Salah Lamar

Salah Lamar
Gagal


__ADS_3

Inayah bergegas masuk untuk memeriksa Emi. Hasan memberitahunya bahwa Emi sudah tersadar, ia menatap Emi dengan penuh haru karena Emi langsung tersenyum melihat Inayah.


"Alhamdulillah sayang, bagaimana ada keluhan ndak?" Inayah mulai menanyakan kepada Emi karena yang dioperasi adalah otak, pusat dari saraf jika terkena saraf maka tidak bisa disembuhkan kembali.


"Kepalaku agak pusing mah nyeri," jawab Emi.


"Coba kamu gerakan tangan kamu." Emi mulai menggerakkan tangannya ia bisa menggerakkan satu tangannya yaitu tangan kiri karena tangan kanan Emi patah sehingga tidak bisa digerakkan. "Coba gerakan kakimu dan jemari-jemarimu." Emi pun mencoba untuk menggerakkan ternyata bisa. "Kamu jelas untuk melihat?" tanya Inayah kembali. Emi menjawab, "iya Mah aku jelas melihat." Inayah bisa bernapas lega karena itu artinya operasinya sangat sukses


"Alhamdulillah artinya kamu tidak ada dampak dari operasi pendarahan yang ada di otak kamu, nanti Mamah kasih obat nyeri ya untuk kepala, kamu jangan terlalu memikirkan yang berat. Hasan tolong buat Emi senyaman mungkin. Jangan membuat Emi tertekan karena akan mengakibatkan ia stres. Karena Mamah takut kepala Emi lebih pusing lagi." Inayah memberi penjelasan kepada Hasan agar menjaga Emi dengan baik.


"Iya Mamah, Hasan akan menjaga ini dengan baik," jawab Hasan.


"Mamah akan pindahkan kamu ke ruang rawat biasa. Mamah akan urus semuanya, Hasan tolong jaga dulu." Hasan pun menganggukan kepalanya, Inayah keluar dari ruang ICU. Hasan duduk di samping ranjang dia membelai wajah Emi penuh dengan kelembutan. Emi merasakan kehangatan akan belaian Hasan.


"Terima kasih untuk menunggu aku sampai aku sadar. Terima kasih kamu menikahi aku ketika aku koma. Padahal dalam keadaan koma fifty-fifty antara mati dan hidup." Hasan langsung menempelkan jemarinya ke bibir Emi. "Jangan bicara tentang kematian, kita baru menikah dan belum merasakan manisnya pernikahan," ucap Hasan dengan suara lembut.


Emi memegang tangan Hasan yang berada di pipinya Emi tersenyum melihat Hasan.


"Wajahku jelek ya?" tanya Emi tiba-tiba kepada Hasan.


Hasan sedikit tertawa, Emi menjadi kesal karena Hasan menertawakan dia.


"Loh kok malah manyun sih? Aku bukan menertawakan wajahmu, bagiku kamu itu tetap cantik di mataku karena kamu adalah istriku. Istri tercantik yang kumiliki." Hasan mengedipkan sebelah matanya untuk Emi, wajahnya langsung memerah tersipu malu.


" kamu jago banget sih gombalin aku malu tahu digombalin protes Emi tapi ia pun merasa senang


"Habisnya aku nggak tahan jika aku tidak gombalin kamu. Kamu cantik sih, apalagi sudah halal bagiku." Hasan menggenggam tangan kiri Emi, ia meletakkan tangan Emi di pipinya.


"Kamu belum cukur ya? ini sudah ada tumbuh bulu-bulu halus di wajahmu." Emi membelai wajah Hasan.


"Aku belum sempat untuk mencukurnya, karena minggu ini aku selalu menunggumu. Rasanya melihat kamu memejamkan mata hatiku sangat teriris dan menyesali kejadian itu. Kenapa bukan aku saja yang mengalami?" Hasan tampak menyesal karena tidak bisa mencegahnya.


"Karena kamu lebih kuat, ketika aku yang sakit. Tapi jika kamu yang mengalami ini akunya yang tidak kuat. Karena kamu tahu? Kamu adalah cinta pertamaku. Jika aku kehilangan kamu bagaikan jiwaku separuhnya hilang. Aku pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan jiwa yang hilang itu." Emi menatap dalam mata kecoklatan Hasan.


"Aku juga sangat mencintaimu." Hasan menundukkan wajahnya, mendekati wajah Emi.


'Apakah ia ingin menciumku? Masa ciuman pertama aku ketika aku sakit,' ucap batin Emi.


