
Setelah Ramzi keluar dari tol dia mencari penginapan untuk beristirahat, karena terlalu berbahaya jika ia memaksakan keadaan dengan wajah memar. Dan inayah pun juga terlihat lelah. Mereka check in di hotel selama 3 jam saja untuk istirahat, tidur dan juga makan. Setelah itu mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka ke Cirebon.
"Aku heran deh kenapa Azril ada di rest area. Sepertinya dia tahu ke mana kita akan pergi, padahal yang tahu bulan madu itu hanya ummi," ucap Ramzi.
"Aku juga memberi tahu Syifa. Apakah Syifa yang memberitahu bahwa kita pergi bulan madu ke Batu Malang?" ucap Inayah.
"Kenapa dia terlalu mengejar-ngejar mu sayang? Apa yang kamu lakukan dahulu ketika kamu masih kuliah bersama dia?" tanya Ramzi.
"Waktu aku kuliah aku biasa-biasa aja Mas, malah aku itu tidak terlalu dekat dengan siapapun. Kecuali dengan Syifa, aku tidak terlalu banyak bicara dengan teman-temanku. Karena setelah aku selesai kelas, 'kan aku harus mengajar juga di pesantren abah," jawab Inayah.
"Berarti Azril itu secret admire kamu, sudah lama dia memendam rasa kepada kamu. Ketika dia tahu kita sudah menikah, dia baru bertindak untuk mendekati kamu, seperti tidak ada perempuan lain saja, kamu sudah milik aku dan dia juga tahu kalau kita ini sudah punya anak," ucap Ramzi
"Entahlah Mas, aku juga tidak paham. Yang pasti aku tidak akan berpaling darimu, karena aku hanya mencintaimu. Aku tidak peduli dengan perasaan Azril Karena rasa itu bukan aku yang menciptakan. Allah yang memberi dan Azril yang menumbuhkannya sendiri. Kenapa dia tidak mencoba untuk melupakan aku? sudah jelas-jelas aku berkali-kali mengatakan bahwa aku sangat mencintai suamiku," ucap Inayah.
"Benarkah kamu berkata seperti itu kepada Azril?" tanya Ramzi.
"Iya Mas, tentu saja karena memang aku sangat mencintaimu. kenapa aku harus berbohong?" jawab Inayah.
"Duh hatiku berbunga-bunga ketika kamu bicara seperti itu, betapa bahagianya aku. Kamu mengakui di depan orang yang menyukai kamu," ucap Ramzi.
"Ih Mas, aku serius kok. Kamu malah bercanda," protes Inayah.
"Siapa yang bercanda sih? aku serius. Aku sangat senang, hatiku berbunga-bunga. Jika hatiku bisa dibelah, kamu akan menemukan bunga-bunga mawar di dalam hatiku," ucap Ramzi.
"Ih gombalnya, mana ada bunga mawar di dalam hati. Bunga mawar 'kan ada durinya bisa tercabik-cabik hati kamu Mas," ucap Inayah.
"Biarlah hatiku tercabik-cabik dengan cintamu, aku rela sayang," ucap Ramzi.
seperti itulah percakapan mereka di dalam mobil. Ramzi mengendarai mobilnya dengan hati-hati, karena dia tidak mau membuat Inayah terluka kembali. 4 jam lamanya mengendarai mobil, memang Ramzi tidak mau mempercepat laju dengan kecepatan di atas rata-rata. Akhirnya mobil Ramzi memasuki Kota Cirebon.
Mereka mengucapkan rasa syukur alhamdulillah, karena sampai dengan selamat di pesantren abi Afnan. Sesampainya di rumah, Inayah berlangsung masuk ke dalam rumah dan melihat ummi Laila sedang menggendong Emi.
"Assalamu'alaikum ummi, aku dan Mas Ramzi sudah pulang," ucap Inayah.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah. Loh kok muka Ramzi lebam seperti itu, dahi kamu juga lebam. Apa yang terjadi?" tanya ummi Laila penuh khawatir.
"Nanti aku ceritakan ya ummi. Aku mau bersih-bersih dulu, ini badanku sudah terasa lengket. Aku juga kangen banget sama Emi. Tunggu Mamah ya sayang, nanti Mamah gendong," ucap Inayah.
"Ya sudah kamu sana bersih-bersih, Emi sama Ummi juga tidak apa-apa. Kamu kan lelah dan mau istirahat. Perjalanan 'kan jauh sekali dari Batu Malang ke Cirebon," ucap ummi Laila.
