
Hasan berlari untuk menghampiri Emi. Inayah sudah jatuh pingsan melihat Emi berlumur darah. Ramzi menahan tubuh Inayah agar tidak terjatuh. Hasan langsung menelepon keluarganya, pihak hotel langsung memberikan mobil ambulance untuk membawa Emi ke rumah sakit. Hasan berada di dalam ambulance menemani Emi, ia ambil tangan Emi yang sudah lemah tak berdaya.
"Kenapa kamu melakukan itu? Seharusnya aku yang berada di posisi ini sekarang. Jangan tinggal aku, aku mencintaimu." Tangan Emi ia tempelkan di keningnya, Hasan menangis melihat kondisi Emi.
Ramzi mengikuti mobil Ambulance dari belakang, begitu juga dengan Bilah yang tampak cemas akan situasi yang tidak pernah ia pikirkan.
"Mas, pokoknya cari pelakunya sampai ketemu. Ia membuat calon mantuku terluka seperti itu," ucap Bilah kepada Bagas.
"Iya sayang, Mas akan bicarakan kepada Mas Adnan, biar dia yang mengerahkan anak buahnya untuk mencari pelaku yang menabrak Emi." Bagas, suami Bilah mempunyai Kakak ipar seorang polisi dan berpangkat jendral.
Emi langsung tidak sadarkan diri, tubuhnya tertabrak dengan keras dan terguling di atas cup mobil pelaku lalu jatuh ke darat. Emi di bawa ke rumah sakit Cirebon, tempat Inayah bekerja.
Inayah mulai tersadar, ia sangat syok apa yang ia lihat, wajah Emi berlumur darah.
"Mas Ramzi...." Inayah memanggil Ramzi yang sedang menyetir di sampingnya.
"Kamu sudah sadar sayang? Emi membutuhkan kamu sekarang. Aku mohon kamu harus kuat." Ramzi berusaha membuat Inayah sedikit tenang. Agar Inayah bisa menangani Emi yang sedang kritis.
"Bagaimana aku harus mengoperasi putriku sendiri? 20 tahun lalu aku mengoperasi dadamu, betapa aku menahan nangis dan sesak di dada. Orang yang aku cintai harus operasi dan tergantung dari tanganku ini. Sekarang aku harus mengulang itu kembali? Mengoperasi Emi, putriku sendiri," ucap Inayah dengan rasa sesak di dada.
Merekapun sampai di rumah sakit Cirebon, Ramzi memarkirkan mobilnya. Sebelum ia turun, Ramzi menguatkan Inayah terlebih dahulu.
Ramzi memegang kedua tangan Inayah, lalu ia angkat. "Tangan ini yang membuat aku lebih mencintaimu, karena tangan ini banyak orang-orang yang kamu selamatkan. Bukan kamu saja yang syok keadaan Emi sekarang, akupun sama. Aku ayahnya. Sayang selamatkan putri kita dengan tanganmu ini, aku percaya kamu kuat." Ramzi mencium tangan Inayah. Inayah langsung memeluk Ramzi sangat erat. "Doakan aku Mas, agar bisa menyelamatkan putri kesayangan kita." Ramzi menganggukkan kepalanya, "bismillah."
Inayah dan Ramzi keluar dari dalam mobil, ia bergegas untuk memeriksa Emi. Inayah meminta bantuan Syifa dan 2 dokter lainnya untuk membantu dia.
"Ning, Emi..." suara lirih Syifa. Inayah menahan air matanya." Bantu aku Syifa."
Inayah dan team memeriksa keadaan Emi terdahulu. Inayah membersihkan darah Emi yang keluar dari kepalanya. Ia mengecek seluruh organ dalam Emi, ada pendarahan di otak. Inayah harus membersihkan pendarah yang berada di otak Emi karena jika tidak segera di operasi akan fatal bagi Emi, tangan kanan Emi patah .
Operasi ini sangat beresiko, Inayah tidak boleh melakukan kesalahan. Hatinya harus tenang dan jangan ada rasa takut. Emi langsung di masukkan ke ruang operasi.
"Sampean siap Ning?" tanya Syifa.
"Sebentar Syifa," ucap Inayah. Inayah membisikkan sesuatu di telinga Emi.
