
Kini Inayah dan juga Ramzi, sudah ada di Batu Malang. Sesuai dengan pilihan Inayah yang memilih sebuah Villa dengan view yang sangat bagus, membuat mata Inayah menjadi sangat terkagum-kagum akan kebesaran Allah. View di malam hari terlihat lebih cantik.
"Mas, terima kasih ya. Kamu sudah menuruti apa kemauan aku," ucap Inayah.
"Kamu jangan mengucapkan terima kasih terus dengan aku, karena ini adalah tugas aku untuk menyenangkan hati istriku," ucap Ramzi.
"Apalah aku, jika kamu tidak ada di sampingku Mas, kini aku sudah sangat tergantung olehmu," ucap Inayah.
"Aku pun sama. Aku juga akan berat hidup tanpamu. Aku ingin selalu membuat kamu bahagia sayang," ucap Ramzi.
"Mas kini aku sudah merasa bahagia hidup denganmu," ucap Inayah.
"Aku mohon sayang, jangan ada air mata lagi ya menetes di matamu, karena aku," ucap Ramzi.
"Bagaimana bisa Mas air mataku menetes kembali? sedangkan hari-hariku diwarnai dengan aksimu yang membuat aku senyum dan tertawa," ucap Inayah.
"Aku masih belum membahagiakanmu sayang, jika aku teringat 2 tahun lalu ketika aku baru menikahimu. Sungguh malu aku, mengingatnya. Di malam pertama kita, aku mengucapkan tidak cinta denganmu," ucap Ramzi.
"Sudahlah Mas, yang terpenting sekarang aku sudah merasakan betapa besar cintamu kepadaku," ucap Inayah.
Ramzi memeluk pinggang Inayah dari belakang, dagunya diletakkan di pundak Inayah. Mereka berdiri di atas balkon Villa dengan pemandangan view sebuah pegunungan yang sangat cantik, membuat suasana bulan madu kedua mereka sangatlah syahdu.
"Mas Ramzi, mau punya anak berjenis kelamin apa untuk anak kita yang kedua?" tanya Inayah.
"Aku sih berharap anak laki-laki untuk anak kita yang kedua, tapi 'kan hanya harapan. Allah lah yang menentukan jenis kelamin anak kita. Aku yang penting kamu sehat dan bayi kita juga sehat," ucap Ramzi.
"Mas, aku sudah menghitung masa ovulasiku. Aku sudah testpek untuk mengetahui masa basal aku. Masa itu hari ini dan tidak boleh lebih dari 24 semoga usaha kita Allah kabulkan yah, untuk mendapat anak laki-laki," ucap Inayah.
"Aku lupa istriku dokter, pasti tahu tentang ilmu medis agar mempunyai anak laki-laki ataupun perempuan," ucap Ramzi.
"Tapi apapun hasilnya, kita terima aja yah Mas. Kita hanya berencana, seampuh ilmu medis tidak bisa mengalahkan kekuasaan Allah. Jika Allah maunya kita punya anak perempuan lagi, harus diterima," ucap Inayah.
"Apapun hasilnya aku akan terima itu, karena anak-anakku terlahir dari rahim istriku," ucap Ramzi.
"Jangan lupakan juga step by step sunahnya Mas," ucap Inayah.
Ramzi menganggukan kepalanya, ia paham dengan ucapan Inayah.
Inayah membalikkan tubuhnya, ia mengalungkan tangan di leher Ramzi. Ia kecup bibir Ramzi dengan singkat dan membisikkan sesuatu di telinga Ramzi.
"Mas, sekarang yuk," bisik Inayah.
Ramzi menatap mata Inayah, dia heran kenapa Inayah lebih agresif. Biasanya Ramzi yang meminta duluan, tapi kali ini Inayah yang memintanya terlebih dahulu pada waktu pagi buta sekitar pukul 1.30. Ia pikir istrinya mau istirahat terlebih dahulu karena mereka baru sampai di Batu Malang 3 jam yang lalu.
"Kamu tidak lelah?" tanya Ramzi.
Inayah menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Ramzi.
"Kenapa Mas, aneh aku minta duluan. Aku mau mendapatkan pahala Mas, jika istri duluan yang meminta maka aku akan mendapatkan pahala, 1) Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka; (2) memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh; (3) dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan; (4) diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga," ucap Inayah.
