
Ramzi sangat kesal dengan apa yang Dokter Azril katakan, karena berterus terang untuk menabuh gendang peperangan. Perasaan yang cemburu menguasai hatinya. Panas di dada yang terasa. Terbayang ketika Inayah sedang bekerja di rumah sakit dan sering bertemu dengan Dokter Azril.
Dokter Azril pasti menatap Inayah penuh keinginan untuk mendekatinya. Ramzi memukul setir mobil.
"Ahhh beraninya dokter itu berkata jujur akan merebut Inayah dari tanganku. Inayah itu istriku," teriak Ramzi ketika di dalam mobil hendak pulang ke pesantren.
Pikiran Ramzi kini sudah kalut memikirkan istrinya. Takut Inayah tertarik dengan Dokter Azril, apalagi sering bertemu ketika bekerja. Tak bisa dipungkiri perasaan Ramzi saat ini yaitu kehilangan Inayah.
"Inayah kamu akan tetap menjadi istriku 'kan, yang akan selalu bersamaku. Aku sangat mencintaimu Inayah," teriakan Ramzi di dalam mobil.
Ramzi tiba di pesantren, ia langsung memarkirkan mobilnya di halaman pesantren. Ia langsung masuk ke dalam rumah dengan mengepal tangannya dengan erat karena dirinya sangat emosi. Ummi melihat Ramzi yang baru saja tiba.
"Assalamu'alaikum," Ummi Laila memberi salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam," jawab salam Ramzi dengan nada yang ketus.
"Putra Ummi yang ganteng kenapa nih, muka ditekuk setelah mengantar istri kerja," tanya Ummi Laila.
"Ummi, waktu muda ada yang suka dengan Ummi ndak setelah Ummi dan Abah menikah?" tanya Ramzi.
"Kenapa? Inayah banyak yang suka yah. Ummi dengar-dengar sih sebelum kamu khitbah Inayah. Banyak yang melamar Inayah, tahu ndak Inayah punya julukan. Julukannya Ning pembuat patah hati, karena setiap yang melamar dia langsung di tolak tanpa pikir panjang lagi. Daya tarik Inayah itu kuat sih. Dia cantik, cerdas karena dokter bahkan di kenal dokter tangan emas di rumah sakit tempat Inayah bekerja, sopan, tutur kata lembut, keturunan Kiai besar lagi," ucap Ummi Laila.
"Loh, Ummi kok malah buat aku lebih panas sih," protes Bagas.
"Panas yah kipasin aja hehehe," Ummi Laila bercanda.
"Ummi sekarang malah tertawa, ndak ngerti perasaan aku," ucap Ramzi.
"Kamu sudah menikah, sudah besar tingkah masih manja. Ummi hanya bilang fakta. Beruntung kamu bisa mempersunting Inayah, makanya jaga baik-baik, jangan buat dia sakit hati lagi," ucap Ummi Laila.
"Insha Allah Ummi, aku akan menjaga Inayah dengan baik. Aku ngajar dulu Ummi, ada kelas Nahwu," ucap Ramzi.
Ramzi di pesantren Abi Afnan merupakan seorang Ustadz di pesantren. Mereka memanggil dengan sebutan Gus.
Setelah selesai mengajar Ramzi kembali ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mengingat perkataan Dokter Azril kembali.
"Kamu memang cantik, jadi para lelaki banyak yang menyukaimu, bukan hanya parasmu saja yang cantik tapi juga hatimu. Apakah aku pantas bersanding denganmu. Aku apa? bila aku di sandingkan denganmu sepertinya sangat berat. Aku mencintaimu Inayah, sehingga aku takut kehilanganmu," ucap monolog Ramzi.
Ramzi tidak percaya diri, pesaingnya saja diketahui sudah 2 pria. Di rumah Abah Inayah ada Indra, di rumah sakit ada Dokter Azril. Mereka keduanya pria yang hebat. Ramzi hanya lulusan pesantren di Indonesia, kuliahpun universitas swasta di Indonesia.
Ramzi salat magrib terlebih dahulu sebelum menjemput Inayah. Setelah salat barulah dia berangkat untuk menjemput Inayah di rumah sakit. Ramzi menjadi sangat pendiam sejak pulang mengantarkan Inayah.
Sesampainya di rumah sakit, Ramzi menunggu di parkiran selama 15 menit, ia melihat Inayah keluar bersama Dokter Azril dan Syifa. Melihat Ramzi sudah menjemputnya, Inayah berlari kecil agar cepat sampai menemui suaminya.
"Mas, lama menungguku?" tanya Inayah, sambil mencium punggung tangan Ramzi.
"Ndak, hanya 15 menit," jawab Ramzi.
Ramzi membukakan pintu mobil untuk Inayah, Inayah langsung duduk dan Ramzi memasangkan Seat belt untuk Inayah.
"Terima kasih Mas," ucap Inayah.
__ADS_1
Ramzi hanya tersenyum untuk membalasnya. Inayah merasa Ramzi berubah karena ia sangat pendiam di dalam mobil.
