
Delisha yang satu minggu ini bersama dengan Inayah merasa kesepian setelah Inayah pulang. Hamil anak pertama ini yang sudah memasuki bulan ke-8, rasanya dia ingin sekali berdekatan dengan mbanya Inayah. Tapi apa boleh buat, Inayah itu sudah menikah dan mempunyai keluarga sendiri.
Delisha duduk termangu di taman, dia hanya melihat para santriwati yang lalu lalang. Di pesantren Kiai Irfan santri dan santriwati itu dipisah.
"Assalamu'alaikum Dek," sapa Indra.
Delisha menolehkan kepalanya ke sumber suara yang memanggil namanya.
"Mas Indra, kirain aku Mas sedang mengajar para santri," ucap Delisha.
"Oh ndak Dek, jam segini Mas tidak ada jam kelas. Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Indra.
"Aku bosan Mas di dalam. Sejak Mba Inayah pulang hari ini sepertinya pesantren terasa sepi tanpa dia," ucap Delisha.
"Mba Ina mu sudah mempunyai keluarga Dek, dia akan mengurus keluarganya. Jadi kamu jangan merasa kesepian 'kan ada aku," ucap Indra.
"Tapi sayangnya, waktunya Mas kurang untuk aku," protes Delisha.
"Maaf Dek, jika kamu merasa seperti itu. Memangnya kamu mau aku punya Waktu yang seperti apa?" tanya Indra.
"Mas, bulan madu aja kita ndak pergi ke mana-mana,: ucap Delisha.
"Waktu itu Mas ingin mengajak kamu untuk bulan madu, tapi kamu 'kan langsung hamil. Mas khawatir karena hamil muda 'kan harus dijaga, jadi Mas urungkan bulan madu kita," ucap Indra.
"Mbak Ina Kulihat dia sangat bahagia sekali dengan Gus Ramzi," ucap Delisha.
"Kamu iri dengan mbamu? Apakah kamu tidak bahagia hidup denganku?" tanya Indra.
"Ih Mas, bukan maksud aku seperti itu. Aku itu bahagia hidup denganmu. Aku cinta sama kamu Mas, kamu 'kan tahu itu," ucap Delisha.
"Iya Dek maafkan Mas, sudah berkata seperti itu." Indra menggenggam tangan Delisha. "Mas juga sayang sama kamu," ucap Indra.
"Iya Mas. Mas... sentuh deh perut aku ini, anakmu sedang nendang-nendang di dalam perutku," pinta Delisha.
Indra menyentuh perut Delihsa yang sudah membesar. Dia merasakan gerakan bayinya di perut Delisha.
"Masya Allah Dek, makhluk kecil buah cinta kita berdua," ucap Indra.
"Iya Mas, buah cinta kita. Ini aku tidak menyangka Mas bisa menikah denganmu, dan aku tidak pernah kepikiran menjadi istrimu," ucap Delisha.
"Itulah jodoh yang dilamar awalnya siapa, tapi jodohnya siapa," ucap Indra.
"Iya kamu awalnya cintanya dengan mba Inayah, bukan dengan aku," ucap Delisha.
"Katanya juga Gus Ramzi dulunya ingin melamar kamu ya? tapi karena kamu sudah di khitbah duluan jadinya dia melamar mbamu?" tanya Indra.
"Sudah ah Mas, jangan ngomongin ke sana. Itu masa lalu, nanti buat kita salah paham jika kita membicarakan ini," ucap Delisha.
"Ya sudah, ini cuacanya dingin. Kita masuk ke dalam rumah yuk," ajak Indra.
"Sebentar dulu Mas, ah nanti aku di dalam kamar sendirian lagi," ucap Delisha.
"Mas temenin, hari ini Mas ngajar sampai siang aja kok. Jadi tidak ada kelas lagi," ucap Indra.
"Baiklah Mas, ayo kita masuk ke dalam," ucap Delisha.
__ADS_1
Indra merangkul pundak Delisha dengan tangan kanannya karena Delisha sudah mulai merasakan nyeri pada pinggangnya ketika dia berjalan. Indra mengelus-eles perut Delisha dengan tangan kirinya sambil berjalan.
***
Inayah baru sampai di pesantren Kiai Afnan. Ummi Adibah sudah menunggu di depan pintu rumahnya.
"Ummi...." Teriak Inayah ketika melihat ummi Laila.
"Masya Allah, mantu kesayangan Ummi. Ummi kangen banget sama kamu Nak," Ummi Laila memeluk Inayah.
"Assalamu'alaikum Ummi, aku lupa mengucapkan salam saking senangnya ketemu dengan Ummi," ucap Inayah.
"Wa'alaikumsalam dokter cantik Ummi. Iya Ummi juga kangen sama kamu," ucap ummi Laila.
Inayah mencium punggung tangan ummi Laila.
"Ummi, Abi mana?" tanya Inayah.
"Abi sedang di kelas Nak," jawab ummi Laila.
Ramzi datang setelah percakapan ummi dan Inayah. Ummi melihat Emi yang sangat lucu dan menggemaskan di gendongan Ramzi. Ia langsung meraih cucu pertamanya itu dan menggendongnya.
"Cucu cantik Ummi. Kamu cantik sekali." Ucap ummi Laila sambil menciumi pipi Emi yang chubby.
Inayah mengambil masakannya yang masih ada di dalam mobil.
"Ummi sebelum berangkat ke sini Inayah masak makanan kesukaan Ummi. Ini spesial Inayah masakan untuk Ummi," ucap Inayah.
"Ya Allah, mantu Ummi yang paling cantik, dokter pribadi Ummi. Kamu tahu aja deh Ummi memang kangen banget dengan masakan kamu." Ucap ummi Laila yang sangay memuji Inayah.
"Ah Ummi bisa aja, masakan Ummi juga 'kan enak," ucap Inayah.
"Ah kamu mah Ummi ndak kangen kamu, Ummi kangennya hanya sama mantu Ummi dan cucu Ummi aja," ucap ummi Laila.
"Ih Ummi, kejamnya... masa anak sendiri ndak dikangenin. Udah ndak ketemu 1 tahun juga," protes Ramzi.
"Hahaha ya jelas Ummi kangen sama kamu lah, lagi kamu nanyanya ada-ada aja. Mana ada seorang ibu yang ndak kangen sama anaknya yang sudah berpisah selama 1 tahun." Ummi mengelus-elus pipi Ramzi dan tersenyum.
"Ya... selama ini kan Ummi pilih kasih antara aku dengan Inayah. Inayah lebih disayang Ummi daripada aku," ucap Ramzi dengan bibir maju.
"Kamu ini cemburuan aja, cemburu sama Ummi ketika Ummi sayang sama Inayah. Cemburuan sama Inayah ketika Inayah ada yang suka," ucap ummi Laila.
"Astagfirullah Ummi bagaimana aku ndak cemburu? masak istri sendiri ditaksir sama cowok lain ndak cemburu sih Ummi," Ucap Ramzi.
"Udah yuk masuk dulu, masa kita berdiri di sini. Kalian pasti lelah ' kan," ajak ummi Laila.
Inayah dan Ramzi masuk ke dalam rumah, rasanya sudah kangen sekali dengan rumah ini, rumah yang setelah Inayah menikah langsung tinggal di rumah ini. Selama 2 tahun rumah ini yang Inayah rindukan, dengan suasana ummi yang begitu sangat bersahabat, begitu sayang dengan dia.
"Ya sudah kalian istirahat saja. Ummi sudah bersihkan kamar kalian dan Ummi juga sudah membeli box untuk tempat tidur Emi. Jadi kalian tinggal masuk saja kamar kalian," ucap ummi Laila.
"Terima kasih banyak Ummi sudah mempersiapkan kamar kami. Aku sangat senang sekali untuk kembali ke rumah ini, maafkan Inayah Ummi telah membuat kesalahan 2 tahun yang lalu. Inayah pergi begitu saja tanpa pamit dahulu dengan Ummi dan Abi," ucap Inayah.
"Sudahlah jangan diingat lagi, yang lalu biarlah berlalu sebagai pembelajaran hidup," ucap ummi Laila.
Inayah memeluk ummi sekali lagi dengan pelukan yang sangat erat.
__ADS_1
"Aishiteru Ummi," ucap Inayah.
"Apa artinya?" tanya ummi Laila.
"Artinya, i love you Ummi," ucap Inayah.
"I love you too mantu Ummi yang cantik, sudah kamu istirahat yah. Ummi mau makan masakan kamu hehehe," ucap ummi Laila.
Inayah dan Ramzi masuk ke kamarnya. Emi diletakkan di dalam box tempat tidurnya karena Emi sudah tidur terlelap.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa di kamar ini lagi. Kenangan aku menangis ketika kamu bilang aku tidak mencintaimu Inayah," ucap Inayah.
"Sudah dong sayang, jangan diingat-ingat lagi. Tapi 'kan sekarang aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu," ucap Ramzi sambil memeluk Inayah.
"Iya Mas, aku pengen janjimu. Kamu jangan tinggalkan aku," ucap Inayah.
"Iya aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu selain takdir Allah yang memisahkan kita," ucap Ramzi.
"Jangan bicara seperti itu Mas, aku takut jadinya," ucap Inayah.
"Takut kenapa? itu 'kan memang Allah yang memegang suatu takdir manusia."
Inayah memeluk Ramzi dengan sangat erat "Jangan pernah tinggalin aku ya Mas, aku tidak sanggup kehilangan kamu," ucap Inayah.
"Aku pun begitu, tidak sanggup kehilangan kamu sayang." Ramzi mengecup kepala Inayah.
Bersambung
Maaf up malam, author momong anak yang masih balita. Walaupun terseok-seok aku menulis 4 novel. Tapi aku tetap semangat menulis untuk para reader ku. π
βRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