
Inayah dan Delisha pergi ke kantin setelah memberitahukan kepada Abahnya. Kini mereka sudah berada di kantin.
"De, kamu yang pesan. Mba ikut aja sama kamu," titah Inayah.
"Mba yang bayar semua yah," ucap Delisha.
"Iya cantik, sudah sana pesan," ucap Inayah.
Ketika Delisha memesan makanan, Inayah mengirimkan pesan singkat untuk Ramzi.
Inayah \= ["Assalamu'alaikum, Mas, aku pulang sekitar pukul 9 malam. Jemput aku yah. Abah dan Delisha ada di sini juga."]
Ramzi \= ["Wa'alaikumsalam, Abah sakit?"]
Inayah \= ["Ndak Mas, alumni dari pesantren Abah kecelakaan beruntun, banyak korban salah satunya alumni itu. Murid kesayangannya Abah yang akan mengajar di pesantren Abah nantinya. Ia baru lulus dari Mesir, hari ini baru sampai di Indonesia. Tapi bus nya kecelakaan."]
Ramzi \= [Hmmm yah udah aku berangkat sekarang."]
Delisha kembali duduk di samping Inayah, ia langsung memeluk Inayah.
"De, Mba belum mandi tahu. Bau badan Mba," ucap Inayah.
"Hehe Mba selalu merawat diri Mba dengan sempurna, ini aku peluk aja Mba masih wangi. Mba walaupun sudah menikah jangan lupain aku dong, baru Mba nikah 2 minggu tapi sudah lupain aku," ucap Delisha, dengan wajah cemberut.
"Ih adik Mba ini, masih seperti anak kecil. Nanti kalau sudah menikah bersikap dewasa loh De. Nanti juga kamu gelayutan terus dengan suamimu," ucap Inayah.
"Aku seperti ini hanya dengan Mba aja kok, soalnya kakak yang paling sayang aku Mba Ina. Mba Sasa di Mesir dengan suaminya. Jangan tinggalkan Delisha yah Mba seperti Mba Sasa," ucap Delisha.
"Mba mau kemana lagi De, orang Mba bekerja di rumah sakit ini," ucap Inayah.
"Mba, aku mau ke kamar mandi dulu. Tiba-tiba kebelet nih," ucap Delisha.
"Kamu tahu 'kan letak kamar mandinya di mana?" tanya Inayah.
"Iya tahu Mba, yang tadi kita lewatkan mau ke arah kantin, yah udah aku ke kamar mandi dulu. Kalau makanannya sudah ready, Mba makan duluan ndak apa-apa," ucap Dalisha, dia berjalan meninggalkan Inayah di kantin.
Inayah menunggu di kantin sendirian, Delisha sudah 10 menit meninggalkan Inayah sendirian. Karena makanannya sudah datang, Inayah membayar terlebih dahulu semua makanan yang di pesan dan menitipkan makanan tersebut kepada penjaga kantin. Ia ingin menyusul Delisha.
"Mang, aku tinggalkan dulu makanannya yah. Nanti aku balik lagi," ucap Inayah.
"Siap Dokter Ina," ucap Mang Dadang, penjaga kantin.
Inayah meninggalkan kantin, dia menyusul adiknya. Ia tersenyum dari kejauhan melihat Delisha dan Ramzi sedang berkomunikasi, tapi semakin dia mendekati mereka, kaki Inayah terhenti.
__ADS_1
"Ning Delisha, sebenarnya perempuan yang aku cintai kamu, yang aku mau khitbah kamu tapi kamu sudah di khitbah oleh laki-laki lain, aku terpaksa mengkhitbah Inayah karena aku takut orang tuaku menanggung malu karena membatalkan lamaran," ucap Ramzi.
"Apa kamu bilang Gus, terpaksa melamar kakakku? keterlaluan sekali kamu Gus Ramzi, aku menyesal membiarkan Mba Inayah menikah denganmu. Kamu bilang mencintaiku tidak mencintai Mba Ina yang sekarang menjadi istrimu. Kurang apa kakakku itu? asal Gus tahu banyak yang ingin mendapatkan Mba Inayah, termasuk salah satu pasien yang berada di rumah sakit ini," ucap Delisha.
"Tapi perasaanku ini tidak bisa dibohongi," ucap Ramzi.
"Jaga ucapanmu Gus, 2 minggu lagi aku menikah. Aku mencintai laki-laki itu dan aku tidak mencintai kamu. Jika Mba Inayah tahu jika kamu mencintaiku, aku tidak akan memaafkan mu Gus. Aku sayang kakakku itu," ucap Delisha, penuh emosi.
Ramzi menggenggam pergelangan tangan Delisha, Delisha menghentak tangan Ramzi agar genggamnya terlepas.
"Jaga sikapmu Gus, kita bukan mahram. Jangan sentuh aku," ucap Denisha penuh amarah.
"Dokter Inayah, ada korban kecelakaan yang keritis, dia harus segera di operasi. Dokter Azril sudah menunggu Dokter Ina, saya di perintahkan untuk mencari dokter," ucap perawat.
"Baik saya kesana segera," ucap Inayah.
Delisha kaget bahwa Inayah melihat dan mendengar ucapan cinta Ramzi kepadanya. Berdiri melihat percakapan anatara dirinya dan Ramzi.
"Mba Ina, oh Ya Allah," ucap Delisha lirih.
Delisha mengejar Inayah tapi Inayah sudah masuk ke ruang operasi sehingga dia tidak bisa menjelaskan kepada Inayah.
