Salah Lamar

Salah Lamar
Bisikan Ancaman Bilah


__ADS_3

Emi menangis ketika melihat tangan Hasan di borgol. Ia mendekati Hasan dan menatap mata Hasan dengan sangat lekat.


"Maafkan aku, ini semua gara-garaku." Emi merasa dirinya bersalah karena Hasan menyelamatkan dia.


"Ssttt aku tak bisa melihat wanita yang aku cintai menangis, kamu doakan aku saja agar cepat pulang. Jadi khitbahku untukmu tidak di undur. Aku mohon jangan menangis," ucap Hasan dengan mata sendu melihat Emi menangis karenanya.


"Mah, Hasan sudah berani bilang cinta sama Emi," bisik Heelwa di telinga Bilah.


"Huss adikmu di tangkap malah meledek." Bilah menyenggol lengan Heelwa. Bilah menghampiri Emi yang sedang menangis di dalam pelukan Inayah. Mereka melihat Hasan di bawa masuk ke dalam mobil polisi.


"Inayah, bawa Emi duduk. Ia pasti sangat terpukul," ucap Bilah.


"Ayah..." Bilah menatap Bagas, suaminya tahu apa maksud dari tatapan Bilah. Hasan mempunyai paman seorang polisi dari keluarga ayahnya. Pangkatnya sudah jendral, Bagas langsung menelepon kakak yang suami kakaknya itu seorang polisi, ia menceritakan kronologinya. Sedangkan Bilah langsung menghubungi pengacara keluarganya.


Keluarga Ahsan salah mentargetkan Hasan, karena keluarga Hasan bukan sembarangan. Memang di luar sana Hasan tidak menampakkan kekayaan keluarganya, ia pun selalu sederhana dalam kesehariannya. Tidak ada yang tahu Hasan merupakan anak seorang CEO, bahkan bisnis mamahnya ada di mana-mana. Inayah pun baru tahu, Bilah itu sangat kaya. Ia hanya tahu Bilah adalah CEO tapi Dina tidak pernah cerita lebih lanjut lagi. Malam itu juga keluarga Hasan langsung bergerak untuk kasus Hasan. Dia menunggu informasi dari pengacara dan juga kakak iparnya.


"Tenang lah Emi, Insha Allah Hasan tidak akan menginap di penjara." Bilah memegang tangan Emi. Emi menatap Bilah dengan sendu.


Bilah menunggu kabar dari pengacaranya yang langsung bergerak. Mereka menampakkan wajah yang sangat cemas, lama mereka menunggu. Setelah menunggu selama 1 jam 30 menit handphone Bilah berdering, Bilah langsung mengangkat telepon dari pengacaranya.


Bilah \= ["Baik saya akan segera ke sana."]


"Emi jemput Hasan yuk." Bilah menggenggam tangan Emi dan tersenyum kepadanya. Inayah mengusap air mata Emi yang terus saja terjatuh. Kini Emi mempunyai 2 mamah yang sangat sayang kepada dirinya.


Mereka pun bergegas untuk menuju kantor polisi. Emi duduk di jok bagian belakang di ampit oleh mamah dan calon mamah mertua, Heelwa membawa mobilnya sendiri, nanti pasti Hasan akan membawa mobil Heelwa karena mobil yang di dikendarai Bagas sudah penuh.


Bilah masuk ke dalam kantor polisi, ia melihat ke dua orang tua Ahsan berada juga di kantor polisi.


"Oh ini, ibu dari yang memukul anak saya." Ibu Ahsan menunjuk wajah Bilah, Bilah hanya tersenyum. Inayah maju melangkah. "Putra Ibu yang lancang melecehkan putri saya." Tatapan Inayah sangat tajam.


Tidak lama Hasan keluar dari penjara, ia melihat Emi dan langsung menghampiri Emi. Mata Emi sudah berkaca-kaca melihat Hasan.


"Tenang yah, Allah akan menghukum orang-orang yang bersalah," ucap Hasan.


"Pak polisi, kok dia bebas. Dia yang telah memukul putra saya," teriak ibu Ahsan. Bilah menggelengkan kepala. Ia maju dan membisikkan ditelinga ibu Ahsan. "Ibu salah mentargetkan putra kesayangan saya, saya tahu bisnis suami ibu. Sekali 1 sentilan dari saya suami ibu akan bangkrut, ibu tahu siapa saya? Perkenalkan nama saya Nabilah Syaqilah Aini pemilik perusahaan Big Hope, perusahaan suami ibu di bawah naungan perusahan saya."