"Nak, minggu ini kamu berencana membuat sebuah keluarga, akad yang kamu impikan. Sayang maafkan Mamah jika tangan mamah ini menyayat kepalamu. Bantu Mamah yah, kamu harus berjuang sayang. Kamu permata hati Mamah, Mamah sayang Emi." Inayah mengecup dahi Emi.
__ADS_1
"Bismillah...ayo kita mulai," ucap Inayah.
Inayah memulai operasi Emi, ia harus fokus, karena otak merupakan organ yang rapuh. Inayah harus membersihkan pendarahan di otak. Saraf otak sangat penting karena otak yang menyebabkan manusia bisa seimbang dalam melakukan sesuatu hal. Tangan, kaki bisa bergerak karena ada perintah dari otak. Otak merupakan pusat dari manusia.
Tanpa keraguan lagi Inayah membuat lubang kecil di tempurung kapala Emi, Inayah memasukan alat dokter ke kepala Emi, ia melihat di layar. Pendarahan otak Emi langsung di bersihkan. Inayah juga langsung mengoperasi tangan kanan Emi. Di pasang pen untuk tangan Emi. Operasi sukses Inayah lakukan.
Hasan menunggu di depan pintu ruang operasi. Semua keluarga berkumpul di sana, untuk mendoakan kelancaran operasi.
Pintu ruang operasi terbuka, kemudian Inayah keluar dan bersujud syukur karena sudah mampu melaksanakan operasi secara sukses. Ramzi langsung memeluk Inayah, Inayah berhambur menangis didalam pelukan Ramzi.
"Bagaimana dengan Emi?" tanya Ramzi pada Inayah.
"Aku sudah berhasil mengoperasi, ada pendarahan di otak dan juga tangan kanan patah. Yang paling aku takutkan itu cedera di otaknya, aku tak tahu kapan Emi akan sadarkan diri. Karena otak merupakan alat fital yang jika tergores sedikit saja akan membahayakan bagi keseluruhan anggota tubuh. Aku tak tahu dampak setelah operasi, kita harus tunggu Emi sadar," ucap Inayah.
"Kita berdoa saja semoga Emi tidak mengalami hal yang membahayakan." Hasan langsung menghampiri Inayah dia langsung mengutarakan niatnya.
"Mamah Inayah, apapun yang terjadi. Aku akan tetap menikahi Emi," ucap Hasan.
"Kamu yakin ingin menikahi Emi? karena mamah tidak tahu Emi kapan sadarnya," ucap Inayah.
Emi di masukkan ke dalam ruang ICU.
***
Acara khitbah diganti langsung ke acara ijab qobul kini mereka berada di masjid rumah sakit cirebon. Hasan akan mengucapkan ijab kabul di sana. Di sana sudah ada para orang tua dari pihak Hasan dan maupun dari pihak Emi. Mereka menangis terharu karena pengantin wanitanya masih terbaring tidak sadarkan diri pasca dua hari operasi. Dari pihak Hasan yaitu kakek Hasan sudah berada di Cirebon, mereka datang dari Semarang kumpulan para kiai. Memang keduanya mempunyai keturunan kiai dan memiliki pesantren yang ada di Kota Cirebon maupun Semarang.
Ramzi yang akan menikahkan putrinya dengan Hasan. suasana menjadi Hening semua orang menyimak setiap kata yang akan terucap singkat dari bibir Ramzi dan Hasan.
"Bismilahirohmanirohim." Ramzi menghela nafas dan mengeluarkan secara perlahan. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Hasan Abdullah Bin Muhammad Bagas Abdullah dengan anak saya yang bernama Emi Bashira Elfathan binti Ramzi Sahban Elfathan dengan mas kawin berupa 25 gram emas dan peralatan sholat di bayar tunai." Dalam satu kali hentakan tangan dan satu tarikan nafas Hasan langsung menyebut.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Emi Bashira Elfathan binti Ramzi sabhan Elfathan dengan mas kawinnya yang tersebut tunai."
"Sah," sahut kiai Amar dan kiai Afnan sebagai saksi bersamaan.
"Alhamdulillah," seru semua orang yang berada di dalam masjid rumah sakit yang menyaksikan prosesi akad yang telah selesai.
Penuh haru, semua menatap Hasan dan meneteskan air mata. Proses ini di luar dugaan, hari yang seharusnya penuh senyuman dari kedua pengantin, akan tetapi pengantin wanita tidak bisa tersenyum karena masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1