
Ketika cinta itu menyentuh hati seseorang. Penglihatan akan berubah karena cinta. Ada rasa takut kehilangan, ada rasa takut untuk di rebut, ada rasa cemburu. Kadang cemburu itu memutuskan logika.
Inayah menitipkan air mata ketika mobil Syifa sudah melaju untuk ke bandara. Dia akan kubur cintanya kepada Ramzi, mengiklaskan untuk Delisha.
"Sampean ndak apa-apa Ning?" tanya Syifa.
"Aku ndak apa-apa," jawab Inayah.
"Iklas 'kan berangkat ke Jepang?" tanya Syifa.
"Impianku itu yang tadinya sudah kukubur tapi kugali lagi, aku pergi untuk mengiklaskan seseorang yang aku cinta," jawab Inayah.
Mobil Syifa melaju dengan kecepatan rata-rata menuju bandara, pesawat mereka akan transit dari Cirebon ke Jakarta baru nanti dari Jakarta menuju Jepang.
Inayah menyeret kopernya dan memasuki bandara, ia langsung masuk ke ruang pemeriksaan tiket dan visa kemudian masuk ke dalam pesawat. Pesawat take off terbang di atas kota Cirebon menuju kota Jakarta. Tidak membutuhkan waktu yang lama kemudian Inayah melakukan connecting flight yaitu pergantian pesawat saat transit.
Kini Inayah sudah berada di Bandara soetta untuk take off kembali dengan pesawat yang berbeda. Inayah telah duduk di pesawat Japanese airland. Syifa duduk tepat di depan Inayah. Syifa menoleh ke arah Inayah karena wajah Inayah terlihat pucat.
"Ning, sampean ndak apa-apa?" tanya Syifa.
"Aku ndak apa-apa," jawab Inayah.
"Permisi, saya mau masuk. Itu bangku saya." Ucap penumpang yang akan duduk di sebelah Inayah. Seorang perempuan cantik berambut panjang dengan rambutnya di urai, berpostur tinggi, kulit putih.
"Oh iya silahkan." Inayah berdiri lalu penumpang itu masuk dan duduk.
Kepala Inayah merasakan pusing kembali, ia mengurut pelipisnya dan menyenderkan kepalanya.
"Are you okay?" tanya perempuan yang duduk di sebelah Inayah.
"Yes, i am okay," jawab Inayah.
Pesawat mulai take off. Setelah pesawat terbang di udara, Inayah berusaha memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit kepalanya.
Inayah terbangun ketika pramugari memberikan makanan kepada setiap penumpang. Inayah mengambil sebuah brosur, yaitu brosur tentang medis.
"Kamu seorang dokter?" tanya penumpang perempuan yang duduk di sebelah Inayah.
"Kok, kamu tahu?" tanya Inayah.
"Brosurnya sama dengan punyaku, aku juga seorang dokter," ucapnya.
"Perkenalkan namaku Dina," sambungnya.
Dina mengulurkan tangannya dan Inayah menjabat tangan Dina. Dina tersenyum kepada Inayah.
"Namaku Inayah," ucap Inayah.
"Aku pernah mendengar namamu, Dokter Inayah dari Cirebon? Dokter Jimmy sering menyebut namamu," ucap Dina.
"Dokter Jimmy dari Bandung?" tanya Inayah.
"Iya benar," jawab Dina.
Perjalanan terasa menyenangkan karena ada teman untuk berbincang saling bertukar cerita karena mereka sama-sama seorang dokter.
Pesawat landing dengan sempurna, Inayah dan Syifa keluar dari pesawat dan mereka menunggu koper mereka. Setelah koper mereka dapatkan, mereka akan langsung menuju hotel.
"Inayah, aku duluan yah. Senang berkenalan dengan dokter yang sangat ramah sepertinya, Assalamu'alaikum," ucap Dina.
__ADS_1
Inayah tersenyum dan mengucapkan, " Aku juga senang berkenalan denganmu, Wa'alaikumsalam."
Dina melangkahkan kakinya dengan menyeret koper dan menjauh meninggalkan Inayah.
"Kamu kenapa Ning dengan dia?" tanya Syifa.
"Teman baru, tadi kenalan di dalam pesawat. Calon dokter spesialis kandungan," jawab Inayah.
Inayah dan Syifa di jemput oleh penyelenggara bea siswa kedokteran. Inayah menikmati pemandangan Jepang di luar jendela. Sungguh sangat bersih Osaka Jepang. Tiba di hotel Inayah dan Syifa menuruni koper mereka masing-masing dan menyeret koper mereka untuk masuk ke hotel.