Bilah mundur setelah membisikkan kalimat yang mengerikan bagi ibu Ahsan. Sekali Bilah memutuskan kerja sama maka perusahaan ayah Ahsan akan bangkrut otomatis keluarganya akan jatuh miskin.


"Ayo sayang kita pulang." Bilah mengacak-ngajak rambut Ahsan.


"Ih Mah, aku bukan anak kecil lagi," decak Hasan kesal.

__ADS_1


"Iya deh yang sebentar lagi mau nikah," ucap Bilah.


Hasan menaiki mobil, Emi dan Heelwa duduk di kursi belakang. Sedangkan Inayah dan Bilah di dalam 1 mobil yang lainnya.


Sesekali Hasan melirik kaca spion dalam mobil, ia tersenyum ketika melihat Emi. Emi tahu bahwa Hasan sedang meliriknya, Hasan langsung memalingkan penglihatannya dan fokus ke arah depan.


"Kak Heelwa, kamu menjadi CEO muda yah?" tanya Emi, membuka percakapan.


"Duh, aku seperti sudah tua dipanggil Kakak sama kamu. Padahal umur aku lebih muda, Insha Allah aku akan menggantikan menjadi CEO yang hebat seperti mamah. Siapa lagi yang akan menggantikan mamah? Putra kesayangan mamah malah melarikan diri. Seharusnya dia tuh yang sedang menyetir." Heelwa menyindir Hasan, yang selalu menolak untuk bekerja di kantoran.


"Lalu aku harus memanggil kamu apa? Hasan juga umurnya 3 tahun lebih muda, masa setelah menikah aku memanggil Dek Hasan," ucap Emi. Heelwa tertawa mendengar perkataan Emi.


"Terserah kamu aja deh, senyamannya kamu mau memanggil aku apa," ucap Heelwa.


Laju mobil Hasan melaju dengan lancar karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, jalanan utama Jakarta sudah tidak terlalu macet ketika jam pulang kerja.


Besok Emi dan Hasan akan datang ke kantor polisi. Emi sebagai korban dan Hasan sebagai saksi. Emi tidak mau berdamai dengan keluarga Ahsan, di kantor polisi kedua orang tua Ahsan memohon kepada Emi agar mencabut laporannya.


Setibanya di rumah Bilah, mereka langsung beristirahat di kamar yang sudah Bilah sediakan.


Emi di tempatkan kamar bersama Heelwa, Inayah dan Ramzi mempunyai kamar tersendiri.


"Hasan terlihat gemesin yah, apalagi sekarang di mata kamu lebih menggemaskan lagi." Emi langsung memerah pipinya dengan ledekan Heelwa. Dia sangat pintar untuk meledek seseorang.


Heelwa mengganti pakaian tidur di kamar mandi. Ia memakai piyama, Heelwa pun meletakkan baju piyamanya untuk Emi. Emi menatap Heelwa yang membuka hijabnya. Dalam hati Emi berkata bahwa Heelwa sangatlah cantik, ia sampai mengucapkan subhanallah melihat paras Heelwa.


"Emi itu kamu pakai piyamaku yah. Maaf aku tidur duluan, tubuhku sangat lelah," ucap Heelwa. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Emi pun bergegas mengganti pakaiannya dengan baju piyama. Ia merebahkan tubuhnya di samping Emi. Handphone Emi bergetar, ia langsung tersenyum ketika mengetahui bahwa Hasan mengirim pesan di whatsapp.


Hasan \=["Emi, kamu sudah tidur belum? Aku nggak bisa tidur terbayang wajahmu terus. Kamu lagi mikirin aku nggak?"]


Emi \=[Aku belum tidur, ini aku baru mau tidur."]


Emi senyam -senyum, wajahnya memerah ketika berbalas pesan whatsapp.


Hasan \=["Aku ganggu kamu yah?"]


Emi \=["Iya kamu ganggu aku, karena kamu mengganggu pikiranku, aku yang selalu terbayang wajahmu."]


Emi geli sendiri, bisa-bisanya ia mengetik balasan seperti itu untuk Hasan.

__ADS_1


Hasan \=["Iya pasti itu kamu terbayang wajahku, karena aku sudah menabur racun cinta di hatimu."]


Ah...balasan Hasan membuat hati Emi, kelepek-kelepek. Jika ia tidak sedang sendirian pasti Emi jingkrak kegirangan. Ia menahan diri takut calon kakak ipar terbangun dari tidurnya.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Dicampakkan suami setelah melahirkan




Love dari author sekebon karet ❤💞

__ADS_1


__ADS_2