Salah Lamar

Salah Lamar
Ini anakku bukan anaknya!


__ADS_3

Rasa rindu menyelimuti Inayah, ia mengusap perutnya yang masih rata dan belum pasti apakah dia hamil atau tidak.


"Jika kamu ada Nak di rahim Mamah, kamu tercipta dari rasa cinta Mamah yang begitu besar untuk Papahmu," gumam Inayah.


Perbedaan Indonesia dan Jepang hanya 2 jam. Jam di Jepang lebih cepat daripada Indonesia. Jika di Jepang pukul 10 malam, di Indonesia pukul 8 malam. Biasanya pukul 8 malam Inayah dan Ramzi tadarus bersama-sama di dalam kamar mereka. Rindu tapi tak bisa diungkapkan, jauh di mata tapi dekat di hati, cinta tapi terhalang tembok yang tinggi yaitu kecemburuan tanpa logika. Cinta itu memang membuat orang yang jatuh cinta terlihat bodoh.


"Inayah kamu harus kuat tanpa Ramzi, dia akan bahagia dengan Delisha," ucap Inayah monolog, yang sukses membuat ia nangis seketika.


"Ning, masih pusing ndak?" tanya Syifa.


"Sudah mendingan, gak seperti kemarin," jawab Inayah.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk


Syifa membukakan pintu kamar hotel. Dina datang ke kamar mereka.


"Dokter Inayah bagaimana keadaannya?" tanya Dina.


"Alhamdulilah, lebih mendingan," jawab Syifa.


"Ini aku belikan test pack, gunakan saat habis bangun tidur pagi hari yah karena hasilnya akan lebih jelas," ucap Dina.


Dina menghampiri Inayah.


"Terima kasih Dokter Dina, kita baru kenalan di pesawat aku malah merepotkan Dokter Dina," ucap Inayah.


"Ah jangan seperti itu, karena kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Panggil nama saya saja yah jangan pakai embel-embel dokter," pinta Dina.


"Baik, begitu juga denganku. Biar kita semakin dekat lagi," ucap Inayah, sambil tersenyum kepada Dina.


"Yah sudah, aku pamit yah. Kamu istirahat saja agar besok fresh," ucap Dina.


"Terima kasih Dina," ucap Inayah.


***


Pukul 3 pagi Inayah bangun, seperti biasa ia melakukan salat tahajud. Ia berniat setelah salat tahajud akan melakukan tes kehamilan dengan test pack yang Dina berikan. Inayah mempunyai 2 test pack dari Dina.

__ADS_1


Doa Inayah setelah salat Tahajud.


"Ya Allah, yang Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-hambanya. Engkau pasti paham apa yang hamba rasa. Aku seperti sangat durhaka kepada suamiku yang meninggalkan dia tanpa izin. Hati yang sedang sakit ini sangatlah egois untuk meninggalkannya, tapi hamba melihat kenyataan bukan hambalah yang dicintai oleh suami hamba tapi yang ia cintai adalah adik hamba. Engkau tahu ya Allah, bahwa hamba sangat mencintai suami hamba, rindu ini kupendam sendiri. Jika di rahimku ada janin dari hasil cinta hamba dengan suami hamba, tolong jaga anak ini dari negara yang mayoritasnya bukan muslim, hanya Engkaulah penjaga terhebat karena hamba lemah, munafik, fasik tapi hamba butuh bantuan-Mu ya Rabb...Aamiin," doa Inayah lirih.


Inayah memasuki kamar mandi hotel, ia menampung air seninya di sebuah gelas kertas kecil, kemudian ia masukan test pack ke urine yang sudah ia tampung. Ia menunggu dengan perasaan yang sangat gugup. Jantung berdebar, hanya butuh waktu 5 menit ia mengangkatnya. Inayah tidak percaya akan hasilnya lalu ia melakukan test pack kembali untuk meyakinkan perasaannya.


Ia meneteskan air mata, ia menutup mulutnya. Ia ke luar dari kamar mandi dan langsung sujud syukur. Menangislah ia sejadi-jadinya sehingga membangunkan Syifa yang masih tertidur. Syifa langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri Inayah yang sedang menangis sesegukan.


"Ning, sampean kenapa." Syifa memeluk Inayah yang mengusap-usap punggung Inayah.


"Ning, jawab sampean kenapa sampai menangis seperti ini. Kepala sampean sakit lagi?" tanya Syifa.


