Salah Lamar

Salah Lamar
Perjodohan Delisha


__ADS_3

Keluarga di Indonesia sangat kebingungan. sudah 3 bulan Inayah pergi, tapi belum ada kabar tentang Inayah sedikitpun.


Delisha adik dari Inayah pun sangat merindukan Mba Inayahnya. Delisha kini sudah tidak memikirkan kematian calon suaminya. Kini ia menjalankan hidup dengan tanpa masa lalu, dan mencoba untuk menata masa depannya.


Kepergian Inayah menyadarkan ia akan hal sesuatu. Seseorang yang hidup itu yang harus kita sayang karena mumpung mereka masih hidup di hadapan kita. Jangan sampai yang sudah meninggal mengalahkan yang masih hidup. Seseorang yang meninggal mencurahkan kasih sayang dengan mengirimkan doa untuknya. Sedangkan yang masih hidup mencurahkan kasih sayang dengan meraih cinta dan menjaga cinta itu.


Sejak Delisha berdamai dengan masa lalu, ia menjadi pengajar di pesantren abah Amar. Niatnya ia ingin melanjutkan S2 nya ke mesir, tapi ia urungkan karena Inayah telah pergi menghilang. Delisha tetap berharap suatu saat Inayah akan pulang ke pesantren.


Karena Delisha menjadi pengajar di pesantren membuat intensitas waktu bertemu dengan Indra menjadi lebih sering. Dari sanalah mereka sering berbincang tapi hanya sekedar tanya-tanya seputar pelajaran bagi para santri atau santri wati.


"Assalamu'alaikum Ning, abah ada di rumah?" tanya Indra.


"Waalaikumsalam, ada Ustadz. Mau bertemu dengan abah?" tanya Delisha.


"Iya, tadi saya dipanggil sama kiai Amar. Saya permisi dulu yah," ucap Indra.


"Iya silahkan Ustadz," ucap Delisha.


Indra langsung menemui kiai Amar di kediamannya.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum," ucap salam Indra.


"Waalaikumsalam," Kiai Amar memjawab salam Indra.


"Silahkan masuk Ustadz," ucap Kiai Amar.


"Njeh Kiai." Indra masuk ke dalam ruang tamu lalu ia duduk di sofa.


"Maaf Kiai, ada apa memanggil saya?" tanya Indra.


"Indra, kamu murid saya yang paling saya banggakan. Boleh saya menitipkan Delisha kepada kamu? saya tidak akan tenang jika Delisha dengan yang lain. Cukup Inayah yang pergi entah kapan ia akan kembali, saya tidak tahu keberadaannya sekarang. Bagaimana Indra kamu bersedia jika saya menitipkan Delisha denganmu?" tanya Kiai Amar.


Indra merupakan murid yang sangat patuh kepada gurunya. Apapun yang kiai perintahkan maka dia akan melaksanakan perintah tersebut.


"Jika Ning Delisha bersedia, saya akan menerimanya Kiai," jawab Indra.


"Delisha sudah saya panggil, tunggulah sebentar," ucap Kiai Amar.


Tidak lama berselang Delisha datang menemui kiai Amar.

__ADS_1


"Abah, ada apa memanggil aku?" tanya Delisha.


"Duduklah dahulu, Abah ingin berbicara yang sangat penting kepadamu," titah Kiai Amar.


Delisha sudah mulai curiga, karena Indra belum beranjak dari tempat duduknya.


"Lisha, Abah ingin menjodohkan kamu dengan Ustadz Indra. Abah akan merasa tenang jika Ustadz Indra menjadi suamimu," ucap Kiai Amar.


"Tunggu Abah, kenapa tiba-tiba seperti ini? ustadz Indra mencintai Mba Ina. Kami tidak ada cinta Abah. Aku ndak mau bernasip sama dengan Mba Ina jika suamiku ternyata masih mencintai Mba Inayahku," ucap Delisha.


"Aku akan belajar untuk mencintaimu Ning," ucap Indra.


"Ndak Ustadz, jika kamu mau menikahiku hilangkan dulu rasa cintamu kepada Mba Ina dan tumbuhkan cintamu hanya untukku. Aku ndak mau jika nasibku sama dengan Mba Inayah, datanglah melamarku dengan orang tuamu tapi dengan syarat jika kamu mempunyai rasa cinta untuk aku," ucap Delisha.


"Jika aku sudah mencintaimu bagaimana denganmu, apakah kamu bisa mencintaiku juga? karena sebelumnya kamu mencintai calon suamimu yang telah meninggal. Apakah kamu bisa menghapus namanya dari hatimu?" tanya Indra.


