
Inayah dan Ramzi kini sudah berada di dalam mobil. Keduanya terasa canggung. Ramzi tersenyum kepada Inayah, senyumannya di balas dengan Inayah. Ramzi mengelus pipi Inayah.
"Maafkan aku telah menyakiti hatimu," ucap Ramzi.
Inayah mencium tangan Ramzi.
"Tolong jangan sakiti hatiku lagi dan jaga hatimu hanya untukku," ucap Inayah
"Insha Allah, aku akan menjaga hatiku hanya untukmu," ucap Ramzi, meyakini Inayah.
"Aku rindu kamu Ning," ucap Ramzi lirih.
"Mas..." Inayah memanggil Ramzi.
Ramzi menatap Inayah dan memiringkan badannya.
"Iya sayang," jawab Ramzi.
Ramzi memanggil sayang kepada Inayah, membuat ia sangat bahagia, tak sadar Inayah langsung mencium pipi Ramzi.
"Ah kamu sudah agresif yah mencium aku duluan," ucap Ramzi.
Inayah malu dengan kelakuannya sendiri.
'Ah bodohnya aku mengekspresikan kesenanganku seperti itu.' batin Inayah.
"Udah Mas, jalan yuk. Sudah malam," ajak Inayah.
"Hmm malu yah," sambil mencubit pipi Inayah.
"Au sakit Mas, sudah jalan," ajak Inayah lagi.
"Masa sih sakit?" Ramzi mengelus pipi Inayah lalu dia mulai menjalankan mobilnya.
Mobil Ramzi berjalan membelah kota Cirebon di malam hari. Ingin rasanya waktu berjalan lambat agar bisa berdua dengan Inayah lebih lama lagi. Tak henti-hentinya Ramzi tersenyum ketika melihat Inayah yang sedang duduk di sampingnya.
Sesampainya di pesantren Kiai Amar, Ramzi memarkirkan mobilnya di halaman pesantren Kiai Amar.
"Abah Amar, buat acara Delisha besar-besaran yah. Ini kok ramai banget sih orang-orangnya. Lain dengan waktu kita nikah 1 bulan yang lalu," ucap Ramzi.
"Abah, persiapannya sama kok seperti kita nikahan dulu. Kamu kenapa mikirin Delisha, masih cinta sama dia?" tanya Inayah dengan wajah cemberut.
"Sayang, sudah aku katakan, yang aku cinta saat ini, itu kamu." Ramzi membelai kepala Inayah yang masih tertutup hijab syar'i.
Inayah tidak banyak bicara, ia langsung membuka pintu dan turun dari mobil Ramzi. Melihat Inayah langsung turun, Ramzi bergegas mengejar Inayah dan langsung menggandeng tangannya.
"Uriduki anti, la syaiun akhor, faqod Anti," Ramzi membisikkan di telinga Inayah.
(Aku ingin kamu, tidak ada yang lain, hanya kamu.)
Inayah tersenyum mendengarkan perkataan Ramzi, dia mengeratkan genggaman tangannya. Dia tatap lekat mata Ramzi.
"Benarkah perkataanmu itu?" tanya Inayah.
"Since you are not by my side. I can't breathe when i image your face. I'm regret ignoring you, I just realized that I have fallen in love with you," jawab Ramzi.
(Sejak kamu tidak di sisiku. Aku tidak bisa bernapas saat membayangkan wajahmu. Aku menyesal telah mengabaikanmu, aku baru menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu.)
"Syukron Mas," ucap Inayah, dihiasi senyuman di bibirnya.
__ADS_1
Inayah masuk ke dalam rumah, dia melihat orang-orang banyak berdatangan. Wajah merekapun tampak tak biasa. Kesedihan yang mereka pancarkan.
'Ada apa ini sebenarnya?' batin Inayah.
Tampak Abah Amar yang menangis, jarang Inayah melihat Abahnya menangis. Inayah melepaskan genggaman tangannya dari Ramzi. Mereka saling berpandangan.
"Abah, apa yang terjadi? kenapa orang-orang tampak bersedih?" tanya Inayah.
"Hiburlah adikmu Ina," ucap Abah Amar.
"Lisha kenapa Abah? apa yang terjadi dengan Lisha?" tanya Inayah.
"Ustadz Adam telah berpulang ke pangkuan Allah, almarhum terkena serangan jantung," ucap Abah Amar lirih.
"Innalillahi waina ilaihi rojiun." Inayah langsung berlari ke kamar Delisha. Ia tak menyangka bahwa umur ustadz Adam pendek. Tidak terlihat sakit tapi Allah Maha Punya, Dia lah yang berhak atas jiwa setiap umatnya. Inayah mendekati Delisha yang sedang menangis walaupun di sampingnya ada Umma Adibah tapi Delisha menyembunyikan wajahnya.
"Umma, biar Ina yang menemani Lisha," ucap Inayah.
Umma Adibah berdiri kemudian Inayah duduk di tepi ranjang Delisha. Dia mengusap punggung Delisha dengan lembut.
"De...iklaskan Ustadz Adam, Allah Maha Tahu, ia lebih sayang daripada kita," ucap Inayah.