"A...aku hamil Syifa...aku hamil," ucap Inayah terbata-bata.


"Barokallah Inayah, Alhamdulilah sampean hamil. Aku ikut senang mendengar ini. Barokallah...barokallah..." ucap Syifa sambil memeluk Inayah dengan erat.


Inayah melepaskan pelukan Syifa, ia mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Di sini ada calon anakku Syifa, buah cintaku dengan Gus Ramzi," ucap Inayah terharu.


"Ning apakah sampean akan memberitahu Gus Ramzi bahwa sampean sedang mengandung anaknya?" tanya Syifa.


"Aku tidak akan memberi tahu dia bahwa aku mengandung anaknya," ucap Inayah dengan sorotan mata yang tajam.


"Ning, Istigfar...dia berhak tahu bahwa sampean mengandung anaknya," ucap Syifa, menasehati Inayah.


"Dia tidak boleh tahu, dia tidak berhak tahu. Ingat Syifa, Gus Ramzi tidak mencintaiku. Dia mencintai adikku Delisha. Dia hanya butuh tubuhku untuk menuntaskan kebutuhan biologisnya. Cintanya yang dia tunjukkan kepadaku itu semua kamuflase belaka!" Amarah Inayah memuncak.


"Istigfar Ning, jika sampean yang salah paham bagaimana?" tanya Syifa, mencoba agar Inayah berpikir jernih.


"Syifa...aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka duduk berduaan, Delisha tertawa lepas ketika ia berbicara dengan Gus Ramzi. Salah paham? salah paham yang bagaimana, aku jelas melihatnya Syifa. Duduk berduaan yang bukan mahramnya. Aku mahramnya bukan adikku. Gus Ramzi telah menyakiti aku untuk yang kedua kali, dengan cara yang sama yaitu ia masih mencintai adikku," jawab Inayah, penuh dengan emosi.


"Ning aku hanya bisa menasehati sampean karena aku sahabat sampean, tolong turunkan emosi sampean , tenangkan pikiran sampean," ucap Syifa.


"Sampean mau bantu aku atau tidak, jika sampean tidak membantu aku. Hari ini setelah fajar aku akan meninggalkan hotel ini. Sampean bisa dengan suami sampean tercinta yang hari ini akan tiba di Jepang." Inayah sudah tersulut emosi, ia berdiri dan hendak keluar dari kamar hotel dan tangannya di tarik oleh Syifa.


"Mau kemana sampean Ning?" tanya Syifa.


"Lepaskan tanganku Syifa," ucap Inayah.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan tangan sahabatku, diluar masih gelap. Jepang lain dengan Indonesia pukul 7.30 pagi masih gelap di luar sana" ucap Syifa.


"Sampean mau bantu aku atau tidak? jawab sekarang. Aku gak suka bertele-tele," tanya Inayah.


"Aku akan membantu sahabatku, aku akan bantu sampean Ning." Syifa memeluk Inayah dengan erat.


"Anak ini aku yang akan mengandung selama 9 bulan, ia akan tumbuh di dalam rahimku, dia akan makan bersamaku. Maka ayah biologisnya tidak berhak untuk anakku ini," ucap Inayah.


"Aku percaya kamu Syifa, jaga rahasiaku," Inayah melepaskan pelukan dan menggenggam tangan Syifa.


"Iya aku akan menutup rapat rahasiamu," ucap Syifa.


"Terima kasih Syifa...terima kasih," ucap Inayah dengan deraian air mata.


Inayah bertekat untuk melahirkan dan merawat anaknya di Jepang, setelah pulang ke Indonesia dia juga tak ingin bertemu oleh Gus Ramzi. Rasa cemburu menumbuhkan kebencian karena ia sudah memperingatkan Ramzi ketika menerima cinta Ramzi di alun-alun Cirebon. Jika Ramzi menyakiti hatinya lagi maka ia tidak akan memaafkan dan pergi jauh darinya.


Ini yang Inayah ucapkan, 'Aku terima kamu lagi, dengan 1 catatan kamu tidak boleh menyakiti hati aku lagi. Jika tidak aku akan menghilang dari penglihatanmu.'


Author jadi susah nasehatin Inayah Nih, emosi bumil lagi meledak-ledak, huff...


Bersambung


***


Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.


jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)



I love you sekebon dari Author

__ADS_1


__ADS_2