
Sudah 3 bulan Inayah berada di Jepang. Dina pun sudah kembali ke Indonesia. Tapi sebelum Dina kembali, ia memberikan uang yen kepada Inayah untuk kebutuhan kesehariannya. Uang sewa apartement pun Dina sudah melunaskan sampai 2 tahun, Dina meminta suaminya yang sebagai CEO untuk membantu Inayah. Awalnya Inayah menolak karena Dina membantu dirinya sangat berlebihan tapi Dina mengucapkan, 'Aku memberikan bukan untukmu tapi untuk keponakanku yang masih ada di dalam kandunganmu.'
Kata-kata itu yang Inayah akhirnya menerima kebaikan Dina, karena ia tahu kedepannya akan membutuhkan banyak uang, harga kebutuhan di Jepang itu sangatlah mahal. Ia baru mengenal Dina 3 bulan tapi kebaikannya seperti ia sudah mengenal Dina bertahun-tahun.
Perut Inayah pun sudah mulai terlihat buncit, tri semester pertama ia sudah melewati tanpa ada rasa mual atau pusing-pusing bahkan Inayah selalu merasa lapar. Karena yang mual adalah Ramzi, suaminya yang berada di Indonesia. Inayah pun sudah berkonsultasi dengan dokter kandungannya agar berat badan yang ideal untuk melahirkan nantinya, bagaimanapun di Jepang melahirkan dengan normal bukan cecar seperti di Indonesia. Berat anak dan Ibu harus sesuai agar ketika melahirkan sang anak beratnya tidak terlalu besar sehingga untuk melahirkan normal akan lebih mudah.
Tinggal sendiri membuat rasa rindu kepada suaminya muncul tiba-tiba. Ia tidak bisa membohongkan hati kecilnya yang masih sangat mencintai Ramzi. Apalagi emosi ibu hamil itu selalu berubah-ubah.
"Kamu sedang apa Mas? apakah kamu melakukkan apa yang aku tulis di suratku untuk mentalak ku? aku masih sangat mencintaimu Mas, ini perutku sudah terlihat membuncit Mas, anak kita. Tapi ketika aku mengingat kamu berduaan dengan Delisha rasa sakitku datang lagi, lebih-lebih ketika aku bertanya kepadamu ketika itu, kemana kamu pergi, kamu berbohong Mas kepadaku, kamu mengatakan ke rumah temanmu padahal kamu bertemu dengan Delisha. Jika kamu jujur mungkin aku akan mendengar penjelasanmu, dan aku akan mempertahankan rumah tangga kita sampai akhir hayatku. Mas, mungkin aku bukan istrimu yang baik tapi rasa cintaku sangatlah besar. Tapi hatiku ini terselimuti rasa benciku terhadapmu, benci tapi rindu," ucap monolog Inayah, ketika melihat foto Ramzi.
Inayah memegang ponselnya, tanpa sadar dia menelepon Ramzi.
Ramzi \= ["Assalamu'alaikum, maaf ini nomor siapa?"]
Inayah tidak berbicara satu katapun, hatinya sangat rindu sehingga air matanya keluar. Ada suara isak tangis di balik telepon.
Ramzi \= [" Inayah...sayang...kau kah itu, pulanglah aku ndak mentalakmu."]
tut tut tut
Sambungan telepon terputus.
Ramzi \= ["Hallo...sayang...Inayah...hallo..."]
Ramzi mengecek nomor yang baru saya menelepon dirinya.
"+81 ini kode negara Jepang, Masya Allah tadi yang menelepon Inayah, benar ini Inayahqku, ia masih memikirkan ku," ucap Ramzi penuh gembira.
Ramzi menelepon balik tapi nomornya sudah tidak aktif kembali.
***
"Ah apa yang aku lakukan, kenapa rasa rindu ini ndak bisa aku hilangkan. Dia tadi bilang ndak mentalak ku? artinya aku masih istrinya? tapi kenapa?" ucap Inayah monolog.
Inayah mengganti nomornya kembali, jadi siapapun tidak tahu akan nomor barunya tersebut, seperti biasa dirinya melakukan kuliah di pagi hari, dan siang hari akan melakukan praktik. Profesor yang membimbing Inayah selalu memuji cara kerja Inayah ketika melakukan operasi sederhana. Inayahpun termasuk mahasiswa yang sangat cerdas.
Memang ada 3 dokter yang mendapatkan bea siswa ke Jepang, tapi mereka mengambil spesialis berbeda-beda. Inayah mengambil spesialis bedah, Syifa spesialis syaraf dan Azril spesialis jantung.
Hanya Syifa yang sesekali ke apartemen Inayah untuk melihat kondisi sahabatnya. Kadang ia membantu Inayah untuk membeli kebutuhan ibu hamil.
Hari ini tak sengaja Inayah bertemu dengan dokter Azril.
"Dokter Inayah..." teriak Dokter Azril memanggil Inayah.
"Dokter Azril," ucap Inayah.
