Salah Lamar

Salah Lamar
Twins Boys


__ADS_3

Inayah langsung di bawa ke ruang persalinan. Pintu ruang rawat Ramzi terbuka, Delisha terkejut melihat kakaknya di atas branker dorong.


"Mbak Ina kenapa?" tanya Delisha.


"De, Mbak akan caesar. Tolong telepon Umma," pinta Inayah.


Delisha langsung menelepon umma, semua keluarga masih belum ada yang tahu Ramzi hidup kembali. Setelah umma mengangkat, Delisha memberikan handphonenya kepada Inayah.


Inayah \= ["Assalamu'alaikum Umma, Umma Mas Ramzi Allah takdikan tidak meninggalkan aku. Nanti Delisha yang akan menjelaskan kepada Umma. Inayah telepon ke Ummi ingin mengucapkan permintaan maaf kepada Umma. Karena Inayah banyak dosa kepada Umma, Inayah akan melahirkan caesar Umma artinya anak-anak Inayah akan prematur. Doakan Inayah Umma."]


Umma \=["Waalaikumsalam, selamat dan berkah atas hidupmu sayang. Umma akan selalu mendoakan kamu selama nafas ini belum Allah ambil. Umma sayang sama Ina."]


Setelah Inayah menelepon Umma, ia langsung masuk ke ruang persalinan. Branker dorong Ramzi pun menyusul untuk masuk ke ruang persalinan. Jantung Inayah berdetak kencang, impian ia untuk melahirkan normal sudah tidak bisa ia lakukan. Karena air ketubannya sudah pecah ketika kandungannya berusia 35 minggu (8 bulanan). Branker Ramzi di letakkan dengan posisi di kepala Inayah, kepala Inayah dan kepala Ramzi saling sejajar, jadi mereka bisa saling menatap.


"Bismillah sayang, aku di sini," ucap Ramzi sangat lirih.


"Syukron Mas, sudah menempati janji untuk menemaniku dalam persalinan," ucap Ramzi.


Ingin sekali Ramzi membelai wajah Inayah, tapi tenaganya masih belum bisa menggerakan tubuhnya. Tubuh Ramzi masih terasa lemas.


Dokter Lita memberikan obat bius atau anestesi epidural di punggung Inayah, agar area perut yang akan disayat menjadi mati rasa. Namun, dokter Lita memberikan bukan bius total. Inayah masih tersadar ketika melakukan caesar.


Setelah obat bius bekerja, dokter Lita mulai melakukan operasi caesar dengan membuat sayatan pada perut dan otot rahim. Ramzi tersenyum menatap Inayah, agar Inayah tidak merasakan ketegangan.


"Jangan tegang sayang, sebentar lagi twins boys kita akan melihat dunia," ucap Ramzi lirih.


Inayah sangat bersyukur, dia menunggu momen ini. Sebelumnya ia ragu Ramzi tidak akan bisa menemaninya untuk persalinan anak kedua mereka. Allah Maha Mengetahui keinginan hamba-Nya. Doa di sepertiga malam yang Inayah panjatkan terjawab sudah ketika ia melakukan persalinan caesar.


Dokter Lita mengeluarkan bayi secara perlahan. Bayi pertama dikeluarkan, tidak selang waktu lama bayi keduapun keluar. Prosedur melahirkan secara caesar yang Inayah jalani tidak memerlukan waktu lama dan bahkan tidak sampai hitungan jam hingga bayi kedua twins boys Inayah terlahir.


"Eeaaa...." Suara tangisan bayi bersahutan menggema di ruang persalinan. Inayah meneteskan air matanya. Kalimat Alhamdulilah tidak terhenti ia gumamkan di dalam hatinya. Suami kembali kepadanya dan mendapatkan bonus kelahiran twins boys mereka.


"Terima kasih sayang, selama aku tidak ada di sisimu, kamu menjaga mereka dengan baik. Terima kasih sudah menungguku dan menemaniku ketika aku koma. Maafkan aku membuatmu menangis," ucap Ramzi.


"Aku sangat bersyukur Mas, memilikimu. Aku sangat mencintaimu," ucap Inayah.


"Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri," ucap Ramzi.


Perlahan tangan Ramzi menggapai wajah Inayah, ia menghapus air mata Inayah dengan tangannya.


"Gus, azankan anak-anakmu," ucap Syifa.


Syifa menggendong baby boy yang pertama di dekat kuping ke bibir Ramzi kemudian Ramzi mengazankan baby boy yang pertama setelah itu baby boy yang kedua. Syifa juga mendekatkan bayi Inayah kepada Inayah, ia mengecup pipi baby boy satu persatu.