"Gus, kamu benar-benar keterlaluan. Ingat aku adalah adik iparmu. Mba Ina saat ini terluka hatinya itu gara-gara kamu. Jika Mba Ina sampai kenapa-napa, awas kau Gus," ucap Delisha menunjuk wajah Ramzi dengan telunjuknya dan dia meninggalkan Ramzi sendirian yang berdiri mematung.
"Dokter Inayah, kenapa kamu? punya masalah pribadi jangan dibawa di ruang operasi, tujuan kamu menjadi dokter adalah menyelamatkan pasien. Ingat sumpah dokter yang kamu ucapkan ketika kamu diangkat menjadi seorang dokter. Kamu adalah dokter yang terkenal di rumah sakit ini, jangan menghancurkan repotasi kamu bangun di ruang operasi sekarang. Kembalilah dokter bertangan emas," ucap Dokter Azril.
Inayah langsung menyadarkan dirinya sendiri, bahwa saat ini dia adalah seorang dokter. Kekurangan dokter hari ini membuat Inayah sangat bekerja keras. Inayah mulai berkonsentrasi, ia mulai mengoperasi pasien yang mengalami kecelakaan tadi. Tangannya sangat cekatan dalam mengoperasi, membaca organ-organ yang terluka dengan tepat sehingga tidak ada kesalahan ketika melakukan operasi saat ini.
"Dokter Azril, saya sudah selesai, selebihnya kamu yang menjahit untuk menutup luka pasien," ucap Inayah, dia langsung membalikkan badan dan meninggalkan ruang operasi.
"Dengan senang hati Dokter Ina bertangan emas," ucap Dokter Azril.
Inayah duduk di ruang luar operasi, ruangan yang masih 1 lingkup ruang operasi. Dia mensterilkan kembali tubuhnya dari bekas darah operasi. Ia duduk di kursi panjang dan menyandarkan kepalanya di dinding, memejamkan matanya dan butiran air matanya baru ia rasakan keluar membasahi pipinya yang putih.
Dokter Azril keluar dari ruang operasi utama, dia membersihkan diri lalu duduk di samping Inayah.
"Ada apa? kamu bisa bercerita denganku," tanya Dokter Azril, sambil memberikan tisu kepada Inayah. Inayah mengambil tisu pemberian Dokter Azril dan mengusap air matanya.
"Ndak ada apa-apa Dok, tolong nanti jika kamu keluar dan bertemu suami dan adikku bilang dengan mereka. Aku ditugaskan mendadak agar tidak meninggalkan rumah sakit ini. Karena menangani pasien yang kecelakaan," pinta Inayah.
"Oke, aku akan membantumu. Jika kamu butuh teman curhat, kamu bisa bicara denganku, aku permisi dahulu. Keluarga pasien pasti sedang menunggu hasil operasi yang kamu lakukan pada pasien itu. Keluarga pasien meminta langsung kepada kepala staff rumah sakit ini agar kamulah yang mengoperasi keluarganya karena pasien yang baru kamu operasi itu termasuk yang terluka parah. Alhamdulilah operasi berjalan sukses," ucap Dokter Azril.
"Terima kasih Dokter Azril, aku di sini dulu 15 menit. Bisa minta tolong lagi gak?" tanya Inayah.
__ADS_1
"Minta tolong apa?" tanya Dokter Azril.
"Belikan aku makanan, letakkan di mejaku. Dari siang aku belum makan," pinta Inayah.
"Baiklah, aku keluar. Tenangkan dirimu terlebih dahulu setelah itu keluarlah dari ruangan ini," ucap Dokter Azril.
Setelah Dokter Azril dan para perawat keluar, Inayah mengeluarkan handphonenya dan ia aktifkan kembali. Banyak telepon dan pesan yang masuk dari Delisha. Dia menelepon Delisha.
Inayah \= ["Assalamu'alaikum De."]
Delisha \= ["Wa'alaikumsalam, Mba. Akhirnya Mba mau telepon aku. Mba tolong jangan benci aku, maafkan aku yang telah membuat hati Mba terluka. Aku gak tahu apa-apa Mba. Aku sayang Mba, tolong jangan benci Lisha Mba."] Isak tangis Delisha di balik telepon.
Inayah \= ["De, Kamu ndak salah. Jangan menyalahkan dirimu. Mba juga sayang kamu Lisha. Kamu pulang dengan Abah yah, sudah malam. Mba masih ada kerjaan mendadak,"]
Delisha \= ["Aku ndak mau pulang, sebelum Mba keluar. Aku mau memeluk Mba. Aku akan menunggu Mba sampai keluar."]
Inayah \=["Lisa, Mba mohon pulanglah. Mba lagi ndak mau lihat wajah Gus Ramzi."]
Delisha \= ["Keluarlah Mba, dia gak ada. Mungkin di tempat parkir menunggu Mba."]
Inayah keluar dari ruang operasi, matanya memerah karena tangisannya tidak bisa dihentikan. Delisha melihat Inayah dan langsung memeluk Kakaknya itu. Inayah menarik Delisha ke pintu tangga darurat tempat di mana dia menyendiri ketika bersedih, untuk meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Mba, maafkan Lisha. Jangan benci aku," Delisha memohon.
Inayah tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya memeluk Delisha sangat erat dengan luapan tangisannya yang tak bisa ia hentikan. Betapa sakit hatinya. Suami yang ia cintai mencintai adik kandungnya.
Bersambung
***
Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.
Cek novelku yang berjudul
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata, 50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1