"Ada apa Mas?" tanya Inayah, sambil menyentuh tangan Ramzi.
"Tidak ada apa-apa sayang," jawab Ramzi.
"Kok kamu berubah jadi pendiam?" tanya Inayah.
Ramzi mengambil tangan Inayah, lalu ia kecup tangannya.
"Aku sangat mencintai kamu," ucap Ramzi.
Inayah tersenyum mendengar ucapan Ramzi.
"Akupun sama Mas, aku sangat mencintai Mas," ucap Inayah.
Sesampainya tiba di pesantren, mereka pun langsung turun dari mobil. Karena perasaan Inayah suaminya sedikit berubah, dia berinisiatif untuk menggenggam tangan Ramzi terlebih dahulu. Hati Ramzi menjadi hangat. Mereka masuk ke rumah dengan bergenggaman tangan.
"Assalamu'alaikum," Inayah mengucap salam.
"Waalaikumsalam," Ummi membalas salam Inayah.
"Ina kamu cuci tangan, lalu makan malam yah. Ramzi kamu juga makan," ucap Ummi Laila.
"Ummi sudah makan?" tanya Inayah.
"Ummi makan tadi bersama Abi, kamu pasti lelah. Cepat sana makan, dokter ndak boleh sakit, kasian nanti pasiennya," ucap Ummi.
"Aku pergi ke kamar dulu yah, nanti aku kembali," ucap Ramzi.
"Ummi, Mas Ramzi kenapa yah? tadi di mobil dia kebanyakan diam," tanya Inayah.
"Ramzi tidak cerita denganmu?" tanya Ummi Laila.
"Dia tidak berkata apa-apa Ummi, makanya aku bingung," ucap Inayah.
"Tadi setelah Ramzi mengantar kamu, ada teman dokter kamu yang mengatakan akan merebut kamu jika Ramzi membuat kamu menangis lagi," ucap Ummi Laila.
"Teman dokter?" tanya Inayah memastikan.
Inayah mengingat-ingat, siapa teman dokternya. Akhirnya dia menyadari Dokter Azril yang mengatakan itu kepada Ramzi. Ramzi mendekati Inayah, kini mereka di meja makan bersama untuk makan malam. Setelah selesai makan mereka pamit untuk masuk ke kamar.
"Kita salat isya bersama yah, di kamar ini," ajak Ramzi.
"Iya Mas," jawab Inayah.
Ramzi dan Inayah salat berjamaan, Ramzi menjadi imam salat untuk yang pertama kali dengan Inayah. Suara Ramzi sangat merdu sehingga membuat sangat khusuk untuk salat isya mereka.
Selesai salat isya, Inayah langsung mencium punggung tangan Ramzi.
"Mas. suara kamu ketika membaca Alquran bagus, aku sangat menyukai suaramu," ucap Inayah.
__ADS_1
Lagi-lagi Ramzi hanya tersenyum dan membelai kepala Inayah.
"Mas, mau ke atas awan gak bersamaku?" tanya Inayah.
Ramzi menatap Inayah dengan tajam penuh keheranan.
"Jangan menatapku seperti itu, aku ingin mendapat pahala lebih banyak dengan mengajak kamu terlebih dahulu untuk ke atas awan," ucap Inayah, yang langsung menarik tangan Ramzi ke atas Ranjang.
"Aku cinta kamu Mas, jangan tinggalkan aku yah," pinta Inayah.
Ramzi langsung memeluk Inayah dengan erat.
"Kamu yang jangan meninggalkan aku, aku takut kamu akan lari dariku," ucap Ramzi.
"Aku tidak akan meninggalkan mu Mas," ucap Inayah.
Inayah langsung mencium bibir Ramzi dengan penuh cinta, ia membuktikan bahwa dirinya sudah Ramzi miliki semua, hatinya dan tubuhnya. Dia ingin menyampaikan kepada Ramzi, jangan takut untuk aku tinggalkan.
Mereka melakukan ibadah kenikmatan dunia penuh cinta, saling berbagi keringat, saling berbagi keresahan di hati, saling menjawab cinta mereka yang tulus.
"Mas...masya Allah, ini nikmat," ucap Inayah yang sedang di bawah kungkungan Ramzi.
"Aku merasakan cintamu Mas, jangan takut kehilanganku. Di mataku kamulah Gus Ramzi yang sangat hebat daripada Dokter Azril. Karena di hatiku sudah terpatri namamu Mas," sambung Inayah.
"Mas...sstt..." dessahan Inayah.
Ramzi menitikkan air mata kebahagian ketika Inayah berkata seperti itu, Inayah tersenyum kepada Ramzi, ia membelai pipi Ramzi dengan lembut. Mereka mencapai puncak di atas awan bersama-sama.
"Ya Rabb...sayang...ah..." ucap Ramzi melepas puncak kenikmatan.
"Semoga aku hamil Mas, dari buah cinta kita ini. Bukti bahwa aku sangat mencintaimu." Ucap Inayah setelah ibadah mereka selesai. Inayah memeluk tubuh Ramzi dengan erat.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua