
Diam-diam Indra memperhatikan Delisha. Setiap kali melewati kelas yang Delisha isi, ia selalu memberhentikan langkahnya sebentar hanya untuk memperhatikan Delisha. Sudah 6 bulan, sejak Kiai Amar ingin menjodohkan Indra dengan Delisha. Indra berusaha untuk mengenal lebih dekat dengan Delisha, walaupun memperhatikan Delisha dalam diam.
"Ning Delisha," teriak Indra memanggil Delisha.
"Iya, ada apa Ustadz?" tanya Delisha.
"Aku dan kedua orang tuaku akan melamar kamu, kamu akan menolakku atau menerimaku. Aku ingin jawaban sekarang. Jika kamu menolakku, aku tidak akan melamarmu. Tapi jika kamu menerimaku, aku akan datang melamarmu. Aku tidak mau, ketika aku melamarmu dan membawa kedua orang tuaku, keputusanmu menolakku sama seperti Inayah menolakku waktu itu," ucap Indra.
"Memang kamu sudah mencintaiku?" Tanya Delisha.
"Untuk cinta memang belum tumbuh, tapi rasa suka sudah ada di hatiku," ucap Indra.
"Itu artinya nama Mba Inayah masih ada di hatimu. Aku tolak lamaranmu karena kamu belum mencintaiku. Aku tidak suka pria yang tidak tegas dengan perasaannya sendiri," ucap Delisha, lalu ia meninggalkan Indra.
Indra garuk-garuk kepala, ia tidak pintar untuk mendapatkan hati seorang perempuan. Awalnya ini hanya perintah dari Kiai, karena Indra sering memikirkan perintah dari gurunya dan perintah Kiai adalah titah yang harus ia laksanakan. Tapi lama kelamaan rasa itu tumbuh.
Akhir-akhir ini, Indra merasakan Debaran di dadanya ketika bertemu dengan Delisha. Ia tidak bisa memastikan apakah ini sudah dinyatakan sebuah cinta atau hanya sekedar suka. Jika sekedar suka maka mudah untuk dilupakan tapi jika sudah cinta maka melupakan membutuhkan waktu yang lama.
Setiap melihat Delisha mengajar, bibir Indra selalu tersenyum.
"Ustadz Indra," Ustazah Fauzia memanggil Indra. Ia merupakan pengajar di pesantren Kiai Amar juga.
"Iya ada apa Ustazah?" tanya Indra.
Ustazah Fauziah memberikan sepucuk surat untuk Indra, sehabis memberikan surat itu Ustazah Fauziah meninggalkan Indra.
Kejadian itu di lihat oleh Delisha, wajahnya berubah menjadi jutek karena melihat Indra bersama dengan Fauziah.
"Tadi pagi bilang mau melamar aku, tapi sorenya sudah tebar pesona dengan ustazah Fauziah," gerutu Delisha.
Delisha berjalan melewati Indra.
"Ning Delisha..." Sapa Indra.
"Kenapa Ustadz?"jawab Delisha dengan jutek.
"Aku mau bilang sesuatu lagi," ucap Indra.
"Bilang sesuatu karena kamu dapat sepucuk surat dari ustazah Fauziah?" tanya Delisha ketus.
"Kamu lihat Ning? tolong jangan salah sangka. Aku tidak ada apa-apa dengan dia. Kalau kamu mau baca surat darinya ini baca silahkan." Indra memberikan surat ustazah Fauziah.
Delisha menatap surat yang Indra berikan.
__ADS_1
"Gak perlu, itu gak sopan. Abah gak ngajarin aku berbuat seperti itu," lalu Delisha berbalik badan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Indra.
"Justru itu karena sikap mu, aku ingin melamarmu sebagai istriku. Aku sungguh-sungguh ingin melamarmu. Aku juga tidak paham, ini suka atau cinta. Jika aku dekat denganmu jantungku berdebar, dadaku terasa sesak. Jika malam wajahmu terbayang-bayang Ning Delisha ada di mataku," ucap Indra.
Delisha tetap berjalan tidak mendengarkan apa yang dikatakan Indra. Lalu Delisha berbalik badan.
"Ustadz Indra, aku tunggu kamu dan orang tuamu untuk datang menemui abah," teriak Delisha.
Indra menatap Delisha, "Maksudmu Ning, tolong diperjelas jangan buat aku bingung," ucap Indra.
"Aku menerima lamaranmu Ustadz Indra." teriak Delisha membuat santri dan santriwati bertepuk tangan. Mereka tidak sadar bahwa para santri dan santriwati sedang istirahat dan menyaksikan adengan pernyataan cinta ustadz Indra. Ustazah Fauziah hanya bisa bersedih melihat adegan itu. Karena surat yang ia berikan kepada Indra merupakan pernyataan cinta dia kepada Indra.
Delisha Wajah nya memerah ketika sadar mereka menjadi tontonan santri dan santriwati.
***
Inayah berada di rumah sakit, ia sedang berjuang untuk melahirkan anak pertamanya. Syifa menemani dengan setia. Inayah sekarang sedang di dalam ruang persalinan.
Dalam perjuangan antara hidup dan mati, ia mengingat semua wajah-wajah yang ia sayangi di Indonesia. Syifa memegang tangan Inayah. Dokter sudah sangat siap siaga, di Jepang para dokternya lain seperti di Indonesia. Mereka akan menunggu sampai pembukaan 10, dokter tidak meninggalkan pasiennya. Inayah memilih rumah sakit yang bisa berbahasa Inggris karena di Jepang jarang sekali tenaga medisnya bisa berbahasa Inggris. Di bantu dengan Dina dan suami sebelumnya untuk mencari rumah sakit yang bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris, dan juga bisa menerima agama menurut kepercayaan para pasiennya.
"Ning, tarik nafas...sampean baru pembukaan 6," ucap Syifa.
"Sakit Syifa," ucap Inayah.
Inayah merasa sangat kesakitan, pikirannya sudah tidak bisa berkonsentrasi. Pada pembukaan ke 8, rasa sakitnya bertambah dan jaraknya terasa sakit berdekatan setiap 2 menit sekali. Sudah 6 jam Inayah berjuang.
Para bidan dan dokter berkumpul. Ada 4 bidan dan 1 dokter. Inayah sudah merasakan ada yang mau keluar di bawah, air ketuban sudah pecah. Para bidan membimbing Inayah. Mereka membantu di bawah sana, karena ini anak pertama, Inayah mengalami sedikit kesulitan untuk mengeluarkan anak pertamanya. Nafasnya sudah tidak kuat, dokter memasangkan oksigen di hidungnya. Dokter berdiri di bagian sisi samping ia mendorong perut Inayah ke posisi kebawah, Inayah membuka kedua pahanya lebar-lebar dan memegang kedua pahanya dengan erat, ia mulai mengejan.
"Ayo Ning, kepalanya sudah terlihat, semangat Ning," ucap Syifa.
Inayah menarik nafas, lalu ia mengejan sekuat tenaga.
"Allah....Mas Ramzi..." teriak Inayah.
ooowaaa...ooowaa...
"Barokallah Ning, anakmu sudah lahir," ucap Syifa.
Nafas Inayah sudah terpenggal-penggal, rasa sakitnya kini sudah terbayar dengan anaknya yang sudah ia lahirkan.
"Syifa, tolong azankan anakku," titah Inayah.
Syifa mengeluarkan air mata ketika mengazankan si kecil. Inayah melahirkan bayi perempuan yang mungil, wajah mirip dengan Ramzi, hidung mirip Inayah. Wajah bayi mungil perpaduan antara Inayah dan Ramzi.
__ADS_1
Dokter meletakkan bayi Inayah di dadanya, bayi perempuan tersebut sedang mencari-cari sumber makanannya di dada Inayah. Inayah menangis ketika menyentuh bayinya.
Rasa syukur yang tak terkira melihat bayi mungilnya. Bidan meletakkan bayi Inayah di box bayi untuk dibawa ke ruang khusus bayi.
"Syifa, terima kasih yah sudah menemani aku sampai titik ini," ucap Inayah.
"Sampean sahabat aku Ning, mana mungkin aku tidak membantu sampean. Aku memfoto bayi kamu ini, ih lucu banget. Gemes aku, semoga bayi aku ini sehat seperti bayimu Ning," ucap Syifa.
Syifa sedang hamil, kini usia kehamilannya sudah 4 bulan.
"Aamiin, semoga lancar yah sampai persalinan. Aku boleh minta foto-foto anakku? kirimkan ke line ku," pinta Inayah.
Di Jepang, mereka menggunakan line bukan whats app. Inayah melihat foto-foto putri kecilnya. Ia sengaja mempost foto putri kecilnya ke instagram yang selama 9 bulan ini tidak ia gunakan.
"Syifa, aku sudah berdamai dengan masa laluku. Anakku perlu sosok ayahnya. Jika aku masih berjodoh dengan Gus Ramzi, ia akan mencariku," ucap Inayah.
"Alhamdulilah, aku ikut senang Ning. Sampean memutuskan seperti itu," ucap Syifa.
My baby girl has been born. Masya Allah, She is so cute. Your face reminds me of someone i love.
Kyoto University, Japan.
'Mas, ini foto anak kita. Jika Allah mentakdirkan kita bersama lagi, dan kamu mencintaiku. Ketika melihat postingan aku ini kamu pasti akan ke Kyoto untuk mencariku Aku memberikan caption dimana tempat aku berada,' batin Inayah.
Bersambung
***
Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.
jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
I love you sekebon dari Author