"Aku gak mau lewatkan pahala itu Mas, sayang-sayang. Sudah ah suamiku kamu jangan pandang aku aneh, yuk sayang salat sunah tahajud dan 2 rakaat sunah senggama." Inayah menarik tangan Ramzi untuk pergi ke dalam kamar.
Mereka melaksanakan salat tahajud dan juga salat sunah 2 rakaat. Di dalam hati mereka berdoa masing-masing agar Allah menitipkan anak kepada mereka kembali.
__ADS_1
Setelah doa selesai, Ramzi mencium kening Inayah lalu membawa Inayah ke atas ranjang. Lampu kamar dimatikan dan diganti dengan lampu remang-remang membuat suasana menjadi lebih hening tapi penuh dengan luapan cinta.
Ramzi membaca doa terlebih dahulu,
“Bismillahil'aliyyil ‘azhim. Allahummaj’allahu dzurriyyatan thayyibah in qaddrta an takhruja min shulbi. Allahumma jannaibnis syaithana wa janniblis syaithana ma razaqtani.”
(Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kau anugrahkan kepadaku.)
Ketika Inayah sudah di bawah kungkungan Ramzi, Inayah berkata.
"Mas, woman on top," ucap Inayah.
Lagi-lagi Ramzi terheran.
"Biasanya kamu gak mau sayang," ucap Ramzi.
"Salah satu posisi untuk mendapatkan anak laki-laki Mas," ucap Inayah.
Inayah tersenyum melihat wajah suaminya yang heran. Mereka merubah posisi, sekarang Ramzi di bawah kukungan Inayah.
"Jangan tegang sayang, suamiku yang paling ganteng," ucap Inayah yang mengelus wajah Ramzi dengan jari-jari lentiknya.
"Aku ndak tegang kok," ucap Ramzi.
"Oke, aku akan layani kamu yah saat ini," ucap Inayah.
Bismillah...
Mereka memadu kasih bersama, saling bertukar cinta yang besar.
"Mas, aku sudah mau ke puncak awan," ucap Inayah.
"sssssstttt...nikmat Mas, Allah...Mas Ramzi aku sampai puncak awan," ucap Inayah.
Ramzi langsung mengucap Doa,
Alhamdulillah ladzu khalaqa minal maa'i basyaran, fi ja'alahuu nasaban wa shihran, wa kaana rabbuka qadiiran.”
(Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari ‘air’ dan menjadikan keturunan dan berbesanan. Tuhan mu Maka kuasa (atas demikian).
"Ganti posisi sayang," ucap Ramzi.
"Ndak Mas, biar aku yang melayani kamu saat ini, sekarang giliran kamu yang pergi ke puncak awan," ucap Inayah.
Inayah menyentuh bagian sensitif Ramzi, ia tahu titik-titiknya di mana.
"Subhanallah sayang, kamu pintar. Ini sangat nikmat." Inayah tersenyum mendengar ucapan Ramzi.
"Ah...dokter cantikku..., sssttt terus sayang, lebih cepat lagi," ucap Ramzi.
Suara desssahan mereka bersahutan, ranjang merekapun berbunyi akibat ibadah panas mereka.
"Aku mau ke puncak awan sayang...Ah....Inayah....Ya Rabb ssttt....ah..."
__ADS_1
Di dalam hati Ramzi berdoa,
"Allahummaj'al Nuthfatanaa zurriyatan tayyibah."
(Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik(saleh) .)
Inayah memeluk tubuh Ramzi, yang sudah penuh keringat. Inayah menarik nafas terlebih dahulu kemudian dia bergerak perlahan untuk memisahkan penyatuan tubuh mereka. Inayah berbaring di samping tubuh Ramzi lalu berdoa.
“Alhandulillahilladzi khalaqa minal maa i basyaraa.”
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan).
"Aku gak sangka, istriku hot ketika posisi woman on top," ucap Ramzi.
"Kamu bahagia Mas saat ini?" tanya Inayah.
"Sangat bahagia sekali aku, aku baru kali ini merasakan kenikmatan seperti ini. Terima kasih Mamah Emi," Ramzi mengecup dahi Inayah.
Mereka hanya bersih-bersih belum mandi, karena Inayah baru merasakan lelah di tubuhnya.
"Aku besok pagi aja mandi wajibnya," ucap Inayah.
"Yah sudah, akupun sama. Sini aku peluk," ucap Ramzi.
Merekapun tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain.
Bersambung.
✍✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞💝