Salah Lamar

Salah Lamar
Ada namamu di setiap Dzikirku


__ADS_3

"Semoga aku hamil Mas, dari buah cinta kita ini. Bukti bahwa aku sangat mencintaimu." Ucap Inayah setelah ibadah mereka selesai. Inayah memeluk tubuh Ramzi dengan erat.


Ramzi membelai Rambut Inayah penuh dengan kasih sayang.


"Mas...jangan ditanggapi omongan Dokter Azril yah," pinta Inayah.


"Aku kepikiran sayang setelah Dokter Azril berterus terang jadi dia menyukai kamu sejak dulu dan kamu bertemu setiap hari di tempat kerja lagi," ucap Ramzi.


"Tapi 'kan aku ndak pernah tanggapi Mas, aku ndak bisa melarang dia untuk tidak menyukaiku. Aku hanya bisa menghindar, jaga jarak jika bertemu dengan dia. Yang terpenting aku mencintai kamu Mas," ucap Inayah meyakini Ramzi.


"Aku mau tanya denganmu," ucap Ramzi.


"Tanya apa Mas?" tanya Inayah.


"Aku mau tahu alasan kamu, kenapa kamu langsung menerima khitbahku? karena banyak yang melamarmu tapi kamu tolak semua. Kandidat laki-laki yang melamar kamu juga ndak sembarangan," tanya Ramzi.


"Seminggu sebelum Mas datang untuk mengkhitbahku, Abah sudah memberitahu aku, bahwa Gus Ramzi akan melamarku. Abi Afnan memberi CV kamu kepadaku. Selama 1 minggu itu aku meminta petunjuk dari doa sepertiga malamku. Namamu selalu aku sebut dalam dzikirku Mas dalam 1 minggu. Ketika kamu datang mengkhitbahku dan aku melihat wajahmu di lubuk hatiku yang terdalam ada desiran yang menggelitik, dadaku terasa hangat, jantungku berdebar-debar. Itu sebabnya aku langsung menerimamu karena Allah membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatmu," ucap Inayah.


"Ya Allah, Ya Rabb...aku malah jahat terhadapmu setelah menikah denganmu, aku baru merasa kehilanganmu ketika kamu meniggalkanku," ucap Ramzi.


"Terkadang Allah menyentil atau memukul hamba-Nya terlebih dahulu, baru hamba-Nya itu sadar," ucap Inayah.


"Maaf 'kan aku yah, kedepannya jika ada masalah diantara kita. Bicarakan dengan baik-baik jangan pernah lari dari masalah," pinta Ramzi.


"Insha Allah Mas, kita saling menjaga satu sama lain yah," ucap Inayah.


Inayah melepaskan pelukannya dari Ramzi.


"Aku mau mandi dulu yah," ucap Inayah.


"Sebentar, aku mau memeluk kamu dulu. Jarang-jarang peluk kamu tanpa busana," ucap kenakalan Ramzi.


"Ih Mas, mesum banget," ucap Inayah, yang wajahnya memerah karena malu.


***


Delisha masih saja sedih akan meninggalnya Ustadz Adam yaitu calon suaminya. Dia lebih pendiam dan suka menyendiri. Sudah 1 bulan lamanya Ustadz Adam meninggal.


Delisha menelepon Inayah, karena di pesantren dia merasakan kesendirian. Rasa kehilangan membuat perasaannya seperti terkurung di sebuah lorong waktu. Mengingat hanya waktu-waktu yang bahagia, sehingga tidak menerima waktu sekarang.


Delisha menelepon Inayah.


Delisha \= ["Assalamu'alaikum Mba Ina. Mba gak bisa ke sini yah? Gus Ramzi larang Mba Ina untuk ke sini yah?"]


Inayah \= ["Wa'alaikumsalam, De gak boleh shudzon. Mas Ramzi ndak pernah melarang Mba."]


Delisha \=["Lalu kenapa Mba gak pernah datang ke sini. Mba sudah lupain aku."]


Inayah \= ["Astagfirullah De, masa Mba lupakan adik sendiri sih, ndak mungkin itu. Jadwal praktik Mba padat, Mba kalau pulang juga malam. Bagaimana minggu Mba coba minta izin sama Mas Ramzi dulu yah. Jika boleh Insha Allah hari minggu Mba ke sana."]


Delisha \= ["Jika Mba ndak kesini, artinya Gus Ramzi melarang Mba buat temui aku."]

__ADS_1


Inayah \= ["Mas Ramzi ndak pernah melarang Mba Ina De."]


Delisha \=["Yah sudah aku tunggu kabar dari Mba, Assalamu'alaikum."]


Inayah \=["Waalaikumsalam."]