"Kami para perempuan akan jatuh cinta ketika laki-laki menyentuh kami dengan sentuhan yang lembut. Aku sangat menjaga jarak dengan lawan jenis karena Abah yang selalu mengajarkan kami akan menjaga martabat kami sebagai perempuan. Aku akan jatuh cinta dengan seseorang yang akan menyentuhku untuk pertama kali yaitu suamiku kelak," ucap Delisha.


"Mba Ina disentuh pertama kali oleh Gus Ramzi, itu sebabnya ia sangat mencintai Gus Ramzi, ia tak akan berpaling ke laki-laki lain walaupun dia berpisah dengan Gus Ramzi saat ini. Aku ndak mau nasibku seperti Mba ku, karena itu cinta yang sangat menyiksa batin. Aku tidak mau merasakan itu. Abah maaf, aku permisi dulu karena ada kelas yang harus aku isi, Assalamu'alaikum," Delisha meninggalkan ruang keluarga.


"Saya juga permisi dulu Kiai, jika tidak ada lagi yang Kiai ingin bicarakan," izin Indra.


"Insha Allah, Delisha akan menjadi istrimu Indra. Terus berdoa kepada Allah, minta petunjuk kepada Allah," ucap Kiai Amar.


"Waalaikumsalam," Kiai Amar jawab salam Indra.


Indra melewati kelas Delisha, ia diam-diam melihat Delisha yang sedang mengajar. Cara mengajar berbeda dari ustazah lainnya. Delisha melakukan pendekatan kepada santriwati sehingga para santriwati lebih aktif ketika Delisha mengajar. Cara penyampaian yang sederhana tapi sangat tepat kepada inti materi.


Orang pintar belum tentu bisa mengajar. Tapi orang yang bisa mengajar sudah tentu pintar, karena dia harus memikirkan bagaimana murid ketika pulang bawa ilmu tidak hanya membawa buku. Tak disadari bibir Indra tertarik membentuk sebuah senyuman ketika melihat Delisha.


Delisha menengok ke arah jendela, Indra buru-buru bersembunyi agar Delisha tidak melihatnya.


Delisha selesai mengajar, ia hendak pulang. Setengah perjalanan ia melihat Gus Ramzi yang sepertinya ingin berkunjung.


"Assalamu'alaikum, ngapain Gus datang kesini?" tanya Delisha dengan nada ketus.


"Waalaikumsalam, mau bertemu umma dan abah," jawab Ramzi.


"Memang Mba Ina sudah kamu temui sehingga berani ingin bertemu mereka?" tanya Delisha.


"Inayah pergi juga gara-gara kamu, sudah ah males aku bicara sama kamu. Aku kesini ingin bertemu umma dan abah bukan kamu." Ramzi langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Delisha.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap salam Ramzi.


"Waalaikumsalam," Umma menjawab salam kemudian membukakan pintu.


Ramzi mencium punggung tangan umma dan abah. Kebetulan abah juga masih ada di ruang tamu.


"Umma tadi Inayah menelepon aku," ucap Ramzi.


"Masya Allah, benarkah? apa yang Inayah katakan? dia baik-baik saja 'kan?" tanya Umma.


"Maaf Umma, Inayah tidak bicara apa-apa Umma. Aku hanya mendengar suara tangisan, ketika aku bicara 1 kalimat langsung dimatikan oleh Inayah. Aku yakin itu adalah Inayah karena aku cek memang benar kode negara Jepang," ucap Ramzi.


"Kamu sudah menelepon dia balik?" tanya Umma.


"Sudah nomornya sudah tidak aktif, aku ingin ke Jepang mencari Inayah. Tapi aku tidak tahu di daerah mana Inayah tinggal saat ini," ucap Ramzi.


Umma duduk dengan tubuh yang lemas, karena selama 3 bulan ini tidak ada kabar apapun tentang Inayah. Hati seorang ibu pasti sangat rindu kepada sang putri.


"Umma, maafkan Ramzi telah membuat Umma bersedih," ucap Ramzi.


"Nak, mohon maafkan Inayah yang mungkin telah melakukan sikap durhaka kepada kamu suaminya," ucap Umma.


"Aku akan terus memaafkannya Umma walaupun dia pergi tanpa izinku, karena aku sangat mencintai Inayah, tolong doakan Ramzi Umma, agar Ramzi bisa membawa Inayah kembali ke rumah ini lagi," pinta Ramzi.


"Umma akan selalu mendoakan kalian," ucap Umma.


Bersambung


***


Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.


jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)

__ADS_1



I love you sekebon dari Author


__ADS_2