
Inayah bergegas melangkahkan kakinya, lalu membuka pintu dan ia mengerutkan dahinya ketika pintu ruang praktik terbuka ternyata bukan Ramzi yang berdiri di luar pintu. Tapi Syifa dengan wajah yang sangat sedih. Seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Inayah tapi berat ia katakan.
"Syifa, ada apa?" tanya Inayah.
"Ning..." ucap Syifa.
"Sampeyan lihat suamiku ndak? biasanya sudah datang tapi ini belum. Kok rumah sakit ramai Syifa?" tanya Inayah.
"Suami sampeyan sudah datang Ning," jawab Syifa.
"Dokter Inayah...ada kecelakaan, jangan pulang dulu. Ada yang terluka parah, kami sedang menghubungi kuarganya agar segera bisa di operasi," teriak salah satu dokter yang berlari.
Inayah merupakan satu-satunya dokter yang menangani, darurat operasi. Syifa berwajah pucat, dia melirik ke arah dokter yang menyuruh Inayah mengoperasi pasien yang terluka parah. Inayah menatap wajah Syifa.
"Syifa jangan bilang yang kecelakaan itu suamiku," ucap Inayah lirih.
"Ning...." Syifa langsung memeluk Inayah, "Kamu harus kuat demi calon anak kalian, sampeyan harus operasi segera. Aku akan bantu sampeyan."
Tubuh Inayah luruh ke lantai, pipinya basah dengan air mata.
"Seberapa parah Syifa?" tanya Inayah.
"Ada mobil yang menabrak mobil suami sampeyan, benturan dari depan. Maaf Ning, suami sampeyan korban yang paling parah," jawab Syifa.
"Astagfirullah..." Inayah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Syifa ikut menangis melihat sahabatnya. Seorang istri yang sedang hamil harus mengoperasi suaminya. Luka yang Ramzi alami sangat parah, ia di tabrak oleh mini bus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ramzi sempat membelokan stir mobilnya, akan tetapi mobil yang menabrak sangat cepat sehingga tabrakan tidak terelakan. Mobil Ramzi sempat terguling-guling.
Syifa menyetarakan tubuhnya dengan tubuh Inayah, ia memegang tangan Inayah. Ia berkata, "Allah memberikan tangan ini untuk menolong banyak orang, kini tangan ini harus digunakan untuk menyelamatkan orang yang sampeyan cintai. Tangan ini akan kuat, memegang alat operasi dan mengoperasi tanpa ada kegagalan. kuatkan hati sampeyan Ning, sampeyan harus segera mengoperasi."
Syifa membantu Inayah untuk bangun, ia menemani sahabatnya untuk operasi. Syifa akan memeriksa syaraf-syaraf Ramzi. Ia memberitahu pihak rumah sakit bahwa korban yang mengalami luka terparah adalah suami Inayah, Ramzi langsung dimasukan ke dalam ruang operasi, menunggu istrinya yang akan mengoperasi.
Inayah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus operasi, serba hijau. Ia menguatkan hatinya ketika masuk di ruang operasi. Tubuhnya melemah ketika melihat wajah Ramzi yang sudah penuh dengan luka-luka.
"Ning, sampeyan harus kuat, Gus Ramzi harus segera di operasi tamponade jantung, syaraf-syarafnya tidak ada masalah, tangan bagian kanan patah, kita akan mengoperasi tamponade terlebih dahulu," ucap Syifa.
Tamponade jantung disebabkan oleh tekanan yang sangat kuat di jantung. Tekanan ini dihasilkan oleh darah atau cairan lain yang memenuhi ruang perikardium. Jika cairan tersebut bertambah banyak, jantung tidak dapat mengembang sepenuhnya.
Kondisi tersebut menyebabkan darah yang masuk ke jantung dan darah yang dipompa ke seluruh tubuh akan makin sedikit. Akibatnya, organ lain dan jantung itu sendiri akan mengalami kekurangan pasokan oksigen yang dapat berakibat fatal. Ramzi mengalami tamponade karena cedera di bagian dada akibat kecelakaan mobil yang menimpanya.
Inayah berjalan bagian kepala Ramzi, ia menyentuh pundak Ramzi dan membisikkan ke telinga Ramzi.
"Mas, aku akan mengoperasi kamu. Kamu sudah janji bukan untuk menemaniku sampai persalinan anak kita. Ingat Mas, kamu hutang janji denganku." Bisik Inayah di telinga Ramzi. Ia mengecup dahi Ramzi. Ramzi di operasi oleh 4 dokter, kepala operasi yaitu Inayah.