"Sudahlah Mba, Mba ndak mengerti perasaan aku. Hari akad yang aku tunggu-tunggu, bersanding dengan pria yang aku cintai di atas pelaminan. Tapi kenapa sebelum acara ijab qobul, dia meninggalkan aku? kenapa?" ucap Delisha penuh kesedihan dan air mata.
"De, Mba tahu rasanya. Bagaiman orang yang kita cintai meninggalkan kita," ucap Inayah menghibur.
"Tapi Ustadz Adam meninggalkan aku selamanya Mba...selamanya..." teriak Delisha, dia histeris dan menangis tersedu-sedu.
Inayah langsung memeluk Delisha dengan erat.
"De, kalau kamu seperti ini. Tidak iklas dengan takdir Allah, kasian De, Ustadz Adam. Lebih baik kamu mendoakannya, agar Ustadz Adam tenang. Allah sudah memutuskan perjodohanmu, Mba yakin Allah punya rencana yang lebih indah untukmu," ucap Inayah.
"Jika Mba tahu jawabannya, maka sebelum Ustadz Adam melamarmu akan Mba jauhkan kamu dengan Ustadz Adam, karena itu semua rahasia Allah. Bukankah rukun iman yang ke-6 percaya kepada qoda dan qodar? jika kamu tidak menerima takdir Allah. Artinya kamu tidak percaya rukun iman yang ke-6," ucap Inayah.
Delisha menangis di pelukan Inayah.
"Menangislah De, jika itu membuat hatimu tenang," ucap Inayah.
"Mba, tetaplah di sini. Temani aku, jangan tinggalkan aku," pinta Delisha.
"Iya Mba akan bersamamu," Inayah membantu Delisha untuk merebahkan tubuhnya, malam ini Inayah menemani Delisha.
Setelah Delisha tenang, dan tertidur. Dia diam-diam pergi ke luar untuk menemui suaminya. Karena sejak dia kembali ke pesantren Amar, Inayah meninggalkan suaminya begitu saja.
Inayah mencari keberadaan Ramzi, ternyata dia sedang berbincang dengan Indra dan Abah Amar. Ramzi melihat Inayah yang sedang berdiri memandang dirinya, buru-buru dia meminta izin kepada Abah Amar.
"Abah, aku permisi. Ning Inayah sudah menungguku," ucap Ramzi berpamitan.
Indra menoleh ke arah Inayah yang memang sedang menunggu, Ramzi menghampirinya. Dia melihat Ramzi tersenyum kepada Inayah dan dibalas senyumannya oleh Inayah. Kemudian Ramzi langsung menggandeng tangan Inayah dan masuk ke dalam rumah. Pemandangan yang membuat hati Indra lost dari raganya.
'Ning Inayah terlihat sangat bahagia,' batin Indra.
"Mas, maaf tadi aku tinggalin kamu," ucap Inayah.
"Gak apa-apa, bagaimana keadaan adikmu?" tanya Ramzi.
"Sangat syok, dan menangis terus. Dia minta aku temenin. Ini aku bisa keluar karena dia sedang tidur, sudah makan Mas?" tanya Inayah.
"Aku sudah makan tadi sama Abah dan Indra," jawab Ramzi.
__ADS_1
"Hah sama Indra?" tanya Inayah karena kaget.
"Iya sama Indra, memang kenapa?" ucap Ramzi.
"Jangan cemburu yah kalau aku katakan, Indra dulu pernah lamar aku. Tapi aku tolak," jawab Inayah.
"Hmmm..." Ramzi hanya menjawab hm tidak lebih.
"Ndak marah 'kan, ndak cemburu 'kan?" tanya Inayah.
"Kamu sudah menjadi milikku, kenapa aku cemburu sama dia," ucap Ramzi.
"Ngomong ndak cemburu, tapi wajah di tekuk," ucap Inayah sambil tersenyum meledek.
Ramzi menatap Inayah, membuat Inayah salah tingkah.
"Jangan menatap aku seperti itu," pinta Inayah.
Ramzi langsung mengajak Inayah ke dalam kamar dan mengunci kamar serapat-rapatnya.
"Mas, mau ngapain?" tanya Inayah.
Ramzi memepetkan tubuh Inayah ke dinding.
"Aku rindu sama kamu, aku ingin menciummu, bolehkah aku?" tanya Ramzi.
"Iya, kamu boleh melakukannya," jawab Inayah malu-malu tapi mau.
Ramzi memegang pinggang Inayah dan menyentuh tengkuk bagian belakang, wajah nya mulai mendekat. Kini bibir Inayah dan Ramzi hanya berjarak 1 cm, ketika Ramzi mulai ingin menyentuh bibir Inayah dengan bibirnya, ada ketukan pintu dari luar.
Tok Tok
"Inayah, Nak, kamu di dalam. Maaf Umma ganggu kamu dan suamimu. Tapi Delisha terbangun dan mencari kamu," ucap Umma Adibah di balik pintu.
"Maaf Mas, keluargaku sedang berkabung," ucap Inayah dengan rasa sesal.
"Yah sudah, gak apa-apa. Pergilah," ucap Ramzi.
"Maaf..." Inayah membelai pipi Ramzi dan berlalu meninggalkan Ramzi di kamar sendiri.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
Mampir juga di novelku yang lain
Salah Lamar
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1