
Inayah menatap wajah Ramzi, yang matanya masih terpejam tidak terbuka. Inayah dengan setia selalu menemaninya. Dia juga tidak lupa istirahat untuk menjaga kesehatannya karena kesehatannya sangat penting untuk twins boys yang ada di dalam kandungan. Inayah sudah berjanji akan menjaga anak-anaknya walaupun Ramzi tidak ada di sampingnya, tapi diri Inayah sangat rapuh, bagaikan sebuah kertas yang terbakar dan diremas menjadi debu. Itulah kondisi Inayah sekarang. Tempat bersandarnya kini masih terbaring, tak bergerak. Tak ada perubahan kondisi Ramzi dalam 1 bulan. Keadaan Ramzi masih belum sadarkan diri, masih tidur, masih tak menatap wajah Inayah. Kondisi Inayah sudah semakin lemah karena Inayah sudah memasuki trisemester ketiga.
"Buka matanya dong Mas, kamu marah sama aku? apa kamu tidak mau menatap wajahku lagi Mas? bangun Mas, lihat aku." Inayah berlinang air mata ketika dia mengusap rambut Ramzi, ketika dia mengelus pipi Ramzi, ketika dia menyentuh tangan Ramzi.
"Kalau kamu mau marah sama aku, buka matamu Mas, caci maki aku lagi. Aku rindu itu. Ketika kamu tidak mencintaiku, kamu memanggilku Sableng... dokter Sableng bukan, kamu pun mencaci profesiku, silakan Mas. Aku kangen... aku kangen... cacian kamu, aku mohon bangun Mas. Aku tidak kuat jika aku sendiri."
Hari demi hari, Inayah lewati dengan sendiri. Hatinya terasa hampa, teringat ketika Ramzi merangkai kata-kata cinta untuknya, membuat Inayah tersenyum. Teringat sentuhan Ramzi yang membuat Inayah terlena, kini hanya sebuah Ingatan karena Ramzi masih terbaring belum sadarkan diri.
Yang menguatkan diri Inayah saat ini adalah putrinya, Emi, tapi ketika Emi mencari Ramzi hati Inayah seperti tergores kembali. Ummi melihat kesedihan Inayah, dia juga merasakan kehilangan sosok Ramzi anak satu-satunya yang ummi punya. sejak Ramzi koma Inayah menjadi sosok yang pendiam tidak banyak bicara seperti biasa. Satu bulan ini dia tumpahkan tangisan di dalam sujud di atas sajadah panjangnya.
Inayah membelai perutnya yang sudah membesar kandungannya sudah memasuki usia 30 minggu terasa berat kehamilan saat ini karena memang Inayah mengandung twins boy dan juga terasa amat berat karena Ramzi belum sadarkan diri.
Doa Inayah
...Ya Allah berilah kesadaran kepada suami hamba tercinta, hanya dengan-Mu lah tempat hamba bisa mengadu, mencurahkan isi hati hamba. Ya Rob Engkau tahu bagaimana kekuatanku untuk bertahan, tanpa suamiku. Hanya Engkaulah yang Maha Tahu. Aku memang bukan istri yang sempurna baginya, tapi aku memilih dia, mencintai dia atas namamu. Sesungguhnya hamba dan ahli keluarga hamba lemah, fasik dan munafik, tapi hamba sangat membutuhkan Engkau ya Allah...Allahu...Allahu...Allahu...berilah kesempatan kami untuk kembali bersama-sama lagi. Amin....
Doa Inayah ketika di sepertiga malam. Ia mencoba untuk tidur kembali setelah salat tahajud tapi ia tidak bisa tidur karena punggungnya sudah terasa panas. Ia mengusap-usap sendiri punggungnya, sangat berbeda rasanya ketika mengandung twins boys. Ini .emang luar biasa, lebih aktif di dalam perut Inayah dan tentunya lebih berat dibandingkan ketika Inayah mengandung Emi.
Pagi hari yang begitu indah menyelimuti bumi. Inayah bersiap untuk bekerja, dia juga akan menemani suaminya setelah bekerja. Ketika Ramzi dijaga oleh abi,abah, ataupun Indra. Inayah tidak di izinkan untuk menjaga Ramzi ketika di malam hari. Karena kandungannya sudah mulai trisemester ketiga.
Inayah masuk ke ruangan Ramzi di rawat. Ia membawa peralatan cukur jenggot. Perlahan Inayah membaluri shave foam di bagian pertumbukan kumis, Ramzi tidak suka merawat kumis. Inayah memotong menggunakan alat cukur dengan sangat perlahan. Inayah juga merapihkan janggut Ramzi agar tidak tebal.