"Syifa..." panggil Inayah sambil meraih tangan Syifa.
"Ada apa Ning?" tanya Syifa.
"Ke...kepalaku pusing." Inayah pingsan, Syifa tampak panik.
"Ning kamu kenapa?" tanya Syifa, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Inayah.
"Help...help..." teriak Syifa
Seseorang berlari menghampiri Syifa.
"Inayah..." ucap Dina syok
Ternyata Dina 1 hotel dengan Syifa dan Inayah. Dina langsung meminta bantuan kepada pihak hotel untuk membawa Inayah ke dalam kamar hotelnya.
"Mom, she should go to hospital," ucap office boy yang membawa Inayah.
(Ibu, dia harus ke rumah sakit)
"Yes, i will, but i am a doctor before she goes to hospital, I will check her condition," ucap Dina.
"Okay, call us if you need help," ucap office boy.
(Baiklah, hubungi kami jika butuh bantuan.)
"Domo Arigatou gozaimasu," ucap Dina.
(Terima kasih banyak.)
"Iie, douita shimashite," ucap office boy.
(Sama-sama.)
Dina memeriksa Inayah, dia menanyakan beberapa hal kepada Syifa.
"Kamu dokter juga yah?" tanya Dina, kepada Syifa.
"Iya, aku mengambil spesialis syaraf," jawab Syifa.
"Inayah, mengeluhkan sesuatu sebelum dia berangkat?" tanya Dina.
"Inayah bilang pusing kepalanya, tadi sebelum pingsan dia juga bilang pusing," jawab Syifa.
"Pusing nya baru ketika mau berangkat atau dari beberapa yang lalu?" tanya Dina.
"Sejak 5 hari yang lalu sih dia keluhkan," jawab Syifa.
"Suaminya mana?" tanya Dina.
__ADS_1
Syifa diam tak menjawab.
"Menurut prediksi aku, Inayah sedang hamil. Tapi untuk lebih jelas sih USG," ucap Dina.
"Hamil?" Syifa syok.
"Kenapa kamu syok? Inayah sudah menikahkan? yah wajar jika hamil," celetuk Dina.
'Ya Rabb, jika Inayah benar-benar hamil bagaimana dia,' batin Syifa.
"Nama kamu siapa, kita belum kenalan," tanya Dina.
"Namaku Syifa," ucap Syifa.
"Namaku Dina," ucap Dina.
"Jika mau menunggu, nanti ketika mau periksa ke rumah sakit pas suamiku datang karena dia bisa bicara bahasa Jepang. Karena pasti tatacara di rumah sakit Jepang akan berbeda seperti rumah sakit Indonesia, aku permisi dulu. Jika butuh aku silahkan ke kamarku dan ini nomor telepon," ucap Dina sambil memberikan nomornya kepada Syifa dan Syifa save nomor Dina.
"Terima kasih yah sudah tolong temanku," ucap Syifa.
"Iya sama-sama," ucap Dina.
...(Mau tahu kisah tentang Dokter Dina? yuk baca di Novel 5 tahun menikah tanpa cinta.)...
Dina meninggalkan Inayah dan Syifa di dalam kamar hotel.
Inayah Masih belum sadar, Syifa menunggu Inayah sampai ia tersadar.
'Ning, sampean jika benar hamil, apakah akan balik ke Indonesia? atau kekeh akan tetap di sini?' batin Syifa.
Perlahan tapi pasti, Inayah tersadar. Syifa memberikan minyak kayu putih di bagian leher, perut dan kening Inayah.
"Aku di mana?" tanya Inayah.
"Di dalam kamar hotel Ning, tadi sampean pingsan. Dina yang membantu sampean untuk di bawa ke dalam kamar hotel. Ia memeriksa sampean, prediksi dia sampean sedang hamil. Tapi untuk memastikannya harus USG," ucap Syifa.
"Hamil yah aku? aku sudah ada firasat bahwa aku sedang hamil. Justru itu aku juga memilih pergi dari Mas Ramzi," ucap Inayah
"Sampean akan tetap di sini?" tanya Syifa.
"Aku sudah memikirkan masak-masak, aku akan kuliah sambil bekerja. Jika anakku sudah lahir, aku akan menggunakan babysitter," ucap Inayah tegas.
Bersambung
***
Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.
jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
I love you sekebon dari Autho