Salah Lamar

Salah Lamar
Hijrah


__ADS_3

Keluarga Hasan, akan balik ke Jakarta. Sebelum balik mereka akan berkunjung ke pesantren untuk berpamitan kepada keluarga Emi.


"Hasan, jaga baik-baik Emi yah," ucap Bilah.


"Insha Allah Mah, aku akan jaga Emi," jawab Hasan.


"Inayah, Ramzi, resepsi dilaksanakan ketika Emi sudah sehat. Bagaimana?" tanya Bilah.


"Iya, aku setuju," ucap Inayah.


"Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Bagas, suami Bilah.


Ramzi berjabatan tangan dengan Bagas. Dan mereka semua berpamitan kepada kiai dan nyai.


"Kakak, akan telepon kamu untuk urusan kantor," bisik Heelwa kepada Hasan sebelum Heelwa masuk ke dalam mobil. Hasan menganggukan kepalanya. Setelah mengantar keluarganya, Hasan kembali masuk dan menemui Emi.


"Kamu mau makan? Aku bawakan ke kamar," tanya Hasan.


"Ndak Mas, yang aku inginkan hanya di samping kamu," ucap Emi. Hasan langsung mendekati Emi dan menggenggam tangan Emi dengan erat.


"Jika nanti kamu sudah sehat, kamu mau kan tinggal di Jakarta?" tanya Hasan.


"Aku masih kuliah di Jakarta juga Mas, kemanapun membawa aku. Aku bersedia," ucap Emi. Hasan tersenyum dan menatap Emi dengan lekat. Tak sadar wajahnya mendekati wajah Emi, Emi paham ia langsung memejamkan matanya. Hasan menjadi candu untuk mengecup bibir merah muda milik Emi. Kamar itu menjadi saksi untuk memadu kasih pengantin baru.


"Manis," ujar Hasan.


"Apa si Mas." Wajah Emi tampak memerah karena tingkah Hasan.


"Aku boleh tanya nggak?" tanya Hasan.


"Kalau mau tanya, tanya aja Mas. Ndak usah izin," ucap Emi.


"Kamu kenapa menolak lamaran banyak pria? Padahal mereka keturunan Kiai," tanya Hasan.


"Hati yang berkata untuk menolak," jawab Emi.


"Lalu kenapa kamu memilih aku?" tanya Hasan.


"Karena aku jatuh cinta oleh wajahmu pertama kali, suamiku tampan, ndak bosan jika di pandang," jawab Emi.

__ADS_1


"Jadi kamu melihat aku karena wajahku?" Hasan cemberut mendengar jawaban Emi.


"Aku kan ndak bohong, sama juga dengan laki-laki yang melihat perempuan awalnya dari wajah turun ke hati, kamu juga kan Mas. Melihat aku karena wajahku yang ayu." Emi mencolek pinggang Hasan dan alisnya di naik turunkan.


"Kok Mas Hasan ganteng ngambek," ucap Emi.


"Aku cinta sama kamu karena kamu cinta sama aku," ucap Hasan.


"Bukan karena wajahku? Ah bohong." Emi tidak percaya dengan jawaban dari Hasan. Hasan tak menjawab, ia hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Habis mencium bibir aku, mala ngambek. Yah sudah aku keluar kamar aja." Emi berdiri, siap melangkahkan kakinya. Hasan langsung bangun dan menghadang Emi agar tidak keluar dari kamar.


"Katanya kamu mau dekat dengan aku, kenapa kamu sekarang malah mau pergi ninggalin aku," protes Hasan.


"Kamu nyebelin Mas, aku jawab jujur. Kamu malah ngambek, suami istri kan ndak boleh adanya kebohongan. Asal kamu tahu aja yah Mas, laki-laki yang datang melamar aku karena wajahku yang katanya cantik, itu yang justru aku menolak mereka. Tapi aku milih kamu karena wajahmu bagiku bisa membuat hatiku luluh sama laki-laki pertama yang aku lihat, akupun ndak tahu mungkin Allah yang gerakan hatiku," ucap Emi.


Hasan langsung memeluk Emi.


"Maafkan aku sayang." Hasan menatap mata Emi. Emi berjinjit dan mencium pipi Hasan.