"Sayang, kamu tampan. Sebenarnya kenapa kamu masih koma. Aku melakukan operasi sudah sukses, buka mata dong sayang," ucap Inayah lirih.
Sebagai dokter ia hanya berusaha tapi kembali lagi Allah lah yang menentukan semuanya. Seorang dokter pasti berpikir, apa ada yang terlewat dari pemeriksaan. Tangan Ramzi setelah diperiksa bukan patah tapi hanya retak, tangannya hanya dipasang gips agar retakannya bisa tersambung kembali. Setiap hari Inayah membersihkan tubuh Ramzi.
"Mas twins boys kita, gerakannya berasa banget di dalam sini. Coba sentuh deh Mas." Inayah meletakkan tangan kiri Ramzi keatas perutnya. Ada seperti gerakan tendangan dari twins boys. "Tuh 'kan Mas, berasa 'kan gerakannya. Mas, aku mohon jangan menjadi pangeran tidur seperti pangeran arab yang koma sudah 17 tahun. Gus gendengku yang tampan, aku menunggu mu," ucap Inayah.
"Ina, pulanglah sekarang. Di antar dengan Delisha dan Indra yah," ucap abah yang baru datang untuk menjaga Ramzi.
"Mas, aku pulang dulu yah, i love you," Inayah mengecup dahi Ramzi.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Mas." Inayah keluar dari ruang rawat Ramzi.
Delisha langsung menghampiri Inayah.
"Mbak Ina, ayo aku antar pulang," ucap Delisha.
Inayah menganggukan kepalanya, Delisha langsung menggandeng tangan Inayah. Sesekali Delisha mengusap perut Inayah yang semakin membesar.
"Kalau aku nanti lahiran, Mas Ramzi bangun gak De?" tanya Inayah.
"Insha Allah Mba, bangun. Ia akan mengazani twins boys," ucap Delisha.
"Benarkah De? aku rindu De sama dia, rindu sama celotehannya, rindu pelukannya," Inayah menangis.
"Mba Ina pasti kuat, Mba akan melalui ini semua. Gus Ramzi pasti bangun, dia akan memeluk Mba lagi," ucap Delisha.
Inayah dan Delisha berjalan melewati lorong rumah sakit. Sepasang mata memperhatikan Inayah, dia adalah Azril yang masih belum move on dari Inayah. Dia tidak bisa mendekati Inayah sekedar memperhatikan Inayah. Dari belakang ada yang menepuk pundak Azril, dia adalah dokter Lita.
"Inayah memang cantik, tapi cintanya tidak bisa kamu miliki," ucap dokter Lita.
Dokter Lita membalikkan tubuh Azril, wajah mereka sekarang sangat dekat, mata mereka saling bertemu. Tapi mata dokter Lita sudah mulai memerah.
"Kamu gila, menginginkan suami Inayah meninggal. Walau pun suaminya meninggal dia tidak akan melihat kamu. Kamu sadar gak sih? kenapa kamu tidak membuka hati untukku!" ucap Lita penuh dengan emosi.
"Iya memang aku sangat tergila-gila kepada Inayah!" teriak Azril.
Lita langsung menarik tangan Azril, ia mengajaknya ke taman. Lita memperlihatkan kondisi Inayah sebenarnya, ia memvideokan ketika Inayah begitu histeris. Di depan keluarga Inayah bersikap tegar Lita dan Syifa yang mencoba menenangkan Inayah.
"Kamu lihat itu, betapa hancurnya Inayah ketika meratapi kondisi suaminya sekarang. Kamu sadar gak sih, jika kamu memaksa perasaan kamu terhadap Inayah maka Inayah akan semakin terluka dengan apa yang kamu perbuat. Jika kamu benar mencintai Inayah maka biarkanlah dia bahagia dengan hidupnya. Lepas perasaan kamu kepada Inayah," ucap dokter Lita.
"Lalu apa bedanya denganmu yang terus mengejar aku?" tanya Azril.
__ADS_1
"Aku sudah katakan, selama kamu masih sendiri belum menikah. Aku akan mengejarmu, tapi jika kamu sudah menikah dan mencintai istrimu. Seperti Inayah yang begitu besar mencintai suaminya maka aku akan mundur," ucap dokter Lita.
Azril menatap bola mata Lita yang hitam, sesekali melihat video Inayah yang begitu histeris ketika di dalam ruangannya.
Bersambung
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π