Salah Lamar

Salah Lamar
Keromantisan Ramzi


__ADS_3

Pada hari minggu Inayah mengajak Ramzi untuk berkunjung ke rumah abah. Ia merasa sudah lama tidak bersilaturahmi ke pesantren abahnya. Inayah dan Ramzi memboyong semua ketiga anaknya. Emi merasa senang ketika tahu akan ke rumah kakek dan neneknya. Umma memang sangat menyayangi Emi, apapun yang Emi minta pasti umma akan mengabulkannya.


"Mas beli buah tangan dulu ya," ucap Inayah.


"Umma dan abi suka buah? lebih baik kita beli buah aja," ucap Ramzi.


"Iya Mas, kita beli buah aja tapi belinya jangan di pasar tradisional ya karena agak repot bawa Haidar dan Haidir, di supermarket aja belinya," ucap Inayah.


"Oke sayang," ucap Ramzi.


Inayah dan Ramzi membeli buah di supermarket, Inayah mendorong stroller Haidar dan Haidir sedangkan Ramzi menggendong Emi karena masih daerah pesantren supermarket tempat mereka belanja buat tak sengaja bertemu dengan salah satu mantan lulusan pesantren Abi.


"Assalamu'alaikum Gus Ramzi yah?"


"Iya," Ramzi mengerutkan dahinya karena dia tidak ingat siapa yang menegurnya. Seorang laki-laki berparas tampan dan juga bergamis.


"Aku salah satu lulusan pesantren Gus, Gus tidak ingat sayaa? saya bernama Rian. Saya meneruskan kuliah di Malaysia," ucap Rian.


"Oh iya, saya ingat. Apa kabar kamu Rian?" tanya Ramzi.


"Alhamdulillah baik. Rian melirik Inayah dari pertama bertemu dengan Gus Ramzi Rian terus saja melirik Inayah, sehingga membuat Ramzi sangat jengkel.


"Gus ini sepupunya?" tanya Rian.


"Bukan, dia bukan sepupuku, tapi dia istriku," ucap Ramzi.


"Oh Gus sudah menikah ya, saya baru tahu Gus maaf," ucap Rian.


"Iya saya sudah menikah. Ini anak-anak kami, Si kembar baru 2 bulan dan ini yang saya gendong umurnya baru 2 tahun. Memang nggak mirip saya anak-anak saya?" tanya Ramzim


Rian hanya tersenyum dan kemudian Dia pamit kepada Gus Ramzi karena ketika dia bertemu, Rian ingin membayar belanjaannya di kasir setelah Rian pergi. Ramzi selalu berdempetan dengan Inayah ketika berjalan, Inayah merasa heran kenapa Ramzi jalannya beriringan karena memakan tempat sehingga orang ketika ingin berjalan terhalang.


"Mas apa-apaan sih jalan seperti ini? di belakang orang mau jalan Mas, minggir," ucap Inayah.


"Ndak ada orang tuh di belakang," ucap Ramzi.


"Ih ngeyel deh kamu Mas, malu tahu," ucap Inayah.


"Kok malu sih, jalan sama aku?" tanya Ramzi.


"Sensi banget sih kamu Mas," ucap Inayah.


"Aku jalan dempet seperti ini, biar tidak disangka kamu itu sepupu aku. Kamu itu istri aku," ucap Ramzi.


"Mas, Astagfirullah... habis ini deh jika setiap jalan keluar bawa buku nikah, kalau orang tanya tentang aku. Kamu bisa kasih buku nikah kita, biar orang itu tahu aku itu istrimu," ucap Inayah kesal.


Inayah tidak mau bicara lagi, ia langsung memilih buah dan langsung membayarnya. Karena dia tidak mau meladeni sikap Ramzi yang seperti itu. Pasangan ini memang saling cemburuan tetapi mereka sangat saling mencintai di balik kecemburuan itu. Ada cinta yang besar untuk pasangannya masing-masing, Inayah mencintai Ramzi dan Ramzi mencintai Inayah. mereka sama-sama takut akan kehilangan pasangannya, jadi mereka saling cemburu.


