
Setelah Inayah selesai memasak sekitar 2 jam lebih, kini di hadapan Inayah ada beberapa menu yang siap untuk dibawa ke ummi Adibah.
Setelah masak, Inayah membersihkan dirinya. Karena badannya sudah terasa lengket oleh panasnya kompor ketika memasak. Emi sedang dijaga oleh Ramzi, suaminya. Inayah ke kamar tetapi orang yang dicari tidak ada di kamar. kemudian Inayah pergi keluar rumah di sana dia melihat para santriwati.
Ramzi sedang berdiri di tengah-tengah santriwati dengan menggendong Emi. Para santriwati mengelus pipi Emi karena mereka sangat gemas dengan Emi.
'Gus gendeng kenapa di tengah-tengah para santriwati? dasar tebar pesona,' ucap batin Inayah.
Wajah Inayah berubah yang tadinya berseri-seri karena mendapatkan cium dari Ramzi. Tapi kini wajahnya berubah menjadi masam. Inayah jalan perlahan mendekati Ramzi, para santriwati melihat Inayah melangkah mendekat dengan wajah masam. Para santriwati, menelan ludahnya melihat wajah Inayah yang super ditekuk. Para santriwati pamit kepada Ramzi untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Ramzi tidak menyadari bahwa Inayah sudah ada di belakangnya, dengan tangan yang disilang di dadanya.
"Deh...deh...yang tebar pesona enak ya... dikelilingi sama para santriwati yang muda-muda, yang cantik-cantik lagi, sarapan pagi yang lain yah! ndak menjaga mata," ucap Inayah.
Spontan Ramzi menoleh ke belakang, ia tahu itu suara Inayah. Ramzi menelan ludah, wajahnya speechless.
"Eh ada Mamah Emi, istri Ayah tersayang, termanis, tercantik. Sudah selesai masaknya, wah Mamah sudah wangi Emi." Ramzi merayu Inayah dengan memuji-muji Inayah.
"Jangan mengalihkan topik deh Mas," ucap Inayah dengan nada kesal.
"Mengalihkan topik seperti apa sih? aku ndak paham," ucap Ramzi.
"Topik dikerumuni oleh para santriwati, tenar pesona, tersenyum manis sekali kamu! maksudnya apa?" ucap Inayah.
"Ya Allah sayang itu santriwati masih kecil, masa aku tebar pesona sama anak kecil," ucap Ramzi.
"Hah! masih kecil? mereka sudah aliyah Mas, mereka itu setara dengan SMA. Masih kecil kata kamu? mereka sudah mulai ada rasa kepada lawan jenis. Kamu ini sudah punya istri masih tebar pesona saja," ucap Inayah dengan kesal.
"Astagfirullah sayang, aku ndak berpikir seperti itu. Tadi di kamar Emi menangis lalu aku keluar. Setelah di luar para santriwati mendekatiku karena melihat Emi yang wajahnya cantik seperti kamu, seperti wajah Mamahnya yang sangat imut, yang sangat mungil. Jadi mereka gemes, jangankan mereka gemes dengan Emi. Aku pun selalu gemes sama Mamahnya," ucap Ramzi sambil mencubit pipi Inayah.
"Jangan gombal terus deh Gus gendeng. Aku ndak mempan dengan gombal kamu," ucap Inayah sambil bertolak pinggang.
"Benar nih ndak mempan," ucap Ramzi sambil mengedipkan mata kanannya.
Ramzi mendekati Inayah, wajahnya di condongkan semakin dekat dengan wajah Inayah, walaupun tangan Ramzi sedang menggendong Emi. Inayah memundurkan langkahnya ke belakang.
"Gus gendeng kamu mau apa?" tanya Inayah, masih melangkahkan kakinya ke belakang.
"Mau cium Mamah Emi yang cantik lah," jawab Ramzi dengan santainya.
"Jangan jadi Gus gendeng di muka umum deh, ini banyak para santri Mas," Inayah semakin cepat langkah kakinya ke belakang.
"Ndak ada tuh! udah pada masuk kamar mereka masing-masing," ucap Ramzi dengan senyum jahilnya.
"Mas... Mas...Mas... jangan aneh-aneh deh kamu Mas," ucap Inayah dengan wajah panik takut ada yang melihat.
Inayah berlari untuk menjauhi Ramzi tapi Ramzi mengejar Inayah sambil menggendong Emi. Mereka menjadi main kejar-kejaran seperti anak kecil. Ketika itu umma dan abah sedang duduk di luar. Mereka melihat putri dan mantunya main kejar-kejaran. Mereka tidak sadar bahwa umma dan abah sedang memperhatikan mereka. Mereka berlari sampai Inayah tidak sengaja menabrak tubuh umma.