__ADS_1



"Karena prematur, bayi kalian aku inkubator. Setelah organ dalam mereka sudah bisa survive kalian bisa membawa pulang," ucap Lita.


"Berapa lama anak aku di inkubator Ta?" tanya Inayah.


"Sekitar 2 atau 3 mingguan, aku akan check terus kondisi putramu," jawab Lita.



Syifa membawa bayi Inayah ke ruang khusus perawatan bayi. Delisha, Indra, abah dan abi yang menunggu di luar persalinan bernafas lega karena twins boys Inayah sudah lahir.


"Mba Syifa, ini anak mbak Ina 'kan?" tanya Delisha.


"Iya, tapi mau masuk ruangan khusus inkubator karena prematur," ucap Syifa.


"Tapi ndak apa-apa 'kan mbak?" tanya Delisha.


"Ndak apa-apa Lisha Insha Allah." Delisha mengabadikan dengan video twins boys lalu dikirimkan kepada umma.


***


Dedd dedd


Delisha \=["Alhamdulilah, Umma. Mbak Ina sudah lahir dengan selamat. kedua putra Mba Ina sekarang ada di ruang khusus inkubator. Kata Mba Syifa prematur tapi ndak apa-apa. Insha Allah mereka akan sehat."]


Ummah langsung sujud syukur, ia tak bisa membendung air karena rasa haru. Menantunya hidup, cucu dan putrinya juga selamat. Nikmat mana lagi yang diingkari? rasanya ini suatu anugrah yang diberikan kepada sang Pencipta yang begitu besar. Berita Ramzi hidup kembali dan Inayah melahirkan langsung tersebar kepada santri santriwati mereka juga merasa sangat bersyukur anak dari pemimpin pesantren, tempat mereka menimba ilmu baik-baik saja.


Umma dan Ummi kini bisa tidur, karena hati kedua ibu tersebut sudah terasa tenang. Ibu mana yang bisa tenang ketika putranya diberitakan meninggal, ibu mana yang tidak menangis ketika putrinya menjerit histeris ketika Ramzi dinyatakan tutup usia. Setiap ibu pasti merasakan rasa sedih seperti apa yang dirasakan putra dan putri mereka.


Terasa hari ini begitu panjang, air mata kesedihan menyelimuti hati tapi Allah membalikkan dengan rasa kebahagian.


Kematian mempunyai nasihat, 'Semua yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin-Nya, tepat pada waktunya sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya.'


Keluarga kiai Irfan dan kiai Afnan merasakan kematian dan kelahiran di waktu yang bersamaan.


***


Inayah dan Ramzi keluar dari ruang persalinan, atas permintaan Inayah. Ia minta satu ruangan yang sama dengan Ramzi. Rasanya hari ini dia merasakan lelah yang sangat amat lelah. Ranjang Inayah dan Ramzi di dekatkan. Inayah mulai memejamkan matanya dengan menggenggam tangan Ramzi.


"Mas, aku rindu dengan genggaman tanganmu ini," ucap Inayah.


"Akupun sama, kamu istirahat yah. Pasti kamu sangat lelah hari ini. Biar aku yang jaga kamu sekarang," ucap Ramzi.

__ADS_1


"Bagaimana kamu mau jaga aku Mas, kamu masih berbaring di atas ranjang?" tanya Inayah.


"Tapi 'kan aku masih bisa menggenggam tanganmu sayang," jawab Ramzi.


"Aku ingin menciummu Mas tapi susah." Inayah hanya bisa tersenyuman, ingin tertawa tapi tak bisa karena bekas caesar yang masih basah.


"Simpan aja dulu, nanti aku yang akan menciummu setiap inci wajahmu," ucap Ramzi.


Inayah mulai tidur terlelap, Ramzi menatap wajah Inayah yang terlihat sangat damai ketika tertidur.


'Aku jatuh cinta kepadamu setiap hari. Semakin hari cintaku padamu bertambah. Aku temukan arti cinta di waktu hidup denganmu yang begitu tak terduga. Aku bangga telah memiliki cintamu. Izinkan aku untuk kita menua bersama melihat anak-anak tumbuh dewasa. Akan aku genggam tanganmu dengan erat dan takkan kulepas, terima kasih sudah menungguku untuk bangun,' batin Ramzi. Ia menatap Inayah dengan lekat.


Hai reader hari minggu ini di malam hari dapat vote 1, bisakah kalian memberikan 1 vote itu untuk novel ini?


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž


__ADS_2