Ramzi mengendarai mobilnya, dia tidak mau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sekitar 1 jam Ramzi dan Inayah tiba di pesantren abah. Emi turun dari gendongan Ramzi dan langsung berlari untuk masuk ke dalam rumah dengan suara cadelnya dia memberi salam. Umma keluar dan langsung menggendong Emi.


"Assalamu'alaikum umma." Inayah mencium punggung tangan umma, begitu juga dengan Ramzi.


"Abah mana Umma? kok nggak kelihatan?" tanya Inayah.


"Abah ada di belakang, abah punya mainan baru di belakang. Jadi di belakang si Indra membuat kolam ikan, jadi abah memelihara ikan. Ikan di rawat abah dari kecil nanti pas sudah besar sebagian dijual dan sebagian lagi dikonsumsi," ucap umma.


"Ya sudah kamu masuk temui abahmu di belakang," ujar umma.


Inayah masuk begitupun juga dengan Ramzi Inayah meletakkan Haidir dan Haidar di ruang tamu karena mereka telah tidur di troller. Kemudian Ramzi dan Inayah pergi ke belakang rumah, ternyata di sana ada Delisha, Indra dan juga anaknya mereka yang sedang melihat ikan dengan background alami ciptaan Allah yaitu pegunungan Ciremai. Abah sangat menyukai suasana seperti ini, ketika pagi hari ataupun malam hari dengan background alam pegunungan memanjakan mata.


"Assalamualaikum Abah," ucap salamku.

__ADS_1


Serempak mereka melihat ke arah Inayah.


"Mbak Ina," Delisha langsung menghampiri Inayah dan memeluknya.


Ramzi terlihat bengong, Inayah memperhatikan wajah Ramzi yang melihat Delisha. Delisha memang semakin cantik, karena dia merawat diri untuk suaminya. Inayah langsung memegang tangan Ramzi dan meremasnya sehingga Ramzi merasa kesakitan dan berteriak


"Auuuu sakit sayang," protes Ramzi.


"Memang aku apain Mas, orang aku nggak apa-apain kamu kok. Aku cuman genggam tangan kamu doang." Inayah menatap Ramzi dengan tatapan tajam. Ramzi langsung menundukkan matanya karena dia tahu bahwa Inayah sedang marah kepadanya.


Tak lama Haidar dan Haidir menangis. Inayah mendengar tangisan anak-anaknya, lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat anak-anaknya.


"Abah Maaf, aku ke dalam dulu ya, sepertinya Haidar dan Haidir menangis." Inayah langsung masuk tanpa mengajak Ramzi. Ramzi mengikuti langkah kaki Inayah dari belakang. Ia hanya tersenyum kepada abah dan menganggukan kepalanya tanda untuk permisi.


Ketika Ramzi cemburu, dia akan lebih banyak omong, tapi lain halnya dengan Inayah jika Inayah cemburu maka tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Inayah. Inayah akan membisu seribu kata. Inayah tidak akan berbicara kepada Ramzi. Itu yang ditakutkan oleh Ramzi ketika Inayah sedang marah.


Ramzi menarik lengan Inayah ketika Inayah sedang berjalan, sehingga tubuh Inayah menghadap ke arah Ramzi.


"Sayang jangan marah dong, ini di rumah umma dan abah loh, kalau kamu marah kayak gini kan ketahuan dengan mereka. Ndak enak aku. Senyum dong," ucap Ramzi.


Inayah tak berkata apa-apa jangankan berkata, senyum pun tak ada. Inayah menghentakan tangannya, lalu ia berjalan kembali menuju ke arah Haidar dan Haidir. Ramzi ingin menghadang langkah kaki Inayah kembali, tapi dia melihat umma bersama dengan Haidar Haidir dan umma sedang melihat ke arah mereka, sehingga Ramzi tidak dapat mencegah langkah Inayah lebih jauh.