__ADS_1
"Umma... maafkan Ina. Ina ndak melihat umma." Ucap Inayah dengan langsung mencium punggung tangan umma.
"Kalian ini ada? kenapa main kejar-kejaran seperti itu?" tanya umma.
Nafas Inayah turun naik, dia menghirup oksigen terlebih dahulu dan menatap wajah Ramzi yang hanya tersenyum santai.
"Ini Umma kita sedang mengajak Emi main aja, dia senang banget kalau main kejar-kejaran," alasan Ramzi.
"Oh gitu kirain Umma ada pasangan Tom and Jerry yang lagi kejar kejaran," ledek Umma.
Inayah wajahnya langsung memerah, dia sangat malu karena umma meledek dia.
"Umma, Abah, hari ini kita pamit ya, kami mau ke pesantren Abi," ucap Ramzi.
"Kamu baik-baik ya di sana, jangan bikin ulah loh," pesan Umma.
"Umma aku di sana ndak pernah bikin ulah," protes Inayah.
"Inaya di sana jadi mantu kesayangan lho Ummah. Kasih sayang Ummi melebihi kasih sayang yang diberikan Ramzi. Ummi lebih sayang Inayah daripada Ramzi. Kadang Ramzi iri sama Inayah," ucap Ramzi.
"Alhamdulillah jika Inayah menjadi mantu kesayangan ummimu," ucap Umma bersyukur.
"Jangan khawatir Umma. Ramzi akan menjaga putri Ummah ini, akan Ramzi jadikan Inayah ratu di sana karena Ramzi sangat mencintainya," ucap Ramzi.
"Insya Allah, Nak Ramzi. Umma percaya sama kamu bahwa kamu sangat mencintai Inayah," ucap Umma dengan senyumannya.
"Tenang Abah kita akan sering ke sini Kok membawa Emi," ucap Ramzi.
"Iya Abah, tenang aja kita juga lagi ngerencanain sesuatu nih Abah," ucap Ramzi.
"Merencanakan apa kalian?" tanya Abah.
"Merencanakan bulan madu kedua Abah," ucap Ramzi.
Inayah mencubit pinggang Ramzi, "Mas, itu rahasia aku malu," Ucap Inayah lirih.
"Loh kenapa malu sayang ? Abah punya anak lagi ndak apa-apa 'kan Abah," ujar Ramzi.
"Ya ndak apa-apa, malah bagus untuk penerus kalian. Semakin banyak semakin bagus, semoga kalau kamu hamil lagi. Abah doakan adik Emi laki-laki," ucap Abah.
"Amin," ucap Ramzi dengan semangat.
Mata Inayah membulat melihat kelakuan Ramzi, yang jahil tapi buat hatinya senang.
Setelah mereka berpamitan kepada abah dan umma, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke pesantren Kiai Afnan. Yang merasa sangat kehilangan tentu saja Delisha. Delisha baru berkumpul kembali satu minggu dengan mbak Ina, kini mereka berpisah kembali. Tapi lain dengan tahun kemarin yang terpisah antar negara. Jika di Lisha ingin berjumpa dengan Inayah dia bisa berkunjung ke pesantren Kiai Afnan.
__ADS_1
"Dek, Mbak pergi dulu ya. Jaga kandunganku," ucap Inayah.
"Iya Mbak, terima kasih." Delisha memeluk Inayah dengan erat. "Aku akan kangen Mba."
"Dek, Mba 'kan udah di Indonesia jadi kapanpun kamu mau bertemu Mba, nanti Mba akan berkunjung ke sini. Mba pergi dulu ya... Assalamualaikum," ucap Inayah.
"Wa'alaikumussalam," ucap Delisha.
Kini Ramzi,Inayah, dan Emi sudah berada di dalam mobil mereka. Ramzi mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju ke pesantren Kiai Afnan.
"Kamu senang sayang, bisa kembali lagi?" tanya Ramzi.
"Aku sangat senang Mas, apalagi kali ini aku kembali ke pesantren Abi dengan membawa cintaku. Ketika aku meninggalkan pesantren abi, aku meninggalkan cintaku," ucap Inayah.
"Jangan tinggalkan aku seperti itu lagi yah. Jika kamu mau pergi kemanapun aku akan ikut bersamamu." Ucap Ramzi sambil mengecup tangan Inayah.
Setiap hari sekarang hujan
Langit mendung tak pernah terang
Selamat Tahun baru author ucapkan
Untuk pembaca novelku tersayang
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