3 bulan kemudian


Hasan dan Emi sudah membuat resepsi di Cirebon. Pen tangan Emi sudah di operasi dan Emi bisa menggunakan tangan kanannya sekarang walaupun tidak boleh mengangkat beban berat.


Emi dan Hasan akan tinggal di Jakarta meninggalkan kampung halaman Emi.


"Mamah, Ayah, aku berangkat." Emi mencium punggung tangan Ramzi dan Inayah.


"Kamu yang patuh yah sama suami," ucap Inayah.


"Insha Allah Mah, Assalamu'alaikum." Emi masuk ke dalam mobil, ia melambaikan tangannya kepada keluarganya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


"Kamu sedih yah?" tanya Hasan.


"Berpisah dengan orang tua pasti sedih Mas, apalagi aku sudah memiliki kehidupan sendiri dengan kamu," ucap Emi.


Tangan kiri Hasan menggenggam tangan Emi, sesekali ia mengecup. Emi sangat senang diperlakukan seperti itu kepada Hasan.

__ADS_1


"Kamu sudah siap belum di Jakarta, jika aku meminta hak aku?" tanya Hasan.


Emi gugup di tanya seperti itu, ia takut katanya jika pertama itu sakit.


"Ah...i...itu..." ucap Emi.


"Belum siap yah." terlihat jelas wajah Hasan yang sangat kecewa. Emi merasa bersalah karena itu kewajiban sebagai seorang istri.


Emi mengecup pipi Hasan. "Insha Allah, aku siap Mas," bisik Emi di telinga Hasan. Wajah Hasan menjadi cerah karena sudah diberikan lampu hijau kepada Emi.


Hasan mengambil tangan Emi lalu mengecupnya. "Terima kasih sayang," ucap Hasan.


Keluarga Bilah memang memilih tempat tinggal jauh dari perkampungan. Ia tidak suka untuk berkumpul dengan ibu-ibu karena akan menciptakan gosip. Bilah sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Hasan di perkomplekan elit karena mereka tidak terlalu perduli dengan para tetangga. Cendrung sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bilah sudah memberikan alamat rumah yang akan di tinggali oleh Hasan dan juga Emi. Mobil Hasan langsung mengarah ke rumah barunya.


"Mas, ini benar alamat yang mamah berikan?" tanya Emi. Karena memasuki komplek penjagaan satpam nya sangat ketat. Hasan karena penghuni baru, ia harus mengeluarkan KTP dan ditanyai blok rumahnya. Ketika Hasan berkata blok A No 12 satpam langsung tahu karena rumah itu yang paling besar dan baru ke jual.


"Benar sayang, itu pak satpam buktinya tahu," ucap Hasan.


Emi melihat rumah- rumah di komplek itu sangat mewah, blok A ada di paling ujung. Lebih nyaman dari blok yang lainnya. Hasan memberhentikan mobilnya, ia memastikan nomor rumahnya. Di kunci yang diberikan Bilah juga terdapat nomor rumah.


"Ayo turun, itu rumah yang Mamah belikan untuk kita," ucap Hasan. Hasan langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Emi. Ia langsung menggenggam erat tangan Emi.


"Mas, ini benar rumahnya, kebesaran Mas untuk kita tinggal berdua. Nanti bersihkannya bagaimana," ucap Emi.


"Aku bantu, kamu tenang saja. Ayo masuk," ajak Hasan.


Masuk ke dalam rumah, Emi berdecak kagum lagi karena rumah sudah terisi dengan barang-barang mewah.


"Aduh Mas, ini di akhirat di hitung nya lama," ucap Emi.


"Hahaha...yang penting di hati kita jangan ada kekayaan dunia istriku tercantik." Hasan mencubit hidung Emi.


"Mas, ih demen banget sih cubit hidung aku. Merah nih," protes Emi.


"Mamah sengaja belikan rumah yang besar, ia ingin mendapatkan cucu yang banyak dari kita," ucap Hasan.


"Ah mesum kamu Mas." Emi mencubit pinggang Hasan.


"Au sakit Emi sayang. Kita ke kamar utama yuk." Hasan langsung menggendong Emi menuju lantai 2 kamar utama.

__ADS_1


'Ngapain dia pakai gendong aku, jangan-jangan dia langsung meminta hak nya sekarang juga. Ya Allah jantungku deg degkan,' ucap batin Emi.


Bersambung


__ADS_2