Hasan semakin mendekati wajah Emi, Emi pun pasrah karena jika menolak takut mengecewakan Hasan. Tinggal 1 cm jarak antara mereka ketika Hasan ingin lebih mendekat lagi, pintu kamar ICU terbuka. Hasan langsung gelagapan dan langsung duduk seperti sedia kala. Emi yang melihat wajah Hasan sangat gugup menahan tawanya. Hasan melirik Emi dengan wajah yang memerah.


'Aduh, aku malu sama Emi. Kenapa tadi tiba-tiba aku ingin menciumnya padahal Emi baru sadar. Bodohnya aku, nanti dia pikir aku terlalu cepat melakukan ciuman pertama,' batin Hasan.

__ADS_1


Inayah dan para suster masuk ke ruang ICU Emi, mereka sudah mempersiapkan kamar rawat inap. Bilah memilih kamar inap VVIP untuk Emi, agar ia merasa nyaman. Emi langsung dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, di sana yang ingin mau melihat Emi bisa dengan bebas karena sudah berada di ruang rawat inap.


Haidar dan Haidir ketika mengetahui Emi mengalami kecelakaan, mereka langsung ke Cirebon untuk melihat kakaknya. Mereka sudah menunggu Emi untuk dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.


Emi kini sudah berada di ruang rawat inap, Bilah langsung menghampiri Emi dan menggenggam tangan Emi.


"Ada yang mau kamu makan Emi? Nanti Mamah belikan," tanya Bilah kepada Emi.


Tidak Mah, terima kasih ya Mah." Emi tersenyum kepada Bilah.


Si jembar pun masuk ke ruang rawat Emi.


"Aduh pengantin baru lengket banget, selalu ditungguin loh sama abang Hasan," ledek Haidar kepada Emi.


"Iri aja kamu, makanya cari perempuan yang bisa dilamar," ucap Emi membalas kedekan Haidar.


"Kak Emi pintar ya, carinya yang lebih muda dari Kak Emi. Pantesan selalu menolak lamaran orang yang ngelamar Kak Emi karena mereka lebih tua dari Kak Emi. Ini Abang Hasan,dia lebih muda 3 tahun dari Kak Emi, ganteng lagi. Bisa aja Kak Emi cari suami," ledek Haidir untuk Emi.


Emi sebel kepada kedua adiknya, apalagi mengungkit umur. Karena Emi pun tak tahu sebenarnya umur Hasan waktu dia bertemu dengan Hasan pertama kali. Dia pikir Hasan umurnya sama dengan dirinya karena Hasan lulus S1 bersamaan.


"Sudah ah Haidir, Haidar jangan ledek kakakmu terus," ucapkan Inayah yang langsung menjewer keduanya.


"Iya Mah, sakit Mah. Ampun Mah," rengek Haidar.


"Kakak kamu tuh baru sadar, butuh istirahat. Daripada mendengar ocehan kalian, mendingan kalian keluar gih dari ruang rawat kakakmu," ucap Inayah yang masih belum melepaskan jewerannya.


"Ih Mamah ngusir kita. Kami ' Kan sayang sama Kak Emi," ucap Haidir.


Inayah mendorong tubuh Haidar dan Haidir agar ke luar dari ruangan rawat Emi.


"Maaf yah Mah, adik-adikku memang jail banget," ucap Emi meminta maaf kepada Bilah.


"Bagus seperti itu, artinya mereka sayang sama kakaknya. Mungkin pikir mereka akan jarang mengusilkan kamu karena kamu sudah menikah. Mamah mau susuli Heelwa, dia tadi mau cari makanan. Ada yang mau kamu titip?" tanya Bilah.


"Gak Mah, terima kasih," ucap Emi.


"Hasan, jaga Emi baik-baik. Mamah keluar dulu." Bilah menepuk pundak Hasan.


Kini mereka tampak canggung di dalam kamar rawat inap berdua. Emi melirik ke arah Hasan. Karena Hasan sangat diam karena kejadian di ruang ICU. Emi pikir, Hasan mood nya hilang. Emi melambaikan tangannya kepada Hasan. Hasan menghampiri Emi.


"Kamu marah yah?" tanya Emi.

__ADS_1


"Marah? Marah kenapa?Aku tidak marah." Hasan tampak bingung dengan ucapan Emi. Sebenarnya Hasan sedang malu karena kejadian di ruang ICU.


"Kamu ingin menciumku?" Pertanyaan Emi membuat Hasan salah tingkah.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan




Love dari author sekebon karet ❤💞

__ADS_1


__ADS_2