Salah Lamar

Salah Lamar
Ramzi memukul Azril


__ADS_3

Ramzi menepikan mobilnya di rest area, dia membukakan pintu mobil sebelah kiri dan menuntun Inayah untuk duduk di rest area. Ramzi memperhatikan hidung Inayah yang terus mengeluarkan darah.


"Sayang, hidung kamu terus mengeluarkan darah, bagaimana ini?" tanya Ramzi.


"Mas, tolong belikan batu es. Mungkin ada yang jual di rest area dan juga sapu tangan Mas, untuk mengompres hidungku," ucap Inayah.


"Kamu tunggu sini yah, aku akan mencari," ucap Ramzi.


Inayah menganggukan kepalanya. Inayah menunggu Ramzi duduk di rest area dengan memegangi dunia yang masih mengeluarkan darah.


" Inayah..." Ada seorang yang memanggil nama dirinya. Inayah melihat seorang yang sudah berdiri di hadapannya, ia mendongakkan ke atas wajahnya. Seketika ekspresi wajah Inayah berubah. Dia langsung mencari keberadaan Ramzi, ia takut Ramzi akan salah paham karena yang menyapa dia adalah dokter Azril.


"Hidung kamu berdarah?" Tanya Azril dia menjongkokan tubuhnya dan ingin melihat keadaan hidung Inayah yang masih mengeluarkan darah, tangan yang mendekati wajah Inayah. Tapi Inayah mengundurkan wajahnya.


"Azril, jangan mendekatiku, jangan sentuh hidungku, aku bukan mahrammu," ucap Inayah.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu, itu hidungmu berdarah. Biar aku membantumu untuk memberhentikan darahnya." Ucap Azril yang masih mau melihat hidung Inayah, mau menyentuh dan memeriksanya.


"Tolong jangan mendekat, biarkan saja darah ini mengalir, suamiku sedang mencari es batu untuk mengurangi pendarahanku." Ucap Inayah.


"Suamimu yang tidak berguna itu? kenapa kamu sangat mencintai dia? aku yang mengenalmu lebih dulu. kenapa kamu memilih dia? kenapa kamu tidak melihat aku?" ucap Azril.


"Azril jodoh itu sudah Allah yang menentukan, apa yang kita cinta belum tentu Allah akan menjodohkannya, begitu pula sebaliknya. Aku sudah berjodoh dengan suamiku. Aku sangat mencintai dia. Jangan sebut dia tidak berguna, bagiku dia adalah pria yang terbaik untukku dan sangat berguna karena dia sangat memanjakan aku. Lebih baik kamu pergi sekarang, aku tidak mau suamiku salah paham karena melihat kita berdua sedang mengobrol." Ramzi melihat dari kejauhan, Inayah sedang mengobrol dengan Azril. Emosinya mulai naik, dadanya sangat panas karena dokter Azril ingin menyentuh wajah Inayah dari kejauhan. Dia langsung berlari menghampiri istrinya, dan melayangkan bogeman mentah di wajah Azril. Tubuh Azril sontak terjatuh.


"Mas..." teriak Inayah.


"Jangan sentuh istriku dengan tangan Anda." Mata Ramzi telah tersulut emosi, rahangnya mengeras. Dadanya memanas, terasa kental hawa cemburu.


"Lepaskan Inayah, biar aku yang jaga dia agar tidak terluka. Hidup denganmu, Inayah selalu menangis dan sekarang hidungnya mengeluarkan darah." Ucap Azril, dia mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Bahawa nama Inayah masih ada di hatinya walaupun Inayah sudah mempunyai suami dan anak.


"Apa kata Anda? melepaskan Inayah?" Ramzi semakin marah mendengar ucapan Azril. Akhirnya Azril berkelahi dengan Ramzi.


BUG


Ramzi menendang perut Azril sangat keras, sepertinya dengan tenaga yang full.


Ugh


Azril kesakitan, dia memegangi perut yang terasa sakit dengan tendangan Ramzi.


BAMB BAMB


Azril meninju wajah Ramzi 2 kali, yang membuat kaki Ramzi bergeser ke belakang.


AHH

__ADS_1


Terasa panas wajah Ramzi atas pukulan dari Azril. Ramzi mengambil ancang-ancang kuda-kuda. Perkelahian mereka tak terelakkan, walaupun Inayah sudah meneriaki mereka agar berhenti.