"Apa kabar Dok?" tanya Dokter Azril.
"Alhamdulilah, aku baik," ucap Inayah.
__ADS_1
"Kamu sedang hamil? apakah suamimu juga berada di Jepang?" tanya Dokter Azril.
Inayah hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan dokter Azril. Dengan senyuman dokter Azril menarik kesimpulan bahwa Inayah di Jepang sendirian. Artinya ia mempunyai masalah dengan suaminya.
"Suami kamu menyakiti hatimu lagi?" tanya Dokter Azril.
"Apa urusanmu Dok, itu tidak ada urusannya denganmu." Inayah tidak menanggapi ucapan dokter Azril, ia langsung meninggalkannya. Dokter Azril berlari dan menghalangi jalan Inayah, sehingga langkah kaki Inayah berhenti.
"Aku mohon minggir," ucap Inayah.
"Inayah, sejak kuliah aku sudah mencintaimu. Kenapa kamu tidak melihat itu. Suamimu selalu membuat kamu menangis, kenapa kamu memilih dia. Aku Inayah yang telah menunggumu dari semester pertama ketika kuliah dulu. Aku yang selalu memberi perhatian kepadamu, kenapa kamu tidak pernah melihat itu. Jika dia selalu membuatmu bersedih untuk apa kamu pertahankan. Ceraikan dia dan nikahlah denganku. Aku akan menganggap anakmu sebagai anakku," ucap Azril.
Inayah tak memperdulikan, ia melewati tubuh dokter Azril, tapi tangannya di cekal oleh dokter Azril.
"Lancang kamu Azril, lepaskan tanganku. Kamu bukan mahrammu. Urusan perasaanku, sedih ataupun bahagia itu bukan urusanmu. Masih banyak perempuan yang lebih baik dariku. Lupakan aku, aku sudah menikah. Aku memiliki suami, dan ini buah cinta kami." Inayah mengelus-elus perutnya.
"Untuk apa bersamanya, aku lihat kamu selalu menangis. Jika kamu bersamaku aku tidak akan pernah membuatku menangis," ucap Dokter Azril.
Inayah melangkah mendekati dokter Azril.
Plak
Inayah menampar dokter Azril.
"Jangan ngomong sembarangan kamu, aku mencintai suamiku, namanya sudah terpatri di hatiku. Jangan kamu berpikir karena kita dekat, bisa seenaknya saja mengutarakan isi hatimu. Jangan harap aku akan mencintaimu karena aku hanya mencintai Ramzi Sahban Elfathan yaitu suamiku," ucap Inayah dengan lantang.
Rasa lelah yang Inayah rasakan hari ini, sudah lelah fisik ditambah lagi lelah hati, karena ucapan dari dokter Azril.
"Apa-apaan ia mencintai istri orang lain, seperti ndak ada perempuan yang lain saja di muka bumi ini," gumam Inayah.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk.
"Dare desuka?" tanya Inayah.
(Siapa?)
"Watashi, Syifa desu," jawab Syifa.
(Aku, Syifa.)
Inayah meranjak dari tempat duduknya lalu membukakan pintu untuk Syifa.
"Ini susu hamil yang sampean pesan." Syifa menyodorkan paper bag kepada Inayah.
"Domo," ucap Inayah.
(Terima kasih.)
__ADS_1
"iie," ucap Syifa.
(sama-sama)
"Masuk Syifa, aku baru banget sampai," ucap Inayah.
"Tumben, baru sampai. Memang ada kelas tambahan sore?" tanya Syifa.
"Itu tadi gara-gara ketemu sama si Azril, masa dia menyatakan cinta sama aku. Bikin kesel banget, ketahuan perutku sudah membesar. Sudah jelas aku sudah menikah dan akan mempunyai anak," ucap Inayah.
"Memang ia bilang apa?" tanya Syifa.
"Yah itu, bilang cinta aku. Ia sudah suka sama aku sejak kuliah dulu. Dia bilang jika aku tidak bahagia cerai dengan suamiku dan nikah sama dia, dia akan menganggap anak yang aku kandung ini seperti anak dia," ucap Inayah.
"Memang sampean masih menganggap Gus Ramzi suami sampean?" tanya Syifa.
"Kemarin aku telepon Gus Ramzi, dia bilang tidak mentalak aku," ucap Inayah.
"Wah sudah baikan nih Ning, aku senang dengar nya," ucap Syifa.
"Baikan? kemarin aku tidak berkata apa-apa dan aku langsung menutup teleponku. Lalu aku ganti nomor teleponku," ucap Inayah.
"Pantas aku telepon gak aktif, cobalah kamu komunikasi sama Gus Ramzi sebentar," ucap Syifa.
"Untuk apa? membuka luka lamaku? gak Syifa, aku tidak mau," ucap Inayah.
"Sampean ini, masih cinta kok gengsi," ucap Syifa.
Inayah hanya terdiam tidak menimpalkan perkataan Syifa.
Bersambung.
***
Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.
jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
I love you sekebon dari Author
__ADS_1