Setiap pulang kerja, Inayah selalu di jemput oleh Ramzi. Dia ingin membicarakan keinginannya mengunjungi pesantren Abahnya pada hari minggu dan juga menceritakan Delisha ingin bertemu dengan dia.


"Mas, boleh ndak hari minggu aku ke pesantren Abah?" tanya Inayah dengan hati-hati.


"Kamu mau ke sana?" tanya Ramzi.


"Iya Mas, jika Mas mengizinkan aku. Tadi Delisha telepon aku, dia mau ketemu denganku," ucap Inayah.


"Iya boleh, nanti aku antar yah." Ramzi membelai kepala Inayah.


"Terima kasih Mas atas izinnya." Wajah Inayah sangat senang karena Ramzi mengizinkan, padahal hari minggu adalah satu-satunya hari untuk bercengkrama dengan Ramzi. Tapi Ramzi rela waktunya di ambil.


"Mas, mampir ke toko kue dulu yah. Aku mau beli cake kesukaan Ummi, ke strawberry delight yah Mas, Ummi suka roti di sana, " ucap Inayah.


Ramzi memberhentikan mobilnya di salah satu toko cake yang terkenal di Cirebon yaitu strawberry delight.


"Mas mau roti apa?" tanya Inayah.


"Apa aja, kamu pilihkan saja, aku mau ke WC umum dulu yah, jangan kemana-mana jika sudah selesai bayar. Ini kamu pakai kartu ATM ini aja untuk membayarnya," ucap Ramzi.


"Iya Mas, aku akan menunggu kamu. Jangan lama-lama yah," ucap Inayah.


Inayah memilih beberapa roti, tak sengaja ia bertemu dengan Indra.


"Ning Inayah?" Sapa Indra.


Inayah menoleh ke arah sumber suara.


"Assalamu'alaikum, Indra kamu beli roti juga?" tanya Inayah.


"Assalamu'alaikum, iya untuk Ibu," jawab Indra.


"Ibu sehat?" tanya Inayah basa-basi.


"Alhamdulillah, Ibuku sehat," jawab Indra.


"Boleh aku bertanya?" tanya Indra.


"Mau tanya apa?" ucap Inayah.


"Kamu bahagia menikah dengan Gus Ramzi?" tanya Indra.


Inayah sontak terkejut akan pertanyaan Indra mengenai privasi Inayah.


"Maaf jika pertanyaanku menyinggung kamu," ucap Indra.

__ADS_1


"Indra, carilah wanita yang lain," nasihat Inayah.


"Kenapa kamu dulu menolak lamaranku, apa kekuranganku?" tanya Indra.


"Kamu laki-laki yang baik Indra, janganlah melihat hanya aku saja. Kenapa aku menolakmu? karena jawaban dari doa sepertiga malamku itu tidak ada namamu di hatiku. Ketika Gus Ramzi melamarku, langsung ada getaran di hatiku. Jika kamu mau meminang anak Abah yang lainnya, coba kamu lamar adikku. Move on Indra, aku sangat mencintai suamiku," ucap Inayah.


Tak di sadari, sejak tadi Ramzi sudah kembali. Dia melihat dan mendengar dari jawaban Inayah.


"Sayang sudah selesai?" tanya Ramzi.


Sontak Inayah terkejut, ia takut jika Ramzi salah paham dan menjadi pendiam kembali karena merasa gak pantas untuk bersanding dengan Inayah. Inayah terlihat merasa bersalah sudah berbicara dengan Indra yang bukan mahramnya.


"Mas, kamu sejak tadi datangnya?" tanya Inayah.


Ramzi tidak menjawab ia hanya terdiam. Inayah tarik nafas dan mengeluarkan secara kasar.


'Ya Allah, Mas aku mohon jangan marah sama aku,' batin Inayah.


"Kamu belum bayar?" tanya Ramzi.


"Belum Mas, aku bayar dulu yah," jawab Inayah.


Ketika Inayah membayar Rotinya, Ramzi mendekati Indra.


"Ustadz, Inayah sudah menikah dengan saya. Urusan dia bahagia atau tidak itu bukan urusan Ustadz. Masih banyak ustadz perempuan sholehah lainnya. Jangan terlalu dengan istri orang tapi carilah yang lain. Allah sudah menciptakan banyak jenis manusia yang berlawanan jenis. Banyak doa, minta sama Allah. Insha Allah akan cepat dapat jodoh yang menggetarkan hati ustadz. Saya permisi dulu, kelihatannya istri saya sudah selesai untuk membayar. Assalamu'alaikum," ucap Ramzi.


Inayah menghampiri Ramzi, ia langsung menggandeng tangan Ramzi karena takut Ramzi akan marah kepadanya.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)



Love you semua

__ADS_1


__ADS_2