Ramzi yang tidak terima akan ucapan Azril terus memukuli Azril, sampai orang-orang yang berada di rest area merelai perkelahian mereka.


"Jangan pernah sentuh istriku," teriak Ramzi.


"Hahaha awas kau, aku akan merebut Inayah darimu. Dia tidak bahagia denganmu." Ucap Azril dengan lantang. Wajah Azril sudah tampak merah karena pukulan dari Ramzi, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Orang-orang memegangi tubuh Ramzi dan Azril agar mereka tidak beradu jotos kembali. Inayah langsung memegang tangan Ramzi. Ia mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang merelai perkelahian ini. Inayah langsung menarik tangan Ramzi agar kembali masuk ke dalam mobilnya. Sebelum Inayah berlalu di hadapan Azril, ia berkata.


"Azril, jangan pernah ganggu rumah tanggaku. Aku sangat mencintai suamiku dan aku sangat bahagia hidup bersamanya," ucap Inayah dengan sorot mata yang tajam menatap Azril.


"Sini, biar aku kompres hidungmu," ucap Ramzi.


Mereka sekarang ada di dalam mobil dan wajah mereka saling menatap. Ramzi mengompres hidung Inayah dengan air dingin yang telah di campur dengan batu es, Ramzi menyenderkan kepala Inayah di jok depan mobilnya dan kursi depan dia turunkan ke bawah agar mengompres hidung Inayah lebih mudah.


"Sakit sayang? maaf yah, tadi ada mobil yang menyalip. Aku spontan rem mendadak," ucap Ramzi.


"Tapi sepertinya kamu yang lebih sakit Mas, wajah kamu merah seperti ini." Inayah menyentuh wajah Ramzi, ketika di sentuh ada rasa kesakitan di wajah Ramzi. "Pasti sangat sakit, gantian yah biar aku yang kompres wajah Mas," ucap Inayah.


"Sudahlah, aku ndak apa-apa. Yang penting bagiku adalah kamu. Jangan bergerak, agar darahmu bisa berhenti," ucap Ramzi.


Inayah mengelus wajah tampan suaminya, "maafkan aku Mas."


"Aku sangat bahagia Mas menikah denganmu, rasa syukur yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata yang telah mendapatkan cinta yang besar darimu," ucap Inayah.


Setelah darah di hidung Inayah berhenti, ia langsung mengambil salep untuk memar.


"Mas, sini aku olesi salep di wajahmu yang memar," ucap Inayah.


Ramzi mendekatkan wajahnya agar Inayah mudah untuk mengolesi salep di wajahnya.


CUP CUP CUP


Inayah mengecup setiap memar Ramzi, "semoga cepat sembuh yah."


"Yang di depan belum sayang." Ramzi menyentuh bibirnya dengan telunjuk.


"Di situ kan gak memar sayang," protes Inayah.


"Agar lebih semangat lagi melontarkan kata-kata yang manis untuk kamu," ucap Ramzi.


Inayah hanya tertawa kecil, lalu ia langsung mengalungkan tangannya di leher Ramzi dan mencium bibir Ramzi.


"Bonusnya manis sekali." Ucap Ramzi, hatinya berubah menjadi sangat senang, yang sebelumnya penuh dengan emosi dan amarah.

__ADS_1


Inayah mulai mengolesi wajah Ramzi dengan salep memar. Inayah memang selalu membawa kotak obat-obatan di dalam mobil mereka.


"Dahi kamu juga memar sayang, aku olesi juga salep ini di dahi kamu," ucap Ramzi.


Setelah Ramzi selesai mengolesi salep memar di dahi Inayah, ia melanjutkan perjalanannya kembali menuju kota Cirebon.


"Kita berangkat sekarang yah," ucap Ramzi.


"Kamu kuat Mas untuk jalan kembali?" tanya Inayah.


"Kuat sayang, keluar dari tol kita berhenti di penginapan. check in dulu di sana untuk tidur beberapa jam lalu kita lanjutkan perjalanan kembali," ucap Ramzi.


"Iya Mas, aku setuju. Hati-hati yah jalannya. Ingat Emi sedang menunggu kita, aku tidak akan tidur untuk mengajak kamu mengobrol agar kamu tidak ngantuk," ucap Inayah.


Bersambung.


✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet β€πŸ’žπŸ’

__ADS_1


__ADS_2