Inayah mendorong Stroller bayi kembarnya ke dalam kamarnya, sesampainya di kamar, ia menggendong Haider terlebih dahulu lalu diletakkan di atas ranjang kemudian Haidir pun digendong dan diletakkan di atas ranjang Inayah memberi ASI kepada Haidir terlebih dahulu, tapi Haidar malah menangis. Ramzi masuk ke dalam kamar, dia menggendong Haidar terlebih dahulu agar Haidae bisa tenang. Setelah Haidir sudah selesai untuk minum ASI nya, barulah Haidar yang diberikan ASI oleh Inayah. Begitu repot Inayah sampai dia harus memberi ASI bergantian untuk twins boys nya.


Inayah masih belum mau berbicara dengan Ramzi. Ramzi duduk di samping Inayah yang sudah selesai memberikan ASI kepada twins boys nya.


"Sayang ngomong dong, jangan cuekin aku seperti ini," pinta Ramzi.


Inayah hanya menatap Ramzi lalu dia menghela nafasnya.


"Kamu masih menyukai Delisha? kenapa menatap Delisha seperti itu?" tanya Inayah.


"Mas aku melihat tatapanmu tadi, jangan bohong sama aku. Kamu masih mencintai Delisha 'kan, karena kamu menikahi ku salah lamar," ucap Inayah mengingatkan


"Apakah kamu masih belum percaya bahwa aku sangat mencintai kamu? karena anak kita sudah tiga. Sayang itu bukti cinta kita," ucap Ramzi.


"Nggak tahu lah Mas, males aku ngomong sama kamu," ucap Inayah.


Ramzi jadi serba salah, dia berbicara terus-menerus tapi Inayah mendiamkannya. Dia berpikir bagaimana membuat Inayah berbicara lagi kepada dirinya. Ramzi keluar begitu saja dari kamar Inayah, melihat Ramzi yang keluar tanpa bicara apapun. Padahal Ramzi sedang berpikir, tak sengaja di luar kamar dia berpapasan dengan Delisha yang sedang menggendong anaknya.


"Gus nggak istirahat dulu?" tanya Delisha.


"Aku lagi mikirin sesuatu nih, mbak mu suka apa ya? mau kasih surprise," ucap Ramzi.


"Mau buat senang mbak Inayah gampang Gus, kamu masak dengan tanganmu sendiri, di belakang ada kolam ikan suasananyajuga bagus tuh Gus, atur meja biar terlihat romantis gitu, sederhana deh pokoknya jangan susah. Kemudian Gus tata yang cantik jangan lupa ada lampu kelap-kelip biar semakin romantis, pasti deh Mbak Inayah itu senang banget dia tidak akan melupakan dengan suasana surprise Gus Ramzi," ucap Delisha.


"Oke deh terima kasih ya Delisha atas sarannya. Aku mau pergi dulu untuk membeli bahan-bahan," ucap Ramzi.


Ramzi bergegas berjalan menuju parkiran mobil dan ia membeli bahan-bahan yang akan ia masak. Di dalam perjalanan juga dia menelepon ummi, ia ingin mengetahui menu kesukaan Inayah. Lalu menanyai cara masaknya, Ramzi meminta ummi agar mengirim suaranya untuk membuat masakan yang Inayah suka. Ramzi akan mengikuti step by step yang ummi tuturkan di voice note WhatsApp. Setelah bahan-bahannya selesai semuanya Ramzi membeli lampu kelap-kelip dan juga lilin dan tidak lupa dia juga membeli bunga kesukaan Inayah yaitu bunga matahari.


Setelah mendapatkan bahan semuanya, Ramzi kembali lagi ke pesantren. Ia langsung ke dapur, di dapur ternyata ada umma.


"Umma minjem dapurnya ya," pinta Ramzi.


"Mau apa?" tanya umma.


"Mau masak Umma," jawab Ramzin


"Kamu lapar? Umma panggilkan Inayah, biar dia yang masak untuk kamu," ucap umma.


"Jangan Umah justru Inayah nggak boleh tahu, aku ingin buat surprise buat Inayah. Aku ingin masak untuk Inayah Umma, bisa bantu aku agar Inayah tidak datang ke dapur?" pinta Ramzi.

__ADS_1


"Oh kamu mau masak buat Inayah, Duh romantisnya. Oke Umma bantu. Kamu masak aja umma ke depan dulu ya. Jadi kalau Inayah ingin pergi ke dapur rumah Umma akan cegah," ucap umma.


Ramzi pun mulai memasak kemudian dia sambil mendengar menggunakan earphone suara dari ummi yang telah mengirimkan suaranya. Ramzi perlahan tapi pasti walaupun dia kecipratan minyak panas ketika menggoreng ikan tapi dia tahan rasa panasnya. Setelah 2 jam berkutit di dapur menu pun selesai. Di pojok kolam ikan ada gazebo, Ramzi menata menu-menu makanan yang sudah ia masak, kemudian gazebonya dia hias dengan lampu kelap kelip, lalu di Gazebo tersebut juga ada obar, dia akan menggunakan obor sebagai penerang dan juga di tengah-tengah menu ada lilin. Suasana sangat romantis ketika di malam hari, suara jangkrik bersahutan menjadi musik alami. Makan malam berdua dengan pasangan sangat romantis, Ramzi berpikir pasti akan sukses untuk mensurprise Inayah dan inayah mau kembali lagi berbicara dengan dia.


Setelah selesai di tata, kemudian Ramzi masuk ke dalam kamar. Inayah masih tak mau berbicara dengan Ramzi. Ia hanya melirik Ramzi sedikit kemudian, wajahnya dipalingkan kembali. Untuk malam ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah abah, karena kebetulan senin Inayah libur dari praktiknya. Setelah salat Isya Ramzi berbicara kepada Inayah.


"Sayang udah dong kamu diemin aku dari pagi loh sekarang udah Isya, masa kamu cuekin aku seperti ini terus. Ikut aku yuk sebentar, anak-anak titipkan ke ummi sama Delisha," ucap Inayah.


"Nggak ah Mas, aku nggak mau nitipkan anak-anak," ucap Inayah.


"Sebentar kok sayang, ikut sama aku ini perintah suami loh, dosa kamu kalau kamu nggak nurut perkataan suami," ucap Ramzi.


Dengan kaki yang berat Inayah akhirnya mengikuti kemauan Ramzi. Ramzi menggandeng tangan Inayah, ia mengajak Inayah ke belakang. Inayah berpikir buat apa ke kolam malam-malam, tapi sebelum sampai di kolam mata Inayah ditutup dengan kain.


"Mas kok ditutup gelap tahu," protes Inayah.


"Ya namanya mata ditutup, ya gelap lah sayang," ucap Ramzi.


Inayah dituntun ke arah gazebo, setelah mereka sampai, penutup mata Inayah dibuka. Inayah terkejut melihat suasana yang romantis di gazebo dihias dengan lampu kelap-kelip, obor dihidupkan di tengah-tengah lilin untuk penerangan makan mereka dan Ramzi memberikan buket bunga yang cantik yaitu bunga matahari.


"Ini kamu yang buat Mas?" tanya Inayah.


"Iya aku buat sendiri, makanannya juga aku masak sendiri. Bagaimana suka nggak? aku minta maaf ya sungguh aku mencintai kamu," ucap Ramzi.


Dengan perempuan lain mata tolong dijaga Mas, kamu bebas melihat aku, seluruh tubuhku, tapi ndak boleh melihat wanita lain, kamu hanya boleh melihat aku," ucap Inayah.


"Iya sayang maafkan aku ya, aku salah," ucap Ramzi.


Ramzi memeluk inayah dari belakang mereka Akhirnya bisa berbicara lagi dan Inayah bisa tersenyum. Ramzi sukses membuat surprise agar Inayah bisa tersenyum kembali kepadanya.


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2