Salah Lamar

Salah Lamar
Masih Perih Mas


__ADS_3

Ramzi benar-benar menggempur Inayah, sampai Inayah susah untuk berjalan. Pagi ini dia punya jadwal praktik di rumah sakit, bisa jadi nanti ada pertanyaan dari teman-temannya jika cara jalan Inayah aneh.


"Masih terasa sakit?" tanya Ramzi.


"Mas, malam pertama kita semalam kamu benar-benar membuat aku tidak berdaya sampai sekarang, ini aku susah jalannya. Bagaimana aku nanti berjalan ke rumah sakit dan merawat Delisha," ucap Inayah.


"Nanti aku akan telepon rumah sakit, kamu izin hari ini. Kalau Delisha, dia harus sudah menerima kepergian ustadz Adam, jangan berlarut-larut. Kamu sudah punya suami yaitu aku. Biar aku sama kamu bisa banyak waktu untuk memberikan keponakan buat adikmu," ucap nakal Ramzi.


"Ih Mas, mesum banget. Ini aja aku susah jalan. Istirahat dulu lah Mas, masa setiap hari," ucap Inayah.


"Memang kamu gak mau? 'kan nikmat, dapat pahala lagi. Allah Maha Baik yah," ucap Ramzi sambil nyengir memperlihatkan giginya yang putih.


Inayah mencubit pinggang Ramzi.


"Au sakit sayang," keluh Ramzi.


"Sakitan aku, ini perbuatanmu kemarin malam. Tidak ada jedah, kamu memberikan jedah hanya bersih-bersih saja," ucap Inayah.


"Maafkan aku sayang, yah udah kamu istirahat aja. Nanti jika Umma atau Abah bertanya, aku bilang kamu sedang sakit," ucap Ramzi.


"Kalau Umma bertanya aku sakit apa, lalu aku jawabnya apa?" tanya Inayah.


"Yah jujur aja, gak bisa jalan Umma. Maaf semalam aku malam pertama dengan suamiku," ucap Ramzi.


"Gus gendeng, ngawur kamu. Aku disuruh bilang seperti itu. Malu lah aku, gak ada adab dasar gendeng," ucap Inayah, sambil melemparkan bantal ke arah Ramzi.


"Husss...suami kok dikatain gendeng, lalu aku harus panggil kamu dokter sableng gitu biar seri?" Ramzi menaiki alisnya yang bagian kanan. Wajahnya cemberut. Inayah menghampiri Ramzi, dia memegang tangan Ramzi dan mencium pipi suaminya.


"Jangan marah, itu jika kamu ngomong sembarangan. Walaupun Gus gendeng tapi aku cinta dengan Gus gendeng itu," ucap Inayah.


Ramzi membelai rambut Inayah yang panjang hitam legam.


"Kamu lapar? aku akan pesan online yah. Kamu mau makan apa?" tanya Ramzi.


"Ndak Mas, Umma pasti masak. Aku mau makan masakan Umma aja," ucap Inayah.


"Aku ambilkan yah." Ramzi ingin pergi tapi lengannya di tarik oleh Inayah.


"Jangan Mas, nanti apa kata Umma, kamu melayani aku. Seharusnya aku yang melayani kamu," ucap Inayah.


"Yah gampang toh, aku bilang aja kamu sakit. Tunggu di sini yah, aku akan segera kembali," ucap Ramzi.


Ramzi meninggalkan Inayah sendiri di kamar. Ia mengambil makanan untuk Inayah.


"Umma, maaf aku dan Inayah makan di kamar yah," ucap Ramzi meminta izin kepada Umma Adibah.


"Memang Inayah mana? kok kamu yang ambil makanan bukan ina?" tanya Umma Adibah.


"Inayah lagi sakit Umma, ini aku juga mau menelepon rumah sakit untuk kasih Info hari ini Inayah tidak bekerja," ucap Ramzi.

__ADS_1


"Sakit apa Inayah?" tanya Umma Adibah kembali.


"Kecapean Umma, pagi Inayah kerja. Pulang ngurus Delisha," ucap Ramzi.


"Nanti Umma akan nasehati Delisha pelan-pelan, kasian Inayah jadi kecapean begitu. Maafkan Delisha yah, karena Ina mengurus Lisha jadi waktu bersama Gus jadi sedikit," ucap Ummi Adibah.


"Aku bawa makanannya yah Umma, terima kasih masakannya Umma sayang." Ramzi tersenyum kepada Umma dan meninggalkan Umma di dapur.


***


"Sayang, kamu mau aku suapin?" tanya Ramzi.