__ADS_1
"Tidak Ummi tadi setelah keluar dari tol, kita sempat istirahat 3 jam tidur di hotel, perjalanan kita mulai malam Ummi dari Batu Malang, agar sampai rumah siang," ucap Inayah.
"Tunggu Mamah yah sayang. Mamah bersih-bersih dulu," ucap Inayah kepada Emi.
***
Setelah pulang dari bulan madu dua hari, Inayah kembali lagi bekerja sebagai seorang dokter. Seperti biasa dia bertemu dengan Syifa, dan langsung bertanya dengan Syifa.
"Sudah pulang dari honeymoon nya Ning?" tanya Syifa.
"Alhamdulillah sudah," jawab Inayah.
"Semoga ada hasilnya ya, Emi dapat adik. Oleh-oleh dari Batu Malang," ucap Syifa.
"Amin, Terima kasih doanya Syifa. Sampeyan juga ya. Eh aku mau tanya dong," ucap Inayah.
"Tanya apa?" ucap Syifa.
"Sampeyan ngasih tahu aku bulan madu ke Batu Malang dengan Azril?" tanya Inayah.
"Ndak tuh, aku ndak pernah memberitahu Azril. Tapi waktu itu, aku lihat deh sepertinya. Ketika kita sedang berbicara tentang bulan madu, ia lewat di depan kita," ucap Syifa.
"Karena sampeyan lagi semangat semangatnya berbicara tentang bulan madu," jawab Syifa.
"Hmm jadi gitu," Inayah berpikir dan menganalisis.
"Memang ada apa sampeyan nanya ke aku seperti itu?" tanya Syifa.
"Masak Azril tiba-tiba ada di hadapanku. Ketika aku sedang beristirahat di rest area, ketika dalam perjalanan pulang, ada mobil yang menyalip di sebelah kiri, suamiku rem mendadak dan hidungku terpentok lalu hidungku mengeluarkan darah dan dahulu memar. Kami berhentilah di rest area. Tapi yang anehnya, kenapa dia tiba-tiba datang di rest area dan ingin mengobati lukaku. Suamiku melihat Azril ingin menyentuhku, langsung suamiku sangat marah dan memukul dokter Azril. Ini sungguh kebetulan yang aneh deh," ucap Inayah.
"Hah... benarkah dia seperti itu? tampangnya sangat pendiam tapi ternyata seperti itu," ucap Syifa.
"Syifa jika kamu melihat bagaimana mereka berkelahi, kamu akan teriak-teriak mungkin. Alhamdulillah ada orang-orang yang merelai suamiku dan Azril. Azril memang keterlaluan, aku sudah bilang bahwa aku sangat mencintai suamiku. Mana mungkin aku bersama dengan dia," ucap Inayah.
Dokter Azril baru tiba di rumah sakit, ia melihat Inayah sedang berbincang dengan Syifa, ia menghampiri Inayah.
"Assalamu'alaikum Inayah," Sapa Azril.
"Wa'alaikumsalam, Azril jika kamu melihat aku tolong jangan sapa aku. Anggap saja aku dan kamu tidak saling kenal," ucap Inayah dengan tegas.
__ADS_1
"Loh memang kenapa? apa salahku?" tanya Azril.
"Kamu masih masih bertanya tentang salahmu? kamu dengarkan ini baik-baik, aku adalah seorang istri, aku sangat mencintai keluargaku, terlebih suami dan putriku. Jangan sekali-kali mengatakan cinta kepadaku, karena aku akan menolak cintamu secara mentah-mentah. Jangan menyentuh rumah tanggaku. Jika kamu masih mengganggu rumah tanggaku lagi, aku akan melaporkan kamu ke polisi " ucap Inayah dengan sorotan mata yang tajam.
"Aku permisi dulu Syifa, aku duluan ya ke ruangan aku," ucap Inayah berpamitan dengan Syifa.
"Iya Ning, aku juga mau ke ruanganku," ucap Syifa.
Inayah dan Syifa meninggalkan Azril sendirian yang masih berdiri mematung. Melihat Inayah yang telah masuk ke ruang praktiknya. Azril terlihat emosi dan sangat marah, dia mengepal tangannya dengan erat. Entah apa yang dipikirkan oleh Azril. Tapi yang terpenting, Inayah sudah tegas untuk bersikap dengan Azril.
Bersambung.
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