra.
"Ibu tahu, dia sudah menikah 2 minggu lalu. Lupakanlah dia. Di mesir tidak ada gadis yang mau kamu khitbah kah?" tanya Bu Ratna, kepada anaknya.
"Belum ada gadis lain yang membuat hatiku bergetar Bu. Hanya Ning Inayah, tapi ia bukan jodohku Bu," ucap Indra.
"Lupakan Ning Inayah, Nak," pinta Bu Ratna.
__ADS_1
***
Inayah memesan taksi online untuk pulang ke rumah Abi Afnan. Sesampainya dia di pesantren, Ummi Laila langsung menyambut dirinya. Inayah memberi salam, mencium punggung tangan dan tersenyum kepada Ummi Laila.
"Nak, kamu pasti lelah. Ummi sudah membuat makanan, sarapan dulu yah," ucap Ummi Laila.
Inayah hanya terdiam, matanya hanya menatap wajah Ummi Laila lalu dia meneteskan air mata.
"Kamu kenapa? ada yang sakit?" tanya Ummi Laila.
Inayah hanya menggelengkan kepalanya. Ummi Laila melihat ada perubahan kepada Inayah.
Tiba-tiba, Inayah berlutut kepada Ummi Laila. Dia mencium kaki Ummi dan meminta maaf dengan uraian air mata.
"Ummi, Ina sayang Ummi seperti Ummaku. Aku minta maaf Ummi. Aku minta cerai kepada Gus Ramzi," ucap Inayah menangis sesegukan.
"Astagfirullah, kenapa Ning Ina? kenapa? Ummi ada salah sama kamu?" tanya Ummi Laila.
"Gus Ramzi tidak mencintai ku Ummi, dia mencintai adikku. Hati ku tak kuat lagi untuk menahan ini semua," ucap Inayah sesegukan.
"Tapi adikmu sebentar lagi menikah, mungkin kamu salah mengira Ning Inayah," ucap Ummi Laila.
"Iya adikku 2 minggu lagi dia akan menikah, tapi semalam aku mendengar dan melihat dengan mata kepalaku sendiri. Gus Ramzi menyatakan cintanya kepada adikku, maafkan Inayah Ummi. Hatiku rapuh dan tak kuat lagi Ummi," Inayah mencium kaki Ummi Laila.
Ummi mengangkat tubuh Inayah dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan Ummi, yang telah gagal mendidik Ramzi sehingga dia menyakiti hati wanita yang sangat baik sepertimu, wanita berparas cantik. Maafkan Ummi Ning Inayah...Maaf." Ummi Laila menangis meminta maaf, ia tidak menyangka bahwa putranya itu sangat keterlaluan menyakiti hati Inayah yang sangat lembut.
Inayah menangis dipelukan Ummi.
"Kamu mau pulang ke pesantren Abahmu? biar Ummi dan Abi yang mengantarkanmu langsung," ucap Ummi Laila berderai air matanya.
'Gus Ramzi, sungguh tega hatimu, menyia-nyiakan hati wanita yang tulus mencintaimu.' batin Author.
Bersambung
***
Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.
Cek novelku yang berjudul
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata, 50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1