"Aku bisa sendiri, tadi ketika kamu mengambil makanan. Umma bilang apa sama kamu?" tanya Inayah.


"Umma tanya, 'Inayah kemana?' lalu aku bilang kamu sedang sakit. Umma tanya lagi "sakit apa?' aku jawab kamu kecapean," jawab Ramzi.


Inayah tersenyum kepada Ramzi, "Terima kasih yah."


"Makanlah, biar ada tenaga. Buat..." ucap Ramzi terpotong.


"Buat apa? hari ini istirahat yah, aku mohon. Masih perih dan sakit Mas," pinta Inayah.


"Memang kamu pikir ke sana? maksud aku buat aktifitas yang lain kamu bisa lakukan," ucap Ramzi, sambil mencubit hidung Inayah yang mancung.


"Mas..." Inayah meletakan sendok tepat di bibir Ramzi. Ramzi dengan senang hati membuka mulutnya.


Inayah menatap Ramzi, terasa mimpi. Kini Ramzi sangat mencintai Inayah. Awal mula bersikap dingin tapi sekarang bersikap sangat manis. Inayah tak henti-hentinya tersenyum ketika menatap Ramzi. Pria yang mengkhitbahnya kini mencintainya.


Suara pintu di ketuk.


"Mba Ina...Assalamu'alaikum," Delisha mengucap salam.


"Mas itu suara Delisha, tolong bukakan Mas," pinta Inayah.


Ramzi berjalan menuju pintu, lalu dia membukakan pintu untuk Delishat.


"Maaf Gus, boleh aku masuk? aku mau melihat Mba Inayah. Kata Umma Mba Ina sakit," tanya Delisha.


"Silahkan masuk," ucap Ramzi.


Delisha langsung masuk dan menghampiri Inayah yang masih berada di atas ranjang.


"Mba Ina sakit?" tanya Delisha.


"Mba ndak apa-apa kok, hanya kurang enak badan aja. Mungkin kecapean De. Kamu ndak apa-apa 'kan ndak Mba temani," tanya Inayah.


"Insha Allah Mba, sini Mba biar aku saja yang suapin Mba. Kemarin Mba yang suapin aku. Mba sakit juga 'kan gara-gara aku. Maafin aku yah Mba," ucap Delisha.


"Iya De, Mba ndak apa-apa kok, kamu iklasin ustadz Adam yah. Hidup harus jalan terus, gak boleh bersedih terus," nasihat Inayah.

__ADS_1


"Alm Mas Adam ndak ada yang tergantikan Mba di hati aku, aku sangat mencintai dia," ucap Delisha.


"Iya Mba paham, tapi jangan siksa kamu juga yah. Sampai kamu gak makan kemarin, Mba Ina sayang kamu. Kamu adik Mba satu-satunya. Oh iya Mba Sasa waktu kamu tidur telepon, tanyain kamu. Katanya kamu mau gak terusin sekolah kamu di mesir," ucap Inayah.


"Ndak tahu Mba aku, belum kepikiran," ucap Delisha.


Delisha menyuapi Inayah sampai makanan yang ada di piring Inayah habis. Ramzi melihat dua kakak adik sedang bercengkrama menarik nafas panjang.


'Pantas Delisha marah waktu aku menyatakan cinta sama dia. Dia sayang banget dengan Inayah,' batin Ramzi.


"Sudah yah Mba, aku ke luar dulu. Mba istirahat aja untuk hari ini," ucap Delisha.


"Terima kasih yah De," ucap Inayah.


Setelah Delisha pergi meninggalkan kamar Inayah, Ramzi duduk di atas ranjang mendekati Inayah.


"Mas, tadi ketika kamu melihat Delisha. Jantungmu terasa deg-degan gak?" tanya Inayah.


"Kok kamu tanyanya, seperti itu," ucap Ramzi.


"Tanya aja Mas aku," ucap Inayah.


Ramzi memegang pipi Inayah, dia langsung mendaratkan ciuman di bibir Inayah yang merah.


"Perlu aku jawab? barusan adalah jawaban aku. Bila kamu mau aku jawab lagi dengan senang hati aku akan melakukannya lagi," ucap Ramzi, sambil mengedipkan matanya.


"Ndak Mas, aku percaya kamu cinta sama aku. Jika kamu cium aku, aku takut kamu merambat kemana-mana. Masih perih tahu Mas," ucap Inayah.


"Hahaha kamu bahas itu lagi, suami kamu ini pengertian. Jika kamu sakit aku tidak akan memaksa. Paling aku akan melakukan ciuman sayang aja, seperti ini," ucap Ramzi, sambil mencium bibir Inayah kembali.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)

__ADS_1



Love you semua


__ADS_2