"Bismillah..." Inayah mulai mengoperasi Ramzi, dia harus tenang untuk menjalankan operasi ini. Inayah berusaha menenangkan hatinya, jika salah sedikit maka nyawa Ramzi taruhannya.
"Tekanan darah 118 di atas 79, detak jantung 81, sinus," ucap Syifa
"Aku akan memotong tirai dari dada. berikan padaku pisau bedah," titah Inayah.
__ADS_1
"Iya." Syifa memberikan pisau bedah.
"Bovie," pinta Inayah
Bovie adalah alat memotong, menyegel. atau membakar, jaringan dan pembuluh darah melalui arus listrik langsung.
Syifa memberikan bovie.
"Ambilkan Army," pinta Inayah.
"Gergaji," pinta Inayah.
Syifa memberikan Inayah gergaji kepada Inayah. Inayah mulai menggergaji dada Ramzi, dada yang selama ini sebagai senderan ketika dia sedang sedih. Ia menahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Berikan klemnya," pinta Inayah.
Gambar kleam dada Ramzi.
"Dokter Angga, sedot darahnya," titah Inayah.
Dokter Angga mulai melobangi dan menyedot darah di bagian ruang perikardium. Jantung Ramzi terlihat berdetak. Setelah selesai menyedot darah, Inayah menjahit ruang perikardium.
Perikardium terdiri dari dua lapisan tipis yang menyelubungi jantung. Di antara kedua lapisan ini terdapat ruangan kecil berisi cairan yang berfungsi melumasi jantung agar dapat berdenyut atau memompa darah dengan mudah.
Syifa memotong benang jahitan Inayah.
Operasi selesai, kini Inayah menjahit bagian dada Ramzi.
"Alhamdulilah," ucap Inayah.
Inayah berjalan ke arah bagian kepala Ramzi, ia mengelus wajah Ramzi dengan lembut.
"Mas, terima kasih sudah bekerja sama. cepat sadarlah sayang, aku menunggumu," ucap Inayah lirih.
"Syifa, apakah ada bagian organ yang lain yang terluka?" tanya Inayah.
"Kita harus rontgen keseluruhan, untuk yang terpenting tamponade jantungnya sudah sampeyan atasi dengan baik, kamu hebat bisa tenang mengoperasinya," ucap Syifa.
Inayah mulai menangis setelah operasi berjalan dengan sukses, Syifa memeluk tubuh Inayah dengan erat.
"Aku takut kehilangan suamiku, aku tidak bisa hidup tanpanya Syifa," ucap Inayah lirih.
"Ning, suami sampeyan akan selalu ada di sisi sampeyan, jangan berpikir yang macam-macam. Banyakin doa untuk suami sampeyan," ucap Syifa.
Ramzi, dipindahkan ke ruang ICU. Inayah mengikuti ranjang roda yang berjalanan membawa tubuh Ramzi. Di luar ruang operasi sudah berkumpul ummi, abi, umma, abah, Delisha dan Indra. Ummi langsung menghampiri Inayah.
__ADS_1
"Bagaimana Ramzi, Ning?" wajah ummi sangat khawatir, matanya sudah sembab karena menangis. Inayah langsung memeluk ummi, ia berusaha menenangkan hati mertuanya. Walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Alhamdulilah ummi, aku sudah berhasil menyedot darah di bagian jantungnya. Tapi nanti akan di rontgen untuk mengecek keseluruhan tubuh Mas Ramzi, ummi doakan Mas Ramzi yah," ucap Inayah.
Delisha menghampiri Inayah, ia tahu bagaimana rasa hati Inayah saat ini. Tampak tegar di luar tapi rapuh di dalam. Delisha langsung memeluk Inayah, ingin rasanya Inayah menangis dipelukan adiknya tapi ia tahun karena melihat ummi yang teramat sedih dengan kecelakaan ini.
Tiba-tiba kepala Inayah pusing, pandangannya buram, tubuhnya sangat lemas.
"De, kepala Mba sangat pusing," ucap Inayah lirih.
Inayah langsung pingsan di pelukan Delisha.
"Ya Allah Mba, Abah tolong Mba," teriak Delisha.
Syifa yang melihat Inayah pingsan. ia bergegas memanggil tim medis untuk di periksa ke poli kandungan. Inayah di bawa ke ruangan dokter Lita untuk di periksa kandungannya.
Bersambung
✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1