Salah Lamar

Salah Lamar
Membeli Testpek


__ADS_3

Hubungan Inayah dan Ramzi semakin lama semakin mesrah, tak ada pertengkaran lagi. Yang ada dari mereka saling melontarkan kalimat-kalimat yang manis. Setelah pulang dari bulan madu, Inayah tidak mau terlalu lama di tinggal oleh Ramzi. Ketika dia bekerja Ramzi wajib harus mengantar Inayah berangkat dan pulang bekerja.


"Mas, jangan lupa yah jemput aku pukul 7.00 malam." Ucap Inayah ketika hendak masuk rumah sakit, ia selalu mewanti-wanti Ramzi agar di jemput tepat waktu.


"Eh...mau kemana kamu?" Protes Ramzi, dikala Inayah membuka pintu hendak langsung keluar dari dalam mobilnya.


"Yah mau masuk kerja lah Mas," ucap Inayah.


Ramzi langsung menunjukkan bibirnya sebagai kode apa yang harus Inayah lakukan sebelum dia keluar dari dalam mobil itu. Inayah yang melihat kode Ramzi tersenyum, ia tahu suaminya itu tidak pernah bosan untuk meminta dirinya agar selalu menciumnya.


Inayah mencium bibir Ramzi dengan singkat, lalu dia membuka pintu mobil Ramzi. Tapi ketika Inayah membuka pintu,Ramzi protes.


"Dasar istri pelit." celetuk Ramzi, yang membuat Inayah menutup pintunya kembali.


"Apa kamu bilang? istri pelit? maksud kamu, aku pelit?" tanya Inayah.


"Iya karena kamu menciumku secara singkat. Kalau cium seperti ini." Ramzi meraih pinggang Inayah sehingga jarak wajah Ramzi dan Inayah menjadi sangat dekat, langsung Ramzi mencium bibir Inayah dengan lembut. Sampai mereka tak tersadar melakukan itu sudah 5 menit. Ramzi memberhentikan cumbuannya ketika handphone Inayah berdering.


"Mas, gara-gara Mas nih aku jadi telat, aku dapat telepon dari suster. Sepertinya para pasien sedang menunggu aku," ucap Inayah dengan wajah yang masam.


"Dih, mau pisah sama suami tunjukkan wajah masam seperti itu, senyum dong sayang." Protes Ramzi dikala dia melihat wajah Inayah yang sangat masam.


"Dah ah aku masuk kerja, Assalamu'alaikum." Inayah meraih tangan Ramzi, ia cium punggung tangan, lalu telapak tangan, kemudian punggung tangan kembali. Ia mencium tangan Ramzi 3 kali.


Akhirnya Inayah bisa keluar dari dalam mobilnya, dengan drama bermesrahan dengan suaminya terlebih dahulu yang mengakibatkan Inayah menjadi telat. Sebelum keruangan praktiknya seperti biasa dia akan berbelok ke ruangan perkumpulan para dokter, dia akan berbincang sebentar dengan Syifa. Karena diantara para dokter, hanya Syifa lah yang sangat dekat dengan Inayah.


"Ning, bagaimana? sudah ada tanda-tanda kehamilan gak?" tanya Syifa.


"Baru juga seminggu aku bulan madu, yah belum ada tanda-tanda lah," jawab Inayah.


Inayah dan Ramzi memang sedang program untuk anak kedua mereka. Mereka sangat bersemangat untuk mempunyai anak kedua. Inayah ingin membahagiakan suaminya, karena suaminya selalu meminta untuk mempunyai anak yang kedua.


Obrolan dengan Syifa tidak jauh dari program anak kedua, karena mereka berdua mempunyai program yang sama yaitu memiliki anak kedua dalam waktu yang tidak jauh berbeda, seperti anak pertama mereka. Anak Inayah sudah berumur 1 tahun, sedangkan umur anak Syifa sekarang berumur 6 bulan. jadi jarak umur anak mereka tidak terlalu jauh. Mereka menginginkan agar anak-anak mereka juga menjadi sahabat seperti para ibunya.


Ketika Inayah sedang berbincang dengan Syifa. Ada dua bola mata yang memang selalu memperhatikan Inayah yaitu Azril. Inayah selalu menjaga jarak dengan dokter Azril, karena kejadian yang sebelumnya, ketika dokter Azriel melakukan sesuatu hal yang keterlaluan menurut pandangan Inayah. Perkataan Azril yang sengaja mengatakan bahwa ia mencintai Inayah yang menyebabkan Ramzi sangat cemburu dan emosi yang berakhir dengan perkelahian.


"Dokter Inayah." Azril memanggil Inayah agar dia bisa berbicara berdua dengan Inayah, tapi Inayah tidak memperdulikan dokter Azril yang sedang memanggilnya. Dia tetap melangkah ke depan untuk berjalan dan menuju ruang prakteknya, dokter Azril memandang punggung Inayah dengan rasa kesal dan emosi.


"Begitu sulitnya aku mendapatkan cintamu. Aku sudah menunggu bertahun-tahun. Apa hebatnya pria itu? aku lebih unggul dari dia. Aku seorang dokter satu profesi dengan kamu Inayah, kenapa kamu memilih dia?" Gumam Azril, dia tidak ikhlas melihat Inayah bersama dengan Ramzi, seakan-akan waktu telah mempermainkannya. Iya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa cintanya selama ini, tapi ketika dia ingin mengungkapkan ternyata Inayah sudah menikah dengan Ramzi.

__ADS_1


"Dasar laki-laki muka tembok, sudah aku bilang berapa kali tetap gak paham. Dokter kok terlalu pintar," gumam Inayah lirih.


***


Inayah memeriksa tanggal haid, dia baru tersadar bahwa ia sudah telat 2 minggu. Merasa harap-harap cemas. Masalahnya 2 bulan lalu sepulang dari bulan madu juga telat datang bulan. Mengharapkan hamil tapi ternyata keesokan Inayah haid. Tidak mau kecewa akhirnya Inayah tidak memberi tahu Ramzi.


"Lebih baik aku beli testpek sekarang, karena jam praktik 15 menit lagi," gumam Inayah.


Inayah berjalan menuju apotik yang berada di samping rumah sakit Cirebon, ia membeli 2 testpek. Rencananya Inayah akan menggunakannya esok pagi, setelah bangun tidur sebelum makan apapun.


Perasaan harap-harap cemas yang ia rasakan, takut kecewa lagi karena hasilnya yang tidak diharapkan. Pulang praktik Inayah seperti biasa dijemput oleh Ramzi.


"Sayang, bisa berhenti di warung jalanan gak? aku kepengen makan pecel lele," pinta Inayah.


"Sejak kapan kamu suka ikan lele? setahu aku, kamu itu ndak suka ikan lele," ucap Ramzi.


"Yah sudah kalau Mas gak mau berhenti, nanti aku pesan online aja. Gampang jaman sekarang yang serba online," ucap Inayah merajuk, dengan wajah langsung di tekuk. Dan matanya tidak menatap Ramzi tapi menatap ke arah jendela kaca mobil. Ramzi tahu, istrinya sedang ngambek. Iya langsung membelai kepala Inayah dengan lembut.


"Di depan ada warung pecel lele, aku pernah cobain di sana. Enak rasanya, bagaimana mau? atau beli online aja?" tanya Ramzi.


"Ih Mas, nyebelin banget," ucap Inayah dengan bibir mengerucut.


"Di tempat yang Mas pernah makan, tapi makannya langsung di tempat yah," pinta Inayah.


"Tumben mau makan di jalanan, biasa bilang 'Mas, makan jangan di jalanan gak bagus banyak debu'," gumam Ramzi lirih.


"Kamu gedumelin aku Mas?" tanya Inayah.


"Ndak cantik," jawab Ramzi.


Ramzi memarkirkan mobilnya, mereka berjalan sedikit untuk menuju warung pecel lele, Ramzi menggandeng tangan Inayah dengan mesrah.


Sesampainya di warung pecel lele, Ramzi langsung memesan 1 pecel lele dan 1 pecel ayam dan teh tawar hangat 2. Sekitar 10 menit menu yang mereka pesan sudah siap dan sudah diletakkan di atas meja.


"Mas, suapin aku dong. Pecel ayam dulu aku mau coba lalu suapi aku pecel lele," pinta Inayah.


"Pecel ayam punyaku," ucap Ramzi.


"Jangan pelit sama istri." Inayah matanya menyipit.

__ADS_1


Daripada Inayah bad mood, Ramzi langsung menyuapi Inayah dengan tangannya. Ramzi bingung karena Inayah makannya sangat banyak, bahkan ia memakan pecel ayam Ramzi sampai habis.


"Mas, pesan aja lagi pecel ayamnya," ucap Inayah.


"Aku sudah kenyang karena melihat kamu makan," ucap Ramzi.


Ramzi di dalam hatinya bertanya-tanya karena sikap Inayah yang tidak seperti biasanya.


Bersambung.


✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet β€πŸ’žπŸ’

__ADS_1


__ADS_2